Pendekar Pedang Naga Gendeng

Pendekar Pedang Naga Gendeng
Uraga Sang Pangeran Ular Naga


__ADS_3

***Di puncak Gunung Gendeng, alam siluman Raja Ular Naga Gendeng***.



Seorang pria muda berparas tampan dengan dagu sedikit terangkat. Dagu seseorang yang terangkat menunjukkan watak congkak dan sombong. Rambutnya digelung ke atas. Menggunakan mahkota kecil sebagai pengikat sanggul. Rambutnya berwarna putih keperakan. Tubuhnya tegap dan nampak jelas otot-ototnya yang menawan. Di kedua lengannya mengenakan perhiasan emas yang dinamakan *kelat*. *Kelat* di bahu berbentuk ular naga. *Kelat* bahu tersebut dinamakan *Kalamakara*. *Kalamakara* menunjukkan status sosial tinggi yang hanya dikenakan kaum bangsawan.


Ya... Pria muda ini berasal dari golongan bangsawan alam siluman. Bernama Uraga, cucu dari Raja Ular Naga Gendeng.


Penguasa puncak Gunung Gendeng yang terbentang dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Penguasa alam siluman. Uraga terlihat memejamkan mata, duduk bersila. Tangannya menyilang di dada. Ia sedang bersemedi di sebuah gua yang dipenuhi hawa siluman. Memusatkan pikiran pada Sang Penguasa Kegelapan, tiada lain Sang Bathara Kala. Bathara Kala adalah putra Bathara Guru. Bathara Guru merupakan dewa tertinggi. Penguasa dari Kahyangan. Dewanya para dewa. Namun akibat suatu kesalahan. Bathara Guru memiliki putra berwajah raksasa Sang penguasa kegelapan. Putranya dinamakan Bathara Kala.



Banyak kaum siluman, iblis, dedemit yang memuja Bathara Kala. Termasuk Uraga yang mendambakan kesaktian. Supaya dapat menjadi raja diraja di dua alam. Alam manusia dan siluman. Berhasrat mendapatkan kesaktian yang mumpuni. Menjadi seorang siluman yang sakti mandraguna.



Sayup-sayup terdengar ajian mantra seperti sihir sedang dirapalkan. Keluar dari mulut Uraga.



*Setan, demit, peri perahyangan kang Dak utusi*


*Lungguhku imbar, payungku imbar, mimang mimong Sang Bathara Kala. Apipit maya-maya ora katon apa-apa. Kang hima kakalangan peteng dhehet alimengan si imbar ngemuli aku. Sang Bathara Kala... Bathara Kala*.


..Bathara Kala....


Disaat Uraga merapalkan mantranya. Tiba-tiba gua tempat di mana ia tapa brata (\*bersemedi) bergetar hebat. Seolah ada gempa bumi. Uraga berkali - kali memanggil nama Bathara Kala. Hingga sebuah sinar hitam secara ghaib seperti sihir muncul dari antah berantah. Kemudian berhenti di depan Uraga. Sesaat kemudian menjelma menjadi sesosok raksasa tinggi besar. Rambutnya tergerai bergelombang panjang. Mengenakan mahkota ala raja. Bola matanya melotot seperti hendak keluar. Siung atau taring panjang keluar dari mulutnya. Giginya tajam seperti gergaji. Tangannya berbentuk cakar yang menjulur panjang.



Tak Lama berselang. Suara tawa kencang terdengar dari sesosok perwujudan raksasa tadi.


"Ha! Ha! Ha! E... Siapa yang berani menggetarkan kerajaanku dengan hawa kegelapan yang luar biasa hemmmm..."


Uraga yang mendengar gelegar suara seseorang. Segera membuka mata. Ia menyadari siapa yang ada di hadapannya. Uraga dengan cepat menghaturkan sembah. Sembah pada Sang Penguasa Kegelapan.

__ADS_1


"Sembah pangabekti hamba untuk pukulun, Sang Bathara Kala."


