Pendekar Naga Hitam

Pendekar Naga Hitam
Akhir Sebuah Dendam


__ADS_3

Bentakan keras di sertai meloncatnya dua orang menuju ketempat Datuk Lembah Tengkorak


"Heheheeh ternyata ada dua monyet kesasar dari Dawas yang cari mati" Datuk Lembah Tengkorak mengejek.


"Orang tua bau tanah, hari ini kami Sepasang Celurit Dawas akan mengambil kepalamu" Bentak kedua pendekar tersebut yang ternyata Sepasang Celurit Dawas.


"Hehehe mari tunjukan apa kemampuan kalian" Kembali suara ejekan dari Datuk Lembah Tengkorak.


Perkelahian tak terhindarkan dari tiga orang tersebut. Walaupun permainan silat dari Sepasang Celurit Dawas merupakan permainan silat tingkat tinggi, Senjata celurit sebagai senjata andalan mereka bergerak menyerang titik mematikan dari tubuh Datuk Lembah tengkorak.


Namun yang menjadi lawan mereka bukan anak kemarin sore, yang menjadi lawan mereka merupakan tokoh jahat di rimba persilatan yang telah malam melintang dari bermacam generasi. Beberapa serangan dari Celurit Dawas berhasil di mentahkan dengan muda oleh Datuk Lembah Tengkorak.


Di persembunyian Suro memperhatikan perkelahian itu sambil meleletkan lidahnya. Begitu juga sepasang rantai emas dari utara memperhatikan perkelahian dengan tidak berkedip.


"Adik, melihat dari pakaiannya aku yakin orang tua tersebutlah yang membunuh guru" Sang pria rantai emas membuka suara.


"Benarkah kakak, kalau begitu kita bisa menuntut balas atas kematian guru, disini" Ucap si Perempuan.


"Iya awasi dulu situasinya dan hati-hati, dilihat dari caranya bertempur orang tua itu mempunyai ilmu sangat tinggi" Di jawab dengan anggukan kepala dari si Perempuan.


...***...


Di arena pertempuran Sepasang Celurit Dawas kewalahan menghadapi Datuk Lembah Tengkorak dalam berapa jurus Datuk Lembah Tengkorak sudah diatas angin, tongkatnya bergerak kesana kemari berhasil bersarang di kepala Sepasang Celurit Dawas yang mati seketika.


"Hahahahaaha.... siapa lagi yang ingin mati di tempat ini" Sesumbar Datuk Lembah Tengkorak.


Belum hilang suara teriakannya, sepasang tubuh kembali meloncat ke arah pertarungan.


"Orang tua gila, hari ini kau harus bertanggung jawab atas kematian guru kami" Bentak suara tersebut.


Di depan Datuk Lembah Tengkorak sudah berdiri sepasang manusia yang ternyata Sepasang Rantai Emas dari utara.


"Hahaha...siapa nama guru kalian anak muda, aku tidak bisa mengingat orang yang sudah aku bunuh" Datuk Lembah Tengkorak berkata dengan sombong.


"Dengar baik-baik orang tua, nama guru kami Ki Menggolo" Bentak suara perempuan salah satu dari sepasang rantai emas dari utara


"Hahahahaha... Ki Menggolo, memang pantas mati, sayang sekali karena kakinya hancur aku tidak bisa menjadikan tulangnya sebagai tongkat" Datuk Lembah Tengkorak Masih berdiri dengan angkuh.

__ADS_1


"Kurang ajar orang tua matilah kau...." Bentak dari sepasang rantai emas dari utara, secara berbarengan.


Di sertai bentakan tersebut kilatan berwarna emas berputar-putar menyerang Datuk Lembah Tengkorak. Datuk Lembah Tengkorak menghadapi serangan tersebut masih dengan tertawa terkekeh.


Berapa kali ujung rantai emas hampir mengenai Datuk Lembah Tengkorak namun berhasil di hindari, Datuk Lembah Tengkorak yang merasakan dahsyatnya serangan lawan segera memutar tongkatnya serangan tak kalah ganas keluar dari Datuk Lembah Tengkorak.


Sepasang rantai emas dari utara sudah mengerahkan jurus terhebat mereka namun Datuk Lembah Tengkorak memang bukan lawan yang sebanding, dalam satu serangan tongkat di tangan Datuk Lembah Tengkorak berhasil mengenai dada kedua orang dari sepasang rantai emas dari utara, yang membuat mereka berdua terpental. Tak cukup sampai disitu Datuk Lembah Tengkorak menyerang kearah yang perempuan dengan pukulan tangan kosong, musuh yang tidak berdaya hanya pasrah menerima pukulan.


Sedikit lagi pukulan tersebut akan mengenai salah satu dari sepasang rantai emas dari utara, tiba-tiba dari arah belakang tubuh perempuan sepasang rantai emas dari utara terdengar sesiur angin, dan ledakan terjadi mengguncang tempat itu dengan hebat.


Kerasnya benturan tenaga tersebut membuat Datuk Lembah Tengkorak terbanting kebelakang, debu-debu beterbangan, begitu debu hilang dia melihat seorang pemuda sedang berjongkok di depan perempuan sepasang rantai emas dari utara.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya pria berbaju hitam yang ternyata Suro. Di Jawab Anggukan dari perempuan itu.


