
Danau Ulak Libok begitu tenang di pagi hari, hiruk pikuk kejadian semalam sudah tidak berbekas, hanya beberapa orang yang masih berada di pinggir danau ulak libok.
Laras yang dari semalam tidak sekejap memejamkan matanya, kembali mengayuh perahu ketengah danau, mencari tubuh Suro yang terjatuh semalam, Pulau kecil di tengah danau juga tak luput dari pencariannya namun berapa kali dia berputar disana tidak menemukan apa-apa. Termasuk sisa ledakan semalam tidak ada bekasnya seperti hilang begitu saja di terbangkan angin.
Akhirnya dia kembali keseberang danau di tempat dia berada, ada perasaan getir di hatinya karena tidak bisa membantu Suro. sementara dia masih berhutang jasa kepada Suro yang membantunya ketika melawan rampok Hutan Punjung.
"Baiklah aku kembali dulu ke penginapan buat cari makan, kemudian baru kembali kesini dan menunggu beberapa hari, barang kali ada keajaiban yqng membuat aku bisa menemukan Suro" Ucapnya dalam hati.
Di mengayuh perahunya ke tepi danau, seluruh badannya merasa pegal, dan juga perutnya sudah memanggil minta di isi. Begitu sampai di penginapan dia segera masuk kekamarnya membaringkan badan di kasur penginapan, setelah sebelumnya memesan makanan untuk diantar ke kamar.
...****...
Sementara jauh di dasar Danau di dalam sebuah ruangan, tubuh Suro masih tergolek pingsan diatas tempat tidur batu.
"Bagaimana ini resi, ini sudah dua hari semenjak yang terpilih pingsan...?" Tanya Resi Menggolo dengan nada khawatir.
"Tidak apa-apa, di badan yang terpilih tidak ada cidera, ini di karenakan tenaganya terkuras setelah benturan dari kekuatan Siluman" Jawab Resi Gambut.
"Apakah ini tidak akan berdampak pada diri yang terpilih?" Tanya Resi Menggolo lagi.
"Mudah-mudahan tidak, sebab aku masih bisa merasakan energi badannya masih berperang melawan energi siluman, kita juga harus berterima kasih karena dia telah membebaskan kita dari penjarah kubah Siluman" Jawab Resi Gambut.
Mulutnya terus komat-kamit melapalkan doa di hadapan tubuh Suro yang terbaring. Di atas pembaringan perlahan mata Suro mengerjap-ngerjap. Matanya berputar-putar memperhatikan ruangan yang asing di hadapannya, matanya terus menyusuri ruangan tersebut.
Dia merasakan hawa dingin di dalam ruangan itu, sementara di sebelah kanan pembaringannya dia melihat seperti air yang di batasi benda yang tidak kelihatan.
"Dimana aku" Desisnya.
Resi Gambut yang mendengar desisan tersebut segera mendekat ke tempat pembaringan.
"Yang terpilih, baguslah kamu sudah sadar" Resi Gambut segera berkata.
"Kakek, aku ada dimana?, kenapa badanku sakit semua?" Tanya Suro lagi.
"Badanmu akan segera pulih, segera minum ini" Resi Menggolo yang dari tadi diam segera menyahut sambil menyodorkan gelas yang berisi sebuah ramuan.
Setelah minum ramuan tersebut Suro merasakan badannya ringan, rasa sakit yang tadi menerpanya perlahan berkurang. Dia mengingat apa sebenarnya yang sudah terjadi, perlahan pikirannya berputar ketika kejadian bulan purnama biru bersinar, dia mengingat benturan setelah dia menghancurkan kubah dan suara Laras berteriak memanggil namanya, setelah itu dia tidak mengingat apa-apa lagi.
"Maaf kakek, Kalian siapa?" Tanya Suro Bingung.
"Yang terpilih nama kami tidak ada orang yang tahu, namun saya mempunyai nama Resi Gambut sementara yang ada di sampingku bernama Resi Menggolo" Jawab Resi Gambut
__ADS_1
Suro segera mengingat percakapannya dengan Ginde Ramedan.
