
Di kala Sang Rawi tanda purnaning wengi (di saat matahari sebagai tanda berakhirnya malam). Di pendapa Desa Kademangan terdengar perdebatan yang cukup alot. Antara Demang Adiwilaga, sesepuh desa maupun perwakilan pemuda desa.
“Ki, jika kau masih mempertahankan putramu di sini. Sebaiknya, kita penduduk desa Kademangan memilih untuk pindah saja.” ucap salah satu tetua desa.
“Benar sekali, para penduduk mulai ketakutan. Jika sampai Ganendra seperti malam itu. Kami semua takut Ki. Kami tidak akan hidup tenang. Apalagi menjalani kehidupan bersama … bersama anak siluman.” timpal salah satu pemuda.
“Benar Ki! Benar!” beberapa orang yang ada di sana mulai gaduh dan saling menimpali.
“Sedulur semua tenang… tenang… tidak perlu grasa-grusu dan terburu-buru mengambil keputusan.” Demang Adiwilaga mencoba menenangkan penduduk desa.
Tanpa mereka ketahui perdebatan itu didengarkan oleh Ganendra. Ia merasa sedih saat mengetahui semua orang di desa menjauhinya. Membuat ayahnya mendapatkan kesulitan. Ganendra yang merasa sedih segera berlari ke luar desa. Menggunakan *Ajian Saipi Angin* dan dengan gerakan cepat menuju sebuah sungai yang terletak di pinggir desa. Air di sungai terlihat jernih. Memantulkan segala keindahan alam di Desa Kademangan. Ganendra menatap pantulan dirinya yang ada di dalam air.
“Apakah benar aku adalah anak siluman?” tanya Ganendra pada dirinya sendiri.
Tanpa Ganendra sadari, sebuah angin misterius berhembus. Tak lama kemudian terdengar sayup-sayup suara kidung disenandungkan.
Ngelmu iku kalakone kanthi laku,
lekase lawan kas,
tegese kas nyantosani,
setya budya pangekese dur angkara.
(ilmu bisa di dapat dengan cara laku (mencari ilmu),
menggunakan niat, sehingga jadi kuat,
berbuat tulus dan usaha yang akan mengalahkan
perbuatan jahat atau tercela)
Tiba-tiba tepat di samping Ganendra berdiri seorang kakek tua dengan jenggot putih dan rambut digelung serta diikat ke atas. Mengenakan jubah putih yang diselempangkan di bahunya. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan sedikit bungkuk. Dari penampilannya seperti seorang Pandita atau Resi. Kakek tua tersebut terkekeh melihat Ganendra sedang bermuram durja.
“Ngger… putuku (*cucuku) kenapa bocah bagus kelihatan sedih?”
Ganendra yang tak mengetahui asal muasal kakek tua tersebut hanya menjawab sekenanya tanpa menatap Sang Kakek.
“Hemm…” hanya sepatah kata yang tidak ada artinya keluar dari mulut mungil Ganendra.
Kakek tua lagi-lagi kembali terkekeh. Lantas ia ikut duduk di samping Ganendra. Mengikuti melihat pemandangan alam yang terpantul di dalam air sungai. Lalu melemparkan sebuah kail ke dalam sungai. Seakan sedang memancing ikan. Ganendra tidak terlalu memperhatikan kakek tua disebelahnya, karena pikirannya seperti benang kusut.
__ADS_1
“Ngger… cucuku… kakek akan menceritakan sebuah kisah tentang seseorang. Mungkin ini akan menjadi setitik terang untuk hatimu yang penuh kegundahan.”
10 tahun yang lalu
Seorang pendekar pembasmi siluman tengah bertarung satu lawan satu dengan Raja Ular Naga Gendeng, Sang penguasa Gunung Gendeng. Sang pendekar pembasmi siluman bernama Ragnala. Ia adalah seorang pendekar pilih tanding yang memiliki ilmu kanuragan tinggi. Rambutnya panjang, tetapi digelung dan diikat ke atas. Di kedua telinganya mengenakan perhiasan. Sedangkan bagian atas tidak ditutupi kain atau dengan kata lain bertelanjang dada. Hanya sehelai selendang polos berwarna coklat di selempangkan di sebelah bahu kirinya. Sementara bagian bawahnya ditutupi dengan kain yang memiliki motif seperti batik. Untuk mengencangkan kainnya, digunakan kain tipis atau linen yang dikencangkan di sekitar perut. Ia mengenakan alas kaki yang terbuat dari kayu dinamakan klompen. Di kepalanya ia ikatkan sebuah kain bermotif seperti batik.
