Pendekar Pedang Naga Gendeng

Pendekar Pedang Naga Gendeng
Darah Raja Ular Naga Gendeng


__ADS_3

Sinar mentari tertelan Sang Kegelapan. Kediaman Adipati Dewananda benar-benar porak-poranda diserang bangsa siluman ular. Mpu Wiyasa yang sedang bersemedi mendapatkan penglihatan. Ia melihat bangsa siluman sedang menyerang Kadipaten Ngrowo. Menyaksikan dengan mata batinnya. Sang Adipati bertarung dengan sengit melawan Uraga. Mpu Wiyasa memang Waskita. Lalu bergegas mengumpulkan murid-murid padepokan.



"Murid-muridku, segeralah ke Kadipaten Ngrowo. Adipati Dewanda sedang dalam bahaya."



"Guru, ada apa sebenarnya?" tanya salah satu murid.



"Para siluman sedang menyerang Kadipaten Ngrowo."


Murid yang lain terkejut mendengar kabar itu. Kemungkinan penyerangan dilakukan besar-besaran.


"Segeralah kalian ke sana. Membantu Adipati Dewananda." perintah Mpu Wiyasa.



"Sendika dhawuh guru."



Lantas beberapa murid bersiap. Mereka membawa pedang. Ganendra yang baru datang seusai berlatih di air terjun. Datang di sambut Jaka Opal dan Gayatri. Mereka melihat murid yang lain sedang sibuk membawa pedang. Seolah hendak berangkat perang.



"Adhi, sebenarnya ada apa ini?" tanya Ganendra pada Gayatri.



"Entahlah kakang, aku dan Opal baru saja kembali berlatih. Jadi tak mengetahui ada apa sebenarnya.



"Weleh... Weleh.. Kok pada hilir mudik membawa senjata." Opal ikut menimpali.



Ganendra didera rasa penasaran. Ia mencegat salah satu murid padepokan.



"Kang, kenapa murid-murid yang lain membawa pedang?" tanya Ganendra.



"Guru memerintahkan murid-murid ke Kadipaten Ngrowo. Para siluman sedang mengacau di sana."



Ganendra, Gayatri dan Opal saling berpandangan. Mereka tanggap dan segera mencari keberadaan Mpu Wiyasa. Tak jauh dari sana Mpu Wiyasa berdiri mengamati muridnya yang sedang bersiap-siap. Mpu Wiyasa akan menggunakan *Ajian Alap-Alap*. Ajian ini berupa sihir yang dapat mentransfer beberapa orang ke suatu tempat sekaligus. Tetapi *Ajian Alap-Alap* memakan banyak energi penggunanya. Jadi tak bisa digunakan setiap saat.



Dikala semua sudah siap. Tiba-tiba Ganendra datang menghadap. Ditemani Gayatri maupun Opal.



"Guru! Tunggu!" Ganendra berteriak memanggil nama gurunya.



Seketika perhatian semua orang tertuju pada pemuda tampan itu.



"Guru, maaf telah lancang seperti ini. Ijinkan saya ikut bersama murid lainnya. Saya ingin membasmi siluman." pinta Ganendra.



"Kau belum siap untuk itu."



"Tapi guru, saya tidak bisa tinggal diam. Jika ada siluman yang menyerang manusia."



"Jika kau memaksa. Hanya akan mencelakai yang lain."



"Guru mengijinkan atau tidak. Saya akan tetap pergi melawan siluman." Ganendra begitu keras kepala.



"Guru, biarkan aku yang menemani Kakang Ganendra. Akan ku pastikan semua akan baik-baik saja." Gayatri ikut menyela.



"Leres niku guru (\*benar itu guru) aku juga akan menjaga Nini Gayatri." timpal Opal dengan memasang wajah senyum-senyum.



Mpu Wiyasa diam sejenak. Namun hal itu tak bertahan lama.

__ADS_1



"Ngger, jika keinginanmu untuk membasmi siluman sangat kuat. Aku tidak akan menahannya. Tetapi ingatlah, ilmu sejati lahir dari hati. Gunakan hatimu bukan nalurimu."


Meski Ganendra tak mengerti apa maksud pesan gurunya. Ia hanya menganggukkan kepala. Lalu bersiap membawa senjata pedang. Setelah semua murid berkumpul. Mpu Wiyasa merapalkan Ajian Alap-Alap. Semua tubuh muridnya berubah menjadi cahaya putih dan terbang menuju Kadipaten Ngrowo.


Peperangan terus terjadi di kediaman Adipati Dewananda. Hampir semua prajurit kadipaten dikalahkan. Semua prajurit yang tersisa, mulai terdesak. Berusaha melindungi Adipati Dewananda dan Tumenggung Adiyaksa.



"Adipati, kita sepertinya terdesak. Bagaimana ini?" tanya Tumenggung Adiyaksa. Mereka semua di kelilingi ular siluman yang mendesis. Siap menyemburkan *bisa*.


Uraga tersenyum menyeringai.


"Adipati Dewananda, sebaiknya kau menyerah. Serahkan Pedang Baru Klinting."



