
Tak terasa perputaran waktu cepat berlalu. Kini seorang Ganendra yang mungil telah berusia 20 tahun. Parasnya semakin tampan dan rupawan dengan kulit putih. Tubuhnya tinggi dan tegap. Otot tubuhnya terbentuk dengan sempurna. Matanya bulat tajam dengan hidung diibaratkan ngudhup melati atau berhidung mancung. Wajahnya terlihat bersinar. Ketampanannya tak diragukan sama sekali. Namun, para gadis desa tak ada yang berani mendekati Ganendra karena dianggap sebagai anak siluman. Selama 10 tahun terakhir. Ganendra tak memiliki teman satu pun kecuali Gayatri yang merupakan saudara angkatnya.
Demang Adiwilaga berhasil membujuk penduduk desa supaya tidak mengusir Ganendra. Tetapi Ganendra hanya diperbolekan tinggal di pinggiran desa. Demang Adiwilaga membuatkan sebuah gubug untuk tempat tinggal anak angkatnya itu. Meski dilanda sepi karena dijauhi oleh penduduk desa. Tetapi keluarga Demang Adiwilaga terutama Gayatri selalu menemani Ganendra. Keduanya dekat kerana memiliki kegemaran yang sama yaitu olah kanuragan.
Hingga usia Ganendra 20 tahun, ia masih saja belum bisa mengontrol kekuatannya yang besar. Sehingga tanpa sadar bisa menggila dan menjadi orang yang haus darah seperti siluman. Bahkan Demang Adiwilaga maupun Gayatri pernah terluka oleh kegilaan Ganendra yang berubah seperti siluman.
Sang Bagaskara bersinar cerah. Menemani Ganendra yang sedang meditasi di bawah guyuran air terjun. Tanpa ia sadari alam bawah sadarnya memasuki alam lain. Di mana seorang kakek tua yang tak lain Sabdo Palon menunggunya.
“Eyang Guru….” panggil Ganendra sembari mengatupkan kedua tangannya di dada. Tanda memberi penghormatan pada Sabdo Palon.
Eyang Sabdo Palon terkekeh.
“Iyo… Iyo…. Putuku (*Ya… ya… cucuku) kau sudah semakin dewasa. Tetapi, belum bisa menguasai kekuatan besar yang ada dalam dirimu. Inilah saatnya kau ngangsu kawruh (berguru) pada Mpu Wiyasa di Padepokan Grojokan Sewu. Berlatihlah ilmu yang sejati.”
“Sendiko dhawuh Eyang Guru (*baik Eyang Guru)
Lantas Eyang Sabdo Palon melantunkan kidung untuk menguatkan tekad seorang Ganendra.
ngudi ilmu kanthi esthi
angel yen durung diwaca
mula becik den titeni
susah seneng den rasakna
kanggo bekal urip iki
Ganendra mendengarkan dengan seksama lantunan kidung Eyang Sabdo Palon. Namun ia masih belum memahami makna dibaliknya.
“Eyang Guru… makna apa yang tersirat dari lantunan kidung yang Eyang Guru lantunkan?”
Eyang Sabdo Palon terkekeh dengan suara khasnya. Sambil mengacungkan satu jari. Sesepuh sekaligus sosok spiritual aliran putih yang mbaureksa (*menguasai) tanah Jawa memberikan wejangan (*petuah).
“Ngger… putuku (*Nak…. Cucuku) dadi murid kudu golek ilmu nanti temen seneng lan susah kudu dirasakke kanti ikhlas (jadi murid itu harus mencari ilmu dengan sungguh-sungguh. Senang ataupun susah harus dirasakan dengan ikhlas). Maka kau akan menemukan wosing (*isi) ilmu yang sebenar-benarnya. Ilmu yang sejati. Ilmu yang sejati akan menuntunmu menguasai kekuatan besar yang ada dalam dirimu.”
Ganendra mencerna setiap wejangan dari Eyang Gurunya. Namun, masih timbul pertanyaan dalam hatinya.
“Lalu bagaimanakah mendapatkan ilmu yang sejati?”
__ADS_1
Sebelum Eyang Sabdo Palon sempat menjawab. Terdengar suara yang memanggil Ganendra dengan lantang.
“Kakang! Kakang! Kakang Ganendra! Mari berlatih kanugaran dengan ku.” ucap sumber suara tersebut.
