
Goa karang di pinggir laut itu nampak sepi tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Suara deburan ombak terdengar saling sahut-sahutan.
Udara yang tadinya tenang tiba-tiba hadir hembusan angin yang kencang, bersama angin tersebut muncul sosok Raja Siluman di mulut goa itu, kemudian setelah menengok berapa kali dia masuk kedalam goa.
Di dalam goa dia melihat bekas cakaran memenuhi lantai goa, di suatu tempat ada cekukan yang sangat dalam seperti pernah ada sesuatu di sana, raja siluman berjongkok disitu, tangannya memegang-megang butiran halus berwarna merah yang bertumpuk-tumpuk disana.
"Segel siluman benar sudah hancur, janin dalam lesung batu juga sudah tidak ada, ini bekas cakaran srigala, ternyata perempuan tersebut sudah berhasil memindahkan janinnya, namun dalam kondisi rohnya yang masuk kedalam srigala tidak mungkin dia bisa memindahkan lesung berisi janin tersebut kecuali ada yang membantu" Gumam Raja siluman.
Kemudian dia menapaki tiap sudut goa, di satu sudut yang ada aliran air dan lumpur dia berjongkok Kembali, kelihatan jelas di sana tergambar jejak-jejak kaki yang masih jelas terlihat di lantai goa.
"Ternyata ada tiga manusia yang membantu, dan ini tanda...hhhsssss benar dugaanku ada bangsa siluman juga yang membantu perempuan dan janinnya ini, kemana mereka pindah untuk menyempurnahkan wujud, aku harus segera ketempat Resi Gambut dan Resi Menggolo barang kali mereka punya petunjuk, kemudian baru kembali ke alam siluman" Gumamnya lagi.
Kemudian dia segera pergi dari sana bersama dengan hembusan angin yang kencang, dan goa tersebut kembali sepi kecuali suara deburan ombak yang kencang memukul karang berkali-kali.
...####...
Di sebuah bukit kapur yang terpencil nampak berjalan tiga orang manusia dan satu bangsa siluman memanggul sebuah lesung batu, di depannya seekor srigala hitam, berjalan paling depan.
Makin ketengah bukit kapur, makin panas suasana, matahari yang memancar seolah berada sejengkal diatas kepala masing-masing orang, tiba di sebuah gundukan di tengah batu kapur srigala yang berjalan di depan berputar-putar.
"Inilah tempatnya, walau sudah tiga ribu tahun namun aku masih mengingatnya, cepat cari sebuah tonjolan untuk masuk kedalam" Perintah Srigala tersebut yang ternyata bisa berbicara seperti manusia.
"Baik ratu" Jawab tiga manusia dan satu siluman yang mengikutinya dengan kompak, Mereka berputar mencari sesuatu.
Setelah mencari cukup lama mereka bisa menemukan sebuah tonjolan batu, yang tersembunyi di bawah hamparan batu kapur. Begitu di tekan gundukan batu kapur yang nampak tinggi bergeser dan merupakan sebuah pintu untuk menuju ke bawah.
Mereka segera turun ke bawah, di dalam ruangan di bawah batu kapur tidak seperti diatasnya, di dalam ruangan yang cukup luas terdiri dari beberapa kamar tersebut ternyata mempunyai udara yang cukup dingin.
walau ruangan tersebut berada di bawah tanah, ternyata di dalam ruangan tersebut cukup terang, sebuah pencahayaan yang berasal dari sebongkah batu mampu menerangi seluruh ruangan di bawah tanah.
"Untuk sementara tempat ini menjadi persembunyian kita, sebab aku masih memerlukan waktu empat puluh satu hari, untuk mengubah wujudku menjadi seperti manusia, begitu juga janinku masih memerlukan lima puluh energi baik manusia untuk mempunyai wujud sempurna" Jelas Srigala yang duduk di kursi batu yang berada di hadapan semua orang.
"Baik ratu, apa yang musti kami lakukan?" Tanya ketiga manusia yang berada disitu.
"Kalian harus mengumpulkan empat puluh satu perawan, untuk sesajen dalam membantuku berubah wujud, di samping itu carilah pengikut dari golongan manusia guna membantu pertempuran kita nanti" Jawab Srigala tersebut
__ADS_1
"Baik ratu" Jawab ketiga manusia itu berbarengan.
"Apa yang harus aku lakukan ratu" tanya satu sosok siluman yang ada di dalm ruangan.
"Kamu kembalilah ke alam siluman, cari pengikut untuk menambah kekuatan dan carilah informasi mengenai raja siluman, sebelum kamu pergi pasang pelindung di tempat ini supaya manusia dan siluman tidak bisa menemukannya" Jawab Si Srigala.
