
Lembah tengkorak merupakan sebuah lembah yang diapit oleh pegunungan, di sebut lembah tengkorak karena di pintu masuk ke lembah ini berserakan tengkorak manusia. Lembah ini terkenal menakutkan bagi kebanyakan orang di rimba persilatan. Jangankan untuk masuk kedalamnya baru melihat pintu masuknya saja banyak orang yang bergidik ngeri.
Kalau di kumpulkan jumlah tengkorak kepala yang ada di pintu masuk lembah tengkorak mungkin lebih dari dua ribu kepala. Menurut cerita yang beredar tengkorak-tengkorak yang tersebar ini merupakan orang-orang yang di bunuh oleh penghuni lembah ini.
Dilembah ini di huni oleh seorang tokoh jahat yang kejahatannya sendiri tidak tertandingi. Kejahatan yang pernah dia lakukan mungkin sedalam lautan dan seluas samudera. Tidak banyak yang tahu siapa nama asli tokoh yang berdiam di lembah ini, orang-orang hanya mengenalnya dengan nama Datuk Lembah Tengkorak.
Lembah ini selalu di tutupi kabut sepanjang hari, sehingga sinar mentari tidak bisa menembus kedalamnya. Di dasar lembah terdapat satu buah goa yang dindingnya berasal dari batu pualam. Goa ini sama dengan keadaan lembah selalu ditutupi kabut. Di dalam goa inilah Datuk Lembah Tengkorak berdiam.
Di dalam goa terlihat Datuk Lembah Tengkorak sedang bersemedi, beberapa hari ini dia selalu mendapat firasat tentang darah yang mengelilinginya. Untuk mendapatkan jawaban akan firasatnya itu dia bersemedi. Tempatnya bersemedi berada di tengah goa, yang mana terdapat sebuah kolam dengan air yang selalu memancar, di atas air tersebut ada sebuah batu pipih yang seperti melayang diatas air. Diatas batu itulah Datuk Lembah Tengkorak bersemadi.
Sudah dua hari dia bersemedi untuk mencari petunjuk, pada hari ketiga dari semedinya air di bawah batu pipi bergerak tanpa aturan, kemudian air tersebut berputar-putar dan bergulung jadi satu, membentuk satu sosok manusia, air yang membentuk sosok manusia tersebut naik tinggi dan berdiri dihadapan Datuk Lembah Tengkorak.
"Datuk Lembah Tengkorak, bukalah matamu, aku datang membawa semua jawaban dari pertanyaanmu" Tiba-tiba suara besar keluar dari dalam air yang membentuk sosok manusia tersebut.
Datuk Lembah Tengkorak membuka matanya, dia terkejut melihat air didepannya berwujud seperti orang dan bersuara besar.
"Siapa kau?" Tanya Datuk Lembah Tengkorak sambil berteriak.
"Tenanglah, aku adalah wakil semesta yang berwujud roh air, datang kesini karena pertanyaan-pertanyaanmu" Jawab suara besar yang keluar dari air tersebut.
"Apa maksudmu, jangan coba menipuku" Seru Datuk Lembah Tengkorak tidak percaya.
"Siapa yang mencoba menipumu, pertanyaan-pertanyaan dalam benakmu yang membuat aku kesini, kau mempunyai pertanyaan besar dalam otakmu sehingga kau melakukan semedi" Ucap air tersebut dengan suara yang besar dan tenang.
Datuk lembah tengkorak terdiam mendengar suara tersebut, dia mencoba meyakinkan dirinya kalau suara tersebut bukan orang yang menipunya.
"Pertanyaan-pertanyaan dalam benakmu berkaitan dengan kabar yang akan aku sampaikan, dan mungkin kabar inilah jawaban dari pertanyaanmu" Suara tersebut meyakinkan Datuk Lembah Tengkorak.
"Lantas apa yang kau ketahui dari pertanyaan tersebut?" Tanya Datuk Lembah Tengkorak.
__ADS_1
"Jawaban pertanyaan tersebut adalah tentang darah yang sudah tertumpah, murid-muridmu semua sudah tiada, mereka telah mati di bantai oleh orang" Jawab Suara tersebut datar.
Datuk Lembah Tengkorak sampai terlonjak dari tempat duduknya mendengar pwrkataan suara tersebut. Cukup lama datuk lembah tengkorak terdiam, mukanya tegang mendengar berita tersebut tangannya terkepal.
"Siapa orang yang berani membantai muridku?" Bentak Datuk Lembah Tengkorak menahan amarah.
"Kau mungkin tidak percaya Datuk yang membunuh muridmu seorang pemuda bernama Suro dengan gelar Pendekar Naga Hitam bersama orang tua yang bernama Ginde Ramedan, sudah saatnya kau keluar dari tempat ini, pergilah ke wilayah Toman kau akan tahu jika sampai disana, apakah kau tidak mau menuntut balas terhadap kematian muridmu, karena jelas kematian muridmu merupakan penghinaan buatmu" Suara tersebut terus memancing kemarahan dari Datuk Lembah Tengkorak.