"Ha! Ha! Hemm rupanya kau adalah cucu dari siluman Raja Ular Naga Gendeng. Pantas semedimu menggetarkan istana Pasetrangandamayit." ucap Bathara Kala dengan nada menggelegar. Seluruh dinding gua bergetar karenanya.


"Ampun beribu ampun. Hamba tidak bermaksud mengganggu ketenangan pukulun. Hamba hanya ingin sebuah anugerah kekuatan. Kekuatan yang dapat hamba gunakan untuk menguasai dua alam. Marcapada (alam manusia) dan alam siluman." Uraga berucap dengan penuh keyakinan.


"Ha! Ha! Ha! Yo... Yo... Ngger (ya.. ya.. Nak) Dak Tampa tapa bratamu (aku terima semedimu) sejujurnya aku merasa senang. Dari kaumku para siluman ada yang sepertimu. Memiliki ambisi dan keinginan yang kuat. Hawa silumanmu menggetarkan dengan energi yang tinggi. Baiklah... Karena semedimu selama ini mampu menggetarkan Pasetrangandamayit. Maka aku akan memberikanmu sebuah anugerah. Anugerah kekuatan yang dahsyat."


"Maturnembahnuwun Hyang Pukulun (Terimakasih Hyang Pukulun)." Uraga mengatupkan kedua tangannya di atas kepala.


Bathara Kala mengangkat tangannya. Kemudian keluar cahaya hitam yang terbang mengarah pada Uraga. Lantas masuk dan menyatu dengan tubuhnya. Uraga merasakan energi dalam tubuhnya semakin kuat. Bahkan berkali - kali lipat melebihi sebelumnya. Sungguh luar biasa.


"Ngger cucuku... Aku menganugerahkanmu sebuah Ajian sihir hitam yang apabila kau merapalkan mantranya. Maka akan ada bayi bajang yang akan muncul. Bayi bajang akan terus bertambah banyak tanpa henti jika ia di bunuh. Jika satu terbunuh akan menjadi dua. Dua dibunuh akan menjadi empat. Begitu seterusnya, jumlahnya akan berlipat ganda. Jika bayi bajang dibunuh oleh musuhmu. Ia akan menjadi prajurit yang tidak akan ada habisnya. Ajian sihir ini bernama Ajian Candabhirawa."


Mendengar ucapan Bhatara Kala. Uraga tersenyum senang. Ia membayangkan betapa hebat dirinya. Ia akan menjadi penguasa dua alam.


"Terimakasih banyak pukulun."


"Ha! Ha! Tetapi pemberianku ini bukan sesuatu yang tidak berharga. Harus kau ganti dengan kesukaanku."


"Huahahahaha!! Bagus.. Bagus.. Aku akan menantikan persembahanmu." Bathara Kala terdengar bahagia.


Sesaat kemudian tubuh Bathara Kala berubah menjadi sinar hitam. Ia lantas kembali ke istana Pasetrangandamayit. Suara tawanya samar-samar masih terdengar. Hingga lama kelamaan lenyap begitu saja. Meninggalkan Uraga sendirian. Perlahan pangeran Ular Naga tersebut berdiri. Senyum menyeriangi terlukis di wajahnya.


"Ha! Ha! Ha! Aku akan menjadi penguasa dua alam. Menjadi raja di raja haha!!!" dalam hati Uraga perasaan bahagia begitu membuncah.


Sampai terdengar suara langkah kaki memasuki gua. Seorang pria paruh baya dengan kumis tipis dan tumbuh jenggot. Terlihat berjalan membawa sebuah pedang. Lantas melemparkan pedang itu pada Uraga. Uraga sudah bersiap. Lalu terbang dengan cepat dan menangkap pedang tersebut. Perlahan, Uraga membuka sarung pedangnya. Mengamati dengan seksama. Mencabut keseluruhan pedang dari warangka (sarungnya). Lantas memainkan pedang tersebut. Memadukan dengan jurus silat. Suara desingan pedang menggema di seluruh dinding gua. Ia meliuk-liukkan pedangnya. Lalu menyalurkan energi siluman pada pedang itu. Pedang itu diselimuti sinar hitam pekat. Uraga segera melompat dan mengarahkan pedangnya ke sebuah batu besar. Sekuat tenaga ia menghancurkan batu besar dengan pedangnya.


