Pendekar Pedang Naga Gendeng

Pendekar Pedang Naga Gendeng
Siluman Bajul Ijo


__ADS_3

“Ganendra anak siluman! Anak siluman!!!” ejek anak-anak di Desa Kademangan.


Ganendra kecil hanya menundukkan kepala, karena ejekan teman-teman sebayanya. Tanpa dinyana para orang tua berdatangan.



“Jangan bermain atau mendekati anak siluman itu! Lihatlah ia sungguh menyeramkan!” orang tua melarang anak-anaknya bermain dengan Ganendra. Sembari melemparkan tatapan sinis.



Tangan Ganendra mengepal kuat. Ia sungguh tidak suka dipandang dan dianggap anak siluman. Matanya memancarkan kemarahan. Perlahan matanya berubah merah. Lengan kirinya dipenuhi titik-titik hitam yang lama kelamaan menjadi sisik ular. Tangan kirinya secara cepat berubah seperti cakar Naga. Rambutnya yang hitam berganti menjadi warna putih keperakan. Tatapnnya menjadi buas dan liar.



Anak desa dan orang tuanya ketakutan. Mereka berlarian. Tetapi dengan gerakan cepat Ganendra merangsek ke arah mereka. Tangan kirinya seperti kilat yang begitu cepat mencakar tanpa ampun. Banjir darah dimana-mana. Darah anak-anak dan orang dewasa bercampur bak lautan darah. Berwarna merah pekat. Ganendra seperti kerasukan iblis. Membunuh tanpa ampun.



“Kakang! Kakang! Kakang Ganendra! Sadarlah kakang!” panggil seorang wanita muda sambil menggoyangkan tubuh Ganendra.



Ganendra masih meronta-ronta. Seolah tangannya mencakar-cakar sesuatu.



“Kakang!!!” panggil wanita muda tadi dengan keras.



Seketika Ganendra membuka mata. Nafasnya tersengal-sengal. Bermandikan keringat yang membasahi tubuhnya.



“Aku bukan anak siluman…. Aku bukan siluman!” teriak Ganendra terdengar marah.



Wanita yang memanggil Ganendra tadi, tak lain adalah Gayatri. Gayatri melihat tatapan Ganendra yang mulai beringas. Ia menyadari jika dibiarkan saja. Maka Ganendra akan berubah menjadi siluman dan mengamuk. Ini akan berbahaya untuk orang sekitarnya. Gayatri berpikir cepat dan segera memeluk Ganendra erat, seperti yang dilakukan ayah dan ibunya. Ketika hendak meredakan kemarahan Ganendra.



“Kakang! Kakang! sadarlah. Kau hanya bermimpi. Kakang bukanlah siluman. Kau manusia. Sadarlah kakang!” Gayatri mencoba menyadarkan Ganendra.



Ganendra yang dipeluk Gayatri bisa merasakan ketulusan hati adik angkatnya. Perlahan ia bisa menekan amarah dan tak jadi berubah. Ganendra mulai mengatur nafas.



“A… apa yang sebenarnya terjadi?” Ganendra bertanya sambil memijat kepalanya yang terasa berat.

__ADS_1



Gayatri mulai melepaskan pelukannya.



“Sepertinya kakang sedang bermimpi sesuatu. Sehingga membangkitkan kemarahanmu.”



Ganendra ingat ia sedang bermimpi. Banyak yang menjauhinya. Mengolok-oloknya sebagai siluman.



“Aku melihat banyak anak-anak dan orang dewasa menjauhi kakang. Kakang merasa sangat marah dan…. dan… membantai penduduk desa. Maafkan kakang adhi.” ucap Ganendra seolah mimpinya nyata. Membunuh semua penduduk desa.



Gayatri menggenggam tangan Ganendra.



“Kakang, itu hanyalah sebuah mimpi belaka. Aku percaya kakang tidak akan melakukan itu. Kakang… tenanglah.”



Pria muda berparas tampan itu mulai mengatur nafas. Ia juga tidak ingin hidup seperti ini dan dianggap siluman. Ganendra tidak akan melakukan hal tercela yang menodai dirinya sebagai seorang pendekar.



"Tolong!!! Tolong!!! Siluman! Siluman!!! Ada siluman!"


Terdengar teriakan minta tolong berkali-kali. Ganendra dan Gayatri yang memiliki jiwa pendekar ingin menolong sesama yang sedang dalam kesulitan.


