Pendekar Pedang Naga Gendeng

Pendekar Pedang Naga Gendeng
Pertarungan Sengit


__ADS_3

Pancaran energi Ganendra memporak-porandakan bayi bajang. Tubuh Ganendra telah berubah. Rambutnya yang hitam berubah putih keperakan. Lengan kirinya dipenuhi sisik ular. Jemari tangannya berubah menjadi cakar naga. Uraga yang melihat itu seketika terkesiap. Ia mencium aroma darah. Darah siluman ular naga.



"Ba... Bagaimana bisa???! Manusia rendahan itu memiliki darah agung siluman ular naga!!!"



Ganendra mengganas dan mencakar semua bayi bajang. Tanpa rasa takut ia menerjang ke arah Uraga. Uraga yang masih terkejut tak siap dan terkena pukulan Ganendra. Langkahnya mundur. Ia memegangi dadanya yang nyeri.



"Kurang ajar!!!!" Kemarahan Uraga di atas ubun-ubun.



Pertarungan sengit tak terelakkan. Ia menggunakan *Ajian Malih Rupa* dan berubah wujud menjadi Ular Naga raksasa. Menggeliat dan bertarung dengan Ganendra. Bagaimana kelanjutan pertarungan mereka??


...***...


"Kakang Ganendra!!" panggil Gayatri berkali-kali.



Ia hendak menghampiri Ganendra. Namun, Opal mencegahnya.



"Nini, jangan ke sana. Terlalu berbahaya. Kau sedang terluka."



Opal membantu menghentikan luka dari perut Gayatri. Membalut dengan sebuah kain. Untuk menghentikan pendarahan. Gayatri mulai merasakan perih.



Tak jauh dari sana. Ganendra mengamuk dan menyerang Ular Naga jelmaan Uraga. Siluman ular yang merupakan anak buah Uraga. Sedikit menjauh dari pertarungan. Adipati Dewananda dan Tumenggung Adiyaksa hanya diam menyaksikan. Ini bukan pertarungan antar manusia dan siluman. Melainkan pertarungan para siluman kuat. Tetapi entah kenapa saat melihat sosok Ganendra, Adipati Dewananda merasakan ada sesuatu pada pemuda itu. Namun semua hanya tertahan dalam hati.



Kembali ke pertarungan Uraga dan Ganendra. Uraga menyerang dengan ekornya. Ganendra terbang sembari memutar tubuhnya untuk menghindari serangan. Kemudian melayangkan pukulan maupun tendangan. Tubuh naga Uraga meliuk- liuk menghindari serangan. Keduanya saling menyerang. Akan tetapi serangan mereka sama-sama meleset.



Ganendra yang tubuhnya telah berubah menjadi siluman. Terus menyerang tanpa henti. Serangannya serampangan. Namun kekuatannya sangat besar. Uraga segera meminta bantuan anak buahnya untuk membantu menyerang pemuda misterius yang ia lawan. Namun bawahan Uraga malah mundur. Tidak ingin menyerang.



"Ampun beribu ampun raden, kami tidak bisa menyerang seseorang yang memiliki darah Raja Ular Naga Gendeng." jawab salah satu ular siluman.



Ya... Di dunia siluman ular. Mereka tak bisa menyerang seseorang yang memiliki darah seperti raja mereka. Apalagi siluman-siluman itu dapat mencium bahwa pemuda yang sedang bertarung dengan Uraga memiliki bau darah yang sama dengan Raja Ular Naga Gendeng. Rambut putih keperakan yang dimiliki Ganendra juga sama persis seperti milik keturunan Raja Ular Naga Gendeng, Bahuwirya.



Uraga semakin marah dan mengamuk. Ia penasaran siapa sebenarnya pria misterius yang menjadi lawannya. Bagaimana bisa pemuda yang tadinya berwujud manusia bisa memiliki rambut putih keperakan seperti ciri khas keturunan Raja Ular Naga Gendeng.



"Argtttt!!!" Uraga berteriak keras.


