Pendekar Iblis Petir

Pendekar Iblis Petir
Namaku Lin Yu


__ADS_3

Plak!!


Gedebuk!


"Pergi dari sini dasar bocah bau!" kata seorang pria gemuk pemilik kedai bakpao, sambil menendang seorang anak kecil yang tampak kurus kering itu keluar dari tempatnya berdagang.


"Huwaa.. hiks! paman, aku sangat lapar!! tolong berikanlah bakpao satu saja untukku makan paman!!" ujar bocah kecil itu sesenggukan sambil memandangi pria gemuk didepannya itu dengan harap. Namun jangankan memberi sepotong roti basi pada bocah yang kelaparan itu, lelaki gemuk itu malah meludah tepat di wajah sang bocah dan mengusirnya pergi dengan menyakitkan.


ZAMAN KEGELAPAN!


Benar! zaman ini memang zaman yang kurang menguntungkan bagi manusia biasa. Atau yang seperti orang-orang bilang sebagai jaman kegelapan, karena setelah perang besar antara sekte aliran kebenaran dan sekte aliran iblis yang terjadi sejak selama 50 tahun yang lalu.


Kehidupan manusia dibeberapa tempat di benua mistik timur telah terbelah menjadi tiga garis besar. Yaitu... orang-orang dari kalangan kultivator, orang-orang aristokrat dan orang biasa.


Dari tiga garis besar kelompok manusia itu yang paling mengenaskan adalah dari kalangan orang biasa, tidak hanya mereka lebih lemah dari dua jenis manusia lainnya tapi juga tidak memiliki pendukung. Sebab sekte-sekte yang mengaku sebagai aliran cahaya kebenaran saat ini berperilaku layaknya aliran iblis, yang mendoktrin diri mereka sebagai pelindung semesta namun pada kenyataannya.. mereka hanya melindungi siapa yang memberi mereka emas dan perak.


Sedangkan yang benar-benar aliran kebenaran yang masih menjalankan kebenaran sejati, namun tidak mau bergabung dengan sekte besar yang diakui Kekaisaran akan dianggap sebagai sesat! dan sektenya di bumi hanguskan.


Atau bisa dibilang dunia sekarang ini telah terbalik, karena sebagian besar sekte yang disebut sekte iblis saat ini adalah dari kalangan mereka yang menjalankan inti dari ajaran kebenaran yang seharusnya, dan bukan hanya kebenaran dalam ucapan namun tanpa perbuatan.


***


Bocah malang itu kini sedang meringkuk kedinginan di bagian terluar dari desa kecil. Bahkan gelandangan dan pengemis lain tidak memberinya tempat didalam desa, dan menyuruh bocah malang itu untuk mencari tempat sendiri diluar, dan hal yang terburuk adalah bulan ini adalah pertengahan musim dingin.


"Ha -cuh!"


Bocah itu mulai menggigil kedinginan, tak pernah terlintas dibenaknya akan hidup di jalanan dan kelaparan seperti ini, jika saja hidup bisa memilih..


"Ahh hahh.. ahh haaah.."


Badan bocah itu tampak goncang lebih kuat, nafasnya sudah tersengal-sengal.


"Iiib-buu ay-yah!" pikiran bocah sepuluh tahun itu menerawang jauh, hanya dua orang itu yang sekarang ada dipikirannya ibu dan ayah. Pakaian yang tidak layak dan dipakai untuk musim dingin yang mencekam, tidak bisa menghangatkan tubuh bocah itu walau sudah memeluknya erat sampai ke tulang.


Dibawah sebuah papan kayu rapuh yang berada disamping tumpukan sampah, disanalah bocah malang itu menggigil kedinginan dan pada akhirnya, menghembuskan nafas terakhirnya.


Swosh!


***


Pagi hari setelahnya...


Seorang kakek tua melihat mayat bocah disamping tempat sampah saat tidak sengaja melintas disebuah perkampungan kecil.

__ADS_1


Pria itu sebenarnya ingin mengabaikan dan masuk kedalam perkampungan itu untuk menyeduh teh, karena pikirnya akan ada orang lain yang mengubur mayat bocah malang itu.


Namun, bahkan setelah tengah hari kakek tua itu memutuskan untuk pergi dari desa tersebut, tak ada satupun penduduk yang mengubur bocah malang ini. Orang yang lewat lalu lalang hanya menatapnya seperti sedang menatap seekor mayat tikus yang tidak harus dipedulikan.


Kakek tua itu ingin sekali untuk pergi, tapi hanya dalam beberapa langkah saja hatinya terasa seperti teriris pisau. Bagaimana didunia ini kita selalu mengharapkan orang untuk melakukan perubahan, namun diri sendiri enggan untuk berubah? kakek tua pada akhirnya mendekati mayat itu, memukul dengan jari bagian titik akupuntur dekat leher.. lalu seketika orang tua itupun terkejut.


Kakek tua sekali lagi meneliti ujung lengan bocah kurus ini, dan melihat gerakan nadinya yang masih ada walau lemah. "Anak ini masih hidup!" gumam si kakek tua yang terkejut untuk kedua kalinya, dan tanpa basa-basi lagi mengangkat bocah itu pergi dari sana.


***


Slaps!


Mata kecil itu mengerjab beberapa kali dia merasakan ada yang salah namun entah karena apa, tubuhnya dia rasakan seperti mengecil.