"Kalau begitu, Resi..." Suaranya terhenti matanya terbelalak, ingin dia segera menghormat tapi badannya masih terasa sakit.
"Anak muda tidak usah memakai peradatan segala" Jawab Resi Gambut yang tahu apa yang akan di lakukan Suro.
Kemudian Resi Gambut melangkah menuju ketempat Suro berbaring, dia segera menyalurkan tenaga murni ke tubuh Suro melalui ubun-ubun tubuh Suro. Setelah penyaluran tenaga murni Suro merasakan sakit di badannya hilang sama sekali. Sementara Resi Gambut menyalurkan tenaga murni, Resi Menggolo keluar dari ruangan tersebut.
Suro yang merasakan tubuhnya sudah nornal kembali, segera bangun dari pembaringan dan sujud di hadapan Resi Gambut.
"Sudah, tidak usah memakai peradatan begitu segala" Ucap Resi Gambut merasa tidak enak.
"Kakek Resi, sebenarnya kita ada dimana?, dan bagaimana temanku" Tanya Suro
"Kita ada di pengasingan kami berdua tepatnya di bawah Danau Ulak Libok, mengenai temanmu dia sangat cantik, dan sekarang masih gelisah menunggu kamu, sayang perjalanan kalian berdua tidak seperti yang di harapkan" Jawab Resi Gambut.
"Apa maksudnya Kakek Resi?" Tanya Suro
Resi Gambut tidak menjawab, dia hanya tersenyum memandang Suro yang kebingungan.
"Ooh ya ada pertanyaan lagi, Kubah cahaya yang menutupi pulau ini semalam itu apa resi?, dan kenapa Resi memanggilku dengan yang terpilih?" Tanya Suro bingung.
"Ceritanya berkenaan dengan kejadian tiga ribu tahun lalu kejadian awalnya mungkin kamu sudah tahu, ketika kami bertempur dengan istri raja siluman, kami membantu perkelahian tersebut karena kami diminta raja siluman, sebab raja siluman tidak menyangka istrinya begitu kuat, selain kekuatan yang di berikan oleh raja siluman ternyata istrinya memiliki ilmu lain yang tidak di ketahui raja siluman" Jelas Resi Gambut.
"Bukankah istri raja siluman sudah mati resi?" Tanya Suro
"Sebenarnya bisa dibilang sudah mati dan juga belum mati, ketika akhir perkelahian dia sempat mengeluarkan kutuk terhadap kami, Raja Siluman terkena kutuk yang tidak bisa dia lawan yakni kelumpuhan dirinya, dia bersemedi disebuah gua di atas gunung dempo untuk menyembuhkan dirinya, diriku dengan Resi Menggolo terkena kutukan penjara kubah cahaya sehingga kami terkurung disini selama riga ribu tahun"
Resi Gambut menghentikan ceritanya, dia menarik nafas dalam-dalam baru melanjutkan.
"Sebelum kutuk atas diri kami berjalan, kami mencoba menghancurkan istri raja siluman, tapi dia berhasil melepaskan ruhnya dan masuk kedalam sebuah binatang untuk menjaga janinnya yang di segel di dalam sebuah benda, jika segelnya terlepas dia akan kembali menjalankan misinya menguasai alam siluman dan alam manusia"
"Apakah kita tidak bisa menyegelnya kembali Resi?" Tanya Suro
"Kita tidak akan bisa menyegelnya kembali, Purnama biru menjadi pertanda segelnya sudah rusak, mungkin dia sekarang sedang membentuk tubuhnya dari kejahatan manusia supaya sempurna, dan akan meneruskan ambisinya bersama ibunya"
"Lantas kenapa Resi memanggilku yang terpilih....?" tanya Suro
"Sekitar seratus tahun yang lalu ada kawan dari golongan siluman yang mengabarkan purnama biru akan muncul, bersamaan dengan itu ada orang terpilih yang akan menghancurkan kubah siluman" Jelas Resi Gambut.
Suro yang mendengar cerita tersebut perlahan badannya menjadi dingin.
__ADS_1
"Kalau kekuatan mereka begitu besar, bagaimana mengalahkannya resi?" Tanya Suro Kembali.
