Pendekar Bahutai Merah

Pendekar Bahutai Merah
Kehilangan


__ADS_3

"Jika kekuatannya tidak main-main, maka dia adalah orang yang tepat untuk dijadikan batu loncatan. Aku tidak akan bertahan lama disini, masih ada hal yang harus aku selesaikan!", tegas Cakra.


Melihat kesungguhan dan semangat muda yang ditunjukkan lawan bicaranya sekarang membuat laki-laki tua menggelengkan kepala.


"Benar-benar keras kepala, anak muda jika kau ingin melakukan hal itu aku akan membantu. Kalian tinggalkan kami berdua disini!", perintah laki-laki tua.


Dara hanya menganggukkan kepalanya sementara Sima beranjak menggendong Pitaloka serta bahutai dan membawanya keluar ruangan.


Sebelum mereka keluar laki-laki tua meraih tangan Dara dan segera menbisikkan sesuatu. Dara kembali menganggukan kepalanya pelan sembari berjalan keluar ruangan. Kini hanya tinggal Cakra dan laki-laki tua yang saling berdiri berhadapan.


"Kau mungkin tidak pernah tau bagaimana kekuatan orang itu, tapi aku dapat membantu jika kau ingin membunuhnya", laki-laki tua menepuk pundak Cakra, "Tapi ingatlah membunuhnya adalah hal yang sulit dan pastinya nyawamu menjadi taruhan!", sambungnya.


Belum sempat Cakra membalas perkataan dari lawan bicaranya, laki-laki tua segera merapalkan sebuah mantra sambil memegang kedua pundak Cakra.


"Garapak-garagui talapak kaya tanggui"


Kata-kata itu terus dirapal oleh laki-laki tua sambil memejamkan mata sementara Cakra yang mendengar rapalan itu seketika tubuhnya terasa dirasuki sebuah energi yang membuat tubuhnya perlahan-lahan menjadi panas.


Cakra tidak tahu apa yang dilakukan oleh laki-laki tua yang bersamanya sekarang, ia hanya fokus untuk menguatkan tubuhnya menahan energi panas yang terus menerus menyerang di dalam tubuhnya saat ini.


Setelah beberapa saat energi panas yang ia rasakan perlahan menghilang dan setelahnya laki-laki tua hampir jatuh terduduk tepat di depan matanya.


Cakra dengan sigap menangkap tubuh laki-laki tua agar tidak terjatuh, ia menyadari keriput dari laki-laki tua kini semakin banyak dan bibirnya pucat pasi.


"Aku telah memindahkan energi kehidupan ku padamu seluruhnya, dengan ini kau bisa menggantikan aku untuk melawan orang itu...", lirih laki-laki tua.

__ADS_1


"Apa yang engkau lakukan?! Energi kehidupan apa itu?!", Cakra menjadi kebingungan serta panik akan apa yang ia hadapi sekarang.


Cakra bisa merasakan tubuh sang laki-laki tua kini sudah sedingin es dengan menatap wajah yang sudah amat pucat.


"Tidak lama lagi aku akan pergi, hanya ini yang aku bisa lakukan. Ingatlah rapalan mantra ini! (Garapak-garagui talapak kaya tanggui) dengan rapalan mantra itu kau bisa mendapatkan kekuatan lebih dan bisa berubah menjadi Mariaban", laki-laki tua menerangkan dengan nada lemah.


Cakra seketika terkejut dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki tua barusan, ia tidak menyangka akan apa yang laki-laki tua berikan padanya. Bantuan yang ia terima tidak lah main-main, bahkan ini merupakan bantuan yang sangat besar baginya.


"Kenapa engkau sampai berbuat hal seperti ini?!", Cakra masih tidak mengerti.


"Setelahnya kau akan mengerti anak muda, orang itu bukan lah lawan yang sederhana seperti pikiran bodoh kau itu", laki-laki tua tersenyum tipis.


"Tapi bagaimana dengan Dara!? Dia akan berse...."


