Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Jalan panjang selipan ongkos kak Alfa


__ADS_3

Mata kuliah terakhir di hari ini menguras tenaga Rani. Makhluk aneh itu masih saja menatap Rani tajam di sudut ruangan. Dia adalah makhluk penunggu di perpustakaan yang pernah Rani jumpai waktu lalu.


"Baiklah anak-anak selamat siang semua."


Kalimat terakhir dosen berkumis itu berlalu di susul oleh gerak jalan salah satu penjaga perpus yang membawakan tumpukan buku-buku tebal tugas para mahasiswa. Pembagian surat kedua perihal pemberangkatan para mahasiswa Minggu depan sudah di terima masing-masing. Rani dan teman-teman sekelasnya bersulang dan melayangkan jabatan tangan perpisahan. Kantin mendadak kelabu mengantarkan salaman perpisahan.


"Hei aku pasti merindukan mu" Mia meletakkan tangan di pundak Rani.


"Kita tidak akan lost contact Mi, begitu sampai disana aku akan segera menghubungi mu."


Salam berjabatan jari kelingking bersama lambaian tangan-tangan gemulai mereka. Rani duduk di halte bus dan menoleh ke sekeliling sudut keramaian.


"Kenapa perasaanku tidak enak ya?" gumam Rani.


Benar sekali tanda tanya itu, saku Rani yang tidak berisi mengingatkan dia akan ongkos dari kak Alfa.


"Ya ampun aku lupa ongkos dari kak Alfa terselip di buku tugas tadi!" kembali Rani bergumam.


Rani menepuk dahinya dan memeriksa serpihan keberuntungan uang receh di kotak pensilnya. Lima ribu rupiah tidaklah cukup untuk membawanya sampai kerumah.

__ADS_1


Setelah bus tiba, Rani hanya menggelengkan kepala dan mempersilahkan bus pergi berlalu. Dia mencari ponsel di dalam tasnya dan mencoba menelepon kak Alfa.


Tut,Tut. "Nomor yang anda tuju sedang sibuk."


Suara irama petugas operator menjadi back sound kekecewaan Rani. Terlihat Rani masih sibuk merogoh dan membongkar segala benda bermanfaat sebanyak tiga kali. Rani mengacuhkan suara klakson tersebut. Dia berpikir bahwa itu adalah suara pemberhentian bus selanjutnya.


Tin..tin.


"Berisik banget, siapa sih?" batin Rani.


Dia menoleh Binta Yang sedang menatapnya dari dalam kaca mobil.


"Ckckck, kau memang tidak pernah berubah."


Binta keluar dari mobilnya dan mendekati Rani. Rani tidak melihat tanda kemunculan seluruh pengikut Binta yang biasanya mengekor.


"Ini bukan kisah percintaan! kenapa kau tidak tau misteri penduduk bunian! biarkan aku hidup tanpa gangguan makhluk-makhluk jahat salah satuannya lebih jahat seperti mu!" Rani berkeras menatap balasan pandangannya.


Binta semakin mendekati Rani, kini dia berhasil duduk di sampingnya. Sudah lama sekali Binta ingin mengambil jiwa anak indigo tersebut. Akan tetapi semua masih tertahankan dengan raut wajah Rani di mata Binta yang sendu,penuh kasihan, dan penuh perasaan dendam terhadap Rani.

__ADS_1


"Aku bisa saja menunggu mu jikalau kau_" Ucapan Binta terhenti.


...----------------...


"Bulan merah, apa sebenarnya tujuanmu? kali ini aku benar-benar sangat curiga denganmu."


Bara melihat Rani dan Binta dari bola kristal sihirnya. Dia tidak bisa sepenuhnya mendampingi Rani. Dunia Bara dan Rani berbeda terbentang batas dinding kematian.


Bara baru saja terlepas dari kematian kedua. Dia sedang memulihkan kekuatannya.


"Oh tidak! Rani kau harus membatalkan kepergian mu kembali ke perangkap Bulan merah! Mereka sedang menjebak mu!"


bara berbicara sambil memutar bola kristal.


...----------------...


"Kau tau Binta, aku sangat membencimu!" bentak Rani.


Rani berjalan berbalik arah dan berlari meninggalkan Binta. Dia menarik tangan Rani di satu titik tumpu yang berjarak satu meter. Tangan dia seolah berubah menjadi ban karet yang elastis.

__ADS_1


"Dingin sekali tangan si makhluk jahat ini! apa yang harus aku lakukan sekarang?"


__ADS_2