Pendekar Bahutai Merah

Pendekar Bahutai Merah
Senyuman


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, kegelapan malam mulai hinggap diiringi desiran angin malam yang menusuk di kulit. Cakra yang sedang tertidur tiba-tiba terbangun karena tangisan balita kecil di sampingnya.


Cakra dengan sigap menggendong balita kecil dan mencoba menenangkannya, namun usahanya tidak berbuah. Tangisan balita kecil semakin menjadi-jadi membuatnya tidak karuan, baru kali ini dia menghadapi situasi yang jauh dari kehidupan pertarungan.


Ia tidak tahu apa yang membuat sang balita menangis sejadi-jadinya, sampai tidak lama kemudian datang dua orang ke tempatnya yang tak lain ialah Sima dan Dara.


Saat itu mereka berdua sudah berada di dekat situ, namun langkah mereka memburu sebab ada sura tangisan begitu kuat dari ruangan tempat Cakra berada.


“Apa yang terjadi tuan?”, pandangan Sima tertuju ke arah Cakra dan setelahnya ke arah balita kecil, “Mengapa dia menangis?”, tanyanya lagi.


“A-aku tidak tahu, dia menangis sangat kuat seperti ada hal yang menggangunya”, Cakra masih keliatan panik.


“Dasar bodoh! Anak itu menangis karena ia lapar!”, Dara spontan berbicara.


Pandangan Cakra tertuju ke arah Dara, “Lapar? Bagaimana....”


“Hei bodoh, dia itu juga manusia yang butuh makan dan minum. Kemarikan anak itu, cepat!”, Dara menjulurkan tangannya.


Tanpa berpikir lama Cakra menyerahkan balita kecil kepada Dara, dengan sigap Dara membawa anak itu keluar untuk mencarikan susu agar ia tidak menangis lagi.


Melihat Dara pergi membawa balita kecil membuat suasana kini sunyi, Cakra yang resah sedari tadi terduduk dan mengusap berulang kali wajahnya. Ia merasa bersalah karena tidak tahu menahu tentang hal yang diucapkan Dara barusan. Sima juga demikian, ia juga baru mendapati kejadian seperti ini.


Kini keduanya sama-sama duduk dan diam satu sama lain. Setelah beberapa lama akhirnya Dara kembali dengan si balita kecil kini sudah tertawa riang di gendongannya. Saat Dara masuk ke kamar ia mendapati tatapan dari Cakra dan Sima tertuju pada balita itu.


“Lihat anak ini sudah ceria setelah diberi susu dan makanan, seharusnya kau menyerahkan urusan anak ini kepada ku”, Dara memainkan hidung sang balita yang dibalas dengan gelak tawa lucu balita tersebut.

__ADS_1


Cakra diam sejenak dan setelahnya ia berdiri menghampiri Dara, “Terima kasih telah membantu, kalau begitu anak ini aku serahkan kepada mu”, Cakra tersenyum kecut.


“Tidak, tidak, aku tidak yakin anak ini akan terus seperti ini. Saat diberi susu ia mulai mengoceh terus menerus membuat pusing kepala ku. Tapi setelahnya ternyata anak ini cukup periang”, senyum manis terukir di wajah Dara, “Kau sudah memberinya nama?”


“Nama?”, alis Cakra terangkat ke atas mendengar pertanyaan tersebut.


“Bahkan anak kecil semanis ini belum diberi nama, dasar”, celetus Dara.


“Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu”, Cakra menatap ke arah balita, “Baiklah, setelah melihat tingkahnya yang selalu riang mungkin aku punya nama yang bagus untuknya”


“Nama apa yang akan kau berikan padanya?”, Dara melirik ke arah Cakra.


“Pita...loka”, Cakra tersenyum setelah berucap demikian.


Hati Dara begitu berdebar saat melihat senyum Cakra yang kini berada tepat di depannya. Itu adalah senyuman pertama yang ia lihat secara langsung selama ia mengenal Cakra, degupan detak jantungnya begitu kencang karena kejadian barusan.