__ADS_1


Rasa penasaran maupun amarah bergejolak di dada. Ia lah satu-satunya keturunan langsung Raja Ular Bahuwirya. Lalu siapa pemuda yang ada di depannya ini. Uraga tak terima ada yang menyaingi kekuatannya. Maka ia mengumpulkan kekuatan yang terpusat pada mulutnya. Kemudian dengan tenaga penuh mengeluarkan ajian pemberian Sang kakek.



"*Ajian Upas Sewu*!!!"



Ribuan bisa ular ganas mengarah pada Ganendra. Ganendra bukannya menghindar. Malah menahan dengan kedua tangannya. Akan tetapi kekuatan Uraga masih sangat besar. Ganendra tak mampu menahan serangan. Tak pelak ribuan ular tepat mengenai tubuhnya. Ganendra terpental dan jatuh ke tanah dengan keras.



Ganendra yang mulai lemah karena kekuatan besarnya tak dapat bertahan lama. Perlahan rambutnya yang putih kembali berwarna hitam. Sisik ular di lengan kirinya berangsur-angsur menghilang. Jemari tangannya kembali seperti sedia kala. Ganendra tak sadarkan diri. Seusai menggunakan kekuatan besarnya. Uraga melihat kesempatan emas. Ia dengan cepat meliuk-liukkan tubuhnya hendak memberikan serangan mematikan pada Ganendra. Gayatri yang melihat kakak angkatnya dalam bahaya. Berusaha sekuat tenaga berlari ke arah Ganendra.



Opal hanya bisa berteriak, "nini!! bahaya!!"



Ia tak dapat mencegah Gayatri berlari mendekati Ganendra. Tak perduli bahaya yang mengancam. Uraga melancarkan serangan mematikannya. Namun Gayatri segera memeluk Ganendra. Ia siap jika harus mengorbankan nyawa demi kakaknya.



"Kakang!!!" teriak Gayatri keras sembari memejamkan mata. Ia pasrah jika Sang Hyang Widi mengambil nyawanya.



Tepat disaat serangan Uraga hampir mengenai tubuh Gayatri. Sebuah sinar merah dengan cepat menghalangi serangan maut Uraga. Kedua kekuatan besar saling beradu. Hingga terdengar bunyi ledakan keras. Uraga yang merasakan dampak kekuatan besar itu. Terpental beberapa hasta. Mau tidak mau ia berwujud menjadi manusia. Sembari memegangi dadanya yang sakit. Siluman ular lain segera menggunakan *Ajian Malih Rupa* dan menjadi wujud manusia. Mereka segera merapat pada Uraga.



"Setan alas!!! Siapa yang berani mencampuri urusanku! Keluarlah jangan jadi pengecut!!" tantang Uraga.




Uraga hendak bangkit dan ingin bertarung dengan sosok misterius berpakaian serba hitam. Tetapi salah satu siluman ular buru-buru mencegahnya.



"Raden, lebih baik kita mundur. Kita tidak dalam keadaan yang menguntungkan."



Uraga hendak menyela. Tetapi beberapa siluman saling berpandangan dan mengangguk. Kemudian mereka segera memegangi tangan Uraga. Tubuh para siluman itu tak terkecuali Uraga berubah menjadi sinar hitam. Lalu sinar hitam melayang menjauh dari Kadipaten Ngrowo. Kemudian menghilang begitu saja ditelan kegelapan. Sosok misterius berpakaian serba hitam segera lenyap bersamaan dengan hilangnya Uraga.



Gayatri yang melihat kejadian itu merasa lega. Hingga lama kelamaan pandangan matanya mulai kabur. Tak lama kemudian ia hanya mendengar suara Opal memanggil-manggil namanya. Tetapi ia tak dapat menyahut. Tak lama berselang tubuhnya ambruk tepat di dada Ganendra. Semuanya menjadi gelap.


...***...


Suara kicau burung pagi. Diiringi gemericih suara air sungai, terdengar samar-samar di telinga Gayatri. Perlahan matanya terbuka. Kesadarannya kembali pulih. Ia ingin menggerakkan tubuh. Tetapi masih berat rasanya. Ditambah rasa perih yang merorong dibagian perut. Ia ingat jika luka itu didapatkan karena cakaran siluman bayi bajang. Gayatri mencoba bangun. Sedikit berat untuk menyangga tubuhnya.



