Pendekar Pedang Naga Gendeng

Pendekar Pedang Naga Gendeng
Padepokan Grojogan Sewu


__ADS_3

Seusai Ganendra mengalahkan siluman Bajul Ijo yang mengacau Desa Boyolangu. Kehidupan di sana menjadi tentram. Banyak penduduk desa yang berterimakasih atas bantuan Ganendra. Gayatri tersenyum senang menyaksikan banyak penduduk yang mengelu - elukan nama kakak angkatnya itu. Sementara waktu keduanya menginap di rumah Jaka Opal, pria berbadan tambun yang telah mereka tolong.


"Kisanak, saya selaku kepala Desa Boyolangu benar-benar berterimakasih atas bantuanmu. Mengalahkan Siluman Bajul Ijo. Kehidupan kami menjadi tentram sekarang ini."


Ganendra yang sudah pulih tenaganya. Ditemani Gayatri duduk bersila dihadapan kepala desa. Keduanya dengan rendah hati menolak dianggap sebagai penyelamat penduduk desa.


"Kepala desa, saya hanyalah orang biasa yang kebetulan lewat tempat ini." sahut Ganendra merendah.


"Bapa, aku melihat sendiri. Ganendra ini sungguh hebat. Ia bisa menjadi pendekar pelindung desa kita. Juga... Juga... Nini yang cantik ini." Jaka Opal melirik ke arah Gayatri dengan senyum menggoda.



Gayatri membalas dengan tatapan melotot. Tangannya mengepal seolah ingin memukul Jaka Opal yang menggodanya. Opal hanya tertawa dan melahap dua potong singkong rebus sekaligus. Membuat mulutnya penuh sesak dengan makanan.



Kepala Desa selaku ayah Jaka Opal. Hanya menggelengkan kepala. Melihat tingkah putranya yang kurang santun.



"Kisanak, Nini.... Maafkan putraku yang kurang menjaga tatakrama."



Ganendra hanya tersenyum. Sedangkan Gayatri hanya menatap kesal pada Opal. Jaka Opal seolah tidak perduli dan masih lahap memakan singkong rebus yang disajikan.



"Bapa... Bagaimana jika Ganendra dan Gayatri kita minta tinggal di sini saja. Jika sewaktu-waktu siluman menyerang. Mereka bisa menjadi pelindung." Opal sampai memuncratkan makanan yang sedang ia kunyah.



Kepala desa yang merupakan ayah Opal. Manggut-manggut sejenak. Ada benarnya juga apa yang dilontarkan putranya.



"Kisanak... Nini... Bagaimana jika kalian tinggal di desa ini saja?"



Ganendra tersenyum dan menjawab dengan santun.


"Kepala desa, saya dan adhi Gayatri sejak awal sudah memiliki tujuan."



"Jika diperbolehkan, sebenarnya kemanakah tujuan kisanak berdua?" tanya Kepala desa.



Jaka Opal ikut mendengarkan. Meski mulutnya masih sibuk mengunyah makanan.



Giliran Gayatri yang menjawab, "tujuan kami sebenarnya, hendak pergi ke Padepokan Grojogan Sewu. Ingin menimba ilmu pada Mpu Wiyasa."



"Apa?! Jadi kalian tidak akan tinggal di sini?" tanya Jaka Opal.



Ganendra mengangguk yakin.



"Aku juga ingin ikut menimba ilmu. Ijinkan aku ikut mereka Bapa." rajuk Opal.



"Ngger, jika kau pergi. Bagaimana bapa dan biyungmu?"



"Bapa... Aku juga ingin menjadi kuat dan melindungi desa ini dari para siluman. Aku akan tetap pergi Bapa. Tidak perduli diijinkan atau tidak." Opal masih terus merajuk.



Sang Kepala Desa hanya bisa diam sejenak. Memikirkan permintaan putranya. Bagaimanapun juga Opal sudah cukup dewasa. Sudah saatnya memiliki pengetahuan untuk bekal hidupnya kelak. Mengarungi lika-liku kehidupan.


...****************...


Sang Rawi mulai menampakkan cahaya samar di ufuk timur. Di sebuah hutan bagian selatan Kadipaten Ngrowo, terdengar beberapa langkah kaki. Menyusuri jalanan setapak yang dipenuhi pepohonan. Celoteh riang terdengar dari pria berbadan tambun yang tak lain Jaka Opal. Sembari sesekali melantunkan kidung-kidung. Lantunan kidungnya sayup-sayup memasuki gendang telinga.