Setelah itu Suro berbalik menghadap Datuk Lembah Tengkorak. Laras yang tadi di samping Suro terbelalak melihat suro berdiri di hadapan Datuk Lembah Tengkorak, dia tidak menyadari kapan Suro Bergerak.


"Siapa pemuda ini, cepat sekali gerakannya" Batin Laras.


Sementara di tempat pertempuran Suro berdiri acuh tak acuh di depan datuk Lembah Tengkorak.


"Aku malaikat mautmu orang tua" Balas Suro tak kalah sengit.


Mendengar jawaban Suro, Muka Datuk Lembah Tengkorak memerah. Di atas danau tiba-tiba burung elang yang dari tadi berputar-putar menukik turun dan hinggap di bahu Datu Lembah Tengkorak. Begitu Burung Elang hinggap di bahunya Datuk Lembah Tengkorak bergerak mundur dua tindak kebelakang.


"Kau...kau Pendekar Naga Hitam, kau telah membunuh murid-muridku, hari ini hari kematianmu" Gembor marah Datuk Lembah Tengkorak.


Mendengar suara Datuk Lembah Tengkorak semua orang menjadi kaget, ternyata nama besar Pendekar Naga Hitam yang selama ini sudah di kenal dimana-mana orangnya berdiri di hadapan mereka semua. Laras yang dari tadi memandangi Suro jadi terkejut mendengar perkataan dari Datuk Lembah Tengkorak.


"Heeh....Siapa muridmu orang tua" Tanya Suro sambil nyengir.


"Anak muda dengar baik-baik, muridku Jaya Lelana, Pedang Api, dan Cambuk Halilintar...Hari ini aku menuntut balas" Bentak Datuk Lembah Tengkorak yang langsung mainkan tongkatnya menyerang Suro.


Serangan Dahsyat dari Datuk Lembah Tengkorak berapa kali membuat Suro merinding, berapa kali juga dia harus berjibaku menghindari serangan lawan.


"Sangat dahsyat...." Batin Suro.


Melihat betapa mematikannya serangan lawan suro segera membuka jurus Naga Mabuk mengejar mentari, serangan dahsyat Datuk Lembah Tengkorak berhasil di imbangi Suro yang belum mencabut senjatanya. Orang-orang yang hadir disitu merasakan betapa besar kekuatan mereka berdua, energi panas yang dahsyat saling menimpali dari serangan mereka. Sudah lebih dari seratus jurus pertarungan namun belum menunjukan siapa yang akan kalah.

__ADS_1


Sebaliknya serangan-serangan mematikan datang dari mereka berdua saling balas membalas, sampai di jurus ke seratus lima belas tiba-tiba pukulan mereka beradu, yang menyebabkan suara ledakan keras mengguncang Wilayah Danau Ulak Libok. Benturan tersebut menyebabkan keduanya sama-sama terbanting kebelakang.


Sekejap kemudian keduanya sudah melompat saling serang seakan tidak merasakan sakit dari benturan tadi, Suro yang sudah merasakan kehebatan kekuatan lawan segera mencabut pedang mustika naga hitam, hawa panas hitam segera melingkup kawasan tersebut. Datuk Lembah Tengkorak yang melihat senjata di tangan lawan segera melompat menyerang dengan kekuatan penuh.


Berapa kali Suro bersalto memapas serangan lawan, pedangnya berputar-putar memotong tongkal lawan menjadi beberapa bagian, Dia masih tidak menghentikan putaran pedangnya, di satu serangan pedangnya berhasil memapas leher lawan, kepala Datuk Lembah Tengkorak menggelinding ke tanah, darah muncrat dari lehernya dan jatuh badannya ketanah menutup petualangan Datuk Lembah Tengkorak.


Suro segera mendekati sepasang rantai emas dari utara dan memeriksa luka-luka mereka.


"Kalian tidak apa-apa" Tanya Suro


"Kami tidak apa-apa, hanya luka dalam yang mungkin akan sembuh dalam satu purnama" Jawab sepasang rantai emas dari utara.


"Kalian beristirahatlah" Jawab Suro singkat.


"terima kasih atas bantuannya saudara, kita berdua tidak akan melupakan bantuan ini, suatu saat kami akan membalasnya" Ucap sepasang rantai emas dari utara


"Jangan di pikirkan saudara, sudah sepantasnya sebagai manusia kita saling tolong menolong" Jawab Suro sambil tersenyum.


"Melihat kondisi kami sekarang, kami tidak akan bisa melanjutkan mencari pusaka di danau ini, semoga nanti saudara bisa mendapatkannya, ingatlah malam nanti Bulan purnama biru akan muncul di langit dan saat itulah senjata tersebut akan muncul" Ucap sepasang rantai emas dari utara


Suro hanya menganggukan kepalanya, sepasang rantai emas dari utara segera memanggil kuda mereka dan pergi dari situ. Suro segera beranjak dari situ dan kembali ketempat persembunyian di samping Laras.


"Kamu tidak apa-apa Suro" Tanya Laras


"Tidak apa-apa" Jawab Suro singkat


"Apa yang mereka semua tunggu?" Tanya Laras lagi.


"Bulan Purnama Biru" Jawab Suro Sambil tersenyum.


Laras nampak kebingungan mendengar jawaban Suro, namun dia memilih untuk diam saja.


...####...


terima kasih support terus kita ya vote, comen kasih masukan dan jadikan favorit.


follow ya IG: @yoyong_amilin_

__ADS_1


__ADS_2