Tampak dari pantulan cahaya yang menerangi ruangan kamar itu, bocah itu terbangun dengan kebingungan yang mendera kepalanya.


Ketika melihat sekitar, barang-barang obat-obatan dan yang lainnya, dia sama sekali merasa asing untuk pertama kali. Dan yang paling buruk adalah, dia merasa asing dengan dirinya sendiri.


Dia melangkah kakinya pelan menuruni ranjang.


Bruk!


Bahkan kakinya yang kurus tidak mampu menyangga tubuhnya dengan baik, bocah malang itu entah mengapa merasa sangat kecil, dan satu-satunya ingatan di kepala adalah dia sebenarnya sudah dewasa. Tapi siapa dia ini?


"Argrhhh!"


"Pergi dari sini dasar bocah bau!"


"Nak kamu harus hidup!"


"Nanti jika besar aku ingin melindungi ibu!"


"Lin Yu ayah pulang!"


"Lin Yu!"


"Lin Yu!"


"Argrhhh!"


Bruk!


Lagi-lagi kaki lemah dari bocah itu membuatnya kehilangan keseimbangan, untungnya dia masih bisa bernafas kembali. Dan anehnya adalah ingatan itu, dalam benak jiwanya ingatan itu sangat asing bahkan dia tidak mengakui penampilannya yang sekarang yang merupakan anak kecil berumur sepuluh tahun.

__ADS_1


Akan tetapi dia juga tidak tahu harus bagaimana, karena ingatan yang dia miliki sekarang adalah ingatan dari bocah ini.


"Si sialan! sebenarnya aku ini siapa!?"


***


Bocah itu berjalan tertatih menuju pintu.


"Lin Yu?


"Apakah aku ini Lin Yu? kenapa aku merasa sangat asing dengan diri ini dan nama ini, eh tunggu! kenapa aku berpikir seperti orang yang sudah dewasa?"


"Bahkan dalam ingatan lama yang aku dapat dari tubuh ini, sebelumnya aku tidak dapat berpikir secara demikian!"


"Argrhhh!! seseorang tolong aku!" tanpa sadar bocah itu berteriak keras membuat kakek tua yang sedang melakukan sesuatu diruang bawah, langsung bergegas menuju pintu kamar dimana dia merawat bocah itu.


Bunyi pintu kamar dibuka, bocah itu terkejut saat melihat ada seorang kakek-kakek dengan janggut panjang dan rambut yang hampir semuanya memutih itu, berjalan mendekati dirinya.


Sungguh.. dia atau anak itu.. tidak pernah merasa pernah bertemu orang ini. Padahal dia mampu mengingat seluruh ingatan bocah ini dengan sangat baik, bahkan sangat detail.


***


Kakek tua itu mengangkat tubuhnya yang kurus, hanya dengan sekali hentakan sebab dia memang tidak berat sama sekali. Kakek ini mengecek tubuh anak ini dengan teliti, mulai dari melihat denyut nadi bahkan dia mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam diri anak ini.


"Kemarin saat aku baru menemukan bocah ini nadinya bergerak sangat lemah dan aliran darahnya juga tidak lancar, bagaimana hanya dengan semalam bisa pulih dengan begitu cepat?" batin kakek tua itu tanpa ingin bertanya sesuatu pada bocah ini.


Kakek tua itu kemudian menyentuh atau bisa dibilang mengusap rambut kepala bocah didepannya ini. "Nak! apakah kamu ingat siapa namamu?" tanya Kakek tua itu yang sudah tidak mampu membendung rasa penasarannya.


Bocah didepannya ini juga bingung, dirinya merasa bukan dirinya dan apakah layak dia memakai nama bocah ini? namun karena hanya ingatan dari bocah tersebut yang mampu dia ingat maka mau tidak mau, dirinya hanya menjawab sebagai Lin Yu.


"Namaku Lin Yu kek!" jawab bocah kurus itu sambil masih menatap kakek tua didepannya.


"Lin Yu anak baik! apakah dirimu mengingat sesuatu tentang keluarga mu, ayah dan ibumu?"


Ketika ditanya seperti itu, ingatan bocah ini langsung mengingat kejadian dua tahun yang lalu, dirinya tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Batin dan sanubarinya tahu ini hanyalah ingatan anak ini, tapi tubuhnya tidak.


Tanpa terasa badan anak itu mulai bergetar, sesak di dadanya tiba-tiba muncul begitu saja dan yang tidak dia duga adalah, airmata bocah ini tidak mampu dia bendung.


Bocah itu sesenggukan.


Kakek tua yang merasa telah salah bicara entah kenapa juga dengan sigap memeluk anak ini kedalam dekapannya. Dirinya bisa dibilang orang yang paling tidak perduli dengan apapun yang terjadi pada dunia ini, bagaimana dia malah merasakan kesedihan hanya karena merasa salah berkata dan membuat anak ini menangis.


"Sudah-sudah! anak baik tidak usah menangis! semua akan baik-baik saja." ucap si kakek tua, sedang bocah yang dipeluk itu perlahan menenangkan kebingungannya, dia mencoba dan berusaha menerima apa yang telah terjadi. Dan untuk pertama kalinya entah mengapa dia merasa sebuah kenyamanan dan kelegaan saat dirinya dipeluk si kakek tua itu.

__ADS_1


__ADS_2