Pendekar Bahutai Merah

Pendekar Bahutai Merah
Aba


__ADS_3

"Baguslah, sekarang beri tahu dimana orang itu berada", Cakra menatap tajam ke arah Dara.


Dara menunjukkan raut wajah yang kaget bercampur penasaran, "Apa kau tidak mendengar perkataan ku barusan!? Dia bukan orang sembarangan yang bisa kau lawan dengan kekuatan mu saat ini!", Dara mengepalkan tangannya mencoba menahan emosi.


"Tidak ada kata mustahil, dia orang yang cocok sebagai batu loncatan agar semua yang ku inginkan tercapai. Seperti yang kau tahu bahwa ke depannya semua yang terjadi tidak akan lepas dari semua hal tentang ini", Cakra menerangkan maksudnya.


Dara menggigit bibir bawahnya, ia takut akan hal yang akan menimpa Cakra jika berurusan dengan orang yang sedang mereka bahas saat ini. Tentu saja jika dia terus mengoceh pun tidak akan ada hal yang berubah.


Sifat pria yang ia sukai tersebut sangat lah keras kepala, dan dia tahu apapun yang terjadi Cakra tidak akan mengubah keputusannya.


Dengan raut wajah masih menahan emosi Dara menoleh ke arah Sima dan memberikan sebuah kode agar Sima keluar dari ruangan itu. Sima hanya bisa diam dan segera berdiri meninggalkan mereka berdua.


Setelah Sima keluar Dara kini berdiri dan mendekat ke arah Cakra, "Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu, jika memang itu yang ingin kau lakukan dengan berat hati aku akan membantu....", Dara memberanikan diri menatap wajah Cakra walau masih terasa canggung sebab saat ini hanya mereka berdua yang sedang berbicara.


"Sebaiknya kau bertemu dengan ayahanda agar ia bisa memberikan nasihat agar kau bisa melawan orang itu", tambahnya.


"Baik, tidak ada waktu lagi bawa aku kesana sekarang juga", Cakra berdiri tepat di depan Dara.


Tubuh wanita itu bergetar sesaat sebab kini ia merasakan gejolak panas yang teramat sangat dalam tubuhnya. Ingin sekali rasanya ia memeluk sosok pria yang ada di depannya sekarang.


Dan ia juga ingin menyampaikan isi hatinya secara langsung kepada Cakra. Namun seperti batu, mulutnya tak dapat bergerak sedikitpun. Pikiran dan isi hatinya saling beradu dalam waktu bersamaan membuatnya tidak karuan.


"Ba-ba..baik-lah ikut-i aku sekarang", Dara berbalik badan dan melangkah keluar ruangan.

__ADS_1


Cakra diam sejenak dan menoleh ke arah Pitaloka yang kini sudah tertidur nyenyak. Ia kemudian berjalan keluar ruangan dan mendapati Sima masih berdiri di dekat ruangannya.


Cakra hendak berkata sesuatu, namun belum sempat ia berbicara Sima sudah terlebih dulu mendahuluinya, "Aku akan menjaga Pitaloka untuk tuan, aku sudah mendengar apa yang ingin tuan dan Dara lakukan", terang Sima.


"Aku titipkan dia", Cakra membalas singkat.


Setelahnya Cakra mulai melangkah menyusul Dara yang sudah berjalan terlebih dahulu ke sebuah ruangan paling dalam di goa tersebut.


Keduanya berjalan berdampingan menyusuri lorong demi lorong dan kini keduanya telah tiba di ruangan tepat di ujung goa. Suasana begitu sunyi namun tidak begitu mencekam sebab terdapat lubang besar tepat di atap goa yang membuat sinar sang rembulan menyinari ruangan itu.


Namun sesaat kemudian tiba-tiba saja ruangan menjadi gelap, sinar rembulan tiba-tiba menghilang berganti dengan gelap gulita. Spontan Cakra merasakan hawa dingin yang teramat menusuk kulit, sedangkan Dara hanya berdiri diam sambil menundukkan kepala.


GGGRRrrrrrrrrrkkkk...... GGGRRrrrrrrrrkkkkkk....