Mamut roso kamanungsan

__ADS_1


Murang toto, tamah, lan durjono


Wonowoso jambul gundhul


Sujanma tan biso piniloyo


Girigeni mawingo-wingo


Kuwondho awut mawut cècèr


Rekso bumi ajeg asri


Mindho among karso sagotro


Ranéh amlas asih tumrap martho


Watek naléndro kang enut abiloso


Mingkoro Hyang Widi jagatnoto


Janoloko datan badho ladhu karmo


Jaka Opal melantunkan mengenai kidung-kidung kehidupan. Mengiringi perjalanan Gayatri dan Ganendra. Ketiganya hendak mereguk ilmu ke Padepokan Grojogan Sewu yang terletak di perbukitan wilayah Kadipaten Ngrowo. Celoteh riang Opal menghibur Ganendra maupun Gayatri.



Opal sosok pria muda yang ceria. Badannya tambun dengan perut buncit yang naik turun. Ketika ia tertawa atau berjalan.



"Sepertinya kita sudah dekat. Padepokan itu berada di balik bukit sebelah sana. " ucap Jaka Opal sembari menunjuk sebuah bukit.



"Baiklah, sebaiknya kita segera bergegas." ajak Ganendra bersemangat.



Gayatri mengangguk. Namun Jaka Opal masih duduk sambil bersandar di bawah pohon. Kain yang tersampir di bahunya, ia gunakan untuk menyeka keringat.



"Aduh duh... Jangan buru-buru. Aku masih sangat lelah."


"Baiklah, kau boleh istirahat. Tapi aku dan kakang Ganendra akan melanjutkan perjalanan." sahut Gayatri sambil menggandeng tangan Ganendra.




"Ya sudah terserah kalian saja. Aku mau istirahat sejenak." ucap Jaka Opal.



Ganendra dan Gayatri hanya menggelengkan kepala dan terus melangkah pergi. Seolah tidak memperdulikan Opal. Opal yang ditinggal sendirian melihat sekeliling hutan yang sunyi senyap. Ia mulai merinding, takut ada siluman yang akan memangsa.



"Hiii setan, dedemit, siluman... Kupret... Ceprepet.. Kepepet pergi jauh-jauh syuuh..." lalu Opal beranjak sembari memegangi perutnya. Berlarian menyusul Ganendra dan Gayatri.


...****************...


Padepokan Grojogan Sewu.


Di sebuah tempat lapang. Beberapa murid perguruan terlihat sedang berlatih olah kanuragan. Suara desingan pedang saling beradu bercampur baur dengan teriakan-teriakan penuh semangat. Berlatih bela diri. Di Padepokan Grojogan Sewu terdapat beberapa bangunan. Berdiri 9-10 meter di atas tanah. Lantainya terbuat dari papan yang ditutupi dengan tikar rotan yang halus atau tikar rumput yang dianyam. Bagian atap menggunakan papan kayu keras yang dibelah dan dibentuk genting.


Cukup banyak murid-murid yang menimba ilmu di Padepokan Grojogan Sewu.


Tidak hanya kaum lelaki. Namun juga para wanita ikut belajar kanuragan. Ganendra berdecak kagum menyaksikan semua itu. Tak terkecuali Gayatri maupun Opal. Hingga tak lama berselang seorang pria muda datang mendekat. Tubuh bagian atas tidak ditutupi kain. Sementara bagian bawahnya ditutupi dengan dua kain berbunga-bunga. Untuk mengencangkan kain itu, digunakan kain tipis atau linen yang dikencangkan sekitar perut. Pemuda itu berjalan tanpa mengenakan alas kaki.



"Kisanak, rupanya kalian sudah datang."


Ucapan pria muda barusan. Membuat Ganendra dan yang lain merasa kebingungan. Mereka datang tanpa pemberitahuan. Tetapi kenapa seolah kedatangan mereka sudah diketahui.


"Kisanak, bagaimana kau mengetahui kami akan datang kemari?" tanya Ganendra heran.



Pria muda membalas dengan senyuman. Lalu meminta Gayatri dan Jaka Opal untuk pergi bersama seorang wanita ke suatu tempat. Meski Gayatri dan Opal kebingungan tetapi mereka menurut saja. Ganendra mengerutkan kening. Ia segera bertanya pada pria muda yang merupakan salah satu murid padepokan.



"Kang, lalu bagaimana dengan ku? Kenapa aku tidak ikut dengan adhi maupun temanku?"

__ADS_1



Lagi-lagi pria muda tadi tersenyum.