Sumber suara itu berasal dari Gayatri. Saudara angkat Ganendra. Seorang gadis desa sederhana yang berparas ayu dan manis. Sama seperti halnya Ganendra, ia juga menyukai hal berbau kanuragan. Rambut Gayatri yang hitam panjang dikucir kuda. Mengenakan kain yang dililitkan di dada, semacam kemben. Lantas mengenakan selendang yang dikaitkan disebelah bahu kiri. Kain yang digunakan sebagai kemben sebenarnya panjang sampai mata kaki. Namun bagi seorang pendekar wanita seperti Gayatri, kain tersebut hanya sampai lututnya. Supaya memudahkannya dalam bergerak dan berlatih kanuragan.
Gayatri segera melancarkan serangan dengan menggunakan Ajian Saipi Angin. Tangannya mengepal lurus ke arah Ganendra. Hendak memukul pria muda yang masih memejamkan matanya itu. Meski dalam posisi bermeditasi. Tetapi insting Ganendra sudah dilatih. Maka dalam keadaan apapun ia akan bersiaga. Lantas dengan gerakan cepat. Tangannya menangkis serangan Gayatri.
Kemudian balas melancarkan serangan. Berupa pukulan ke arah Gayatri. Gayatri segera mundur selangkah dan melayang di atas air. Ganendra membuka matanya dan tersenyum. Tak lama berselang segera menyusul Gayatri menggunakan jurus meringankan tubuh. Seolah kakinya dapat berjalan di atas air. Keduanya melayang di udara. Suara kecipak air karena pijakan kaki mereka terdengar saling bersahutan. Keduanya berkejar-kejaran.
“Kakang, coba kemari dan tangkap aku.” Gayatri meledek Ganendra.
Ganendra tersenyum..
“Adhi (*adik) Gayatri aku pasti akan menangkapmu!” balas Ganendra.
Ganendra berusaha mengejar Gayatri. Hingga sampai di bawah aliran sungai air terjun. Sesampainya di sana, mereka malah bermain-main dan saling mencipratkan air. Merasakan segarnya air pegunungan. Sampai keduanya merasa lelah dan duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai. Sambil menikmati aliran air sungai yang jernih. Menikmati pemandangan alam yang begitu indah.
Gayatri terlihat manja dan bersandar dibahu Ganendra. Senyum manisnya merekah menambah ayu nan manis seorang Gayatri. Ganendra mulai membuka suara terlebih dahulu.
“Adhi, aku akan pergi berguru ke Padepokan Grojokan Sewu.”
“Kakang, apakah secepat ini kau akan pergi?”
Ganendra mengangguk yakin.
“Ya, aku tidak ingin melukai Bapa, Biyung, kau, dan penduduk desa yang lain karena kekuatan siluman dalam diriku. Aku sudah membulatkan tekad.”
Gayatri melihat sorot mata Ganendra yang penuh tekad untuk ngangsu kawruh di Padepokan Grojokan Sewu. Ia menyadari pada saatnya nanti. Hal ini akan terjadi, karena sejak berusia 10 tahun lalu Ganendra sudah mengutarakan keinginannya. Akan tetapi Demang Adiwilaga masih mencegahnya dan mengatakan akan menyetujui jika Ganendra sudah berusia 20 tahun.
“Kakang, jika begitu keinginanmu. Maka aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi.”
Ganendra menatap saudara angkatnya itu dengan tatapan penuh kecemasan.
“Adhi, aku tidak bisa mengijinkanmu ikut karena di luar sana. Pasti banyak orang jahat maupun siluman yang tidak akan segan melukai.”
“Aku tidak perduli, selama bersama Kakang. Apapun rintangannya, akan aku hadapi.” balas Gayatri penuh ketekadan.
“Ta… tapi….” Ganendra berusaha mencegah niat Gayatri.
__ADS_1
Namun, Gayatri sudah menggunakan Ajian Saipi Angin dan terbang menjauh dari tempat itu.
“Aku akan meminta ijin pada Bapa!!!” teriak Gayatri dari kejauhan.
Ganendra hanya bisa menghela nafas. Melihat tingkah saudara angkatnya yang sungguh keras kepala.
...***...
Kini siang telah berganti malam. Di sebuah pendapa Desa Kademangan. Demang Adiwilaga dan Nyi Kemuning terlihat sedih.
