Pendekar Naga Hitam

Pendekar Naga Hitam
Hancurnya Segel Siluman


__ADS_3

Laras mondar mandir gelisah di pinggir Danau Ulak Libok, pikirannya gelisah sebab sudah hari kedua dia menunggu Suro di pinggir Danau ini namun belum ada tanda-tanda sama sekali Suro akan muncul.


Sekali lagi dia mengedarkan pandangan keseluruh sudut Danau Ulak Libok. Namun sudah lebih dari seratus kali dia memandang kesegala penjuru tidak ada tanda sama sekali Suro akan muncul.


Salam lelah Laras duduk di pinggir danau. Sedang duduk mengonsentrasikan pikirannya, kejadian-kejadian yang dialaminya selama ini membuatnya bingung dan pusing, tujuannya ke Rawas hanya untuk mengunjungi gurunya yang berada di Muara Sungai Rawas, namun ternyata dia terpesat dalam petualangan dengan Suro, sekarang justru Suro menghilang.


Pikirannya melayang-layang dia bingung kenapa juga dia menghawatirkan Suro, namun mengingat Suro hilang ada sesuatu dalam hatinya yang membuat tiba-tiba dia bersedih. ditengah asik dia melamun tiba-tiba sebuah bentakan mengagetkannya.


"Perempuan sundal, akhirnya kita bertemu disini"


Bentakan tersebut mengagetkan Laras, serta merta dia bangun dari duduknya dan melihat di sekitar sudah ada lima orang yang mengepungnya, laras mendengus begitu tahu siapa orang-orang yang mengepungnya.


"Oooo... ternyata kalian, apakah tidak puas dihajar tempo hari?" Tanya laras mengejek orang-orang tersebut yang ternyata rampok hutan punjung yang tempo hari pernah dihajar Suro.


"Dulu kau bisa sombong karena ada yang membantumu, tapi sekarang kau sendiri, kami tidak akan segan menelanjangimu" Ejek Rampok Hutan Punjung.


"Kurang ajar, walaupun sendiri aku masih bisa merobek mulut kurang ajar kalian" Laras membentak tak kalah sengitnya.


Sebentar kemudian perkelahian tidak dapat di elakan di tempat tersebut. Walaupun ilmunya cukup tinggi namun tal ayal di keroyok sedemikian rupa Laras cukup kerepotan.


Di satu kesempatan pukulan salah satu lawan sempat mengenai perutnya yang membuat dia terpental cukup jauh.


"Hahahaaha.... mana kesombonganmu, sebentar lagi pakaianmu akan kami robek-robek" Ejek Rampok Muara Punjung.


"Kurang ajar" Laras membalas ejekan lawan dengan meludah ke tanah.


"Hahahaha....." Para Rampok Hutan Punjung tertawa bersama.


Dengan menahan rasa sakit Laras meloncat dari jatuhnya, mukanya merah di penuhi amarah yang memuncak. Tiba-tiba dia merogoh kedalam bajunya mengeluarkan sebuah senjata.


Seketika aura panas hitam dari senjata Laras menguasai tempat tersebut, Aura senjata di tangan Laras membuat para perampok hutan punjung tersirap ngeri.


"Perampok-perampok cabul terima kematian kalian hari ini" Bentak Laras Sambil memainkan senjatanya.


Belum sempat para perampok hutan punjung menarik nafasnya tiba-tiba Laras sudah berkelebat menyerang, kecepatan Laras bertambah menjadi begitu cepat. Dalam sekejap tiga dari lima perampok yang menyerang Laras terkapar ada yang memegang perutnya, ada yang memegang lehernya, mereka menggelinjang-gelinjang dan mati, bekas tusukan dari senjata laras terlihat bolong hitam.


Kedua penjahat yang masih berdiri tersirap ngeri melihat kematian teman-temannya. Mereka segera berbalik dan melarikan diri, namun dengan kecepatan tubuhnya Laras sudah berdiri di depan perampok tersebut.


