
"Uuuggghhuukk..... Umangku, umanggg....", laki-laki tua meringis kesakitan, namun bibirnya terus saja memanggil anaknya.
Sima segera membopong tubuh laki-laki tua itu menuju tempat yang aman dari reruntuhan goa. Tidak lama akhirnya ia menemukan sebuah tanah yang lumayan lapang dan Sima pun segera membaringkan laki-laki tua.
Perlahan tapi pasti Sima dapat melihat mata laki-laki tua yang ia selamatkan mulai membuka matanya. Laki-laki tua yang tersadar segera mengatur nafasnya, "Cepat cari Dara! Uuuggghhuukk..... Dia berada disana saat goa ini runtuh", laki-laki tua menunjuk ke arah batu yang paling besar.
Sima menoleh ke arah dimana laki-laki tua menunjuk, matanya terbuka lebar melihat batu yang ia lihat sekarang. Di dalam hatinya ia bertanya-tanya apakah mungkin ada orang yang selamat jika tertimpa batu besar itu.
Tidak punya alasan untuk menolak, Sima segera berlari ke arah batu besar, "Bagaimana cara memindahkan batu ini?", batin Sima.
Pertama yang ia lakukan mencoba mendorong batu besar itu namun tentu saja itu tak berhasil. Batu besar itu sangatlah berat, ia sudah mengerahkan tenaganya sekuat mungkin namun batu itu tak bergerak sedikitpun.
Tidak habis pikir ia menggunakan ilmu kanuragan nya, ia mengumpulkan tenaga dalam dan memusatkannya di kedua tangannya.
Braaakkk.... Braaakkk... Braaakkk.... Braaakkk... Braaakkkk....
Tinju Sima yang menghantam batu membuat suara yang lumayan kuat. Bertubi-tubi ia memukul ke arah batu tanpa berhenti sedikitpun. Tanpa memperhatikan bahwa kepalan tangannya kini sudah memerah karena menghantam batu besar itu.
Krraaakkkkk...... Krakkk...
Dua retakan cukup besar akhirnya terukir di batu besar itu namun itu belum cukup. Sima harus mengerahkan tenaganya lagi agar batu itu bisa ia hancurkan dengan tinjuannya.
Saat ia masih fokus samar-samar Sima merasakan ada sekelebat bayangan hitam menyerupai seekor hewan bergerak lincah mengarah kepadanya.
"Tidak mungkin!", Sima mundur beberapa langkah saat ia menyadari sekelebat bayangan hitam itu adalah makhluk gaib yang sangat sakral.
Pandangan Sima terarah ke atas batu besar, ia sungguh tak percaya akan apa yang ia lihat. Makhluk itu tidak lain ialah bahutai yang menjadi peliharaan tuannya Cakra.
__ADS_1
Sima baru kali pertama melihat langsung wujud makhluk itu, membuatnya diam berdiri menyaksikan apa yang ia lihat sekarang.
Bahutai menatap tajam ke arah Sima dan setelahnya bahutai melompat ke bawah. Sima mengira makhluk itu akan menyerangnya namun kemudian ia mendapati makhluk itu mengendus ke arah tanah yang tertimpa batu besar.
Setelah beberapa saat mengendus, sang bahutai menoleh ke arah Sima sesaat. Sima tidak mengerti apa yang makhluk itu inginkan, saat itu lah ia baru teringat akan sesuatu.
Dara pernah bercerita kepadanya bahwa belum lama ini ada sekelompok orang sepertinya yang mati mengenaskan akibat serangan binatang buas.
"Apa mungkin makhluk ini ialah bahutai peliharaan tuan?!", hatinya terus bertanya-tanya akan situasinya sekarang.
Dan setelah melihat gelagat dari makhluk itu ia menerka mungkin benar saja itu adalah peliharaan tuannya tersebut. Dan mungkin kini tuannya berada di bawah batu besar itu juga.
"Bantu aku untuk memecahkan batu itu", Sima memberanikan diri berbicara kepada bahutai di depannya.
Sima mendapati tanggapan yang membuatnya menjadi tenang, sang bahutai seolah mengerti akan apa yang ia katakan. Bahutai menganggukkan kepalanya tanda seakan setuju.
