
Hari berikutnya setelah ujian penerimaan berakhir, sekte mengadakan jamuan di paviliun kemuliaan pedang, yang dihadiri oleh seluruh tetua, ketua divisi dan para murid dalam sekte.
Tidak lupa juga, disana terdapat Qian Rou dan muridnya Qian Bing yang berada tepat disampingnya. Rupanya setelah kejadian dimana Lin Yu gagal mengukir namanya di tugu pedang kemarin. Qian Bing malah sebaliknya, gadis muda itu bahkan membuat beberapa tetua dan ketua divisi menjadi terkejut.
Gadis muda itu tidak hanya bisa mengukir namanya di tugu pedang sekte Pedang Suci. Namun juga dapat mengeluarkan cahaya ungu yang sama dengan Ling Jun keluarkan, yang menunjukkan bakat awal sebagai seorang jenius yang memiliki atribut Es, tanda bahwa dia juga merupakan seorang calon murid jenius beladiri selanjutnya.
Hari itu memang begitu berbeda, bahkan para murid dalam pun benar-benar dibuat terperangah dan bagaimana tidak, dalam satu hari ada tiga orang murid yang mampu mengeluarkan cahaya ungu yang legendaris. Dan tiga murid ini menjadikan kejadian 50 tahun penciptaan seperti terulang kembali.
Diketahui salah satu catatan mengatakan, sekte Pedang Suci dibentuk dari ketiga tetua yang pada awalnya adalah tiga orang murid jenius dari sekte lamanya yang telah hancur. Ketiga orang jenius murid ini kemudian mengumpulkan kekuatan baru dan berusaha membentuk sekte tersebut.
Ketua sekte itu Gu Yanlang juga nampak sangat senang, saat mengetahui bahwa mungkin tahun ini akan menjadi sejarah baru dalam catatan sejarah sekte Pedang Sucinya, dimana akan ada 3 murid jenius sekaligus yang mengukir namanya.
"Hehehe, benar-benar beruntung." batin pria kekar itu sambil tersenyum penuh arti.
Gu Yanlang lantas berdiri dan diikuti oleh yang lainnya saat itu juga.
"Para tetua, ketua divisi dan para murid utama! hari ini kita merayakan kembalinya kejayaan baru sekte Pedang Suci! sungguh leluhur telah melindungi kita... mari, mari kita minum anggur embun spiritual ini sebagai penghormatan kepada leluhur!"
"Hidup Ketua Sekte!"
"Hidup Sekte Pedang Suci!" kata orang-orang yang ada didalam paviliun itu serempak, setelah Gu Yanlang menyelesaikan pidatonya.
Dan setelah semuanya duduk Gu Ansheng ketua pengurusan manual dan yang paling senior kedua di sekte itu kemudian berdiri, lalu menyuruh ketiga murid yang terpilih untuk maju didepan.
"Menurut aturan lama yang dibentuk tetua pertama! semua murid terpilih yang mampu mengukir namanya di tugu pedang... akan langsung menerima hadiah sumberdaya dari sekte dan segera dipromosikan sebagai seorang junior di paviliun murid dalam."
"Para ketua murid dan para murid-murid dalam yang lebih senior tidak boleh merasa cemburu dengan hal ini, sebab memang ini adalah aturan dari sang Ketua Pertama." jelas Gu Ansheng tetua itu dengan lantang, lalu menyuruh salah satu murid senior untuk memberikan tiga set senjata dan sumberdaya untuk ketiga murid baru tersebut.
Ling Jun, Qian Bing dan pangeran negeri Qin Su Yang yang merupakan peserta ketiga yang mampu mengaktifkan cahaya spiritual ungu, tampak sangat senang dengan hadiah dan promosi yang diberikan oleh sekte itu.
Tak lupa juga Mu Nianci dan Kong Xuan yang nampak tersenyum dengan puas, karena murid yang mereka gadang-gadang itu akan langsung dipromosikan menjadi murid junior murid bagian dalam. Hal ini tentunya akan sangat menguntungkan bagi mereka dimasa depan, apalagi mereka akan dengan sangat mudah memberikan pelatihan kepada murid barunya itu.
Namun disudut lain, Qian Rou tampak tidak tenang, tampak juga Huang Zhen yang memegang tangan perempuan itu sambil mengangguk pelan.
__ADS_1
Srak!
"Qian Rou dari paviliun pemusik, meminta izin kepada para tetua dan ketua sekte untuk berbicara." kata perempuan tiga puluhan itu sambil menangkupkan tinjunya.
Gu Yanlang yang melihatnya tampak mengangkat satu lengannya menandakan mempersilahkan ketua paviliun pemusik itu untuk bicara.
"Ketua Qian... jika masih ada yang ingin disampaikan katakan saja." ucap ketua sekte itu.
"Apakah ini mengenai masalah murid Tetua Utara itu?" tanya Gu Ansheng yang menimbrung sambil mengelus janggutnya pelan.
Sedangkan Qian Rou, wanita itu hanya bisa mengangguk dengan ragu.
***
Ditempat lain...
Bamm!
"Sialan!"
Bocah itu kemudian mengusap air matanya itu dengan kasar, dia sangat benci ini, sungguh sangat membenci ketika dirinya harus mengeluarkan air mata yang mengingatkan betapa lemahnya dirinya sekarang.