"Kalau memang iya, murid-muridku telah di bunuh, bagaimana aku menemukan pembunuhnya" Suara Datuk Lembah Tengkorak mulai terpancing.
"Itu perkara mudah..."
Jawab suara tersebut yang kemudian dari arah air yang berwujud suara manusia tersebut keluar burung elang yang terbang dan hinggap di bahu Datuk Lembah Tengkorak. Datuk Lembah Tengkorak merasakan pandangannya bisa mencapai sudut jauh dari goa dan menembus tempat gelap dari goa.
"Itu merupakan burung elang pelacak, mata kamu menyatu dengan matanya, dia bisa tahu siapa pembunuh murid-muridmu, kamu cukup menerbangkannya dia akan menuju ketempat pembunuh muridmu dan berada di sekitar orang itu, kamu akan bisa melihat apa yang dia lihat" Suara tersebut menjelaskan dengan suara yang besar dan berat.
"Aku pergi dulu, kau silakan berburu" Jawab suara tersebut lagi.
Tiba-tiba air tersebut berputat-putar kemudian pecah dan kembali seperti semula. Diluar goa sesosok tubuh samar yang tidak kelihatan wujudnya bergerak cepat menuju keluar lembah tengkorak. Sementara di dalam goa Datuk Lembah Tengkorak mengamuk sejadi-jadinya pukulannya menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya, dalam sekejap goa yang telah berumur ratusan tahun di lembah tengkorak ambruk dan rata dengan tanah.
Datuk Lembah Tengkorak berdiri di depan bekas pintu goa, tangannya mengelus-elus elang yang ada di bahunya.
"Kau terbanglah dan cari pembunuh murid-muridku, agar aku bisa mencincangnya membalaskan kematian muridku"
Ucap Datuk Lembah Tengkorak, burung elang yang sepertinya memahami setiap perkataan Datuk Lembah Tengkorak terbang tinggi keatas, berputar berapa kali diatas lembah tengkorak sebelum kemudian meluncur cepat menuju barat. Setelah cukup lama berdiri di sana Datuk Lembah Tengkorak segera memegang tongkatnya dan berlari keluar lembah.
...****...
Di sebuah hutan yang berada di wilayah punjung Suro berjalan tanpa tahu menuju kemana, yang pasti dia menyusuri jalanan yang menuju terus kearah hulu sebuah sungai, yang berdasarkan keyakinannya sungai ini akan sampai ke wilayah Rawas, sembari mengembara siapa tahu dia menemukan Resi Gambut dan bisa bertanya tentang cerita tiga ribu tahun lalu.
__ADS_1
Sampai di sebuah jalanan berbukit Suro mendengarkan dengan keras suara pedang beradu di sertai dengan suara orang yang sedang berkelahi. Begitu dekat dia cukup jelas melihat seorang wanita cantik dengan baju putih sedang di keroyok tiga orang laki-laki bermuka seram. Wanita yang tengah di keroyok bergerak dengan lincah meladeni serangan demi serangan. sepertinya wanita tersebut mempunyai ilmu lebih tinggi dari pengeroyok, namun di keroyok demikian membuatnya cukup kerepotan.
Setelah cukup lama Suro hanya memperhatikan saja perkelahian tersebut, dia melihat wanita yang sedang di keroyok tersebut mulai kelelahan. Tanpa pikir panjang Suro segera melompat ke kancah pertarungan. Wanita yang di keroyok terkejut melihat ada orang yang membantunya namun di satu sisi dia cukup gembira karena ada yang membantu.
Suro yang tidak mau buang-buang waktu segera menghajar tiga orang yang mengeroyok wanita tersebut. Hanya tiga jurus ketiga orang tersebut sudah jatuh terkapar di tanah. Kemudian ketika orang-orang tersebut bangun dan menunjuk kearah Suro.
"orang kurang ajar, kami tidak menerima ini, ingat anak muda, kami Rampok hutan punjung akan datang membunuh dan mencincangmu" teriak salah seorang dari mereka.
Kemudian orang-orang tersebut segera berlari dan menjauh. Suro melihat wanita yang di keroyok tadi berdiri mengatur nafasnya.
"Saudari tidak apa-apa?" Tanya Suro ramah.
"iya, tidak apa-apa, terima kasih bantuannya" Jawab wanita tersebut.
"Siapa namamu?, Kenapa ada di hutan ini?" Tanya Suro.
"Namaku Laras, aku sedang menuju sebuah desa di Muara Rawas, tiba-tiba mereka datang mau merampok" Jelas wanita bernama Laras tersebut.
"Kebetulan sekali kita menuju tempat yang sama, kalau begitu kita bisa berjalan bersama, oh ya namaku Suro" Jawab suro
"Terima kasih"
Jawab wanita tersebut yang lalu berjalan mendahuli Suro.
...####...
terima kasih support terus kita ya vote, comen kasih masukan dan jadikan favorit.
follow ya IG: @yoyong_amilin_
__ADS_1