Pandangan Cakra kini tertuju ke sebuah sosok hitam besar berbulu lebat yang sedang berdiri di atap goa membelakangi sinar rembulan. Karena badannya yang besar membuat sinar sang rembulan tak bisa masuk ke dalam ruangan itu.


Tidak hanya itu mata merah menyala serta tangan sosok yang ia lihat begitu panjang dan besar disertai kuku panjang nan tajam. Mata merah itu terus menatap ke arah Cakra tanpa berkedip sedikitpun diikuti suara geraman yang keluar dari mulut sosok tersebut.


Mata Cakra seolah terikat dengan mata sosok yang ditatapnya tanpa ia sadari sosok tersebut kini menyeringai menunjukkan gigi taringnya yang sangat runcing.


Dara yang menyadari keadaan Cakra kemudian dengan perlahan memegang tangan Cakra dan menggenggamnya erat. Perbuatan yang ia lakukan akhirnya menyadarkan Cakra yang sedari tadi terpaku diam melihat ke atas.


Dara tahu apa yang Cakra lihat barusan yang tidak lain ialah wujud ayahandanya saat berubah menjadi makhluk gaib. Sosok yang memiliki perawakan tinggi besar, berbulu lebat, kuku dan taring yang teramat tajam.

__ADS_1


Di tempat mereka berasal sosok wujud gaib dari ayahandanya biasa dikenal dengan sebutan Mariaban. Sosok ini begitu ditakuti karena terkenal kejam dan ganas.


"Jangan melihat ke atas lagi, itu wujud ayahanda ketika menjadi makhluk gaib", Dara menjelaskan, "Aba, Dara datang bersama seseorang yang Dara sukai", Dara menarik tangan Cakra agar segera berlutut.


Cakra belum bisa mencerna akan apa yang Dara katakan barusan, sampai saat ia berlutut ia spontan menoleh ke arah Dara yang dibalas Dara dengan jari telunjuk di tengah bibir menandakan dia harus diam.


Melihat reaksi Dara seperti itu Cakra memutuskan mengikuti perkataannya Dara. Tanpa ia sadari sekarang sudah berdiri sosok laki-laki tua berpakaian khas sesepuh suku yang mendiami pulau itu.


Wajahnya sudah tampak begitu tua dengan banyak keriput-keriput yang ia punya. Cakra segera menundukkan kepala memberikan penghormatan kepada sosok di depannya sekarang.


"Bangunlah umang", perintah sosok orang tua tersebut.


Dara kemudian berdiri disertai Cakra yang mengikuti gerakan dari Dara. Karena tidak ada lagi yang menghalangi sinar rembulan, ruangan itu kini cukup terang dan memperlihatkan sosok laki-laki di depannya.


"Aba, umang membawa seorang pria untuk menemui Aba", Dara memperlihatkan tangannya yang sedang menggenggam tangan Cakra, "Aba bisa memanggil dengan Cakra", tambahnya lagi.


Sosok laki-laki tua tersenyum dan berjalan menghampiri keduanya, saat sudah dekat laki-laki tua menepuk pundak Cakra sambil tersenyum, "Umang, dia pria yang memiliki perangai yang bagus. Aba senang umang menemukan pria yang tepat sesuai dengan apa yang Aba mau, lihatlah badannya yang tegap dan kekar ini.... Sudah pasti ia pria yang cocok disandingkan dengan umangku yang cantik jelita ini... Dara sering bercerita tentang mu, aba tidak menyangka bahwa kalian datang kesini bersama-sama", senyum laki-laki tua semakin lebar dan kini ia menujukannya ke arah Cakra.


Cakra hanya diam tanpa ekspresi mengingat laki-laki tua yang ia lihat sekarang merupakan sosok besar yang melihatnya dengan tatapan mata merah menyala tadi.


"Aba sudahlah, umang malu...", Dara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Haaa.... Haaa.... Umang ku ini masih saja malu, maafkan dia Cakra biasanya ia tidak begini. Mungkin sebab ini pertama kalinya dia membawa seorang pria langsung menemui ku", laki-laki tua tertawa sambil menepuk pundak Cakra berulang kali.

__ADS_1


__ADS_2