“Bapa sudah mendengar dari adhimu. Bahwa tekadmu sudah bulat untuk berguru ke Padepokan Grojokan Sewu. Mungkin ini memang sudah saatnya Bapa dan Biyung melepasmu untuk mencari dirimu yang sejati.” Demang Adiwilaga berucap dengan raut wajah penuh kesedihan.
Mata Nyi Kemuning mulai berkaca-kaca dan akhirnya buliran bening tumpah membasahi pipinya. Ia mulai menangis sesenggukan. Ganendra ikut bersedih. Tetapi tekadnya sudah bulat. Ia segera mendekati wanita yang mengasuhnya sejak kecil dengan penuh kasih sayang itu. Menggenggam tangan Biyungnya.
“Biyung, restuilah aku mencari jati diri yang sejati.”
“Ngger, putraku… bagi biyung sejatinya dirimu adalah anak biyung. Biyung hanya ingin melihatmu tumbuh dewasa di desa ini. Hidup bersama-sama dalam satu keluarg. Namun sepertinya Sang Dewata Agung memiliki kehendak lain. Meski dengan berat, biyung melepasmu pergi. Ingatlah pesan biyung, untuk selalu mengasihi sesama dan berbuatlah kebajikan.” pesan Nyi Kemuning.
Ganendra tersenyum dan berterimakasih pada ibunya. Lantas berbaring dipangkuan Nyi Kemuning. Ibu yang telah dianggapnya sebagai sosok ibu kandung sendiri. Nyi Kemuning mengelus kepala Ganendra penuh kasih sayang. Bayi mungil yang telah ia rawat dahulu, telah menjelma menjadi pemuda dewasa. Pemuda yang akan mengarungi kehidupan di luar sana. Malam itu, kediaman Demang Adiwilaga terlihat sepi. Semua merasa sedih karena akan berpisah satu sama lain.
Tak terasa waktu berlalu. Di perbatasan Desa Kademangan, Ganendra bersiap-siap dengan membawa gendongan kecil di punggungnya. Nyi Kemuning dan Demang Adiwilaga mengantarkan anak angkat kesayangannya itu.
“Bapa…. Biyung…. Mohon restumu untuk menyertai perjalananku.”
Demang Adiwilaga menepuk bahu Ganendra. Begitu juga Nyi Kemuning memeluk erat anak kesayangannya tersebut. Seolah belum rela melepaskan.
“Ganendra, ini adalah benda yang bersamamu. Saat kau dititipkan pada Bapa. Bawalah bersamamu. Bapa berharap benda ini akan membantumu kelak.” ucap Demang Adiwilaga sambil menyerahkan bungkusan yang panjang dibalut kain putih. Ganendra membuka bungkusan itu. Di dalamnya merupakan potongan tanduk Ular Naga Gendeng.
“Baik Bapa… aku pergi sekarang.” pamit Ganendra.
“Ngger, anakku… jaga adhimu Gayatri. Semoga Sang Bathara Agung melindungi kalian semua.” Demang Adiwilaga dan Nyi Kemuning bicara bersamaan.
Ganendra sedikit terkejut. Mengetahui kedua orang tuanya mengijinkan Gayatri untuk ikut serta.
“Bapa, terimakasih!!!” tiba-tiba Gayatri berteriak kencang sambil berlari ke arah kedua orang tuanya. Lalu memeluk mereka dengan erat.
Demang Adiwilaga dan Nyi Kemuning tersenyum.
“Bapa dan Biyung tidak akan menghalangi jalanmu. Berhati-hatilah dan saling menjaga satu sama lain. Meski dengan berat hati. Bapa dan Biyung mengikhlaskanmu ngangsu kawruh. Tetaplah menjadi seseorang yang andhap asor (*rendah hati) jika memiliki ilmu yang tinggi.” pesan Demang Adiwilaga.
__ADS_1
Lalu mengantarkan kedua anaknya berjalan mencari jalan yang sejati. Tak jauh dari sana, penduduk desa melihat kepergian Ganendra. Di satu sisi mereka bahagia, anak siluman yang membuat mereka takut telah pergi dari desa. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran yang menghantui. Bagaimana jika ada siluman yang menyerang desa? Karena selama ini, Ganendra lah yang melindungi mereka. Meski dengan kekuatannya yang tak bisa dikendalikan.