
Seusai pertarungan di Kadipaten Ngrowo. Uraga dan para siluman bawahannya kembali ke Puncak Gunung Gendeng. Seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam ikut campur dalam pertarungan antara Uraga dan Ganendra. Kini sosok berpakaian hitam terlihat berjalan di antara rimbunnya hutan belantara. Memperhatikan sekeliling. Setelah dirasa aman. Ia mengatupkan salah satu tangannya didada. Menggunakan *Ajian Malih Rupa*. Tiba-tiba pakaian hitam yang ia kenakan menghilang dan berganti dengan pakaian kebesaran seorang patih.
Mengenakan klat lengan berbentuk ular. Di kepalanya mengenakan perhiasan. Bagian dadanya terdapat sisik ular. Rambutnya panjang tergerai dan bergelombang. Seraut wajah sangar terpampang jelas di bawah sinar rembulan. Orang ini tak lain adalah Patih Wagindra. Patih kerajaan siluman ular. Tangan kanan Raja Ular Naga Gendeng. Entah alasan apa yang mendasari ia ikut campur pertarungan Ganendra dan Uraga. Tak lama kemudian, Patih Wagindra berubah menjadi sinar hitam dan kembali ke alam siluman.
...****************...
Di sebuah air terjun. Seorang pemuda tampan berbadan tegap sedang berlatih bela diri. Sebuah papan kayu ia letakkan di atas air. Pemuda itu berusaha menaiki papan. Supaya bisa berdiri di atasnya. Namun berkali-kali ia coba tetap saja gagal. Papan itu tak kuat menyangga tubuhnya. Pemuda itu tak lain adalah Ganendra. Ia mulai kesal dan memukul-mukul papan kayu.
"Kenapa aku selalu gagal!!!" Ganendra berteriak kesal.
Tidak lama berselang. Seseorang terbang dan dengan ringan melompat ke sana kemari. Hanya berpijak pada aliran air. Orang itu tak lain adalah Mpu Wiyasa, guru Ganendra. Mpu Wiyasa lantas duduk di atas papan kayu. Lalu memperhatikan Ganendra dengan seksama.
"Ngger, segala sesuatu tidak ada yang mudah dikuasai. Gunakan pikiran dan hatimu. Bukan kemarahan. Ilmu sejati bersumber dari hati dan kesabaran." Mpu Wiyasa memberi petuah. Ia melihat Ganendra memang pemuda yang berpotensi. Namun lebih banyak dikuasai rasa amarah dan tidak sabaran. Untuk bisa mereguk ilmu.
Ganendra hanya terdiam. Tubuh kekarnya basah kuyup karena beberapa kali tercebur air. Rasa dingin aliran air terjun yang membentuk danau kecil tak ia indahkan. Pemuda itu bertekad ingin menguasai ilmu sejati. Mengendalikan kekuatan aneh yang ada dalam dirinya. Ganendra kemudian mengambil nafas dalam. Mengamati papan kayu yang mengapung di depannya. Tiba-tiba sebuah daun kecil terbang tepat berada di papan. Disusul seekor burung terbang rendah dan mendarat di papan tersebut. Burung itu dengan lincah melompat ke sana kemari. Berjalan tanpa beban di atas papan yang diletakkan di permukaan air.
Pemuda itu mengamati dengan seksama. Burung dengan lincah berjalan di papan. Tanpa perduli papannya akan jatuh atau tidak. Jadi, selama ini yang menghalangi adalah pemikiran seperti itu. Maka Ganendra memejamkan mata. Kemudian menggunakan *Ajian Saipi Angin*. Ia melayang di udara. Membersihkan segala pikiran yang membebaninya. Perlahan ia menjejakkan kakinya di atas papan. Lantas berjalan perlahan. Mengalirkan energi di kedua telapak kakinya. Kemudian menggerakkan papan kayu dengan tenaga dalam. Alhasil papan kayu meluncurkan di atas air. Mpu Wiyasa yang menyaksikan mengulas sebuah senyum. Lamat-lamat terdengar sebuah kidung di kejauhan.
*Mingkar mingkuring angkara*
*Akarana karenan mardi siwi*
*Sinawung resmining kidung*
*Sinuba sinu karya*
*Mrih ketarna pakartining ngilu luhung*
*Kang tumprap ning tanah Jawa*
*Agama ageming aji*
(Menghindarkan diri dari angkara
Bila akan mendidik putra
Dikemas dalam keindahan syair
Dihias agar tampak indah
Agar tujuan ilmu luhur ini tercapai
yang berlaku di tanah Jawa
Agama pegangan para pemimpin)
Di atas bukit nan tak jauh dari air terjun. Eyang Sabdo Palon memperhatikan Ganendra yang sedang berlatih. Seulas senyum terlihat dari wajah tua namun bijaksana.
__ADS_1
"Ngger putuku... Aku menunggu kedatanganmu di Kedhaton Majapahit."
...****************...
Di suatu siang yang terik. Bertempat di Pendapa Kadipaten Ngrowo. Tiga orang muda-mudi tengah menghadap Adipati Dewananda.
"Sembah pangabekti, hamba haturkan pada Adipati Dewananda."
Tiga muda-mudi itu tak lain Ganendra, Opal dan Gayatri. Duduk bersila di depan penguasa Kadipaten Ngrowo. Mereka di utus oleh Mpu Wiyasa untuk memenuhi undangan dari Sang Adipati. Adipati Dewananda yang duduk di dampar kencana. Ditemani garwa padmi. Adipati Dewananda dan istrinya menatap Ganendra tanpa berkedip. Mengamati dari ujung kepala hingga ujung kaki. Keduanya terdiam seolah menyembunyikan sesuatu.