Lin Yu melihat kedua telapak tangannya yang berdarah karena seharian memukul boneka latihan itu tanpa henti.
Pikiran bocah itu menerawang jauh ke masa empat tahun yang lalu, ketika dia melihat ayah dan ibunya mati dibunuh didepan matanya, bahkan ingatan setelahnya saat dia sedang mengais-ngais sisa makanan ditempat sampah, anak-anak di desa kecil itu selalu menertawainya dan terkadang melemparinya dengan batu yang membuat dirinya lari ketakutan.
Sampai dimalam musim dingin dia pingsan karena kedinginan dan setelah pagi harinya, bocah itu dibawa oleh si kakek tua Liu Wei itu ke puncak istana Utara.
Hidupnya dirasa benar-benar hancur, bahkan sekarang bukan hanya dirinya saja yang diolok-olok, kakek tua yang dengan susah payah mengajarinya pun tidak luput dari perkataan buruk orang-orang, yang mengatakan telah gagal mendidik murid atau telah salah mengangkat murid.
Namun apa daya, dia mengakui saat ini dirinya benar-benar sangat lemah, dia hanya bisa meratapi nasibnya yang tampaknya tidak pernah memihak kepadanya.
"And-ai.. andai saja aku lebih kuat!" ucap Lin Yu sambil mengeratkan gigi.
__ADS_1
Tap Tap!
Lin Yu.. bocah ingusan itu mendengar langkah kaki seseorang, yang dia sudah duga itu adalah Qian Rou yang sedang berjalan sambil menatapnya penuh arti.
"Ahh fyuuh."
Wanita itu menarik nafasnya pelan ketika melihat keadaan Lin Yu yang sangat buruk, dengan punggung tangannya yang tampak memar dan tergores. Tampaknya bocah ini seharian telah berada ditempat latihan dan berlatih tanpa berhenti.
Wanita dewasa itu kemudian mendekati bocah itu dan memegang pundaknya pelan dan berkata kepadanya.
"Mereka bilang takdir seseorang sudah ditentukan ketika dia lahir didunia, namun guru pernah mengatakan dari pada berpikir masa lalu atau masa yang akan datang, lebih baik untuk fokus dengan masa sekarang. Karena masa sekarang adalah yang menentukan masa depan dan masa lalu." ucap Qian Rou berusaha menyemangati juniornya itu agar tidak patah semangat.
Wanita itu kemudian lantas mengambil secarik kertas dengan tulisan nama bocah itu dan memberikan kepadanya.
"Senior ini?" kata Lin Yu tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Aku tidak menyangka senior Qian bahkan rela meminta kepada tetua untuk memasukkan diriku ke sekte... tidak! tidak lagi! aku sudah banyak membuat orang kecewa, aku tidak bisa membuat senior menjadi bahan olokan orang lain lagi karena hal ini." batin bocah itu sambil meremas kertas tersebut tanpa sadar, dirinya benar-benar tidak boleh mengecewakan seniornya ini, dan ketika dia hendak mengatakan sesuatu, seniornya itu lebih dulu berkata yang membuatnya tidak jadi bertanya.
"Aku telah meminta kepada kepala sekte untuk setidaknya menjadikanmu sebagai murid luar sekte. Memang awalnya ada beberapa orang yang menentang, tapi mereka pada akhirnya setuju juga. Dan juga jangan tanya kenapa aku melakukannya, semua itu hanya karena aku tidak ingin guru kecewa." kata Qian Rou wanita itu kemudian sedikit berjalan menjauh sambil melihat kedepan yang merupakan pemandangan pegunungan yang cantik, lalu memandang ke bocah itu lagi.
"Besok pergilah ke paviliun tempat pengambilan token murid dan seragam sekte murid luar. Namun dari statusmu, jangan harap sapaan yang ramah, sudah bisa masuk saja kamu bisa dibilang beruntung, kamu mengerti kan.. apa yang aku maksud?" kata Qian Rou sambil membelakangi bocah tersebut.
Lin Yu yang mengerti keinginan Qian Rou lalu menangkupkan tinjunya memberikan hormat. "Junior mengerti! besok pagi junior akan segera berangkat ketempat sekte luar! terimakasih senior telah memberikan kesempatan kepada junior ini." tegas Lin Yu yang kemudian hendak pergi meninggalkan tempat itu untuk segera berkemas.
Baginya sekarang bukanlah saatnya untuk bersedih, namun adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa mungkin tugu pedang itu yang salah perhitungan.
Tak!
Qian Rou melemparnya sesuatu yang dengan cepat ditangkap oleh pemuda dihadapannya itu, dan ternyata yang dilemparkan tadi adalah sebuah cincin.
"Itu cincin ruang penyimpanan, aku tidak menyangka guru benar-benar peduli sekali kepadamu. Berikan sedikit darahmu dan cincin itu bisa kamu gunakan untuk keperluan menyimpan barang." kata Qian Rou lagi yang lalu diangguki oleh Lin Yu sambil memberikan hormatnya sekali lagi padanya.
"Terimakasih senior!"
Barulah setelah punggung bocah itu menghilang dari pandangan, Qian Rou kembali menghela nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
"Fyuhh!! aku berharap anak itu tidak akan membuat masalah lain yang lebih besar." ucap ketua pemusik tersebut sambil memikirkan beberapa hal.