Pendekar Pedang Naga Gendeng

Pendekar Pedang Naga Gendeng
Anak Angkat Sang Demang


__ADS_3

Kala Sang Rawi kembali ke peraduannya. Terlihat seseorang berlarian dengan tergopoh-gopoh. Dari pancaran wajahnya tersirat ketakutan yang mendalam. Seseorang itu tak lain lelaki desa yang diselamatkan Ganendra.


“To…tolong! Tolong!!! Ki!!! Ki Demang!!!” teriak Si lelaki sambil terus berlari menuju rumah Sang Demang Adiwilaga.



Kebetulan Sang Demang bersama tetua desa sedang mengadakan pirembugan (\*pertemuan) di Pendapa rumahnya.



“Ki! Ki Demang….” ucap Si lelaki menuju pendapa.


Langkah kakinya yang tergesa-gesa membuatnya tersungkur di pelataran. Sang demang yang mendengar teriakan Si lelaki, segera bergegas menghampiri. Di susul tetua desa lainnya.



“Ki…. Tolong Ki….” rintih Si lelaki yang dibantu Demang Adiwilaga berdiri.



“Kisanak, sebenarnya ada apa? apa sesuatu telah terjadi?”



Si lelaki menelan ludahnya dan mengatur nafas. Kemudian ia kembali berucap.



“Di… di… hutan… hutan sana Ki. Si…. Si…Siluman celeng.” si lelaki berucap dengan terbata-bata.



“Kisanak, tenanglah. Katakan dengan perlahan.”


Demang Adiwilaga berusaha menenangkan Si lelaki.


Masyarakat desa yang mendengar teriakan lelaki tadi segera berduyun-duyun menuju pendapa. Ingin menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. Nyi Kemuning istri Demang Adiwilaga juga turut serta keluar rumahnya. Bersama putri kecilnya yang bernama Gayatri.


Nyi Kemuning membawakan secangkir minuman dan memberikannya pada lelaki itu. Si lelaki segera meraih dan menenggak minumannya hingga habis. Rasanya tenggorokannya benar-benar kering. Setelah mengatur nafas, ia kembali melanjutkan cerita.



“Ki… di… di hutan sana Si… siluman celeng telah muncul dan hendak memangsaku.”



Penduduk desa yang mendengar penuturan Si lelaki mulai saling berbisik dan timbul kegaduhan. Mereka ketakutan jikalau ada siluman yang sampai menyerang Desa Kademangan.



“Sedulur-sedulur (\*saudara-saudara) semua jangan panik dahulu. Sebaiknya kita dengarkan penuturan kisanak ini.” Demang Adiwilaga menenangkan penduduknya.



Setelah mendengar ucapan Sang Demang. Penduduk desa terdiam sejenak. Lantas Si lelaki melanjutkan ceritanya.



“Disaat siluman celeng hendak memangsaku. Putra Ki Demang muncul dan bertarung dengan Sang Siluman. Ta… tapi…” Si lelaki ragu melanjutkan ceritanya.



Namun Ki Demang yang mendengar penuturan Si lelaki. Tanpa menunggu penjelasan berikutnya segera memerintahkan penduduk desa menyiapkan obor dan senjata tajam. Mereka akan menyerbu ke dalam hutan. Ki Demang takut terjadi apa-apa dengan Ganendra. Apalagi di malam hari, hutan akan menjadi tempat bersemanyam para siluman. Penduduk desa segera mematuhi perintah. Sang Demang bergegas menaiki kudanya.



“Sedulur-sedulur semua, para lelaki yang masih muda sebagian ikut aku ke hutan. Bawa obor dan senjata tajam lainnya. Sebagian lagi berjaga-jagalah di desa. Para wanita, anak-anak dan para sesepuh sebaiknya segera masuk ke dalam rumah. Kunci pintu rapat-rapat.” perintah Demang Adiwilaga.


__ADS_1


“Ki, ba… bagaimana nasib anak kita?” tanya Nyi Kemuning dengan mata berkaca-kaca. Ia takut terjadi apa-apa dengan Ganendra.



Meski Ganendra hanya anak angkat. Bagaimanapun mereka tetap menyayangi setulus hati layaknya anak kandung sendiri.



“Bapa (\*bapak, dibaca Bopo) aku ingin ikut. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Ganendra.” timpal Gayatri.



“Ndhuk (\*sebutan anak perempuan) tetaplah di rumah dan jaga biyungmu (\*ibumu). Bapa berjanji akan menyelamatkan Ganendra.”



Tepat seusai berbicara, Demang Adiwilaga segera menarik tali kekang kudanya.



