
"Kakek, terus terang aku bingung, kenapa tadi kepala Jaya Lelana mengeluarkan asap?" Tanya Suro Kepada Ginde Ramedan, setelah sekian lama dilihatnya Ramedan duduk dengan mata terpejam diatas batu besar di pinggir sungai yang bening ini.
Perlahan Ginde Ramedan membuka matanya, matanya memandang tajam kearah Suro, dari raut wajahnya yang biasanya bening dan tenang terlihat gurat kegelisahan yang begitu dalam.
"Suro, mengenai masalah ini memang agak rumit dan tidak masuk di akal, tapi aku akan berusaha menjelaskan yang ingin kau tahu, namun sebelumnya boleh kah aku bertanya satu hal, jurus yang kamu pakai sepertinya aku sangat mengenalnya, apa hubunganmu dengan Datuk Sira Bagiling?" Ginde Ramedan memandang Suro dengan pandangan tajam seakan menembus kedalam batin Suro.
"ehhh... anu kek, sebenarnya aku berasal dari bukit banape, mengenai Datuk Sira Bagiling beliau adalah guruku" Jawab Suro tergagap mendapat pandangan seperti itu.
Mendengar jawaban Suro mata Ginde Ramedan terbelalak membesar, memandang tajam kearah Suro, pandangan bening matanya seakan-akan menyiratkan kegembiraan yang besar.
"Sungguh besar anugerah sang pencipta, tak ku sangka aku bisa bertemu dengan murid saudara angkatku, entah pertanda apa ini sehingga dirimu bisa kesasar ketempatku" Seru Ginde Ramedan, terpancar sinar girang dari suaranya.
"Maksudnya apa kek?, apakah kakek mengenal guruku?" Tanya Suro yang jelas kebingungan.
Mata Ginde Ramedan menerawang jauh ke masa lalu. Dahulu sekitar berapa puluh tahun yang lewat dia merupakan seorang pendekar tanpa tanding yang malang melintang kemana-mana. Pada suatu ketika terjadi prahara di wilayah Muara Ogan yang letaknya hampir seratus hari perjalanan dari wilayah Toman. Karena prahara yang terjadi cukup di rasakan imbasnya di wilayah Toman akhirnya Ginde Ramedan berangkat ke tempat kejadian.
Ketika kecamuk peperangan antara golongan hitam yang di bantu kekuatan kegelapan dan golongan putih di muara sungai ogan terjadi. Saat itulah dia bertemu dengan Datuk Sira Bagiling, dan mereka berdua bahu membahu di medan pertempuran. Setelah akhir pertempuran tubuh mereka berdua penuh luka, dan terpisah dari yang lain. Disaat itulah mereka berjanji akan saling melindungi dan mengangkat saudara.
Setelah kejadian itu mereka berdua berpisah dan tidak pernah bertemu lagi. Sampai akhirnya takdir mempertemukan Ginde Ramedan dengan Suro.
Mendengar cerita dari Ginde Ramedan mulut suro terkunci dan tidak bisa berkata apa-apa ternyata orang di hadapannya merupakan Saudara angkat dari gurunya. Sementara selama ini gurunya tidak pernah menceritakan apapun kepada dia. Begitu tersadar Suro segera bersujud di hadapan Ginde Ramedan.
"Maafkan cucu kek, yang tidak mengenal kakek" Ucap Suro.
"Sudahalah itu bukan salahmu, lagian hanya berapa orang yang tahu kalau antara aku dan gurumu mengikat persaudaraan" Jelas Ginde Ramedan.
Suro masih tidak bisa berkata-kata lagi mendengar penjelasan Ginde Ramedan, otaknya terasa buntu untuk di ajak berpikir.
__ADS_1
"Kamu orang hebat Suro, di dalam tubuhmu ada beberapa kekuatan yang berbaur, dan ada kekuatan besar di tubuhmu yang bukan dari alam ini, kamu cukup banyak membawa bekal untuk mengembara" Ucap Ginde Ramedan yang memandang tajam kearah Suro.