"Perampok cabul, mana mulut sombong kalian hah..." Bentak Laras


Mendengar bentakan Laras membuat kedua perampok tersisa menjadi bertambah ngeri, mata Laras menatap tajam mengeluarkan aura darah.


"Ampun den ayu, kami berjanji tidak akan mengganggu den ayu lagi, kami akan patuh terhadap den ayu" Kedua perampok tersebut berlutut dihadapan Laras.


"Kalian kira semudah itu untuk minta ampun, kalian harus merasakan perbuatan kalian" Laras membentak lagi dengan ganas

__ADS_1


"Ampun den ayu kami akan menuruti perintah den ayu, asal kami di ampuni" Teriak kedua penjahat tersebut masih berlutut.


"Baik...Baik....kalian akan aku ampuni, namun aku tidak mau lagi mendengar kejahatan kalian, kalau kalian masih melakukan kejahatan aku akan mencari kalian dan memotong leher kalian" Laras berkata masih dengan nada bengis.


"Terima kasih den ayu telah mengampuni nyawa kami, mulai sekarang kami akan bertobat jadi rampok" Kedua perampok tersebut menunjukan rasa gembira.


"iya...iya...namun sebelum kalian pergi, aku akan mengambil sesuatu sebagai tanda kalian bertobat" Jawab Laras sambil menyeringai.


"Apapun den ayu" Jawab kedua rampok tersebut.


"Bagus, sekarang aku minta mata kiri kalian" Bentak Laras, dalam sekejap tubuhnya bergerak cepat, dan secara berganti-gantian terdengar teriak kesakitan kedua rampok tersebut, tangan keduanya mendekap mata kiri mereka.


"Sekarang enyahlah dari hadapanku...atau leher kalian aku ambil" Bentak Laras dengan keras, sambil memasukan senjatanya ke balik pakaian.


Tanpa berpikir lagi kedua perampok tersebut segera berlari lintang pukang meninggalkan tempat itu.


Di tempat yang gelap di bawah akar sebuah kayu yang mempunyai akar besar-besar yang merupakan pintu keluar dari bawah danau, Suro yang memperhatikan semua kejadian di tempat itu hanya menggelengkan kepalanya, dia hanya bergidik melihat keganasan senjata di tangan Laras, matanya menyipit memperhatikan senjata tersebut namun katena jarak cukup jauh dia tidak bisa menduga senjata apa itu, Suro juga kaget melihat Laras yang berapa hari bersamanya dia lihat sebagai orang yang lemah lembut, tapi malam ini sisi lain dari Laras yang ganas terlihat.


Setelah cukup lama memperhatikan Laras yang sudah kembali ketepi danau, Suro melangkah dari tempat tersebut.


Kresek.... Trak...


Suara semak yang terinjak kaki Suro terdengar di telinga Laras. Laras segera berbalik dan menghadap kearah Suro, begitu melihat Suro mulutnya ternganga. Dia segera berlari kecil menghampiri Suro, jika menurut hasratnya ingin rasanya dia memeluk tubuh Suro sebagai tanda sukur, namun semua di tahan.


Suro hanya tersenyum melihat reaksi Laras yang melongok.


"Bagaimana kamu ada disini?, selama ini aku mencari namun tidak ketemu..." Teriak Laras lagi.


"Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan kita kembali kepenginapan dulu" Jawab Suro.


Laras menganggukan kepalanya, dan melangkah di Samping Suro, sembari berjalan sesekali matanya melirik kearah Suro.


...****...


Nun jauh di dalam sebuah goa di puncak Gunung Dempo, raja Siluman yang sedang melakukan semadi panjangnya tiba-tiba membuka kedua matanya, asap berwarna biru mengelilingi tubuhnya. Secara perlahan-lahan dia gerakan tubuhnya.


"Ternyata semedi panjang yang kulakukan berhasil mengembalikan tenagaku, dan kutuk lumpuh siluman telah hilang dari tubuhku" Gumamnya.


