
Pagi harinya setelah berpamitan dengan Qian Rou, Lin Yu bergegas pergi ke paviliun kepengurusan murid luar.
Sebenarnya bocah itu juga ingin berpamitan dengan Qian Bing, namun tampaknya gadis muda tersebut masih enggan untuk menemuinya karena kejadian dua hari lalu.
Tentu saja Lin Yu mengerti gadis itu masih terlalu muda dan sulit menerima dirinya ternyata gagal dalam pengujian tersebut. Namun Lin Yu yang memang sebenarnya sudah berpikir seperti orang dewasa, tentu saja anak itu tidak akan mempermasalahkan hal kecil seperti ini.
"Jika aku ingin diakui maka aku harus segera menjadi lebih kuat!" batin pemuda tersebut dengan mantap dan bergegas memasuki paviliun didepannya.
Didalam paviliun itu, Lin Yu mendekat kearah meja resepsionis yang dijaga oleh seorang senior yang memiliki kumis yang panjang seperti ikan lele.
Lin Yu kemudian menangkupkan tinju memberi hormat kepada senior tersebut dan hendak mengenalkan diri kepadanya.
"Hormat senior! hamba Lin -"
Sebelum Lin Yu meneruskan kalimatnya, senior itu sudah melambai pelan dan langsung melempar sebuah cincin yang berisi token dan beberapa sumberdaya sekte untuk para murid luar yang baru bergabung.
"Aku sudah tahu siapa dirimu, sekarang pakailah seragam itu dulu. Nanti akan ada murid senior yang akan mengantarkanmu dan memberi tahu aturan-aturan dasar yang harus kamu patuhi." ujar senior tersebut dan setelah memberi hormat, Lin Yu pergi memeriksa cincin ruang pemberian sekte itu dan memeriksa seragam dan beberapa sumberdaya didalamnya.
Tentu cincin tersebut berkualitas cukup buruk, bahkan bahan besi pembuatannya pun juga tidak sebagus jika dibandingkan dengan cincin pemberian gurunya. Namun sudah lebih dari cukup untuk menyimpan beberapa barang.
Setelah menemukan seragam sektenya, secara otomatis pakaian Lin Yu berubah menjadi pakaian sekte murid luar. Dan tidak lama kemudian seorang murid perempuan yang membawa pedang menghadap si tetua berkumis panjang.
"Huang Yi menerima panggilan tetua Lu!" kata murid senior itu yang sambil memperhatikan seorang anak muda disampingnya.
"Ahh Huang Yi, antar bocah ini ke pagoda manual dan beri tahu dia aturan-aturan yang harus dia ketahui. Dan sekarang pergilah! aku ingin menenangkan diri." jelas tetua itu sambil mengusir kedua murid tersebut.
Karena tidak mau dimarahi, keduanya pun memberi hormat dan segera bergegas meninggalkan paviliun tersebut.
Ditengah perjalanan...
Murid senior perempuan itu memandang sekilas kepada Lin Yu dan mencoba menyapanya untuk mencairkan suasana.
"Jadi kamu Lin Yu! murid tetua agung yang gagal saat pengujian tugu pedang itu?" tanya murid senior perempuan yang hanya diberikan cengiran dan garukan kepala belakang oleh Lin Yu.
__ADS_1
Tentu saja bocah itu tidak akan mengelak, bahwa beberapa hari ini dia memang telah membuat gempar hampir seisi sekte. Apalagi dia bisa dibilang menjadi anggota murid karena lewat jalur belakang, sudah dipastikan akan ada banyak orang yang iri dan dimasa depan akan ada banyak murid lain yang akan membenci dirinya.
"Beruntung sekali yah padahal kau tidak punya kemampuan apapun, aku saja membutuhkan usaha yang keras agar bisa mencapai tahap ini." kata Huang Yi lagi yang jelas-jelas sedang menyindir Lin Yu.
Tapi sudahlah saat ini bocah itu memang hanya bisa diam dan menerima, lagi pula semua juga sudah terjadi dan tidak terasa... mereka telah sampai di pagoda manual yang berada diatas bukit batu.
"Fyuh! benar-benar tangga yang curam, orang-orang ini ada-ada saja membangun pagoda ditempat seperti ini." keluh Huang Yi perempuan muda itu, lalu menatap Lin Yu yang berada disampingnya.
"Ambil token mu dan masuklah aku akan menunggumu disini." ucapnya lagi sambil mengamati Lin Yu yang mengangguk sambil perlahan memasuki Pagoda tersebut.
Didalam pagoda itu juga tampak ada beberapa murid yang sedang mengantri, kemungkinan mereka juga murid baru dan juga, bocah itu dapat merasakan aura penekanan aneh saat berada didalam pagoda tersebut.
Saat pertama masuk Lin Yu sudah disuguhi pemandangan tidak senang dari banyak murid yang kebetulan ada disana.
"Hey lihat! bukannya dia anak yang gagal saat pengujian di tugu pedang? kenapa dia bisa disini."
"Kau bodoh ya? jelas-jelas dia murid tetua agung, tentu saja dia bisa dengan mudah masuk kesini."