"Kisanak, mari ikut aku ke suatu tempat."



Ganendra yang masih kebingungan. Tidak banyak bertanya dan mengikuti saja ke mana akan diajak pergi. Keduanya berjalan menjauh dari padepokan. Berjalan menyusuri jalan setapak. Ditemani suara binatang disepanjang jalan. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara derasnya air yang mengalir. Tak jauh dari padepokan terdapat air terjun yang cukup deras alirannya. Hawa segar mulai menyusup ke dalam pernafasan Ganendra. Ia merasa heran kenapa dibawa ke tempat ini.



"Kang, sebenarnya aku hendak dibawa kemana?"



Pria muda menoleh.


"Mpu Wiyasa yang memerintahkan ku membawa kisanak kemari."



Ganendra semakin heran.



"Apakah Mpu Wiyasa sudah mengetahui kedatangan ku?"



Pria muda mengangguk. Ganendra terdiam, sepertinya ia paham sekarang. Kenapa dahulu Eyang Sabdo Palon memerintahkannya untuk mereguk ilmu pada Mpu Wiyasa. Ternyata Sang Mpu adalah orang yang waskita (\*mengetahui sesuatu terlebih dahulu).



"Lalu dimana Sang Mpu berada? Supaya aku bisa belajar ilmu padanya."



"Mpu Wiyasa tidak ingin menerima mu sebagai murid. Jika kau tidak bisa berjalan di atas air menggunakan sebilah papan kayu ini." pria muda menjawab sembari memberikan sebuah papan kayu.



Ganendra hendak mengatakan sesuatu. Namun pria muda sudah berjalan pergi meninggalkannya. Meski diliputi kebingungan. Namun Ganendra tak banyak bertanya. Ia mencoba meletakkan papan kayu tersebut di atas air. Kemudian menaikinya supaya bisa berjalan di atasnya. Namun usahanya belum menemui hasil. Papan itu terbalik karena tak bisa menahan berat beban tubuhnya. Ia pun jatuh ke dalam air dan basah kuyup.



Pemuda berparas tampan itu tak kurang akal, ia menggunakan *Ajian Saipi Angin*. Namun Ajian itu hanya bisa membuat papannya meluncur. Tetapi ia tetap tidak bisa berjalan di atas air.



Berkali-kali ia coba, namun tetap gagal. Meski tubuhnya basah kuyup. Ganendra masih terus mencoba. Sayang seribu sayang. Usahanya lagi-lagi belum menemui hasil. Hingga dirinya habis kesabaran dan memukul - mukul air.



"Aku datang kemari tidak untuk bermain papan kayu seperti ini." gerutu Ganendra.



Ia terlihat gusar. Anak angkat Demang Adiwilaga tersebut mulai hilang kesabaran.



Saat itulah tiba-tiba seorang pria tua dengan jenggot putihnya, serta mengenakan kain berwana coklat yang menutupi tubuh. Berjalan dengan ringan di atas air. Ganendra yang menyaksikan menjadi kagum. Ia merasa pria tua ini bukanlah orang sembarangan. Memang benar adanya, pria tua ini tak lain adalah Mpu Wiyasa.



Mpu Wiyasa mengambil papan kayu dan meletakkannya di atas air. Lalu menginjak dan berjalan di atasnya dengan ringan. Bertolak belakang dengan Ganendra barusan. Mpu Wiyasa mengelus jenggot putihnya sambil menatap Ganendra. Ia masih berdiri tegap di atas papan kayu.



"Ilmu sejati iku lair tumekaning ati. Ngilangi hawa nafsu kang ora migunani. Nglatih kesabaran, sebab sabar iku kunci kang utama (\*ilmu sejati itu lahir dari hati. Menghilangkan hawa nafsu yang tidak berguna. Melatih kesabaran, sebab sabar itu adalah kunci utama)." suara Mpu Wiyasa terdengar penuh petuah.



Ganendra yang mendengarkan mulai menyadari. Bahwa untuk bisa melatih ilmu yang sejati harus disertai kesabaran. Ia pun mengatupkan kedua tangan di atas kepala. Memberi hormat pada Mpu Wiyasa.



"Mpu, saya ingin belajar tentang ilmu yang sejati. Supaya saya yang tiada ilmu ini tidak lagi menjadi orang bodoh."



Mpu Wiyasa tersenyum dan menepuk bahu Ganendra.

__ADS_1



"Ya ... Ya... ngger.... Aku sudah lama menunggumu..."


__ADS_2