Ke dua pergelangan tangannya juga mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas dan akan berkilauan jika tertimpa sinar mentari. Bagaimanapun ia adalah pendekar yang sudah di akui kemampuannya dan diangkat sebagai pendekar resmi Kedaton Majapahit. Tak heran jika mengenakan pakaian melebihi rakyat pada umumnya. Hari itu adalah hari di mana pertarungan sengit antara Ragnala melawan Raja Ular Naga Gendeng. Sang pendekar bertarung sembari menggendong bayi mungil di punggungnya.
Raja Ular Naga Gendeng yang berwujud seekora ular naga yang mengenakan mahkota dengan rambut berwarna putih. Terlihat meliuk-liuk ke sana kemari. Menyerang Ragnala dengan kekuatannya. Tetapi Ragnala bisa menghindari serangan tersebut.
“Pendekar busuk, kemarilah! Aku pasti akan mencabut nyawamu dengan kedua tanganku sendiri!”
Ragnala berbalik dan tersenyum, “lakukan jika kau bisa Naga Gendeng!”
Lalu menggunakan Ajian Saipi Angin untuk bergerak dengan cepat menghindari serangan ular naga. Saat menemukan tempat yang sesuai untuk bertarung. Ragnala segera melepaskan gendongan bayinya. Lantas meletakkan di sebuah batu.
“Anakku, kau akan aman di sini. Bapa pasti akan kembali dan mengalahkan Naga Gendeng.” ucap Ragnala pada bayi mungil berkulit putih dan mata bulat tajam tersebut.
Sang bayi hanya menatap Ragnala dan mengguncang-guncangkan kaki serta tangannya. Ragnala tersenyum menatap anak semata wayangnya yang berbadan sehat dan memiliki paras tampan tersebut. Namun, ia tak bisa berlama-lama di sana, karena tak lama berselang suara tanah bergetar pertanda Naga Gendeng mendekat. Ragnala tidak boleh membahayakan putranya.
Ragnala menggunakan *Ajian Bayu Bajra* supaya dapat melayang di udara dan berhadapan dengan Naga Gendeng. Naga Gendeng mengamuk dan menyerang Ragnala dengan ekornya. Ragnala sigap dan segera menghindar. Kemudian melihat kesempatan untuk menyerang balik menggunakan Ajian Bayu Saketi. Ajian yang membuat penggunanya dapat memukul dengan jarak jauh.
*Blaar*!!!
Ragnala tak bisa dipandang sebelah mata. Kedua tangannya terentang dan tubuhnya melayang menghindari serangan. Tetapi Naga Gendeng dengan serangan cepatnya menggunakan *Ajian Upas Sewu*. Mengarahkan beribu-ribu upas (\*bisa ular) pada Ragnala. Ragnala tanggap dan segera mengeluarkan *Ajian Bolo Sewu*. Ajian yang disebut juga sebagai ajian 1000 kawan atau bala tentara yang akan melindungi penggunanya. *Ajian Upas Sewu* berhasil ditahan menggunakan *Ajian Bolo Sewu*. Melihat hal tersebut. Raja Naga Ular Gendeng menggeram penuh amarah. Ia tahu betul, akan cukup sulit mengalahkan Ragnala. Maka ia harus mencari kelemahan Sang pendekar.
Angin tiba-tiba berhembus kencang dan menyingkap kain yang menyelimuti putra Ragnala. Bayi kecil yang merasa kedinginan tersebut seketika menangis dengan keras.
“Oeek!!! Oeek!!!”
Raja Ular Naga Gendeng tersenyum licik saat mendengar tangisan si bayi. Lalu dengan cepat mengibaskan ekor besarnya ke arah Ragnala. Ragnala dengan gesit memutar tubuhnya di udara dan menghindari serangan Naga Gendeng. Saat itulah, matanya melihat tubuh Naga Gendeng meliuk-liuk menuju ke arah putranya yang sedang menangis. Instingnya dapat merasakan, bahwa nyawa anaknya sedang terancam. Ragnala segera menggunakan *Ajian Saipi Angin* dan bergegas secepat kilat menuju arah anaknya.