"Jadi kedatangan mu kemari untuk merampas pedang ini hah?!"



"Ha! Ha! Ha! Benar sekali. Pedang sakti seperti itu lebih baik menjadi milikku. Bukan manusia lemah sepertimu."



"Sombong sekali kau siluman busuk! Mati sekalipun aku tidak takut. Lebih baik mati daripada kalah ditangan siluman seperti mu." Adipati Dewananda tak kenal takut. Meski tak lagi muda semangatnya masih membara.



"Serang!" perintah Adipati Dewananda.



Lantas peperangan kembali terjadi. Uraga terlihat marah. Gerakannya cepat menyerang Adipati Dewananda. Pertarungan satu lawan satu tak dapat dihindarkan. Uraga melayangkan pukulan ke arah Sang Adipati. Adipati Dewananda menangkis dengan menyilangkan kedua tangan. Lalu membalas dengan menendang. Uraga mundur selangkah sembari menyeriangi. Ia segera melesat menyerang kembali. Serangan bertubi-tubi menggunakan pukulan atau tendangan ia lancarkan pada Adipati Dewananda. Sang Adipati berusaha bertahan. Keduanya melompat dari satu tempat ke tempat lain sembari memberikan pukulan atau tendangan.



Adipati Dewananda berusaha mengimbangi kekuatan Uraga. Namun ia kalah tenaga. Uraga dengan gesit melancarkan pukulan tepat mengenai dada Adipati. Adipati Dewananda tersungkur ke tanah. Ia berusaha bangkit. Mencoba mencabut Pedang Baru Klinting. Namun sebelum pedang itu bisa dikeluarkan dari warangka (\*sarungnya), Uraga bergerak dengan cepat mengayunkan kakinya tepat ke arah tangan Adipati Dewananda. Alhasil Sang Adipati tidak bisa mengeluarkan pedangnya. Uraga lantas dengan cekatan menginjak dada Adipati Dewananda. Membuat penguasa Kadipaten Ngrowo kesakitan.



"Ha! Ha! Wahai kakek tua, sebaiknya kau menyerahkan pedang mu ini. Lalu aku berjanji dengan cepat akan mengantarkanmu ke Swargaloka." tawa Uraga semakin memecah kengerian malam itu.



Adipati Dewananda meronta. Namun ijakan kaki Uraga sangat kuat. Tangannya yang kekar segera mengambil Pedang Baru Klinting. Adipati Dewananda menatap penuh amarah. Ia tak ingin pedang sakti itu berada di tangan yang salah.



"Huahahaha!!!! Akhirnya aku akan menjadi raja di raja. Rajanya para siluman dan manusia."


Saat Uraga berada di atas angin. Tiba-tiba sebuah gerakan cepat menendang punggung cucu Raja Ular Naga Gendeng itu. Tak ayal pedang yang berada di tangan Uraga melayang. Lantas suara seseorang yang dengan ringan melayang di udara segera menangkap pedang itu.



"Kurang ajar! Siapa yang berani menyerang ku dari belakang?!" tanya Uraga sangat marah.



Tanpa dinyana sesosok pria tampan dengan badan tegap berdiri di depan Uraga. Pedang Baru Klinting yang barusan melayang berada di tangan seseorang. Kedua orang itu tak lain Ganendra dan Gayatri. Tak ketinggalan Opal dan murid-murid Padepokan Grojogan Sewu datang. Mereka bersiap perang dengan bangsa siluman.



Kini Ganendra berhadapan dengan Uraga. Uraga menatap marah pada Ganendra.



"Lancang! Siapa kau manusia lemah?"



"Aku adalah pembasmi siluman. Namaku Ganendra."


Raut wajah Uraga menampakkan kemarahan.


"Siapapun yang berani menghalangi ku, akan aku antarkan ke neraka. Hyaaa!!!" teriak Uraga.



Ia melancarkan serangan kepada Ganendra. Ganendra waspada dan menggunakan *Ajian Saipi Angin*. Membuat tubuhnya melayang di udara. Bisa bergerak dengan cepat. Uraga juga menggunakan ajian yang sama. Lalu bertarung di udara. Saling memukul atau menendang.


Gayatri yang sudah mendapatkan Pedang Baru Klinting segera menghadap Adipati Dewananda. Seusai menolong adipati supaya bisa berdiri.


"Sembah hamba pada Adipati Dewananda." ucap Gayatri sopan.



Adipati Dewananda merasa tertolong.



"Nini, siapakah sebenarnya kau ini?"



"Hamba adalah murid Mpu Wiyasa dari Padepokan Grojogan Sewu."

__ADS_1



Suara denting pedang semakin kencang. Murid dari Padepokan Grojogan Sewu bertarung dengan para ular siluman. Opal yang memang penakut hanya lari ke sana kemari.



"Wel gedowel, ular siluman enyah kau!" sambil berjingkat-jingkat.



Adipati Dewananda merasa lega karena kedatangan bantuan. Ular siluman semakin bertambah banyak dan hendak menyerang adipati. Gayatri bersiaga berada di depan penguasa Ngrowo itu.



"Kanjeng adipati, hamba akan melindungi."



