
Sosok yang kini menatap tajam para pembunuh tidak lain ialah makhluk mistik yang dipercaya oleh suku mereka sebagai mahkluk yang sangat ganas.
Makhluk ini begitu haus akan darah, dengan gigi tajam siap mengoyak mangsanya. Sosok ini biasa disebut dengan bahutai, konon ceritanya makhluk ini berasal dari bulan dan sosok ini juga dapat dipelihara layaknya seperti hewan lainnya.
Tentu saja tidak sembarangan untuk memeliharanya, harus ada perjanjian antara sang tuan dan makhluk tersebut.
“Ketua, apa yang harus kita lakukan?”
“Ta-tangan-ku tidak berhenti bergetar”
“Bagaimana bisa kita bertemu makhluk ini disini?!"
Melihat anak buahnya terdiam terpaku melihat makhluk itu, sang ketua kelompok pembunuh segera mengambil tindakan.
Dengan keberanian sebagai seorang pemimpin ia meloncat tinggi ke arah bahutai yang juga dibalas bahutai dengan melompat ke arah ketua kelompok pembunuh.
Pertemuan diantara keduanya kini tak dapat dihindari, ketua kelompok pembunuh mengarahkan pedang mandaunya mengincar kepala bahutai.
Seolah sudah tahu, bahutai dengan sigap memutar badannya dan kemudian tanpa disadari lawannya bahutai berhasil memberikan luka cakaran tepat pada mata kiri ketua kelompok pembunuh.
SRRAAAKKKK....
Darah segar menetes dari luka yang ketua kelompok pembunuh terima, bahkan saat mendarat di tanah keseimbangannya hampir saja runtuh. Ia memegangi luka tersebut dan mengobatinya dengan tenaga dalam.
Namun belum sempat ia lakukan sang bahutai tidak tinggal diam, dengan kecepatan yang tidak masuk akal kini bahutai sudah meloncat ke arahnya. Makhluk ganas itu sudah siap menyerang dengan gigi-gigi tajamnya.
Melihat hal itu dengan situasi yang tidak memungkinkan ia mencoba menahan serangan bahutai dengan menggunakan mandaunya. Gigi tajam bahutai kini bertemu dengan mandau miliknya yang membuat suara khas layaknya besi yang saling beradu.
TRAANNKKKK......
Nafas ketua kelompok pembunuh tertahan sebab yang ia lihat sekarang mandaunya kini berada dalam gigitan sang bahutai.
Tenanganya terus terkuran karena bahutai mencoba mendesak dengan terus menekan mandau yang digigitnya ke arah dirinya.
__ADS_1
Gggrrr....... Rrr........
Liur dari makhluk ganas itu kini menetes membasahi wajah ketua kelompok pembunuh, mata merah yang menyala-nyala menambah kengerian yang dirasakan olehnya.
Tidak sampai disitu, kini bahutai menyerang dengan kakinya yang memiliki kuku tajam seperti giginya. Dengan ganas bahutai menyerang tangan kanan musuhnya yang digunakan untuk menahan dengan pedang mandau itu.
Dalam sekejap luka cakaran kini menghiasi tubuh sang lawan. Sontak saja reaksi yang dikeluarkan oleh lawannya ialah erangan kesakitan akibat luka yang bahutai berikan.
Bak melihat emas di depan mata, bahutai kemudian melepaskan gigitan pada pedang mandau milik lawannya dan kini giginya bersqrang pada leher lawannya.
“Heeekkkk..... Ookkkhggggg....”
Leher ketua kelompok pembunuh kini mendapat gigitan yang membuat darah menggumpal dan memenuhi tenggorokannya. Ia masih mencoba melepaskan diri namun semakin ia berusaha gigitan dari bahutai juga semakin kuat.
Tidak butuh waktu lama akhirnya kini nyawa lawan yang ia gigit sudah lenyap, bahutai kemudian melepaskan gigitannya dan kini berbalik arah menghadap anak buah dari lawannya.
“Ke-ke-tuaaa... Tidak, aku tidak ingin mati. Aku harus pergi”
“Ce-cepaat pergi da-dari sini!”
