
Kemello dan carlan berusaha menenangkan putrinya agar ketakutan itu tidak menghantuinya apalagi jika saat ini persaingan untuk menjadi seorang abdi negara bukan hanya satu atau dua orang saja tapi satu provinsi nah itu berapa orang yang mau masuk kesitu
"Papa, mama aku sangat ketakutan" kata Niken sambil memeluk kemello dan carlan
"Putriku jangan takut, kamu harus yakin kalau kamu bisa, papa percaya padamu kalau kamu bisa mewujudkan cita-cita mu" kata kemello sambil mengelus kepalanya putrinya
"Papa, mama aku sangat takut bagaimana tidak takut yang masuk polisi kan bukan hanya satu atau dua orang tetapi satu provinsi nah itu sudah berapa orang itu" kata Niken menjelaskan ketakutannya
"Mama bisa membantu kamu tapi mama tidak mau jadi orang dalamnya kamu, kamu harus usaha sendiri jangan mau pakai orang dalam" kata carlan memenangkan putrinya
"Serius ma, makasih ma, yang terpenting mama selalu doakan dan restu aku" kata Niken senang karena mendapat dukungan dari kedua orang tuanya
Dino sebagai kakaknya juga ikut senang melihat hal itu
Sesampainya di sekolah semua anak kelas 12,11 dan kelas 10 cuman yang IPS nya saja
Davin Arid Mulyadi sebagai wakil ketua OSIS resmi melepaskan jabatannya, karena masa jabatannya juga sudah selesai sudah saatnya dia melepaskan masa jabatannya sebagai wakil ketua OSIS dan bakal di gantikan sama anak kelas 11 yang mau naik kelas 12 pada tahun ini
"Kepada Gubernur, walikota, bupati Nunukan, kepala sekolah, guru dan semua teman-teman panitia maupun peserta saya ucapkan terimakasih karena telah berpartisipasi atas kegiatan di SMAN 1 Nunukan ini" kata Davin Arid Mulyadi dan ada juga Wijaksono disitu dia kelas 12 IPA 5
"Kebanggaan nya kota Nunukan ini" kata Wijaksono memuji Davin
"Ya sudah saatnya kita melepaskan masa jabatannya kita, masa jabatan kita sudah selesai" kata Davin kepada wijaksono
"Sekarang anak kelas 10 dan anak kelas 11 yang menikmati masa-masa organisasi itu" kata Wijaksono
"Si Zivilia mana Vin?" tanya Widigda selaku bendahara OSIS
"Si Zivilia di rumah sakit di Tarakan" kata Davin Arid Mulyadi
__ADS_1
"Sayang banget ya si Zivilia tidak bisa hadir, mana sekolah kita seru banget lagi di datangin gubernur dan bupati Nunukan" kata Widigda
"Bukan cuman itu DPR pun datang loh, sangking banyaknya acara di sekolah kita ini, memang ya ini momen yang spesial bagi anak kelas 12" kata Davin Arid Mulyadi
"Setidaknya kita bisa merasakan momen ini tidak seperti waktu SMP kita jadi angkatan Corona" kata Widigda
"Tapi kita juga kan yang merasakan capenya dalam berpartisipasi di kegiatan seperti ini" kata Davin
"Tidak papa Vin, sesekali kita kan sudah mau lulus juga" kata Widigda
Niken dan sovtan lagi jalan berduaan
"Sayang nanti malam ada acara kan di gereja dan kamu pasti hadir kan" kata Niken
"Tentu saja sayang, apa sih yang kagak kalau untuk kamu" katanya sovtan
Lalu Niken di datangi oleh Davin
"Ada kok si Robin sama si Revi dari kelas 11 IPA 2" kata Niken
"Ketua OSIS itu kan untuk kelas 12 dan hanya menjabat satu semester saja yaitu selama 6 bulan tapi kalau masih kelas 10 mah masih harus di lantik dulu baru bisa menjadi ketua OSIS" kata Widagdo
Semua acara di sekolah juga sudah selesai mereka semua sudah pulang masing-masing ke rumah mereka begitu juga bagi anak kelas 12 mereka juga sudah mengadakan perpisahan dengan semua orang yang ada di sekolah dan mereka yang sekolah di luar daerah sudah saatnya mereka pulang kampung mereka masing-masing
"Hore masa SMA sudah selesai masa tinggal di tempat orang juga sudah selesai" kata Arkan yang sebenarnya sudah sangat muak di SMA
"Gembira sekali ya anak kelas 12" kata tayo
"Sayang nanti malam kita pergi ke gereja sama-sama ya" kata Niken dan sovtan mengangguk setuju dan mengacungkan jempol nya
__ADS_1
Dan ketika malamnya bukan hanya Niken saja yang pergi ke gereja tapi seluruh keluarganya
"Kamu mau pergi sama si tayo ya" kata Dino yang sudah tau dengan tingkah adeknya
"ya kak" kata Niken langsung pergi menuju arahnya tayo
Dan seketika acara di gereja Niken dan sovtan duduk bersebelahan
dan mereka bersama-sama berdoa kebetulan tayo di tunjuk menjadi pemimpin doa melihat Niken yang duduk di kursi depan membuat tayo merasa semangat dalam memimpin doa
Setelah semua acara di gereja selesai Niken mencari semua orang di Gereja termasuk keluarga nya
"Kamu mau kemana? semua orang sudah pulang" kata tayo
"Serius berarti kak Dino juga sudah pulang dong, dasar kakak yang gak mau bertanggungjawab dengan adeknya" kesal Niken karena Dino meninggalkan berduaan dengan tayo di gereja
"Sayang ini sudah tengah malam ayo kita pulang!" bujuk tayo
"Sayang" kata Niken
"Ada apa sayang" kata sovtan
"Sayang karena kita kan sebentar lagi lulus SMA masa SMA kita akan segera berakhir dan cita-cita kita sebagai polisi akan terwujud tapi sayang menjadi polisi itu bukanlah hal yang mudah sayang mereka harus meninggalkan keluarga mereka untuk tugas mereka" kata Niken
"Ya sayang" kata sovtan yang merasa butuh penjelasan Niken
"Jadi sayang ketika aku dan kamu sudah resmi menjadi seorang polisi kemana saja aku bertugas aku akan membawa papa dan mama ku" kata Niken
"Aku juga" kata tayo
__ADS_1
"Ya biar saja aku kena marah dengan atasanku, aku di pecat, aku di bilang manja silahkan, aku di bilang cengeng silahkan, aku di pukul habis habisan dengan atasan ku silahkan, uang bisa aku cari, kerjaan bisa aku cari tapi kesempatan untuk orang tua ku tidak akan terulang lagi sayang, dan aku juga tidak tau kapan terakhir aku melihat wajah mereka, aku tidak takut merantau tapi yang aku takutkan adalah ketika aku pulang dari rantau mama dan papa ku sudah tidak ada, silahkan suruh aku merantau sejauh mungkin tapi aku tidak akan pernah meninggalkan papa dan mama ku karena aku tidak mau pisah dengan mereka selagi mereka masih ada, aku menyesal karena SMA ini aku memilih untuk meninggalkan mereka demi pendidikan yang bagus, pendidikan yang bagus bisa aku cari tapi kesempatan ku untuk melihat wajah orang tua ku aku tidak tau sampai kapan" kata Niken menangis pecah di hadapan sovtan tayo
"Aku mengerti apa yang kamu rasakan sayang, karena sebagai aku anak pertama mengerti apa yang kamu rasakan sayang" kata tayo sambil mengelus pundaknya Niken