"Ahhh, saya tidak punya kemampuan apa-apa di bandingkan kakek" Ucap Suro.
"Kamu pandai merendah Suro, teruslah seperti itu jangan lupa untuk selalu rendah diri, karena sombong hanya akan menjadikan kamu hancur" Ginde Ramedan memberi nasihat.
"Iya, kek terima kasih atas wejangannya" Jawab Suro.
"Adapun mengenai kejadian yang kita alami sekarang, sebenarnya berkaitan dengan kejadian berapa ribu tahun silam, Kejadian ini tertulis dalam kitab Rahasia Para Iblis" Ginde Ramedan terdiam cukup lama, matanya menerawang.
"Dahulu sekali sekitar Tiga Ribu Tahun silam, ada seorang perempuan cantik yang sombong, sangat banyak orang yang melamarnya namun semua di tolak, kecantikan perempuan tersebut terkenal di mana-mana bukah hanya di alam manusia tapi sampai ketangan siluman, Suatu hari raja siluman yang tahu kabar tersebut menjelma menjadi pemuda yang gagah dan tampan, Si wanita mengetahui bahwa itu adalah raja Siluman, namun karena kesombongan dan ketamakannya dia menerima lamaran raja Siluman dengan syarat raja siluman harus memberinya kekayaan yang tidak bisa di tandingi orang lain dan juga kesaktian yang tidak bisa di tandingi orang lain, karena sudah terlanjur jatuh cinta raja siluman mengabulkan semuanya"
Cukup lama Ginde Ramedan terdiam, Suro dengan sabar duduk di hadapannya menunggu kelanjutan cerita Ginde Ramedan. Setelah cukup lama berdiam Ginde Ramedan melanjutkan ceritanya.
"Karena perasaan tamaknya tidak habis-habis, sudah mendapatkan kekuatan dan kekayaan dia masih merasakan kekurangan, sehingga timbul keinginan dalam hatinya untuk menguasai dunia manusia dan dunia siluman. Karena keinginannya ini sangat kuat akhirnya dia mengutarakan keinginannya kepada raja siluman. Raja siluman yang mendengar itu semua cukup berat mengambil keputusan, kalau dia kabulkan maka istrinya dari bangsa manusia ini tidak akan berhenti sampai di sini, pasti ada lagi keinginan-keinginan yang lain, sementara kalau dia tolak maka istrinya pasti akan memaksa, apalagi pada waktu itu dia tahu istrinya sedang hamil anaknya, yang merupakan gabungan antara manusia dan siluman, dia sangat berharap anaknya ini akan menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia siluman"
"Akhirnya raja siluman menolak keinginan istrinya, benar seperti apa yang di kira olehnya, istrinya dengan kekuatan yang dia beri menyatakan perang. Akhirnya perkelahian mereka terjadi cukup lama, perkelahian mereka memakan waktu selama tiga bulan, akibat perkelahian mereka gunung-gunung meletus, laut menjadi pasang dan bumi menjadi sangat panas. Raja siluman dapat mengalahkan istrinya setelah di bantu oleh dua manusia yang mempunyai kekuatan cukup tinggi, namun kekalahan tersebut tidak menghancurkan perempuan itu, sebaliknya kekalahan itu membuat dia menjadi tambah jahat, dalam kekalahannya dan luka-luka dia berhasil melarikan diri. Namun raja siluman dan kedua manusia yang mempunyai kekuatan cukup tinggi akhirnya dapat menemukan istrinya. Ketika di temukan istrinya telah memaksa bayinya lahir walau belum waktunya, kekuatan yang dia punyai dia titipkan ke bayinya, dan karena bayinya belum tumbuh sempurna, bayi tersebut dimasukan kedalam sebuah benda agar dia bisa tumbuh normal. Sebelum istrinya benar-benar hancur dia masih sempat melepaskan kutukan kalau anaknya akan membuat onar di bumi. Kemudian raja siluman menyegel bayi tersebut agar tidak keluar dari tempatnya. Namun segel tersebut hanya bisa bertahan tiga ribu tahun".
