
Di sebuah sanggar persemedian, kerajaan Raja Ular Naga. Seekor ular naga raksasa sedang memejamkan mata. Tanduknya terlihat terpotong sebelah. Ia sedang memejamkan mata. Bersemedi untuk memulihkan tenaga. Di atas kepalanya mengenakan mahkota berhiaskan emas. Tampak berkilau, menunjukkan kedudukannya sebagai seorang raja. Ular Naga raksasa itu tak lain adalah Raja Ular Naga Gendeng. Penguasa puncak Gunung Gendeng. Raja dari alam siluman. 20 tahun yang lalu ia bertarung dengan Ragnala. Seorang pendekar pembasmi siluman. Di dalam pertarungan itu tanduknya terpotong oleh Sang Pendekar. Membuat Raja Naga Gendeng kehilangan setengah energinya. Maka dari itu, ia bersemedi selama bertahun-tahun untuk memulihkan kekuatannya.
Sanggar persemedian terlihat sunyi. Sampai terdengar suara langkah kaki memasuki persemedian. Langkahnya berat, berjalan perlahan mendekati Raja Naga Gendeng. Tubuhnya tinggi besar dengan lengan kekar. Seraut wajah menyeramkan terpampang jelas. Wajahnya ditumbuhi brewok dan sisik ular. Meski sekarang berwujud seperti manusia. Namun tetap saja ia adalah bangsa ular. Orang itu bernama Wagindra. Patih di Kerajaan Ular Naga.
Patih Wagindra duduk bersila di hadapan Raja Ular Naga Gendeng. Mengatupkan kedua tangannya di atas kepala. Menghaturkan sembah untuk junjungannya itu.
"Sembah pangabekti hamba untuk jengandika Raja Ular Naga Gendeng."
Sesaat kemudian, mata Raja Naga Gendeng terbuka. Lalu sinar hitam menyelimuti tubuhnya. Dalam kedipan mata, menggunakan *Ajian Malih Rupa*. Raja Naga Gendeng berubah wujud menjadi manusia. Para siluman memiliki kelebihan kekuatan berupa sihir yang dinamakan *Ajian Malih Rupa*. Membuat penggunanya dapat berubah wujud seperti manusia.
Raja Naga Gendeng memiliki rambut putih yang tergerai lurus panjang. Berjenggot putih dan nampak kerutan diwajah karena usianya yang telah menua. Tetapi wajah tuanya tak dapat menyembunyikan seraut wajah seram nan bengis. Mahkota yang ia kenakan tampak kilauan cahaya emas. Mengenakan kain bermotif yang menutupi bagian bawahnya. Selendang bermotif terselempang di bahu. Mengenakan kelat bahu berbentuk Naga yang melingkar di kedua lengannya. Terbuat dari emas murni. Mengenakan mahkota ala raja yang bersinar terang. Duduk bersila di hadapan Patih Wagindra. Terlihat berwibawa layaknya seorang raja.
"Ku terima sembah baktimu Patih Wagindra." ucap Raja Naga Gendeng dengan suara berat.
Patih Wagindra menunduk dengan dalam. Ia duduk bersila dengan tegap.
"Ampun beribu ampun Baginda Raja. Kedatangan hamba telah mengganggu persemedian paduka."
"Ya.. Ya.. Patih. Ada perihal penting apa? Sehingga membuatmu datang ke sanggar persemedian ini?"
"Kedatangan hamba untuk melaporkan mengenai kondisi Kerajaan Ular Naga."
"Katakanlah ada apa?"
Patih Wagindra hendak berucap. Namun tiba-tiba sebuah sinar hitam melayang memasuki sanggar. Tak lama kemudian sinar hitam berubah menjadi sesosok pria muda tampan. Ia tak lain, Uraga. Uraga segera duduk bersila sembari mengatupka kedua tangannya.
"Hatur sembah pangabekti ananda untuk Eyang Raja Ular Naga."
"Ya... Ya... Ku Terima sembah pangabekti mu Ngger Cucuku..."
"Maafkan kelancangan hamba menghadap Kakek Raja."