"Baik ratu" Jawab bangsa siluman tersebut.
Sekejap kemudian tiga orang manusia dan satu siluman sudah menghilang dari ruangan tersebut.
"Hahahahhaa....tunggu saja Raja Siluman, kau akan merasakan dendamku yang teramat menyiksa....Auuuuuu"
Teriak Srigala tersebut yang berakhir dengan lolongan mengguncangkan area bukit batu kapur.
...*****...
Di sebuah hutan yang ada di wilayah rawas, Suro berjalan bersama Laras, mereka tidak banyak berbicara namun hanya berjalan.
"Suro, dalam satu minggu lagi aku akan menyusul kamu menuju kearah timur tapi sekarang aku harus ke suatu tempat dulu" Laras membuka pembicaraan.
Tiba di persimpangan mereka akan berpisah, namun belum sempat mereka berpisah tiba-tiba terdengar suara tawa membahana.
"Hahahahah.... Manusia keblinger, bercinta di hutan ini kalian akan merasakan karma" Bentakan suara di iringi loncatan sesosok tubuh.
Berdiri di hadapan Suro dan laras, satu sosok tubuh hitam besar hanya mengenakan cawat saja.
"Siapa kau saudara?" Tanya Suro dengan ramah.
"Kalian orang-orang gila, akulah Sihitam pengumpul kepala, kalian harus memberikan kepala kalian jika lewat hutan ini" Bentak Sosok tersebut yang mengaku Si hitam pengumpul kepala.
"Kurang ajar, kau kira hutan ini punya monyangmu" Bentak Laras.
"Hahahaha...hutan ini memang bukan punya moyangku namun sekarang aku yang mempunyainya" Bentak suara tersebut lagi.
Laras yang tidak bisa menahan amarah segera menyerang makhluk tersebut, berapa kali pukulan Laras mengenai tubuhnya namun tidak bisa melukainya, sebaliknya Laras terpental cukup jauh terkena pukulan makhluk tersebut.
__ADS_1
Suro yang dari tadi diam saja melihat laras terpental segera menyerang makhluk tersebut dengan kekuatan-kekuatan yang dia punyai, namun makhluk tersebut bukannya menghindar namun membusungkan dadanya menyambut serangan Suro yang membuat Suro terbanting cukup jauh.
"Hahahahaha.....sebentar lagi kepala kalian harus di tanggalkan" Bentak makhluk tersebut menggelegar.
"Kurang ajar, kulitnya begitu keras tidak mempan terkena pukulan apapun" Batin Suro yang tengah berpikir untuk mencabut senjata mustikanya.
Belum sempat Suro melakukan gerakan apapun tiba-tiba Laras berteriak dan melakukan pukulan ke arah makhluk tersebut, di tangan Laras sebuah senjata mustika dengan pancaran aura kematian berwarna hitam menggebubu menyerang makhluk di hadapan mereka.
Laras berputar-putar salto di udara dan senjata di tangannya segera menghantam tubuh makhluk yang berwarna hitam tersebut, seketika makhluk tersebut meraung keras perutnya robek besar terkena hantaman senjata di tangan laras.
Suro yang melihat senjata di tangan Laras menjadi terbelalak matanya, jelas kelihatan di tangan laras tergenggan sebuah tusuk konde hitam dengan bentuk seperti naga yang sama persis dengan pedang mustika Suro.
"Konde Naga Hitam..." Desis Suro.
Sebaliknya Laras yang tidak melihat Suro memperhatikan kearahnya segera menyimpan konde tersebut kedalam bajunya. Di tempat lain makhluk dengan tubuh hitam menggelepar-gelepar kemudian mati.
Suro segera mendekati laras yang berdiri mematung menyaksikan makhluk hitam di hadapannya mati dengan tubuh yang makin hitam.
"Senjata bagus, dari mana kamu mendapatkannya?" Tanya Suro.
"heeh....ini senjata pusaka warisan guruku" Jawab Laras.
"Sangat dahsyat kekuatannya, kalau begitu aku merubah rencana, aku akan bertemu gurumu dulu baru mengarah ketimur" Jawab Suro
"Apaa..." Laras berteriak namun Suro sudah melangkah dari hadapannya.
"Suro apa maksudmu bertemu guruku?" Teriak Laras bingung
Namun Suro tidak menjawab hanya meneruskan saja perjalanan kearah yang seharusnya di ambil Laras. Diikuti Laras yang berlari mengejar di belakangnya dengan muka memerah.
...####...
terima kasih support terus kita ya vote, comen kasih masukan dan jadikan favorit.
follow ya IG: @yoyong_amilin_
__ADS_1