Pendekar Dewa Rajawali

Pendekar Dewa Rajawali
3. Siluman ular


__ADS_3

Tak jauh dari kampung halaman Waseng, ada persimpangan jalan. Yg kiri menuju ke kampung melati dan kalau ke kanan ke kampung mawar.


Tepat di tengah persimpangan, Teman teman Waseng telah menunggunya disana,untuk mengucapkan salam perpisahan dengannya.


"hei lihat itu Waseng, ucap Edo.


"ternyata benar dia akan meninggalkan desa hari ini. Sambil mengepalkan tangan,Risky maju kedepan tak sabar untuk menonjok Waseng.


"Hei kawan kawan knpa kalian disini? Teriak Waseng yg masih agak jauh dari mereka.


Saat Waseng telah berada di dekat teman temannya, tiba tiba Risky langsung menonjok pipi Waseng sampai pipinya memar.


"Kau anggap siapa kami ini? Ingin meninggalkan kampung halaman dan teman teman tanpa berpamitan,bentak Risky yg merasa kecewa.


Hanya kata maaf yg terlontar dari mulut Waseng.


Mereka pun saling berpelukan dan menepuk pundak Waseng.


"jangan lupakan kmi sobat, ucap Endo.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan teman temannya, Waseng langsung melanjutkan perjalanannya. Dari kejauhan teman teman waseng terlihat masih melambaikan tangan, sampai Waseng hilang dari pandangan, dan mereka pun kembali ke desa.


Waseng mengambil arah jalan lurus dan tidak belok kiri atau ke kanan. Karena gunung yg di tuju berada di arah matahari terbit.


Burung berkicau sahut sahutan, suara desiran angin menghembus dedaunan.


"Sebaiknya aku berlari demi menghemat waktu.


Karena gunung yg menjadi tujuannya berjarak 10hari berjalan kaki, maka pikir Waseng jika berlari mungkin hanya membutuhkan waktu 3hari saja, mengingat jika malam dia harus beristirahat maka Waseng pun berlari memakai jurus meringankan tubuhnya.


Sak sik suk, Waseng melompat dari satu pohon ke pohon yg lain. melewati gunung yg kecil dan berdiri di atas pohon untuk melihat tujuannya. sepanjang mata memandang, hutan yg luas dan gunung berjejer rapih menhiasi alam.


"Sebaiknya aku bermalam di atas pohon ini saja, kalau aku bermalam di bawah kemungkinan hewan buas atau pun siluman akan mengganggu tidurku.


Matahari mulai nampak di ufuk timur yg menandakan pagi hari sebentar lagi akan tiba. saat sinar matahari mengenai wajah Waseng, pemuda itu pun langsung terjaga dari tidurnya.


"Huayeemmm ,..!!


Waseng meluruskan tangannya dan menguap,

__ADS_1


dia pun turun dari atas pohon dan mencari sungai untuk sekedar mencuci wajahnya dan mengisi kendi air minumnya.


Melanjutkan kembali perjalanan panjangnya, saat matahari tepat berada di atas kepalanya, Waseng beristirahat untuk mengisi perutnya yg sedang berbunyi.


tanpa ada angin tanpa ada badai, semak semak bergoyang dan tiba tiba seekor siluman ular raksasa yg panjangnya mungkin sepuluh meteran dan diameter badannya seukuran 5kali lipat dari badan Waseng.


"Anak muda sedang apa kau di daerah kekuasaan ku. ucap siluman ular tersebut dengan nada mengintimidasi.


sontak membuat Waseng loncat dan berdiri. namun seluruh tubuhnya gemetaran karena dia tak pernah bertemu dengan siluman ular apa lagi sebesar ini.


"Maafkan jika aku telah mengganggu mu, kebetulan aku lewat sini dan beristirahat sekedar mengisi perutku yg keroncongan ini, aku tidak tau jika ini adalah daerah kekuasaanmu. skali lagi maafkan ketidak tahuanku. kalau kau tidak keberatan aku akan pergi meninggalkan tempat ini.


ucap Waseng dengan nada lembut karena takut menyinggung siluman ular itu.


"Telah lama aku tidak makan daging manusia, Karena kau sudah berada di daerah kekuasaan ku, maka kau akan menjadi makan siangku. ucap siluman ular.


Sak sik suk sik sak Waseng menghindari terkaman Siluman raksasa itu.


"Aku tidak akan mampu melawan Siluman ular sialan ini, batin Waseng..

__ADS_1


__ADS_2