
“Sepertinya tidak akan ada kemajuan jika terus di sini”, sang pria menghembuskan nafas pelan, “Baiklah untuk sementara kau ikut dulu bersamaku”
Merasa kehadirannya tak diinginkan sang pria lekas beranjak pergi dari desa tersebut menuju ke arah hutan kembali. Ia berniat membawa balita kecil itu menuju kediamannya yang tersembunyi di dalam lebatnya hutan.
Sinar surya kini menampakkan dirinya menerangi daratan yang masih hijau dan asri. Kicauan burung saling bersautan membuat suasana hati begitu tenang saat mendengarnya.
Sang pria terus melangkah masuk jauh ke dalam hutan sedangkan balita kecil yang ia bawa sudah tertidur lelap dalam gendongannya. Ia masih mengenang kejadian tadi malam yang mana membuatnya bertemu dengan balita kecil ini.
Pikirannya sesaat berkecamuk apakah ia akan merawat balita ini atau menyerahkan kepada orang lain. Dalam perjalanan menuju kediamannya pikiran itu terus saja mengganggunya sampai ia kini sudah berada di dekat tempat tujuannya.
Tepat di depannya sekarang sebuah goa dengan dijaga tiga orang bersenjatakan tombak dan satu orang lagi dengan pedang mandau. Saat dirinya sudah dekat ke-empat orang itu memberikan jalan tanpa sepatah kata pun.
Baru saja beberapa langkah ia masuk, langkahnya berhenti saat dirinya melihat seorang wanita berbaju kuning emas dan tiga bulu burung enggang menghiasi kepalanya. Wanita itu biasa dipanggil dengan nama Dara, ia adalah pemilik tempat ini.
“Bagaimana bisa kau datang dengan membawa anak kecil, apa yang kau lakukan pada anak itu?”, Dara spontan bertanya dengan raut wajah cemas.
“Diamlah”, balas pria singkat.
“Tidak bisakah kau bersikap lebih terbuka?”, Dara memanyunkan bibirnya, “Aku bertanya karena aku khawatir kau pergi tanpa memberitahu sebelumnya.”
“Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal yang kau inginkan”
“Kau terus begitu, aku juga...”
“Diamlah! Ocehan mu akan membangunkan anak ini, aku ingin kembali ke dalam dan beristirahat”
“T-tapi...”
__ADS_1
Belum sempat Dara menyelesaikan perkataannya sang pria telah melangkah melewatinya dengan wajah datar. Tentu saja sikap sang pria membuatnya kesal, ia berbalik badan lalu mengoceh, “Dasar orang buta perasaan, bodoh, dan aaarhhghhhh.....!!! Ingatlah wahai tuan Cakra Indradewa aku bersumpah akan membuat mu jadi milikku seutuhnya cepat atau lambat!”
Sang pria yang sering disapa Cakra hanya diam dan terus berjalan, ia tidak menghiraukan perkataan dari Dara. Sudah lama ia tahu bahwa wanita itu menaruh perasaan kepadanya sejak lima tahun yang lalu saat dirinya dibawa oleh gurunya mengungsi dari kerajaan Adipura yang telah kalah akibat di kudeta oleh salah satu petinggi kerajaan itu.
Sekilas ingatan itu kembali menghantui Cakra, saat itu ialah masa paling kelam dalam hidupnya dimana orang tuanya sendiri dibunuh oleh petinggi kerajaan yang memimpin pemberontakan itu. Untungnya nyawanya masih terselamatkan sebab dirinya berhasil dilarikan oleh gurunya sekaligus teman terdekat ayahandanya yang telah tiada.
Tidak lama setelahnya Cakra kini sudah berada di sebuah ruangan yang menjadi tempatnya beristirahat. Ia kemudian meletakkan balita kecil di tempat tidurnya dan memandangi sekeliling, perhatiannya kini tertuju pada pojok ruangan yang minim pencahayaan.
Ia dapat melihat dengan jelas terdapat seorang laki-laki sedang berdiri di pojokan yang ia tatap sekarang.
“Sudah berapa lama kau disini?”, pandangan cakra masih menatap pojok kamar itu.
“Cukup lama sampai aku bisa mendengar Dara menggerutu karena tuan pergi entah kemana”
Cakra menghela nafas, “Jika tidak ada yang penting, cepat keluar. Aku harus istirahat”, lanjutnya.