Keduanya segera bergegas menggunakan Ajian Sapi Angin. Melayang di udara dan melompat dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Mencari arah sumber suara. Dari kejauhan terlihat seorang pria muda berbadan tambun sedang merangkak di tanah. Teriakan minta tolongnya terdengar berulang kali. Tepat di belakangnya, siluman buaya bersiap menerkam. Ganendra tanggap dan segera melayang ke arah siluman buaya. Kakinya lurus ke depan dan dengan cepat menendang Sang siluman buaya. Tendangannya yang bertenaga membuat tubuh Sang Siluman terlempar beberapa hasta.


Siluman buaya yang dijuluki Siluman Bajul Ijo mulai menggeliatkan tubuhnya. Kemudian menggunakan Ajian Malih Rupa dan berubah bentuk menjadi manusia setengah siluman. Kepalanya berbentuk buaya dengan moncong panjang dan gigi tajam. Tubuh, tangan, dan kaki berbentuk seperti manusia. Ekor buaya khas tampak terjulai di belakang tubuh. Mimik wajahnya menunjukkan kemarahan. Terpancar jelas dari tatapan matanya.


"Grrrrr.... Manusia rendahan. Berani-beraninya menggangguku menyantap mangsa!"



"Jaga mulutmu siluman. Kami bukan manusia rendahan. Kau lah yang rendahan karena berani memangsa manusia dan berbuat keonaran. Sang Hyang Widi akan menghukummu melalui tanganku!" balas Ganendra begitu berani.


"Hati-hati kakang." ucap Gayatri.


Ganendra mengangguk dan segera menyerang Siluman Bajul Ijo. Sedangkan pria tambun yang diselamatkan tadi bersembunyi di balik punggung Gayatri. Gayatri tetap waspada seandainya Siluman Bajul Ijo menyerang. Ganendra melancarkan sebuah pukulan ke arah Bajul Ijo. Bajul Ijo menangkis dengan tangannya. Lalu membalas mengibaskan ekor pada Ganendra. Tepat mengenai sasaran. Ganendra terjungkal sembari memegangi dadanya.


"Kakang!" panggil Gayatri khawatir.


Ia mulai maju selangkah. Hendak membantu Ganendra. Namun tangannya di genggam erat oleh pria muda bertubuh tambun.

__ADS_1


"Nini... Jangan kesana. Bajul Ijo sangat buas. Kau akan menjadi mangsanya."


"Lepaskan!" teriak Gayatri melepaskan cengkraman tangan pria tambun. Lantas segera merangsek ke depan menyerang Bajul Ijo tanpa rasa takut.


Gayatri menyerang bertubi- tubi. Bajul Ijo berhasil menangkis serangan Gayatri dan ekornya berhasil mengenai tubuh wanita muda itu. Ganendra yang melihat, segera menggunakan Ajian Saipi Angin dan melangkah dengan cepat menangkap tubuh Gayatri. Agar tidak membentur ke tanah.


"Adhi, kau tidak apa-apa?"


Gayatri menggangguk, meski merasa dadanya sedikit nyeri. Bajul Ijo tertawa seolah penuh kemenangan. Pria tambun dengan wajah ketakutan segera bersembunyi di balik pohon.


"Grrrr!!! Manusia lemah, kalian semua akan menjadi santapan ku Ha! Ha ! Ha!"


Lalu menggunakan Ajian Malih Rupa dan berwujud menjadi buaya besar.


"Kakang berhati-hatilah."


Ganendra mengangguk. Lalu maju menyerang Bajul Ijo. Bajul Ijo membuka lebar mulutnya dan keluarlah sinar berbentuk bulatan. Berwarna kehitaman. Mengarah pada Ganendra. Pria muda itu menghindar ke sana kemari dengan lincah. Lalu memukul kepala Bajul Ijo dengan keras. Bajul Ijo menggeram kesakitan. Sang siluman tidak terima dan membalas mengibaskan ekornya yang penuh duri tajam. Ganendra menyilangkan kedua tangannya untuk menangkis serangan. Namun naas ekor itu terlampau bertenaga dan bergerak cepat. Ganendra tak sanggup menahan. Pada akhirnya ia terpental beberapa hasta. Tubuhnya menghantam pohon dengan keras.


"Kakang!" teriak Gayatri dengan cemas.


Melihat Ganendra memuntahkan darah. Ia menghampiri dengan perasaan khawatir. Pria tambun yang tadi di tolong hanya menggigit jarinya dengan tubuh menggigil.