"Nini, kau sudah sadar?" tanya seseorang.



Gayatri melihat seorang wanita paruh baya. Mengenakan kain kemben polos dan sedikit lusuh. Wanita itu adalah salah satu emban yang mengabdi di Padepokan Grojogan Sewu.

__ADS_1



"Nyi.. Nyi... Ini di mana?" tanya balik Gayatri.



Wanita paruh baya tadi segera memegangi Gayatri dan mendudukkan. Menyandarkan di pinggiran tempat tidur yang terbuat dari kayu. Ditambah dengan anyaman bambu sebagai alas.



"Nini, tenang saja. Kau berada di Padepokan Grojogan Sewu sekarang."



Wanita paruh baya tadi dengan siaga mengambilkan air minum untuk Gayatri. Membantu gadis muda itu meneguk minumannya hingga habis. Disaat bersamaan Gayatri ingat tentang Ganendra. Seusai melawan siluman ular. Gayatri seketika merasa cemas akan keadaan kakak angkatnya. Ia hendak berdiri namun dicegah oleh wanita paruh baya tadi.



"Nini, kau hendak ke mana? lukamu belum pulih benar."



"Nyi, aku harus menemui Kakang Ganendra". terlihat dengan jelas rasa kekhawatiran terlukis di wajah Gayatri.



Sebelum Gayatri berdiri. Tiba-tiba pintu kamar yang terbuat dari kayu tersebut dibuka dari luar. Sesosok laki-laki tua masuk. Ia tak lain Mpu Wiyasa.



" Guru...." panggil Gayatri.



Mpu Wiyasa duduk di sisi Gayatri.


"Nduk ayu, tenangkan dirimu. Kakangmu Ganendra baik-baik saja. Meski belum sadarkan diri. Racun siluman ular membuatnya tak berdaya. Tetapi guru sudah mengeluarkan racun ular ditubuh Ganendra. Opal sedang menjaganya saat ini."


Mendengar jawaban gurunya. Kelegaan menghampiri gadis muda yang pemberani itu. Setidaknya kakaknya baik-baik saja.



Mpu Wiyasa kembali membuka suara.



"Kau juga harus menyembuhkan lukamu terlebih dahulu. Setelah pulih, guru akan mengajarimu mantra sihir pengikat. Supaya kelak jika Ganendra tak terkendali. Kau pergunakanlah mantra sihir pengikat untuk mengendalikannya."


"Guru, saya sangat berterimakasih. Kini saya tidak akan khawatir lagi mengenai Kakang Ganendra."


"Tetapi ingatlah, mantra sihir pengikat tidak akan bisa menahan lama. Kakang mu harus ngangsu kawruh mengenai ilmu sejati dari hati. Bukan dengan naluri bertahan atau kemarahannya." pesan Mpu Wiyasa.


Gayatri diam sesaat. Sejak dahulu kala. Sewaktu ia dan Ganendra dibesarkan bersama. Sudah mengetahui bahwa kakak angkatnya bukanlah sembarang manusia. Ada sesuatu dalam diri Ganendra. Ia pernah menguping pembicaraan kedua orang tuanya. Bahwa Ganendra dititipkan pada ayahnya oleh Eyang Sabdo Palon. Tetapi Demang Adiwilaga, ayah Gayatri tak pernah sekalipun membuka jati diri Ganendra yang sebenarnya.



Suara Mpu Wiyasa membuyarkan lamunan gadis muda itu.



"Mulai saat ini, akan dimulai perjalanan Ganendra menemukan jati dirinya. Ia membutuhkan seseorang yang tulus sepertimu dan sahabat baik seperti Opal. Untuk menemukan dirinya yang sejati."


__ADS_1


Gayatri menganggukkan kepala. Ia bertekad akan membantu Ganendra. Meski harus mengorbankan nyawa nantinya. Bagi Gayatri jauh sebelum gurunya berpesan demikian. Ia memang sudah bertekad bulat. Mendampingi Ganendra sampai kapanpun.


__ADS_2