“Tuan, aku sudah mendapatkan apa yang tuan inginkan. Tentu saja ini tidak mudah namun semuanya berhasil didapat berkat bantuan Dara. Sebaiknya tuan bersikap lebih lembut terhadapnya”
“Sima, kau datang untuk ku atau sebagai suruhan Dara?”, Cakra kembali bertanya sambil meluruskan badannya dan rebahan di samping berita kecil.
“Maaf tuan, sebenarnya...”
“Kembali lah saat malam nanti, dan juga bawa Dara ke sini”, selesai berkata demikian Cakra mulai menutup matanya.
“Baik tuan”, Sima menjawab dan langsung melangkah pergi.
Sima kemudian keluar dari ruangan tempat Cakra beristirahat, belum lama setelahnya langkahnya tertahan sebab ia melihat Dara yang baru saja datang membawa seorang wanita paruh baya bersama pengawalnya.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu tidak lain ialah wanita yang membawa balita kecil, ia berhasil ditemukan oleh Dara tidak jauh dari tempat pembantaian kelompok pembunuh yang dilakukan oleh Cakra bersama bahutai miliknya.
Dara yang melihat laki-laki itu kini menghampirinya, ia kemudian memerintahkan agar pengawalnya pergi dan membawa wanita paruh agar segera diobati.
Kini Dara dan laki-laki itu sudah berhadapan, “Sudah kau sampaikan apa yang telah kita lakukan?”, Dara menyilangkan tangan didadanya.
“Perihal itu sudah ku lakukan, tapi apa yang telah terjadi dengan wanita yang kau bawa tadi?
“Saat kami menyusuri hutan aku tidak sengaja mencium aroma pekat darah, tentu saja aroma itu sangat mengundang. Dan Setelah menelusuri dimana aroma itu berada, wanita itu sudah terduduk lemas dengan darah sudah mengering di pahanya. Serta....”, Dara mulai memikirkan sesuatu hal, “Mungkin ini ada kaitannya dengan Cakra, sebab disana juga ada mayat orang-orang seperti kita yang mati seperti terkena serangan binatang buas”
“Bagaimana kau yakin akan hal itu, jangan berbicara yang tidak-tidak atau...”
“Hei Sima, aku sudah banyak melihat mayat-mayat yang mati akibat serangan binatang buas, tapi mayat-mayat yang ku lihat hari ini begitu berbeda. Dimana kondisi mayatnya rusak parah dan hampir tidak bisa dikenali, hanya satu makhluk yang bisa melakukan itu dan kau pasti tau itu apa!”, Dara menggerutu kepada Sima sambil menunjukkan hidung lawan bicaranya.
Sima hanya diam, ia memaklumi sikap yang Dara tujukan padanya. Ia mengetahui bahwa sifat asli Dara adalah seperti ini. Sikap remaja yang baru tumbuh dewasa dengan emosi yang belum stabil, ia selalu menggerutu jika berbeda pendapat saat berbicara.
Itu ia tujukan kepada semua orang kecuali satu, orang itu ialah Cakra yang merupakan pujaan hatinya. Saat bertemu Cakra sebisa mungkin ia bersikap lemah lembut dan seolah ingin dimanja. Namun balasan yang ia terima dari pujaan hatinya malah terbalik, Cakra bahkan terlihat begitu atuh akan kehadirannya.
Sampai sekarang ia terus berpikir apakah mungkin Cakra sudah memiliki wanita yang ia cintai. Ia bahkan memaksa Sima agar membantunya mencari tahu apakah Cakra sudah memiliki kekasih hati atau belum.
Awalnya Sima menolak namun Dara terus memaksanya bahkan mengancam jika tidak membantu maka ayahandanya yang akan turun tangan. Mendengar hal itu sontak membuat Sima terkejut bukan main, jika ayahanda Dara bergerak maka dipastikan malapetaka hebat akan muncul nantinya.
“Baiklah, aku tidak akan berdebat dan aku juga ingin menyampaikan bahwa malam nanti tuan Cakra ingin kita berdua pergi ke ruangannya”
“Apaaaa???”, mulut Dara terbuka lebar saat mendengar itu, reaksinya begitu berlebihan bagi Sima.
“Sudahlah aku akan pergi keluar”, Sima melangkah pergi.
__ADS_1
“KYYYAAAHHHH.... Senangnya.... Aku harus mandi dan berpakaian terbaik malam ini”, senyum lebar kini menghiasi wajahnya, “Malam ini... Malam ini....”, senandungnya sambil berjalan.