
Kali ini Ling Jun memasuki pelataran yang terdapat tugu giok spiritual leluhur sekte itu. Tanpa menunggu lama dirinya menyentuh bagian bawah batu besar tersebut dan reaksi pun segera terjadi.
Swosh!
Sebuah cahaya yang membentuk nama terukir diatas batu Spiritual tersebut, dan seperti yang sudah perkirakan Mu Nianci. Cahaya dari batu giok spiritual itu menyala ungu ketika Ling Jun memegang bagian bawah batunya. Dan sontak hal itu membuat seisi lapangan luas itu menjadi riuh, bahkan diatas panggung para ketua dan murid dalam pun juga tampaknya dibuat terkejut dengan hasilnya.
Huang Zhen dan Qian Rou saling berpandangan, sesuatu yang mereka takutkan rupanya benar-benar akan terjadi, akan banyak orang yang melakukan segala hal mulai sekarang dengan cara menjilat murid baru itu, bahkan mereka bisa melihat senyum misterius ketua sekte yang tampak memang menyukai tuan muda ini.
Tidak bisa dipungkiri warna tersebut memang menandakan bakat alami yang tinggi, bisa dibilang Ling Jun ini adalah memang berasal dari keturunan kultivator kuno yang hebat.
***
Sementara itu Lin Yu yang memandang ke sekeliling yang menjadi riuh.. pikirannya mulai bertanya-tanya, mungkinkah dia bisa membuat kakek tua itu bangga seperti para tetua yang melihat muridnya berhasil itu?
Tangan pemuda itu mengepal erat tidak bisa! dia tidak bisa mengecewakan orang tua itu, dia harus bisa melampaui anak muda tadi dan membuat gurunya bangga. Namun.. dirinya juga dibuat bingung dan ragu, apakah anak dari tempat sampah seperti dirinya bisa bersaing dengan anak bangsawan kultivator yang sejak kecil sudah dilatih dengan baik.
Pikiran bocah itu menerawang jauh namun dia teringat akan ucapan kakek tua itu, bahwa kalau akar spiritual miliknya mungkin tidaklah yang terbaik namun bakat alaminya mungkin bisa lebih hebat!
"Benar! Belum dicoba kenapa harus takut!" gumam Lin Yu bocah itu sambil mengeratkan gigi.
***
"Peserta nomor 77!"
Tidak ada jawaban?
"Peserta nomor 77!! jika tidak ada peserta nomor 77 akan dilanjutkan oleh peserta lain!"
Puk!
Seseorang memegang tangan Lin Yu dan seketika menyadarkan dirinya.
"Eh!"
"Kak Lin kamu dipanggil!" kata Qian Bing yang memang berada didekatnya itu sambil menyenggol bocah ingusan yang termenung sendirian.
"Nomor peserta 77! silahkan maju!" teriak pengawas penerimaan murid itu lagi yang kali ini baru didengar oleh Lin Yu.
"Ak -aku ada!" teriak Lin Yu dengan panik sambil mengangkat tangan.
__ADS_1
Bocah itu kemudian berlari dengan cepat menuju panggung penerimaan dengan tergesa! nampak pula disana dia di suguhi wajah marah petugas pengawas dan murid lainnya yang membuat dia tidak enak hati.
"Benar-benar tidak berintegritas!"
"Benar! bagaimana tetua agung menerima murid seperti itu" kata beberapa murid utama yang tampak menyaksikan pemuda itu dari panggung para tetua.
Qian Bing yang melihat pandangan tetua dan para murid utama ini hanya bisa bernafas pelan, dia juga tidak mengira juniornya itu malah melamun di lapangan disaat penting seperti ini. Padahal penilaian para tetua dan ketua divisi adalah yang paling penting saat pertama kali memasuki sekte.
"Bocah itu!" gumam Qian Bing pelan yang dilihat juga oleh Huang Zhen.
Namun dari beberapa orang tua dan murid itu tentunya ada yang masih berempati, contohnya Gu An Sheng yang malah seperti melihat Liu Wei itu sendiri, karena menurutnya tetua agung dari istana tebing Utara itu karakternya memang sedikit mirip dengan bocah ini.
"Hmm.. cukup menarik!" batin orang tua tahap alam kaisar itu sambil mengelus janggutnya pelan.
***
"Bocah! cepat taruh tanganmu di batu leluhur dengan cepat!" bentak pengawas itu yang agak geram dengan bocah dihadapannya ini.
Lin Yu memandang batu giok hitam raksasa berbentuk pedang itu dari bawah sampai atas, tenggorokannya tiba-tiba mengering, dan sambil sedikit menelan ludah bocah ingusan itu pelan-pelan meletakkan telapak tangannya ke batu besar tersebut.
Plek!
Ketika telapak tangan Lin Yu menyentuh tugu batu giok itu terjadi fenomena yang tidak biasa. Tugu tersebut tampak tergoncang cukup kuat, bahkan goncangan itu dapat dirasakan hampir ke seluruh wilayah sekte walaupun disebagian tempat hanya samar-samar.
Semua orang di lapangan itu tampak takjub, bahkan para ketua dan murid utama pun dibuat bingung dengan fenomena ini.. namun ketika getaran itu berhenti, seketika suasananya menjadi hening sejenak.
"Hahahaha!"
Sesaat kemudian tawa dari orang-orang di lapangan itu menggelegar di penjuru sekte. Rupanya gempa tadi bukanlah karena Lin Yu murid dari tetua Utara itu meletakkan tangannya di batu tugu pedang, melainkan gempa biasa pikir mereka.
Karena setelah gempa itu tidak ada tulisan nama ataupun cahaya yang bersinar dari tugu leluhur tersebut. Lin Yu bocah itu tertegun dan sangat terkejut! "Kenapa bisa seperti ini!"