"Ya.. Ya... Ku terima sembah pangabekti kalian. Dari lubuk hatiku, mengucapkan terimakasih atas bantuan kisanak dan nini."
Garwa padmi Sang Adipati hanya menatap Ganendra dengan dalam. Ganendra menjadi kikuk karena ditatap seperti itu. Adipati Dewananda berdehem sebentar supaya istrinya tidak menatap Ganendra hingga sedemikian. Istri Sang Adipati mencairkan suasana dengan membuka pembicaraan.
"Kalian begitu hebat. Di usia semuda ini sudah menjadi pendekar pembasmi siluman. Melihat kalian, aku jadi teringat putraku satu-satunya. Ia memilih hidup merantau dan menjadi pendekar pembasmi siluman." ucap istri adipati.
Setitik air mata jatuh mengenai pipi tuanya. Ganendra yang menyaksikan itu. Entah kenapa hatinya menjadi trenyuh. Ada sesuatu yang mengetuk dalam hatinya. Adipati Dewananda menepuk bahu istrinya.
"Dinda, ini bukan saatnya membicarakan masa lalu. Putra kita sudah bersama Dewata Agung sekarang."
"Sejujurnya aku mengundang kalian ke sini, bukan hanya untuk berterimakasih. Melainkan ingin meminta bantuan."
"Meminta bantuan apa Gusti?" tanya Gayatri.
"Di ujung selatan Kadipaten Ngrowo terdapat rawa-rawa yang dihuni oleh seorang siluman bernama siluman Sakuta. Ia adalah siluman bulus putih. Sakuta sering mengacau penduduk di sekitar rawa. Aku ingin meminta bantuan kalian untuk memusnahkan Sakuta." pinta Adipati Dewananda.
Opal segera menyahut, "waduh biyung!!! Abot tenan!! (\*berat sekali). Gusti adipati kenapa memberi tugas seberat ini."
Gayatri yang melihat tingkah Opal kurang sopan. Segera mengatupkan kedua tangannya.
"Ampun beribu ampun Gusti Adipati. Teman hamba kurang menjunjung tatakrama dihadapan gusti."
Adipati Dewananda hanya tersenyum dan tidak merasa tersinggung atas sikap Opal.
__ADS_1
"Gusti Adipati, jika memang ada siluman yang mengacau. Maka hamba dan saudara hamba akan dengan senang hati memusnahkan siluman itu. Kami semata-mata melaksanakan tugas ini bukan karena permintaan Gusti Adipati. Melainkan keinginan kami karena tidak bisa melihat bangsa siluman mengacau di dunia manusia." ucap Ganendra.
"Lha dalah... Tapi bagaimana kalau nyawa kita terancam Gusti!! Hamba masih perjaka ting." Opal menyahut dengan tingkah jenakanya.
"Opal! Jangan tidak sopan pada Kanjeng Adipati." bentak Gayatri.
"Lho ya biarin toh. Lha wong kenyataan. Hidup kita bisa dipertaruhkan. Hemm apa tidak ada penyemangat untuk kami Gusti?" tanya Opal dengan wajah nyengir.
"Opal!!" Gayatri terlihat kesal dengan tingkah sahabatnya itu. Berusaha memukul Opal. Namun Ganendra yang duduk di antara keduanya memegangi tangan Gayatri.
"Adhi tahanlah kekesalanmu. Opal tidaklah serius. Kita sedang berada di pasewakan Kanjeng Adipati."
Sang Adipati tersenyum simpul.
"Ha!! Ha!! Mengenai imbalan, tentu tidak perlu cemas. Jika kalian berhasil. Aku akan memberikan banyak keping emas dan menjamu kalian."
Opal seketika kegirangan mendengar hadiah yang ditawarkan Adipati Dewananda.
"Gusti Adipati sungguh berhati mulia. Dewata Agung memberkahi gusti dengan kesehatan dan panjang umur."
Opal membayangkan ia akan mendapatkan banyak kekayaan dan makan sepuasnya. Tetapi suara Ganendra dengan pasti merusak angan-angan Opal.
"Ampun Gusti, hamba dan yang lainnya sama sekali tidak mengharapkan imbalan. Bagi kami bisa membantu sesama yang berada dalam kesulitan merupakan hadiah yang besar." Ganendra menolak dengan bijak.
"Lah kerja sukarela ini namanya ckck." wajah Opal langsung cemberut.
Semua orang di sana tertawa. Menyaksikan mimik wajah Opal yang lucu. Tak terasa kegelapan telah menelan Sang Rembulan. Adipati Dewananda dan istrinya menyaksikan Ganendra, Gayatri dan Opal berjalan keluar dari pasewakan. Tujuan mereka kini adalah rawa-rawa di ujung selatan Kadipaten Ngrowo.
"Kanda... Aku merasa pemuda yang bernama Ganendra itu... Mungkinkah???"
"Aku juga merasakan hal yang sama dinda. Maka dari itu aku memerintahkannya pergi mencari siluman Sakuta. Jika ia berhasil mengalahkan Sakuta dan kembali dengan selamat. Aku akan memberikan Ajian Bolo Sewu padanya. Jika Ajian Bolo Sewu menyatu dengan diri pemuda itu. Maka tak diragukan lagi ia adalah cucu kita."
Istri Adipati Dewananda hanya menatap punggung Ganendra yang semakin menjauh. Kenapa Adipati Dewananda bisa mengatakan bahwa Ganendra adalah cucunya? Ada rahasia apa dibalik semua ini?
__ADS_1