"Itulah tugas yang telah aku berikan kepada mu anak muda. Aku tahu sebenarnya kau tidak menaruh perasaan apa-apa kepada umang ku. Jadi ini permintaan terakhir dari ku, tolong jaga umang ku. Waktu ku tidak banyak lagi, jaga dia layaknya seseorang yang berarti dalam hidupmu...."


Cakra diam terpaku atas apa yang ia rasakan sekarang, rasa hampa dan kehilangan kini menyerangnya. Ia seolah mengalami tekanan yang sama persis saat menyaksikan ayah serta gurunya mati tepat di depan matanya.


*****


Tengkuk Dara seketika diserang hawa dingin sehingga membuatnya bergidik ngeri sesaat, entah apa yang terjadi setelahnya ia mendengar sayup-sayup suara ayahandanya memanggil namanya.


Suara itu terdengar begitu pelan namun jelas terdengar di telinganya, tanpa ia sadari suara itu kini lenyap seiring jaraknya semakin dekat ke ruangan tempat Cakra dan ayahandanya berada.


Ia baru saja pergi mengambil sebuah barang yang diperintahkan oleh ayahandanya. Dara sempat terkejut mendengar apa yang diminta oleh ayahandanya tersebut, bagaimana tidak barang itu bukanlah barang yang sembarangan.

__ADS_1


Di tangannya kini ada sebuah kotak panjang yang terbuat dari kayu Meranti berwarna merah. Walau sebenarnya sedikit berat namun Dara mampu membawanya dengan cepat.


Seolah sudah diberi tanda Dara segera menuju ke ruangan tempat ayahandanya dan Cakra berada. Langkahnya terhenti saat ia melihat dengan jelas tubuh ayahandanya kini sudah terbujur kaku dan Cakra yang menyadari kedatangan Dara menatap gadis itu dengan raut wajah yang serba salah.


"Abaaa.... Abaaaa.... Abaaaaa!!!!!!", Dara berteriak histeris. Dengan cepat ia melangkah menuju ke arah ayahandanya dan mendekap tubuh laki-laki tua renta itu.


Tidak ada kata-kata lagi yang mampu ia ucapkan, hanya derai tangisan dan pelukan erat yang ia bisa lakukan sekarang. Cakra terdiam sejenak melihat gadis di depannya menangis sejadi-jadinya.


Cakra berpikir keras bagaimana caranya agar membuat sang gadis menjadi tenang. Ia meraih tangan Dara dan membuat sang pemilik tangan menatapnya dengan air mata masih mengalir.


Tangan Cakra dengan pelan mulai mengusap pipi Dara untuk menyeka air mata gadis itu. Dara yang sedari tadi menangis sejadi-jadinya kini perlahan mulai menjadi tenang.


Entah apa yang terjadi, Dara seolah merasakan hawa ayahandanya saat Cakra mengusap pipinya. Hawa itu begitu tenang dan sangat nyaman, tidak terasa air matanya kini sudah berhenti mengalir.


Dara perlahan meletakkan tubuh ayahandanya yang dia dekap sedari tadi, dan kemudian Dara langsung memeluk Cakra sambil membenamkan wajahnya di dada pria tersebut.


Perasaan Cakra campur aduk dalam sesaat, ia tidak menyangka gadis yang bersamanya sekarang tiba-tiba memeluk tubuhnya. Walau demikian pelukan itu tidak membuatnya risih, perasaan yang begitu hangat saat dirinya dipeluk.


Cakra memberanikan diri untuk mengusap kepala Dara dengan lembut sembari berkata, "Maaf..... Aku tidak punya kata-kata lain lagi".


Dara yang masih memeluk tubuhnya perlahan mulai melepaskan pelukan tersebut, "Aku tahu apa yang telah Aba berikan padamu, aku tidak akan menyalahkan itu. Aku harap kau segera menuntaskan apa yang kau inginkan sekarang", lirih Dara.


Cakra hanya membalaskan dengan anggukan kepala sambil melihat laki-laki tua yang masih terukir senyum pada wajahnya.


"Baiklah, sebelumnya mari kita berikan tempat pengistirahatan terbaik untuk ayahandamu Dara", ajak Cakra.

__ADS_1


Dara menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju dengan perkataan Cakra.


__ADS_2