“Syuuu!” ucapnya.



Suara derap kaki kuda diiringi langkah kaki pemuda desa terlihat meninggalkan tempat. Diiringi tatapan kekhawatiran dari Gayatri dan Nyi Kemuning. Iring-iringan Demang Adiwilaga segera lenyap tertelan malam.



“Bapa!!!” panggil Gayatri yang ingin ikut ayahnya. Bagaimanapun ia juga mencemaskan keselamatan saudara lelakinya. Saudara yang sudah dianggapnya sebagai sedulur sedarah.



Tidak lama kemudian, malam pekat mulai menyelimuti. Ki Demang Adiwilaga terpaksa turun dari kudanya karena sudah sampai di hutan yang dikelilingi pepohonan lebat. Obor yang di bawa penduduk desa membuat hutan yang tadinya gelap menjadi terang. Sembari menuntun kudanya, Ki Demang meneriakkan nama Ganendra.



“Ganendra! Ganendra!!!” panggilnya berkali-kali.




Demang Adiwilaga yang pernah ngangsu kawruh (\*berguru) olah kanuragan segera waspada, karena ia mulai merasakan sesuatu sedang mengawasi gerak-gerik mereka. Sampai salah satu penduduk desa berteriak.



“Ki! Ki Demang! Sebelah sini!” teriaknya dengan keras.


Ki Demang segera berlari ke arah sumber suara. Di iiringi penduduk desa lainnya.



“Ganendra!” ucap Demang Adiwilaga yang mengetahui anaknya tergeletak tak sadarkan diri. Ia segera memeluk tubuh putranya. Menempelkan jari telunjukknya dekat hidung Ganendra. Kemudian menempelkan telinga ke dada Ganendra.



“Bagaimana Ki? Apakah….?” tanya salah satu penduduk desa tak berani melanjutkan ucapannya karena takut terjadi sesuatu yang buruk.



“Ngger (\*Nak) bangun, Bapa datang menyelamatkanmu.” Demang Adiwilaga menepuk-nepuk kecil pipi Ganendra.


Setelah beberapa kali ditepuk, mata bocah kecil tersebut mulai terbuka. Kesadarannya sedikit demi sedikit pulih dengan perlahan.



“Ba… Bapa….” Panggil Ganendra perlahan.


__ADS_1


Mengetahui putranya baik-baik saja. Terlukis senyum kebahagiaan di wajah Demang Adiwilaga. Tetapi semua itu tak bertahan lama. Hingga terdengar teriakan salah satu penduduk desa yang berada di bagian belakang rombongan.



“Arghhttt!!!” teriaknya keras.



Sesuatu seolah menyambar tubuhnya. Tubuh salah satu penduduk desa menghilang dan tidak lama berselang tubuh itu jatuh dari atas begitu saja. Suaranya keras hingga menyebabkan tanah di sekitar sana bergetar hebat. Penduduk desa lain yang menyaksikan hal itu berteriak histeris karena tubuh penduduk desa tadi sudah tak utuh lagi. Tubuhnya seperti di cabik-cabik binatang buas. Demang Adiwilaga yang mengetahui bahaya datang, memerintahkan semuanya untuk waspada.



“Dulur semuanya, tetap waspada!”



Lantas berdiri dan menyerahkan Ganendra untuk di jaga penduduk desa lain. Demang Adiwilaga segera mencabut kerisnya yang terselip di bagian belakang pinggang. Tanpa rasa takut ia mengacungkan kerisnya tinggi-tinggi.



“Siapapun yang mengacau di sini. Jangan menjadi pengecut! Keluarlah!”



Tepat saat Demang Adiwilaga mengakhiri kalimatnya. Dari balik pepohonan muncullah puluhan kelelawar hitam menyerang ke arah penduduk di sana. Ke dua belah pihak saling bertarung. Kelelawar-kelelawar itu tampak sangat gesit terbang ke sana kemari. Menyambar tubuh penduduk desa hingga terluka. Bahkan ada yang menjadi santapannya. Kelelawar bukan sembarang kelelawar. Mereka merupakan siluman bangsa kelelawar.



Demang Adiwilaga juga ikut bertarung. Kerisnya menebas beberapa ekor kelelawar. Sang demang melihat penduduk desanya mulai berjatuhan. Bagaimanapun ia bertanggung jawab dengan keselamatan penduduknya.



“Hei! di mana rajamu! Kemarilah mari bertarung satu lawan satu!” tantang Demang Adiwilaga. Jika ia bisa menghabisi raja kelelawar, maka kawanan kelelawar mungkin akan pergi dari tempat itu.