Naga Gendeng sudah mendekati si bayi yang sedang menangis, ia tersenyum menyeriangi.
“Anak manusia sepertimu, tidak pantas mewarisi darah seorang Raja Ular Naga.” ucap Ular Naga Gendeng. Lalu berteriak dengan lantang.
__ADS_1
“Ajian Upas Sewu!”
*Ajian upas sewu* mulai keluar dan menyembur ke arah bayi yang tanpa dosa tersebut. Tepat sebelum upas mengenai tubuh bayi. Ragnala menggunakan tubuhnya sebagai tameng. Akan tetapi resikonya, ia terkena upas milik Naga Gendeng. Membuat seluruh tubuhnya terkena racun mematikan. Namun dengan sisa tenaganya, ia mencabut keris sakti miliknya. Keris Pulanggeni dan dengan cepat menebas ke arah Naga Gendeng. Tebasan Keris Pulanggeni tepat mengenai salah satu tanduk Naga Gendeng hingga putus. Tanduk tersebut jatuh ke tanah dengan keras. Membuat Naga Gendeng meraung kesakitan.
Rasa sakit sekaligus rasa malu di kalahkan oleh seorang manusia. Membuatnya pergi dari tempat itu, menggunakan *Ajian Ngilang Raga*. Ajian yang membuat penggunanya berubah menjadi sinar dan bisa berpindah tempat dengan cepat. Sepeninggal Naga Gendeng, Ragnala seketika ambruk ke tanah. Dekat dengan anaknya berada. Ia hanya bisa menatap anaknya yang sedang menangis keras. Tangannya telulur hendak menjangkau si bayi. Tatapan matanya begitu sedih. Ragnala menyadari, sisa hidupnya tidak akan lama lagi.
Tanpa terduga, angin misterius berhembus perlahan. Seberkas sinar cahaya datang mendekat dan tak lama kemudian sinar itu berubah menjadi sesosok kakek tua. Ragnala mengetahui siapa yang datang. Kakek tua itu adalah guru spiritualnya.
“Eyang Guru Sabdo Palon…..” ucap Ragnala lirih.
Sabdo Palon segera mendekati muridnya. Menatap dengan tatapan iba.
“Eyang Gu… Guru… tolong selamatkan putraku. Bimbinglah dia, jadikan pendekar pilih tanding yang mampu menyibak kegelapan dan membawa terang di dunia ini.” Ragnala mengucapkan pesan terakhirnya hingga nafas berhembus untuk kali terakhir.
Bayi mungil putra Ragnala menangis semakin kencang. Seolah menyadai bahwa ayahnya telah tiada. Sabdo Palon segera menggendong dan menenangkan bayi tersebut. Lalu menyemayamkan Ragnala dengan layak. Memberikan penghormatan terakhir pada muridnya. Supaya Sang Dewata Agung memberikan tempat terindah.
Sabdo Palon membawa putra Ragnala dan potongan tanduk Naga Gendeng bersama. Kemudian menitipkan bayi mungil tadi pada Demang Adiwilaga. Meminta mengasuh dan merawatnya dengan baik, karena sejatinya bayi mungil itu memiliki dua sisi takdir yang berbeda. Kelak kemudian hari, ia harus menentukan sisi takdir mana yang akan ia pilih.
*Flashback End*
Ganendra kecil menatap ke arah Sabdo Palon yang sekarang berdiri di sampingnya.
“Apakah aku? Aku adalah…..”
Sabdo Palon terkekeh.
“Ngger… cucuku… Ngelmu kang nyata, karya reseping ati. Ilmu sejati akan meresap serta membuat hati tenteram. Ilmu sejati adalah ilmu yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Hati yang tenteram tidak akan ada keragu-raguan dalam mengambil keputusan dan bertindak, karena dilakukan berdasarkan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu pergilah ngangsu kawruh (\*berguru) pada Mpu Wiyasa. Kau akan menemukan sejatinya dirimu.”
Seusai berpesan pada Ganendra. Sosok Sabdo Palon tiba-tiba menghilang. Pesan tersebut selalu terngiang dalam hati dan sanubari Ganendra. Ia kemudian membulatkan tekad untuk mencari kebenaran siapa dirinya yang sejati.
Dari sinilah akan di mulai petualangan Ganendra yang akan membawanya menjadi Pendekar Pedang Naga Gendeng.
__ADS_1