*Blar*!!!



Terdengar bunyi ledakan keras. Batu besar pecah berkeping - keping. Menyisakan kerikil-kerikil kecil. Namun disaat bersamaan pedang yang ia pegang patah begitu saja. Melihat pedangnya patah. Membuat Uraga menggeram. Lalu melemparkan setengah pedangnya dengan kesal. Lantas dengan gerakan cepat menghampiri pria paruh baya yang memberinya pedang barusan. Mencengkeram kain yang menyelempang di bahu Sang pria paruh baya.


"Ramanda! Bagaimana bisa kau memberiku pedang tidak berguna seperti ini hah?!" Uraga bertanya dengan nada tinggi.

__ADS_1


Pria paruh bayu yang dipanggil Ramanda itu bernama Jantaka. Ayah dari Uraga, dari bangsa siluman ular. Ramanda adalah panggilan untuk ayah di kalangan bangsawan alam siluman. Sama halnya di alam manusia. Kaum bangsawan memiliki panggilan formal untuk memanggil ayah.


Jantaka menatap putranya dengan rasa malu. Tadinya ia datang penuh kebanggaan. Ingin mempersembahkan sebuah pedang sakti yang ia dapatkan. Tetapi kenyataannya, pedang itu patah ditangan putranya.


"Ramanda tidak bermaksud mempermainkanmu."


Meski dengan perasaan kesal. Uraga menghempaskan cengkraman tangannya di kain Sang Ayah.


Membalikkan badan dan mengepalkan tangannya. Jantaka yang merasa tak enak hati pada putranya, berjalan mendekat. Sembari menepuk bahu Uraga.


"Putraku, ramanda tidak menyangka pedang itu tak bisa menyimpan energi besarmu. Sehingga patah seperti barusan."


Uraga mengepalkan tangannya kuat. Suara giginya bergemretak tanda menahan amarah.


"Ramanda, sekarang aku semakin kuat dengan Ajian sihir Candabhirawa. Aku tidak akan terkalahkan. Semua akan lengkap jika aku memiliki sebuah senjata sakti."


"Putraku, ramanda akan mencarikanmu sebuah senjata lain. Jadi bersabarlah untuk itu."


"Bah! Aku bukan orang yang bisa diberi sebuah jawaban sabar." Uraga menahan emosinya.


Jantaka paham betul. Putranya bukan orang yang mau bersabar. Ambisinya untuk menjadi raja diraja tak bisa dicegah. Pria paruh baya itu terdiam sejenak. Tiba-tiba terlintas di pikirannya. Senyum licik mulai tersungging di sudut bibirnya. Seraut wajah culas tergambar jelas. Sesaat kemudian, ia membisikkan sesuatu di telinga Uraga.


Uraga mendengarkan dengan seksama. Hingga beberapa detik kemudian. Matanya terbelalak.


"Ramanda sudah gila!"


Jantaka hanya tersenyum tenang.


"Jika kau ingin sebuah senjata sakti. Maka hanya itu satu-satunya cara."


Uraga hendak bersuara. Namun Jantaka melangkah kan kakinya dengan santai. Sembari mengelus jenggot tipisnya. Suara tawanya mengiringi langkah kakinya keluar gua. Kini hanya tinggallah Uraga yang seolah memikirkan sesuatu.


...****************...


Sebenarnya apa yang dibisikkan oleh Jantaka. Senjata sakti macam apa yang sedang dicari Uraga?

__ADS_1


__ADS_2