Suro yang dari tadi diam kemudian mengajukan pertanyaannya.
" Apakah bayi tersebut sudah keluar dari segelnya kek?" Tanya Suro yang sepertinya bingung.
"Kalau kamu bisa merasakan, kekuatan siluman sekarang sudah hadir di beberapa belahan bumi, dan seperti yang kamu lihat di tubuh Jaya Lelana, asap yang keluar dari tubuhnya merupakan asap siluman, jadi aku berkeyakinan segel bayi tersebut sudah hancur" Jelas Ginde Ramedan.
"Tapi kenapa dia tidak hadir sendiri kakek?, Kenapa dia memanfaatkan manusia untuk mengacau?" Suro kembali bertanya.
"Karena ketika di segel, tubuh bayi tersebut belum sempurna, jadi untuk menyempurnakan tubuhnya dia harus menyerap inti baik manusia, dan untuk kesempurnaan itu dia harus menyerap seribu inti baik manusia agar menjadi jahat, kemungkinan ini baru di mulai, jadi masih ada waktu untuk mengancurkannya" Jelas Ginde Babat.
__ADS_1
"Kalau begitu kita harus mencari benda apa tempat dia dimasukan agar bisa menghancurkannya" Suro menambahkan.
"Benar, tapi untuk tahu benda itu tidak ada orang yang tahu kecuali satu orang" Jawab Ginde Babat sambil merenung.
"Siapa kek?" Tanya Suro memburu.
"Aku kurang yakin apakah orangnya masih hidup, menurut cerita dulu dia berdiam di sekitar muara rawas, di sebuah pulau yang terletak di tengah salah satu danau yang di sebut danau ulak libok, orang itu bernama Resi Gambut, dulu aku juga pernah mencarinya namun sampai sekarang aku tidak bisa menemuinya, dan tidak ada satu orang pun yang pernah bertemu dengannya" Jelas Ginde Ramedan.
Suro cukup lama termenung mendengar penjelasan Ginde Ramedan, dia tidak boleh bersantai, dia harus mencari Resi tersebut untuk membantu umat manusia, entah Resi yang di sebut masih hidup atau sudah mati mengingat sudah tuga ribu tahun berlalu, tapi ada baiknya dia mencarinya dulu, bermain dengan pikirannya begitu Suro berniat untuk pamit kepada Ginde Ramedan dan melanjutkan perjalanan.
"Terima kasih atas semuanya kek, mengingat pentingnya waktu, ada baiknya aku mohon pamit" Suro berkata dengan sopan.
Si kakek memandang dalam ke arah Suro, cukup lama dia memandang yang akhirnya membuat dia bergetar.
"Suro, sebagai saudara gurumu izinkan aku mengajarkanmu satu dua ilmu yang mungkin tidak ada gunanya" Ginde Ramedan memandang dengan tajam yang membuat Suro serba salah.
"Tapi kek, aku tidak berani menerimanya kek...."
"Tidak apa-apa kalau tudak berani, tapi aku memaksanya..." Sikakek berkata dengan sangat tajam.
"Kek...." Suro tidak meneruskan kata-katanya akhirnya dia menganggukan kepalanya.
Cukup lama Suro berlatih di tempat kediaman Ginde Ramedan, setelah hampir satu bulan dia akhirnya sempurna mewarisi ilmu yang di turunkan Ginde Ramedan. Setelah itu barulah Ginde Ramedan mengizinkan Suro untuk meneruskan perjalanannya.
...####...
terima kasih support terus kita ya vote, comen kasih masukan dan jadikan favorit.
__ADS_1
follow ya IG: @yoyong_amilin_