"Di dalam dirimu dan di dalam senjatamu ada kekuatan penghancur siluman, tapi kau harus mencari dua orang lagi yang memegang senjata inti naga dan harus mencari satu orang lagi yang mempunyai kekuatan siluman, kalian bisa menghancurkannya dengan menggabungkan kekuatan kalian" jelas Resi Gambut.
Suro terdiam memikirkan perkataan Resi Gambut, kepalanya menjadi pusing memikirkan itu semua.
"Resi, apakah masih ada kesempatan untuk mencari dua orang lagi yang memegang kekuatan inti naga?" Tanya Suro bingung, perlahan dia teringat apa yang di bilang oleh gurunya mengenai ada dua senjata lagi yang sama seperti yang dia punya, namun keduanya merupakan benda berbeda, yang satu Suling Naga Hitam dan yang satunya Tusuk Konde Naga Hitam.
"Yang terpilih, di dalam dunia ini tidak ada satupun yang pasti, namun ada baiknya kita berusaha dari pada berpangku tangan, mereka berdua tidak akan mudah mengumpulkan kekuatan mereka lagi yang terserak setelah di hancurkan, namun selama mereka belum bisa mengembalikan kekuatan mereka, mereka akan menjadi bayang-bayang dalam kejahatan manusia, setiap kejahatan manusia yang terjadi di dunia ini akan ada campur tangan dari siluman ini, jika kekuatan mereka kembali maka akan ada pertanda sebuah gunung meletus ketika terjadi gerhana matahari, baru kita akan berhadapan dengan siluman sebenarnya, sejauh pertanda itu belum terjadi siluman seperti mereka akan selalu ada dalam bayang-bayang kejahatan manusia" Jelas Resi Gambut Panjang lebar.
Kemudian masuk kedalam ruangan tempat mereka bercerita, Resi Menggolo sambil membawa pedang Suro.
"Yang terpilih, ini pedangmu terimalah kembali, Begitu sempurnanya Empuh Sandika membuat pedang ini, aku sudah menyempurnahkan energi di dalamnya"
Resi Menggolo menyerahkan kembali pedang Suro, Suro langsung memgambil pedang tersebut dan merasakan pedang tersebut menjadi sangat ringat, dia merasakan energinya menjadi lebih angker dari sebelumnya, dengan segera dia meletakan pedang tersebut di pinggangnya.
"Yang terpilih, setelah dari sini berjalanlah kearah timur, mudah-mudahan di sana kamu akan mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu" Resi Gambut menambahkan
"Resi berdua apa yang akan resi lakukan?" Tanya Suro
"Kami akan melakukan sesuai dengan kemampuan kami untuk membendung kekuatan jahat yang terjadi di bumi" Jawab Resi.
"Terima kasih atas semuanya resi" Jawab Suro
"Hati-hati di perjalanan kamu, banyak rintangan yang akan mengganggu namun jangan percaya apa yang dilihat mata sebab mata bisa menipu, namun lebih percayalah terhadap apa yang di lihat hatimu" Tambah Resi Gambut.
"Terima kasih atas segala wejangannya resi' Jawab Suro Lagi.
Tiba-tiba Resi Gambut mengeluarkan satu buah batu permata berwarna biru terang dari dalam lipatan pinggangnya.
" Ambilah ini, ini bisa menjadi penghubung antara dirimu, kami berdua dan raja siluman, ini bernama mustika sumpah, jika kau mengalami kebuntuan terhadap masalah kedepannya genggamlah mustika ini, panggil nama kami atau raja siluman, kami akan hadir walau melalui pikuranmu" Jelas Resi Gambut.
"Terima kasih Resi, atas semuanya, saya mohon pamit" Jawab Suro.
Kemudian dia melangkah menuju keluar diantar oleh Resi Menggolo bukan melalui pulau di tengah danau namun berjalan melewati semacam terowongan menuju pinggir danau.
...****...
terima kasih support terus kita ya vote, comen kasih masukan dan jadikan favorit.
follow ya IG: @yoyong_amilin_
__ADS_1