Namun sayang, perihal buruk sudah menanti saat mereka membalikkan badannya. Tepat di dekat mereka sudah berdiri sosok pria dengan badan yang kekar dan memiliki tato naga serta bahutai pada bagian punggungnya.
Belum sempat mereka bereaksi, salah satu dari mereka mendapat serangan berupa sebuah tendangan ke arah kepalanya. Serangan itu membuat sang lawan terpental jauh ke belakang dan berakhir mendarat dengan kepala sudah tak normal seperti umumnya.
Melihat rekannya yang langsung mati setelahnya membuat yang tersisa menjadi lemas, tidak ada dari mereka yang berpikir bahwa malam ini adalah malam paling tragis yang sebentar lagi akan mereka rasakan.
Seolah sudah pasrah akhirnya mereka berlutut bahkan menyembah orang yang berada di depannya.
“Ampuni kami, tolong jangan bunuh kami, ampuunnn”
“Tolong, akan ku berikan apa saja, tolong biarkan kami pergi...”
Para pembunuh terus merengek di hadapan pria yang barusan, mereka sampai meneteskan air mata karena begitu takut akan kematian yang sudah mereka saksikan.
__ADS_1
“Apa saja? Bahkan dengan nyawa kalian”, sang pria bertanya dengan pelan namun suaranya terdengar jelas ke setiap telinga kelompok pembunuh.
“Ti-ti-tidak, maksud ka-mi...”
Belum sempat salah seorang dari mereka menjelaskan, kepala orang itu kini sudah terpisah dari badannya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa nyawanya kini sudah tiada.
Tangan sang pria kini memegang sebuah pedang dengan gagang berukir kepala naga dan bilah pedang putih mengkilat. Pedang itu ia beri nama dengan sebutan pedang rawaja putih yang berarti pedang naga putih sesaui dengan rupa dari pedang tersebut.
Dengan pedang itulah ia telah menebas kepala musuh yang mati barusan.
“Mati saja kalian”, sang pria kemudian berbalik badan dan melangkah pergi.
Kelompok pembunuh yang menyaksikan dan mendengar perkataan dari pria itu kini mendapat serangan dari bahutai yang berada di belakang mereka.
Bahutai menyerang dengan gencar ke arah mereka dan dapat dipastikan malam itu ialah hari terakhir mereka bisa bernafas di dunia ini.
*****
“Ta taaa... ta tatata....”, balita kecil terus mengoceh saat digendong oleh sang pria menyusuri jalan keluar dari hutan.
“Kau sangat suka mengoceh rupanya, untuk sesaat telingaku akan penuh dengan suaramu”, sang pria tersenyum diikuti gelak tawa dari balita kecil.
Balita kecil ini memiliki kulit putih bak susu dan mata hitam yang begitu indah. Sang pria baru menyadari bahwa balita kecil ini memiliki tanda lahir di telapak kakinya.
Perjalanan mereka kini sudah hampir dekat dengan pintu keluar hutan tersebut dimana terdapat sebuah gapura berupa batu. Tidak jauh dari sana terdapat sebuah pemukiman yang menjadi tujuan dari sang pria.
Ia membawa balita kecil itu kesana untuk menyerahkannya kepada orang yang mau merawatnya. Ia melakukan hal itu sebab umurnya yang masih muda dan belum punya pasangan.
Jadi adalah hal sulit baginya untuk membesarkan balita yang bahkan ia sendiri tidak tahu namanya. Dan tidak butuh waktu lama akhirnya sang pria sampai di desa tujuannya.
Suasana di desa belum terlihat ramai sebab orang-orang desa akan keluar jika sinar matahari sudah mulai timbul. Hanya beberapa orang yang sudah keluar dari rumahnya dan melakukan berbagai kegiatan layaknya warga desa biasa.
Namun kedatangannya disitu tidaklah menjadi hal yang baik, karena tato yang menjadi ciri khas ditubuhnya membuat orang yang melihatnya menjauhi sang pria.
__ADS_1
Melihat hal itu sang pria diam berdiri sambil melihat ke arah balita kecil yang memasang wajah tersenyum ke arahnya.