Begitu dia bangun dari tempat semedinya tiba-tiba dilangit yang panas berapa kali kilat memancar, pancaran kilat yang terakhir di sertai ledakan petir yang menggelegar dilangit. Ledakan petir tersebut membentuk tujuh kilatan cahaya yang menuju ke tujuh arah angin.


Memperhatikan semua penomena di langit dia segera terduduk dan terdiam cukup lama.


"Apakah segel siluman sudah terlepas, pertanda dilangit menunjukan kalau segel siluman sudah hancur" Gumamnya lagi.


Kemudian dia duduk bersila dan mengkonsentrasikan pikirannya secara penuh.

__ADS_1


"Penghulu siluman, hadirlah...." Mulut Raja siluman berbisik.


Di sertai dengan hembusan angin lembut tiba-tiba di hadapnya hadir sosok penghulu siluman, yang segera berlutut dihadapannya.


"Yang mulia, ada apa memanggilku?" tanya Penghulu Siluman dengan hormat.


"Penghulu, aku hanya ingin memastikan sebuah pertanda, apakah segel siluman sudah hancur?" Tanya Raja Siluman dengan suara yang berwibawa.


"Yang mulia, berdasarkan petunjuk dari pertanda alam, segel siluman memang telah hancur" Jawab Penghulu Siluman.


"Celakalah alam semesta, dunia manusia dan dunia para siluman sedang terancam, kita harus segera mencegah ini terjadi" Jawab Raja Siluman.


"Iya yang mulia, kita harus mengambil langkah mencegahnya" Jawab Penghulu Siluman.


"Apakah yang terpilih sudah di temukan?" Tanya Raja Siluman lagi.


"Berdasarkan getaran dari tempat Resi Gambut, kubah siluman sudah hancur, berarti yang terpilih sudah di temukan" Jawab Penghulu Siluman.


"Mudah-mudahan Resi Gambut dan Resi Menggolo sudah memberikan mustika sumpah" Ucap Raja Siluman.


"Yang mulia, biarkan aku yang ketempat kedua resi tersebut untuk menanyakannya" Jawab Penghulu Siluman.


"Tidak usah biar aku yang pergi ketempat kedua resi tersebut, kau kembalilah ke alam siluman, kasih tahu anaku yang memegang kendali kerajaan untuk bersiap terhadap perang yang akan terjadi, dan kamu aku tugaskan memperkuat pertahanan gaib kerajaan siluman" Jawab Raja Siluman.


"Yang mulia, apakah kekuatan yang mulia sudah pulih?" Tanya Penghulu Siluman.


"Iya kekuatanku sudah pulih, kutuk lumpuh siluman juga sudah hilang, aku akan ketempat kedua resi untuk membicarakan kemungkinannya" Jawab Raja Siluman.


"Kapan Yang Mulia akan kembali ke alam Siluman, kami akan mempersiapkan penyambutan" Jawab Penghulu Siluman Girang mendengar rajanya sudah pulih.


"Aku akan kembali setelah urusan di alam manusia selesai, namun jangan memakai penyambutan, rahasiakan keadaanku kecuali kamu dan anakku, kalian aktifkan tanda pengenal kita, sebab kita tidak tahu apakah ada penghianat yang bekerja untuk istriku yang jahat tersebut, jadi kita bisa membasmi penjahat di lingkungan kita lebih dulu" Jelas Raja Siluman panjang lebar.


"Baik yang mulia" Jawab Penghulu Siluman.


"Kamu kembalilah kealam kita, aku akan memanggil jika ada yang diperlukan" Lanjut Raja Siluman.


"Aku mohon diri yang mulia..." Penghulu Siluman pamit.


Setelah Penghulu Siluman hilang du hadapannya, Raja Siluman segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan goa tempatnya bersemedi selama tiga ribu tahun ini. Dalam sekejap dia sudah menghilang dari goa tersebut.


...####...


terima kasih support terus kita ya vote, comen kasih masukan dan jadikan favorit.


follow ya IG: @yoyong_amilin_

__ADS_1


__ADS_2