Raja Naga Gendeng yang bernama Bahuwirya mengganggukkan kepala. Tetapi di sisi lain Patih Wagindra menunjukkan seraut wajah tidak suka atas kedatangan Uraga.
"Ananda, katakan kenapa tiba-tiba kau datang kemari?"
"Ampun beribu ampun Eyang Raja, kedatangan ananda kemari. Untuk memberikan kabar baik. Bahwasanya ananda telah menerima anugerah sihir dari Sang Bhatara Kala. Ananda mendapatkan Ajian bernama Candabhirawa." ucap Uraga dengan nada penuh kesombongan. Bak tingginya Gunung Semeru kesombongannya.
Patih Wagindra hanya memalingkan wajah dan tak senang dengan kesombongan Uraga. Meski ia tahu betul, Uraga adalah cucu junjungannya. Namun, selama Raja Bahuwirya bersemedi. Ia berlagak seperti penguasa di dunia siluman ular naga. Itu yang membuat Patih Wagindra tidak menyukai Uraga.
__ADS_1
Raja Bahuwirya tertawa bangga.
"Bagus... Bagus... Ngger cucuku. Ananda telah membuktikan, bahwa keturunan Raja Ular Naga Gendeng luar biasa. Bahkan Bathara Kala berkenan turun ke Marcapada untuk memberikan anugerahnya padamu." Raja Bahuwirya tampak senang. Ia berbicara sembari mengelus jenggotnya.
Uraga semakin merasa terbang ke langit. Ia merasa saat ini kadigdayannya tak tertandingi. Ia menatap sinis pada Patih Wagindra yang selama ini menunjukkan ketidaksukaan pada dirinya. Mereka saling melempar tatapan saling tidak menyukai.
Tetapi kemudian, mimik wajah Uraga terlihat muram. Raja Bahuwirya bertanya pada cucunya itu.
"Ngger cucuku.... Apa yang sedang ananda pikirkan?"
"Ampun Eyang Raja, ananda merasa masih belum memiliki kekuatan penuh untuk menyerang dunia manusia. Ananda membutuhkan senjata sakti untuk menggenapi kekuatan Ajian Candabhirawa."
Mendengar penuturan Uraga. Raja Bahuwirya terdiam sejenak. Namun itu tak bertahan lama. Ketika sebuah ingatan terlintas dibenaknya.
"Cucunda... Jika kau menginginkan senjata sakti. Pergilah ke Kadipaten Ngrowo yang terletak di selatan wilayah Paguhan. Adipati Dewananda yang jumeneng nata (\*penguasa) memiliki sebuah senjata yang dinamakan Pedang Baru Klinting. Pedang yang tercipta dari lidah Naga Baru Klinting, putra Ki Hajar Salokantara. Pedang itu dapat mengendalikan air."
Mendung yang menggantung di wajah Uraga kini sirna sudah. Benar sekali apa yang dikatakan kakeknya.
"Eyang Raja sungguh berwawasan. Ananda akan segera ke Kadipaten Ngrowo. Sekaligus menyerang dunia manusia. Menebar ketakutan di sana Ha! Ha! Ha!"
Tidak lama kemudian, Uraga mengatupkan kedua tangannya.
"Beri ananda restu Eyang Raja."
Seketika tubuh Uraga berubah menjadi sinar hitam dan terbang ke luar dari sanggar persemedian. Lantas lenyap tertelan malam. Tinggallah Patih Wagindra yang menghaturkan sembah pada Raja Bahuwirya.
"Ampun beribu ampun Paduka Raja. Kenapa paduka mengijinkan Raden Uraga pergi ke alam manusia? Apakah itu bukan tindakan gegabah? Raden Uraga sudah bertindak seolah-olah ia lah penguasa di sini."
"Lancang! Kau patih!" balas Raja Bahuwirya yang tiba-tiba murka.
Dinding-dinding sanggar persemedian bergetar hebat.
"Ampun beribu ampun paduka. Hamba tidak bermaksud menyinggung paduka raja." Patih Wagindra terlihat ketakutan.
"Jangan mempertanyakan keputusanku. Lebih baik kau awasi saja Uraga." perintah Raja Bahuwirya.