Seusai mengucapkan kalimatnya. Seekor kelelawar besar muncul. Lantas menggunakan Ajian Malih Rupa dan berubah menjadi manusia setengah kelelawar. Tubuhnya hitam dengan telinga runcing. Tertawa menyeriangi dan menatap remeh pada Demang Adiwilaga.



“Manusia tak tahu diri. Kemarilah dan jadilah santapanku Ha! Ha! Ha!”



Akhirnya pertarungan tak dapat dihindarkan. Keduanya bertarung dan mengeluarkan jurus-jurusnya. Ganendra yang masih lemah melihat penuh kecemasan pada ayahnya.



Demang Adiwilaga bukan demang sembarang demang. Ia juga memiliki ilmu kanuragan yang cukup mumpuni. Kerisnya mengeluarkan cahaya merah yang dapat ia tebaskan ke arah raja kelelawar. Namun Sang Raja kelelawar sangat gesit terbang ke sana kemari. Menghindari serangan yang ditujukan padanya. Serangan Demang Adiwilaga banyak yang meleset. Kini, raja kelelawar ganti yang menyerang. Ia terbang dengan cepat dan menyambar tubuh Demang Adiwilaga. Cakarnya yang runcing menggores dada Demang Adiwilaga. Ki demang terhuyung sembari memegangi dadanya yang terlihat mengucurkan darah. Penduduk desa mulai ketakutan. Jika sampai ki demang kalah. Maka nasib mereka berada di ujung tanduk. Menjadi santapan para kelelawar itu tentunya.



Raja kelelawar tertawa terbahak-bahak. Kemenangan sudah pasti berada di tangannya. Lalu dengan tatapan sinis. Ia mengatupkan kedua tangannya di dada. Merapal ajian pamungkasnya. Hendak menghabisi Demang Adiwilaga. Ganendra yang tidak ingin menyaksikan ayahnya terluka. Kedua tangannya mulai mengepal erat. Tatapan matanya berubah tajam. Dipenuhi amarah yang menggelora. Tubuhnya diselimuti cahaya hitam. Sama seperti sebelumnya, lengan kirinya dipenuhi sisik-sisik ular. Jemari tangannya berubah menjadi cakar Naga.



“Hyaaaa!!!” teriak Ganendra garang.


Matanya berubah merah dan rambutnya yang hitam telah memutih. Kekuatannya terasa sangat besar. Penduduk desa yang menyaksikan keanehan tersebut segera menjauh dari Ganendra, dengan tatapan ketakutan. Demang Adiwilaga terkesiap melihat perubahan pada putranya. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ganendra.


Raja kelelawar yang merasakan kekuatan besar dari Ganendra ikut terkesiap.


“Hemmm, bau darah dan kekuatan ini. Tak salah lagi, anak itu mungkinkah….?”


Tanpa banyak berkata, Ganendra segera merengsak maju dan menggunakan Ajian Saipi Angin. Melayang ke sana kemari dan membantai para kelelawar tanpa ampun. Raja kelelawar yang menyaksikan anak buahnya dibantai tentu tak terima. Lantas dengan menggunakan Ajian Malih Rupa. Mengubah dirinya menjadi kelelawar yang sangat besar.


Kini, Ganendra dan Raja kelelawar bertarung habis-habisan. Ganendra tampak garang dengan mata merahnya. Mencakar sayap Raja Kelelawar dengan beringas. Demang Adiwilaga dan penduduk desa hanya bisa menyaksikan dengan tatapan maupun pikiran yang beragam.


Hingga di puncak pertarungan. Ganendra berhasil mencengkeram kepala Raja Kelelawar dengan kekuatan yang bersumber dari tangan kirinya. Kemudian mengerahkan kekuatannya dan membuat tubuh Raja Kelelawar hancur seperti debu tiada tersisa. Tepat disaat bersamaan, Ganendra tergeletak tak sadarkan diri. Tubuhnya kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


Demang Adiwilaga segera mendekat ke arah putranya. Memanggil-manggil nama Ganendra berulang kali. Ia meminta penduduk desa membantu membawa Ganendra pulang. Namun, penduduk desa terdiam dengan tatapan takut pada Ganendra.


Sejak peristiwa malam itu. Tersiar kabar di penjuru Desa Kademangan, bahwa putra angkat Sang Demang adalah anak siluman. Banyak orang tua yang melarang anaknya bermain dengan Ganendra. Ia mulai dijauhi dan dipandang aneh oleh penduduk desa. Membuat hati bocah tanpa dosa itu merasa sangat sedih. Wajahnya tertunduk lesu. Semua pintu rumah tertutup rapat untuknya.


__ADS_2