
Laki-laki tua menahan nafas sejenak melihat keakraban antara pemuda yang dibawa oleh anaknya dengan makhluk gaib yang dikenal ganas dan mematikan.
Ia mencoba menggerakkan badannya untuk berdiri, walau masih terasa sakit namun perlahan-lahan ia akhirnya bangkit berdiri.
Langkahnya pelan namun pasti menuju ke arah pemuda dan anak gadisnya terbaring di sekitar reruntuhan. Saat jaraknya sudah dekat langkahnya terhenti sebab sang bahutai yang sedari tadi bersama Cakra langsing menghadang langkahnya.
Gggrrrrr.......... Gggrrrrrrrkkkk......
Bahutai menggeram dengan mata merah menyala tepat ke arah laki-laki tua, sikapnya sekarang karena ia mencoba melindungi tuannya.
Sisi lain dari sang bahutai dan tuannya ialah keterikatan batin yang membuatnya tahu bahwa sang tuan sedang dalam bahaya. Bahutai tahu laki-laki tua yang di depannya sekarang adalah orang yang membuat tuannya celaka sekarang.
Merasa tindakannya sudah salah dan membuat seseorang celaka laki-laki tua tidak punya alasan untuk berdalih, "Maafkan aku, maaf telah membuat tuan mu menjadi seperti ini", laki-laki berlutut di depan bahutai.
Aaauuukkk.... Aaauuukkkkkk....
Laki-laki tua hanya diam, sang bahutai terus menggonggong ke arahnya seolah sedang memarahi dirinya. Cakra yang melihat kejadian itu mencoba bangkit namun hanya bisa duduk sebab tubuhnya masih lemas.
"Uuhhhggggguukk... Te-nang lah belang, tidak ada yang perlu di sesali. Semuanya sudah ter-jadi...", Cakra mencoba menenangkan bahutai.
Sang bahutai langsung menurut dan mundur ke belakang, namun tatapannya masih tertuju tajam ke arah laki-laki tua. Tidak menunggu lama laki-laki segera bangkit dan menghampiri anak gadisnya yang masih pingsan.
Tetesan air mata tak dapat laki-laki tua bendung, ia kini merangkul tubuh anak gadisnya. Ia mengusap lembut pipi Dara yang sedikit tertutup debu, menyaksikan itu Cakra hanya terdiam.
Cakra mengingat kejadian saat langit goa mulai runtuh, ia yang menyadari ada sebuah batu besar hendak menimpa Dara dalam sesaat kakinya sudah bergerak cepat menghampiri gadis tersebut.
Tangannya segera meraih Dara dan memeluknya, sebelum batu besar itu menimpa mereka berdua Cakra mengghentakkan kakinya ke tanah membuat tanah itu retak.
__ADS_1
Dengan begitu saat batu besar menimpa mereka Cakra berhasil membuat luka yang diakibatkan oleh kejadian itu tidak berdampak besar padanya.
Tanpa ia sadari kini tubuh serta pikirannya telah berfokus untuk melindungi sang gadis di sampingnya itu. Apakah mungkin kini sudah ada sebuah perasaan terhadap gadis itu namun Cakra mencoba menepis pemikiran itu.
Ia datang bersama Dara ke tempat itu dengan alasan lain namun ia tidak bisa menyangkal bahwa kejadian yang menimpanya barusan membuatnya mengkhawatirkan keselamatan sang gadis.
Saat masih memikirkan hal itu tiba-tiba saja Dara siuman dari pingsannya. Gadis itu terus-menerus batuk sebab debu masih beterbangan di sekitar tempat itu.
"Umaanggg.... Umaaangggg...", laki-laki tua memeluk erat anak gadisnya.
"Ab-baaaa....", Dara meneteskan air mata dalam pelukan ayahandanya.
"Terima kasih.... Terima kasiihhh anak muda....", laki-laki tua menatap ke arah Cakra dengan berlinang air mata.
Cakra hanya menganggukkan kepalanya, ia turut senang melihat Dara akhirnya siuman dan kelihatannya baik-baik saja.
