
Seiring pilu duka menyayat kalbu. Kaki Rani berat melangkah menghadapi lorong waktu
Langit tampak berbeda namun tanah masih tetap sama berpijak. Di depannya masih banyak rantai misteri yang belum terpecahkan
Betapa hanyut dalam cerita mistis
Rani hanya berharap seberkas sinar di hidupnya.
Bernafas dan masih berpijak di bumi yang sama. Akan tetapi Rani menjalani dua dunia seakan melayang seperti makhluk yang gentayangan. Pondasi seakan belum Kokoh di hati Rani. Lika-liku anak indigo tidak ada ujungnya. Petualangan Rani di penduduk bunian masih menjadi perbincangan hangat. Penduduk bunian itu memang ada, Rani masih jalani, berharap pasir waktu berhenti mengikuti arah takdir yang baik.
...----------------...
"Cika..!"
Rani dan Alfa memanggilnya.Tidak ada sahutan dari kamar Cika. Terdengar suara aneh yang seolah mengeraskan rahang. Dia berdiri tegak dengan nada membusung.
"Cika ! Apakah yang sebenarnya terjadi cepat jelaskan kepada kakak!"
Dari pagi tadi Alfa sudah memeriksa sekeliling wilayah rumah. Hanya pintu kamar Cika yang masih tertutup.
"Argh!" suara jeritan yang menakutkan dari dalam kamar Cika.
__ADS_1
"Apakah kak Alfa mendengarnya?"
Alfa terdiam membisu menatap sekitar.
Dubraggh.
Alfa mendobrak pintu kamar Cika. Kamar Cika sangat berantakan seperti kapal yang pecah.
Mereka tidak menemukan kehadiran Cika disana.
Ting..
Suara pesan masuk.
...📩"Kak Alfa.. Cika ijin keluar Terimakasih"...
Alfa menepuk dahi bersender di dinding. Cika meminta ijin kepadanya disaat dia sudah berada di luar rumah. Kecemasan Alfa timbul untuk memberikan jawaban kepada orang tuanya jika pulang kerumah.
...----------------...
"Kau tampak berseri setelah berhasil menjalankan tugas."
"Aku ingin seperti Rani."
__ADS_1
Cika dan Binta duduk di pinggir sungai bunian di jaga oleh makhluk berambut putih.
"Kau berikan dia air ini, maka segalanya akan menjadi milik mu."
Binta mengangkat tipis bibirnya dan menghilang dari hadapan Cika. Seperti ilusi, Cika kini duduk di pinggir sungai yang sangat asing baginya. Di tangannya masih menggenggam botol air berwarna hitam.
"Apakah aku sudah keterlaluan dengan Rani?" gumam Cika.
Jauh di dalam benak Cika sangat ingin menggantikan posisi Rani. Keluarga yang utuh dan harmonis segalanya Rani dapatkan tidak dengan Cika. Dengan bujukan Binta kini Tamsi menjadi korban. Tamsi yang malangnya dia terdampar di sungai dan belum tau keberadaannya dimana. Pada waktu lalu, saat Tante Ela mengajak Rani ke Jepang. Rani sudah mendapat firasat tidak baik. Sudah banyak sekali mimpi-mimpi buruk Rani yang belum sempat dia beritahu kepada ibu.
...----------------...
Hujan masih saja jatuh, Rani dan Alfa kembali menuju kamar mereka masing-masing. Dari balik jendela, Rani memperhatikan tetesan-tetesan air di dedaunan. Kenangan itu masih teringat jelas di pikirannya, kebahagiaan bersama para sahabatnya yang di dunia nyata dan di dunia ghaib.
"Ketika hujan akan turun, maka awan hitam pasti akan mencariku untuk berkumpul meneteskan air. Apakah air itu hanya kenangan indah bersama sahabat ku, sejatinya hidup memberikan kenangan suka dan duka."
Hujan memang masih saja turun namun hari ini Rani bertekad untuk tidak menurunkan hujan di pelupuk matanya.
"Pulanglah Bara, aku sangat lelah", batin Rani ingin menjerit dan berlari menuju wilayah bunian.
Rani tertidur dengan lampu lentera di tangan.
"kak Rani, pintu belakang sudah aku buka"
__ADS_1
Sosok makhluk kecil kembali membawa janjinya kepada Rani.
"Ayo ikutlah denganku."