Tanpa pikir panjang Sima melangkah mendekati batu besar kembali dan bersiap untuk memukul batu besar lagi. Sang bahutai tidak tinggal diam, ia juga turut membantu Sima untuk segera memecahkan batu besar.
Seolah sudah saling sepakat, keduanya bergiliran melancarkan serangan tepat di tempat retak yang sudah Sima buat tadi.
Retak yang awalnya hanya kecil kini bertambah besar, Sima mengumpulkan tenaganya dan memusatkannya di kepalan tangan kanannya. Saat sudah siap ia melampiaskan tenanganya ke arah batu dan akhirnya batu itu berhasil terbelah menjadi dua dengan sebagian pecah berkeping-keping.
Tidak Sima sangka ia mengeluarkan separuh tenaga dalamnya untuk menghancurkan batu besar di depannya. Saat perhatiannya terfokus pada reruntuhan batu yang ia pecahkan, sang bahutai segera menggali tanah dan reruntuhan batu-batu kecil di bawah batu besar yang sudah pecah tadi.
Ketangkasan sang bahutai berbuah hasil, tidak butuh lama akhirnya samar-samar tubuh seseorang sudah terlihat. Benar saja itu adalah Cakra, Sima segera membantu menggali dan setelahnya ia membantu mengeluarkan Cakra dari reruntuhan.
Saat Sima hendak menarik keluar tubuh tuannya, ia mendapati tubuh sang tuan masih bergerak sedikit demi sedikit. Sima terpaku sesaat sebelum akhirnya meraih tubuh tuannya tersebut.
__ADS_1
Tidak disangka ternyata di bawah Cakra ialah Dara yang sudah pingsan akibat tertimpa reruntuhan. Sedangkan Cakra masih keliatan sadar walau kini tubuhnya penuh luka karena melindungi Dara.
Keduanya berpelukan saat Sima mengangkat tubuh tuannya. Sima segera mencarikan tempat yang nyaman untuk keduanya berbaring.
"Uuuggggkkk... Aarrrgghhkkk... Un-tung-lah kau men-geluarkan ka-mi tepat waktu. Jika ti-dak...."
"Tuan beristirahat dulu, kondisi tuan tidak lah baik sekarang", Sima memotong perkataan Cakra.
Sima tidak ingin keadaan tuannya menjadi lebih buruk jika tuannya memaksakan diri untuk berbicara lagi.
"Baa-gaima-na dee-ngan Dara? Uuuggghhuukk...", Cakra menatap ke arah Sima.
"Dara hanya pingsan, tuan tidak perlu khawatir tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya. Tuan jangan banyak bergerak, aku akan kembali sebentar lagi. Aku harus mencari pertolongan"
Sima memastikan keadaan tuannya terlebih dahulu sebelum beranjak untuk menjacari bantuan.
Cakra hanya bisa diam terbaring sambil merasakan sakit di tubuhnya, ia beruntung sebab jika saja ia tidak segera di keluarkan dari reruntuhan itu mungkin nyawanya kini sudah tiada.
Saat ia masih memikirkan nasibnya tiba-tiba saja tangan kirinya di jilati, Cakra menoleh dan mendapati bahutai terus menjilati tangannya sambil mengeluarkan suara memelas.
"Bee-laaangg....", Cakra berucap pelan. Melihat majikannya yang terbaring lemas membuat sang bahutai bersedih. Bahutai membenamkan wajahnya ke arah dada sang majikan.
Melihat tingkah sang bahutai membuat Cakra tersenyum, "Ti-dak perlu khawatir be-lang, aku tidak apa-apa se-kara-ng", Cakra mengelus kepala bahutai.
Aauukkk... Aauuukkk... Aauuukkkk....
Sang bahutai yang dielus kepalanya menjadi kegirangan, makhluk itu mengusap-usapkan wajahnya ke tubuh Cakra.
__ADS_1
Cakra hanya bisa tertawa pelan melihat tingkah peliharannya tersebut, ini pertama kalinya peliharaannya terlihat begitu manja dan kegirangan saat bersamanya.
Ia kini menyadari ada sifat lembut dari makhluk tersebut, sebab sebelumnya ia hanya menggunakan mahkluk itu untuk bertarung dan membunuh.