*****
Cakra yang masih lemas sesaat kemudian langsung tertegun, ia mendapati balita kecil yang diberinya nama Pitaloka sedang duduk dan bertepuk kegirangan melihat dirinya datang.
"Dia sedari tadi menangis namun sekarang sudah kembali ceria lagi. Sepertinya tuan sangat berarti bagi anak kecil itu", Sima menerangkan.
Cakra tersenyum ke arah Pitaloka, tanpa terasa rasa sakit di badannya sedikit membaik melihat tingkah lucu sang balita kecil. Ia segera duduk di samping Pitaloka dan memangkunya, sang balita begitu kegirangan karena dipangku oleh Cakra.
Kejadian berikutnya tidak kalah mencengangkan, sang bahutai mendekat dan memandang ke arah Pitaloka. Kemudian bahutai mengendus tubuh balita kecil tersebut yang dibalas oleh Pitaloka sebuah puk puk di hidung sang bahutai.
Reaksi yang di dapat oleh bahutai membuat makhluk gaib nan ganas itu menjadi senang, ia mengusalkan hidungnya ke tubuh Pitaloka yang membuat balita kecil kegelian dan tertawa terus-menerus.
__ADS_1
Suasana yang begitu damai tersebut membuat siapapun yang melihatnya akan bersimpati, semua orang seolah menyaksikan pemandangan sebuah keluarga yang sangat damai.
Cakra terus tersenyum melihat tingkah Pitaloka dan bahutai peliharaannya tersebut. Ia tidak menyadari bahwa terdapat wajah merah merona yang menatapnya tanpa henti dengan senyum paling manis.
Dara begitu tersentuh dan senang melihat keakraban yang ia lihat dari Cakra dan Pitaloka serta bahutai di depannya. Sima ikut merasakan perasaan itu, semenjak kehadiran Pitaloka suasana hati tuannya itu kini perlahan mulai membaik.
Laki-laki tua menghela nafas, melihat sikap yang ditunjukkan oleh pemuda yang menjadi lawan tandingnya belum lama ini sangatlah berbeda dari apa yang ia pikirkan.
Saat Cakra membahas nama seseorang yang begitu lekat dalam kehidupan dirinya, dalam sesaat emosi dan kenangan pahit menjerumuskan dirinya dalam emosi sesaat san berakibat mencelakai pemuda tersebut.
Merasa ia telah berbuat salah, laki-laki tua segera meminta maaf kepada Cakra.
"Semuanya telah terjadi, beruntungnya kita masih selamat", Cakra membalas permintaan maaf laki-laki tua.
Dara turut berterima kasih kepada Cakra karena telah menyelamatkannya, "Te-terima kasih...", suaranya pelan karena merasa malu.
Cakra hanya menganggukkan kepalanya, laki-laki tua segera meminta agar orang-orang yang Sima bawa untuk segera keluar dari ruangan itu. Laki-laki tua hendak menanyakan sesuatu hal yang penting dan ia ingin hanya orang-orang terdekatnya yang ada disini.
Dengan segera orang-orang yang telah membantu segera keluar, Sima yang hendak ikut keluar ditahan oleh Cakra.
"Tunggu Sima, kau juga harus ada disini. Aku tidak ada waktu untuk berlama-lama, waktu kita sudah sangat tipis sekarang", Cakra berdiri dan membiarkan Pitaloka bermain dengan bahutai.
Cakra berjalan perlahan ke arah laki-laki tua, "Soal perkataan ku tentang seseorang yang bernama Nabau itu harus diluruskan. Aku ingin membunuhnya!", terang Cakra.
Mendengar perkataan dari pemuda di depannya membuat laki-laki tua tertegun, ternyata perkiraannya yang mengira sang pemuda adalah suruhan dari musuh lamanya adalah salah besar.
Laki-laki tua menatap ke arah Dara yang dibalas anggukan kepala oleh anak gadisnya tersebut.
__ADS_1
"Ka-auu serius dengan perkataan mu barusan?", laki-laki tua bertanya dengan wajah yang serius, "Orang itu tidak lah mudah untuk kau lawan, walau sudah berumur namun kekuatannya tidak lah seperti yang kau pikirkan", tambah laki-laki tua.