"Ampuni kelancangan hamba paduka. Hamba akan melaksanakan perintah paduka."
Tak lama setelah itu. Patih Wagindra pun berubah menjadi sinar dan menghilang.
...****************...
Sang Rawi telah lama kembali ke peraduannya. Siang tergantikan dengan malam. Semua obor di sudut Kadipaten Ngrowo telah dinyalakan. Pertanda malam telah tiba. Para prajurit yang membawa pedang maupun tombak silih berganti berjaga-jaga. Tembok dari batu bata yang cukup tinggi mengelilingi kediaman Sang Adipati Dewananda. Di malam yang mulai merayap. Tiba-tiba sebuah sinar hitam yang cukup besar terbang ke dalam kadipaten. Sinar itu kemudian menjelma menjadi Uraga dan pasukan silumannya. Salah satu prajurit kadipaten melihat mereka.
__ADS_1
"Hei! Siapa kalian? Berani- beraninya memasuki kediaman Adipati Dewanda!"
Uraga yang bersama pasukan ularnya tersenyum menyeriangi.
"Bunuh semua yang menghalangi!" perintah Uraga dengan lantang.
"Sesuai perintah Raden!"
Sesaat kemudian siluman yang bersama Uraga menggunakan *Ajian Malih Rupa*. Mereka semua kembali berwujud seperti ular. Mendesis dengan lidah menjulur. Prajurit penjaga kediaman Sang Adipati segera menghadang. Menghunuskan pedang atau menggunakan tombak yang mereka bawa.
"Serang!!" teriak kedua belah pihak dengan lantang.
Uraga berdiri sedikit menjauh dari medan pertempuran. Baginya melawan manusia lemah hanya menyia-nyiakan reputasinya sebagai siluman dengan derajat tinggi. Suara pedang saling berdencing. Melawan puluhan ular yang menggeliat - geliat. Salah satu prajurit membunyikan kentongan (\*alat traditional dari bambu atau kayu) sembari berteriak dengan keras.
"Siluman!!! Siluman!!! Siluman menyerang!"
Tak ayal bunyi kentongan yang bertalu-talu diiringi suara keras terdengar menggema. Hal itu tak luput dari perhatian Adipati Dewananda yang sedang beristirahat dengan istrinya.
"Kanda adipati, apa siluman datang ke kediaman kita?" tanya istri Adipati Dewananda.
Adipati Dewananda yang tadinya hendak beristirahat bergegas mengenakan pakaian kebesarannya.
"Dinda dewi, tetaplah di sini. Aku akan memerintahkan prajurit untuk berjaga-jaga. Aku akan memeriksa keadaan."
"Kanda adipati, berhati-hatilah."
Adipati Dewananda yang sudah tak lagi berusia muda segera mengambil Pedang Baru Klinting di kotak penyimpanan. Di luar kamar, terdengar suara seseorang memanggil.
"Adipati, hamba datang menghadap."
Adipati Dewananda segera keluar. Di depan pintu kamar, Tumenggung Adiyaksa sedang menghaturkan sembah.
"Ampun beribu ampun Kanjeng Adipati, para siluman sedang membuat keonaran dibagian selatan kediaman kanjeng."
"Kurang ajar! Berani sekali para siluman itu mendatangi kediamanku. Perintahkan beberapa prajurit terkuat untuk berjaga di sini. Kau ikut aku membasmi siluman tak tahu diri itu."
"Sendika dhawuh, kanjeng."
Lalu keduanya bergegas menuju selatan kediaman Sang Adipati. Keadaan di selatan sangat kacau. Banyak prajurit terbunuh karena *bisa* ular siluman. Adipati Dewananda menggunakan *Ajian Saipi Angin* untuk melompat ke arah siluman ular. Menggunakan olah kanuragan untuk memukul atau menendang siluman-siluman itu. Uraga yang menyaksikan kedatangan Adipati Dewananda terlihat senang. Inilah saatnya merebut Pedang Baru Klinting.
...****************...
__ADS_1
Apakah Uraga akan berhasil mendapatkan Pedang Baru Klinting? tunggu kelanjutannya.