"Aduuuh Gustiiii, Hyang Akarya Jagad. Aku isih legan. Kepengin menikmati kaendahan donya Gustiiii!!! (aku masih perjaka. Ingin menikmati keindahan dunia).” kain bermotif yang ia kenakan sudah basah karena air seni mengucur deras.


"Aku akan melawan Bajul Ijo." ucap Gayatri dengan berani. Sembari melangkah maju dan menghunuskan pedangnya.


"Hyaaa!!" teriak Gayatri lantas menerjang maju ke arah Siluman Bajul Ijo.


"Adhii!!" panggil Ganendra berusaha mencegah Gayatri melawan Sang Siluman.


Siluman Bajul Ijo terlihat semakin ganas. Gayatri menggunakan *Ajian Sapi Angin* dan melayang di udara. Kakinya silih berganti menendang ke arah Bajul Ijo. Bajul Ijo menghindari serangan. Pedang di tangan kanan Gayatri terarah tepat ke kepala Bajul Ijo. Namun Sang Siluman dengan sigap mengibaskan ekor. Menangkis pedang Gayatri. Pedangnya patah dan tubuh Gayatri menerima sinar hitam yang keluar dari mulut moncong Bajul Ijo. Tubuh Gayatri terlempar ke udara. Ganendra yang masih kesakitan berusaha menggerakkan tubuhnya. Namun tak kuasa berdiri. Pria tambun dengan penuh keberanian keluar dari persembunyian. Ia menangkap tubuh Gayatri yang hampir terbentur ke tanah. Meski dengan konsekuensi tubuhnya harus tertindih.



"Aduh biyuuung!!! Remuk awakku! (Remuk tubuhku)." pekik pria tambun kesakitan.



Gayatri memegangi dadanya yang terasa sakit. Dari mulutnya memuntahkan darah merah. Bajul Ijo tertawa penuh kemenangan.


"Ha! Ha! Ha!!!! Matilah kalian manusia bodoh! Jadilah pengenyang perutku!" ucap Bajul Ijo.


Tubuhnya yang berbentuk buaya besar segera melayang hendak memangsa keduanya. Gayatri dan pria tambun menyeret tubuhnya. Berusaha menghindari Sang Buaya. Tepat saat mulut buaya terbuka lebar. Tiba-tiba sebuah tangan berbentuk cakar Naga mencengkeram kuat mulut Sang Buaya. Siluman Bajul Ijo menggeliat kesakitan. Mata Gayatri dan pria tambun mendelik karena tepat di depan mereka. Ganendra sudah berwujud seperti siluman. Tangan kirinya bersisik dan jemarinya berubah menjadi cakar Naga. Matanya memerah. Rambutnya berubah menjadi putih keperakan. Seluruh tubuhnya di selimuti aura hitam. Aura seorang siluman pembunuh.


Bajul Ijo mengerang kesakitan. Matanya terbelalak. Bagaimana bisa manusia seperti Ganendra memiliki hawa siluman yang kuat? Ekor Bajul Ijo mengibas dengan cepat mengarah pada Ganendra. Ganendra dengan sigap menangkap ekor Sang Siluman. Hanya menggunakan tangan kanannya. Bajul Ijo semakin terbelalak.



Tak percaya manusia yang ia temui bisa memiliki tenaga seperti ini. Ah… bukan manusia melainkan siluman. Ganendra dengan raut wajah penuh amarah segera membanting tubuh Bajul Ijo ke tanah. Hingga terdengar suara berdebam keras. Tanah di sekelilingnya bergetar hebat. Bajul Ijo meraung kesakitan. Ia berusaha melawan dengan menggunakan sinar hitam yang keluar dari mulutnya. Ganendra dengan lincah melayang ke udara dan menghindari serangan dengan memutar tubuhnya. Lantas menahan sinar hitam Bajul Ijo dengan cakar Naganya. Kemudian sekuat tenaga mematahkan serangan. Hingga akhirnya tangan kiri Ganendra mencengkeram kuat mulut Bajul Ijo. Lantas mematahkan dengan tangannya tanpa ampun. Mengoyak tubuh Sang Siluman menjadi berkeping-keping. Hingga hanya tersisa erangan kesakitan Sang Siluman yang semakin lama hilang tertelan bumi. Seiring menghilangnya tubuh siluman buaya.


__ADS_1


Disaat bersamaan Ganendra roboh ke tanah. Tak sadarkan diri. Gayatri berlari mendekati Ganendra. Memanggil-manggil saudara angkatnya dengan nada penuh kekhawatiran. Namun yang dipanggil, kesadarannya mulai lenyap dan seketika semuanya menjadi gelap.


__ADS_2