Wajah Lin Yu yang tampak memucat seketika, dengan tatapan lesu bocah itu melihat ke arah Qian Bing yang juga melihatnya dengan sedih, dan saat anak itu menatap kearah panggung dia juga melihat wajah terkejut sekaligus kecewa yang terlihat dengan jelas pada seniornya Qian Rou.
"Haha! itu saja? benar-benar lucu!"
"Benar! aku pikir murid seperti apa yang dibawa Tetua tebing Utara! ternyata dia memberikan anak itu ke sekte karena bodoh!" ucap beberapa murid inti yang membuat Qian Rou tidak mampu berkata-kata dia lebih memilih menunduk karena malu.
Huang Zhen yang melihat Qian Rou dan kemudian menatap bocah Lin itu juga tidak pernah menduga akan terjadi hal seperti ini. "Aku pikir hanya Su Jing saja yang mungkin akan kesulitan ber-kultivasi dan akan mendapatkan ejekan, tak tahunya bahkan murid dari orang terhebat di sekte pun akan ditertawakan sekejam itu." batin ketua divisi peracikan obat itu sambil sesekali juga menatap Su Jing. Dan sebenarnya dia agak bangga dengan anak itu, ketika yang lainnya menertawakan Lin Yu dia sama sekali tidak tertawa, bahkan dia seperti merasa prihatin melihat murid itu gagal membuat ukiran namanya di tugu pedang.
__ADS_1
"Hahaha, jadi seperti itu! tetua Utara memberikan anak itu kepada sekte karena memang anak ini tidak berguna! padahal aku kira dia akan menjadi batu penghalang untukku dimasa depan." batin Gu Yanlang sambil tertawa melihat pertunjukan bagus saat ini.
Mu Nianci pun ikut tersenyum mengejek. "Huh, sampah!" Sedang Kong Xuan sedari tadi malah berpikir sembari memuji dirinya sendiri, karena merasa pilihannya saat melihat calon murid berkualitas sudah sangat tepat.
Gu An Sheng orang tua itu juga tampak terkejut, padahal dirinya mengharapkan bocah itu bisa melanjutkan prestasi gurunya, namun apa yang dia lihat ini membuatnya sedikit bingung.
"Kenapa bisa seperti itu?"
***
Pengawas penerimaan murid tampak mengusap wajahnya pelan, dia sebenarnya ingin tertawa namun melihat ekspresi kekecewaan pada wajah anak didepannya itu, membuat nuraninya mengatakan untuk tidak tertawa.
Qian Bing juga benar-benar tidak menyangka bahwa pemuda yang awalnya dia kagumi itu ternyata hanyalah pemuda sampah! lantas dia mengalihkan pandanganya melihat kearah Ling Jun yang saat itu juga tampak tersenyum kepadanya, dan tampak meremehkan Lin Yu jelas dari tatapannya.
"Semuanya! Diam!"
"Peserta berikutnya nomor 78 silahkan maju!" ujar pengawas muda bernama Ye Shen itu dengan keras, demi menormalkan kembali jalannya acara penerimaan murid.
"Nak! Kau cepatlah turun!" kata pengawas muda itu dan setelah anak didepannya menatapnya sekilas, bocah itu segera turun dengan langkahnya yang gontai.
Lin Yu hanya berjalan sambil menunduk! wajahnya sudah seperti kehilangan semangat ber-kultivasi, bahkan saat dia berjalan, tawa orang-orang disekitarnya membuatnya teramat sangat buruk.
Berita murid seorang tetua tebing Utara memang membuat semua itu terjadi, andai saja berita itu tidak menyebar mungkin walaupun dia gagal kali ini hanya akan dianggap hal yang biasa seperti murid lainnya. Bahkan sampai saking parahnya murid-murid yang tadi gagal pun ikut menertawainya, mereka berbisik bahwa sampah ini benar-benar menghancurkan reputasi gurunya.
Yah dia memang dipungut dari tempat pembuangan sampah oleh Liu Wei, namun bukan berarti dia ingin mengecewakan dan mempermalukan reputasi gurunya seperti itu.
"Si-sial!" pelupuk mata Lin Yu tampak berair, namun sebisa mungkin dia tahan karena masih ada Qian Bing dihadapannya. Dia tidak bisa menangis didepan gadis yang selalu bersemangat saat mengajaknya berlatih itu.
"A-adik Qian!"
Deg!
Suara Lin Yu tercekat, bahkan gadis muda itu tidak menoleh ataupun menjawab sapaan bocah malang ini. "Inikah takdir sebagai seorang sampah?"
Qian Bing gadis itu tidak menjawab atau mau menatap Lin Yu sama sekali, dirinya merasa sangat malu saat ini sebab dirinya menjadi perhatian banyak sekali murid. Karena murid-murid itu tahu dia berada satu kelompok dengan Lin Yu, dan yang kedua.. gadis itu benar-benar kecewa dengan anak laki-laki didepannya ini sekarang.
Gadis itu melewati Lin Yu begitu saja, membuat bocah ingusan itu terkejut. Bahkan dia tidak pernah berpikir bahwa gadis yang tadi pagi seakan memujanya itu melangkah maju begitu saja, bahkan tidak membalas teguran ataupun memberikan dia semangat sedikitpun.
"Ke-kenapa seperti ini!" batin bocah malang itu mengembara. Dia hanya bisa menundukkan kepala dan mengepalkan tangannya dengan kuat saat ini.
__ADS_1
"Apa- apakah benar.. perkataan mereka? guru meninggalkan aku di sekte karena aku tidak berguna?"