Namun itu sudah cukup, ternyata hadirnya ia di tempat itu membawa sesuatu hal yang sangat berkesan dalam hidupnya “Eeheem, itu nama yang bagus”, Dara memalingkan wajahnya karena tersipu malu. Ia tidak ingin Cakra melihat wajahnya yang merah merona, “Ini ku serahkan anak ini”, ia menyodorkan Pitaloka kepada Cakra.


Cakra menyambut Pitaloka dari tangan Dara dan menggendongnya, saat berada dalam gendongan Cakra, Pitaloka terlihat amat senang. Balita kecil itu terus mengoceh sambil tertawa riang kepadanya.


“Ta... tatata... tata...”, Pitaloka kembali mengoceh dan kemudian menunjuk ke arah Dara.


Melihat hal itu Cakra akhirnya teringat sesuatu, “Terima kasih telah datang dan membantu”, Cakra menatap ke arah Dara.


Mendengar hal itu spontan saja Dara menoleh ke arah Cakra, ia kembali terkejut mendengar hal itu keluar dari mulut orang yang begitu dingin terhadapnya membuat dirinya kembali diselimuti perasaan malu dan wajah merah padam.

__ADS_1


“Aku hanya membantu sedikit”, jawabnya dengan memalingkan wajah karena malu.


Sima hanya tersenyum melihat tingkah Dara kali ini, ia sudah tahu apa yang membuat Dara bersikap demikian. Baginya melihat mereka berdua berbicara sambil menggendong seorang balita kecil membuat mereka tampak seperti sebuah keluarga.


Ia berharap kedepannya tidak ada lagi jarak diantara mereka berdua nantinya, sebab kini sudah ada jalan penghubung yakni Pitaloka sang balita kecil.


***


Cakra kemudian mempersilahkan keduanya duduk untuk membicarakan perihal yang Sima ingin sampaikan tadi pagi. Sima dengan sigap segera membuka suara, “Perihal yang ingin aku sampaikan tidak lain ialah informasi yang tuan inginkan. Tentu saja informasi ini berhasil aku dapat berkat bantuan Dara, dan aku sudah menyampaikan kepada tuan”, Sima berdiri dan mulai menyerahkan segulung surat berisi informasi yang diinginkan Cakra.


Cakra membaca surat itu sejenak, lalu pandangannya tertuju ke arah Dara, “Bagaimana kau bisa tahu sampai disana?”, Cakra meminta penjelasan.


Dara menunjukkan sebuah trisula dengan gagang berukir kepala naga berwarna merah delima, “Kau pasti tahu ini milik siapa kan”, Dara menggoyangkan kalung yang berada ditangannya, “Tenanglah, ini ku dapatkan karena memang orang itu yang memberikannya. Orang yang sudah kau anggap layaknya saudara itu masih hidup dan berada di tempat yang tujuan mu”.


“Jika isi surat ini benar terjadi, maka tidak ada alasan lagi untuk aku berlama-lama disini. Aku harus membalaskan dendam yang sudah mengarah daging dalam hidup ku”, Cakra mengepalkan tangannya.


Melihat reaksi Cakra senyuman di wajah Dara perlahan mulai memudar, sebab ia tahu apa yang diinginkan oleh Cakra selama ini.


“Tapi sebelum itu aku punya satu pertanyaan, apa kalian tahu tentang seseorang yang bernama Nabau?”


Dara dan Sima terkejut bukan main mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Cakra barusan. Melihat reaksi keduanya Cakra langsung dapat menangkap siapa sosok yang ia sebutkan tadi.


“Apakah orang ini begitu menakutkan sampai reaksi kalian menjadi seperti sekarang?”, Cakra mengerutkan dahinya.


“Kau pernah mendengar perang besar-besaran yang legendanya sampai membuat separuh tanah ini menjadi hancur tak bersisa?”, Dara bertanya.

__ADS_1


“Bukankah itu cerita tentang ayahanda mu sendiri?”, Cakra menjawab cepat.


“Apa yang katakan benar, dan perlu kau ketahui bahwa yang menjadi lawannya saat itu ialah orang yang kau sebutkan tadi”, Dara kembali menjelaskan.


__ADS_2