Tak jauh dari sana. Ganendra dan Uraga saling berhadapan.



"Lagi-lagi manusia bodoh. Ingin menghalangi jalanku." ucap Uraga kesal.



Ia melihat ke arah Gayatri yang memegang Pedang Baru Klinting. Uraga menggunakan gerakan cepat segera menyerang Gayatri. Namun Ganendra bersiap menghadang serangan. Tangannya dengan sigap menangkis pukulan Uraga. Tatapan mata Uraga tajam pada Ganendra. Lantas menyerang kembali dengan dua pukulan. Ganendra melompat ke udara. Sembari memberikan tendangan ke punggung Uraga. Tak ayal Uraga terdorong ke depan. Ia yang merupakan cucu Raja Ular Naga Gendeng tak ingin dipermalukan. Tangannya mengepal. Matanya dipenuhi kemarahan. Rambut putihnya terlihat berkilau. Ia segera membalikkan badan menatap Ganendra dengan marah.



Uraga mengatupkan kedua tangan. Merapalkan mantra sihir *Ajian Candhabirawa*.


setan kang dak utusi


Mati uripe kembang donya


Ngandikakake sundul ngadeg ngawiti jajage paran


Ajian Candhabirawa!!!!!


Teriakan Uraga menggema. Gayatri, Opal dan murid padepokan yang sedang bertarung dengan siluman ular. Terkesima ketika merasakan energi yang besar. Keluar dari tubuh Uraga. Energi hitam terpancar kuat dari tubuh pangeran ular naga itu. Angin bertiup kencang. Tubuh Ganendra berusaha menahan energi hitam. Kakinya mulai mundur selangkah. Tepat di depannya bayi bajang berwarna merah keluar dari tubuh Uraga. Menyeriangi dan terlihat ganas. Gayatri yang melihat itu khawatir pada Ganendra. Kali ini lawannya tidak main-main.



"Kakang! Berhati-hatilah!" kata Gayatri.



Jaka Opal terlihat takut dan bersembunyi di balik punggung Gayatri. Terdengar suara kentut keluar dari pantatnya.



"Aduh biyung... Setan alas!!! Iki piye!!! (\*ini bagaimana)"



Ganendra tak merasa gentar sama sekali. Ia langsung maju kedepan menyerang bayi bajang. Menghunuskan pedang dan menyabet bayi bajang itu. Tetapi bayi bajang bukannya mati. Malah bertambah dua. Ganendra sedikit terkejut. Namun ia tak takut dan kembali menyabetkan pedangnya. Akan tetapi semua sia-sia. Bayi bajang semakin bertambah banyak. Ganendra terus bertarung menyabet sana sini. Lagi dan lagi bayi bajang bertambah banyak. Gayatri yang khawatir ikut membantu. Tetapi semua sia-sia. Bayi bajang malah semakin bertambah banyak.



Uraga yang mengendalikan bayi bajang tersenyum penuh kepuasan. Ini kali pertama ia mencoba *Ajian Candhabirawa* pemberian Bathara Kala. Gayatri mulai kewalahan. Saat tak waspada ia terkena cakaran bayi bajang. Gayatri terluka di bagian perutnya. Ganendra yang melihat segera datang menolong.



Uraga berteriak dengan lantang, "matilah manusia rendah!"



Seketika bayi bajang sebanyak itu mengeroyok Ganendra. Mengerubuti tubuhnya. Cakaran demi cakaran diterima Ganendra. Tubuhnya dipenuhi bayi bajang.



"Kakang!" teriak Gayatri yang cemas pada kakak angkatnya.



Ia berusaha menolong tetapi luka diperut menghalangi. Jaka Opal segera datang dan memapah Gayatri yang terluka. Uraga yang melihat lawannya tak bergerak, tertawa puas. Tetapi tawa puasnya tak bertahan lama. Hingga sebuah pancaran energi hitam terpancar dari tubuh Ganendra yang dikerubuti bayi bajang.



"Arghhhht!!!!" teriak Ganendra keras.



Pancaran energinya memporak-porandakan bayi bajang. Tubuh Ganendra telah berubah. Rambutnya yang hitam berubah putih keperakan. Lengan kirinya dipenuhi sisik ular. Jemari tangannya berubah menjadi cakar naga. Uraga yang melihat itu seketika terkesiap. Ia mencium aroma darah. Darah siluman ular naga.



"Ba... Bagaimana bisa???! Manusia rendahan itu memiliki darah agung siluman ular naga!!!"



Ganendra mengganas dan mencakar semua bayi bajang. Tanpa rasa takut ia menerjang ke arah Uraga. Uraga yang masih terkejut tak siap dan terkena pukulan Ganendra. Langkahnya mundur. Ia memegangi dadanya yang nyeri.



"Kurang ajar!!!!" Kemarahan Uraga di atas ubun-ubun.

__ADS_1


Pertarungan sengit tak terelakkan. Ia menggunakan Ajian Malih Rupa dan berubah wujud menjadi Ular Naga raksasa. Menggeliat dan bertarung dengan Ganendra. Bagaimana kelanjutan pertarungan mereka??


__ADS_2