Bisik-bisik para murid itu dengan tatapan bermusuhan kepada Lin Yu, yang tentu saja bocah itu dengar dengan jelas karena memang mereka berdekatan.
"Peserta selanjutnya?" kata seorang tetua yang janggutnya sepanjang dada itu dan saat ini adalah giliran Lin Yu.
Pemuda itu mengeluarkan token namanya dan memberikannya kepada tetua tersebut.
"Hmm jadi namamu Lin Yu? baiklah kamu bisa pergi kelantai dua dan mengambil satu manual yang kau sukai, ingat hanya satu manual saja yang boleh kamu bawa. Tidak ada batasan waktu namun jika dirimu tidak tahan dengan hawa penekan diruangan itu.. segeralah bergegas untuk pergi turun." terang tetua tersebut yang langsung diangguki dan diberi hormat oleh Lin Yu.
"Terimakasih atas penjelasannya tetua."
Pemuda tersebut akhirnya mulai menaiki tangga yang menuju lantai dua pagoda tersebut, bersama beberapa murid lain dibelakangnya.
"Hmm anak yang cukup sopan.. kenapa dia tidak dapat mengukir namanya di tugu pedang?" batin tetua Gu An Sheng sambil melihat Lin Yu sedang menaiki tangga.
***
__ADS_1
"Argh aduh! aku tidak kuat lagi! aku harus cepat pergi dari tempat ini!"
"Benar punggungku seperti ditimpa besi kilangan puluhan kilo, benar-benar tidak tahan!" beberapa murid yang baru saja memasuki ruangan lantai dua itu, terlihat sudah tidak sanggup lagi dan mulai memutuskan untuk keluar dari tempat tersebut, setelah mendapatkan manual yang mereka cari.
Namun semua itu berbeda dengan Lin Yu yang entah kenapa masih terlihat santai dan baik-baik saja, dan tampak berjalan-jalan menyusuri rak-rak yang dipenuhi dengan buku-buku tersebut.
"Ruangan ini rupanya memiliki aura penekanan yang lumayan kuat, namun entah kenapa tidak cukup untuk menekan ku keluar dari tempat ini, untung saja kakek tua mengajari aku beberapa keterampilan dasar mengendalikan Qi." batin Lin Yu yang malah duduk bersila di sebuah sudut dan mulai bermeditasi sejenak.
Murid-murid yang melihat anak itu tampak biasa saja dan malah duduk bersila dengan tenang, mulai menduga-duga bahwa mungkin bocah itu memiliki sebuah pusaka penekan aura yang membuatnya bertahan untuk sekian lama.
"Huh! bocah itu malah seperti menikmati penekanan ini, pasti dia diberi jimat pemutus aura oleh gurunya." bisik murid-murid itu sambil segera bergegas pergi dari lantai tersebut.
***
2 jam berlalu dan Lin Yu masih dalam kondisi yang sama seperti tadi. Sedang Huang Yi yang sudah tidak sabar menunggu diluar kemudian masuk kedalam paviliun.
Perempuan muda itu melihat disekitar, sudah banyak sekali murid yang keluar dan mendapatkan manual yang mereka butuhkan, dan seperti biasa mereka juga tampak kelelahan dan sedang memulihkan diri.
Sayangnya dia sama sekali tidak melihat satupun dari murid-murid itu keberadaan Lin Yu. "Kemana bocah itu.. apakah masih ada dilantai atas?" batin Huang Yi bertanya-tanya kenapa belum melihat penampakan Lin Yu sedari tadi.
Pagoda Paviliun Manual, bukanlah bangunan biasa melainkan sebenarnya merupakan sebuah pusaka legendaris.
Pagoda ini bisa dibuat menjadi ukuran kecil jika diperlukan, dan jika diperbesar ukuran maksimalnya adalah yang seperti terlihat sekarang. Sebuah bangunan berlantai sepuluh dengan aura penekanan spiritual yang kuat dan berbeda-beda pada setiap lantainya, khususnya dilantai dua dan seterusnya.
4 jam pun berlalu dan Huang Yi belum juga melihat tanda-tanda Lin Yu turun dari lantai dua, yang membuatnya mulai sangat khawatir sebab dia yang bertanggung jawab menjaga junior murid itu sekarang ini.
"Aih! sebenarnya apa yang bocah itu lakukan diatas sana?"
Bahkan dirinya juga mendengar dari murid yang keluar beberapa jam lalu sedang membicarakan Lin Yu. Dari yang Huang Yi dengar dari para murid itu. Mereka mengatakan murid dari tetua utara sedang bermeditasi di salah satu sudut ruangan yang membuat perempuan muda itu semakin heran
Melihat sesuatu yang tidak beres, Huang Yi kemudian bergegas mendekati tetua paviliun untuk menanyakan beberapa hal, namun setelah mengatakan beberapa tujuannya.
Tetua itu menenangkan Huang Yi dan menegaskan bahwa bocah tersebut baik-baik saja, dan menyuruhnya untuk menunggu barang sebentar lagi.
__ADS_1