
Sudah selesai, kini tangan Rani sudah bebas bergerak tanpa bantuan. Pintu kamar tertutup sempurna tanpa ada yang berganti masuk memeriksa keadaannya.
"Tidak untuk kemanapun titik"
Kak Alfa mengunci pintu menuju ke halaman belakang rumah. Ayah dan ibu mereka masih sibuk di luar kota, kak Alfa sebagai anak paling tua yang mengatur keadaan rumah dan memperhatikan sang adik.
"Jangan kemana-mana ingat, kalau kaka pulang kerja tidak ada Rani maka Kaka akan benar-benar marah."
"Siap bos, tapi jangan lupa belikan coklat ya", sahut Rani.
"Ya baiklah tapi ingat pesan kakak, bye"
Rani mengangguk setuju dan mengantar kakaknya sampai ke depan pintu depan.
Dia mencari-cari di sekeliling ruangan, makhluk bunian itu belum juga tampak. Cika juga tidak tampak karena selalu menghindari Rani dengan berbagai alasan kenapa Alfa.
...----------------...
"Kakak, aku sudah mendapatkan informasi"
"Cepat beritahu aku sekarang."
__ADS_1
Makhluk kecil meraih tangan Rani dan menarik menuju depan pintu kamar cika. Bungkusan permen milik Cika masih menjadi incaran hingga saat ini. Entah apa yang membedakan pemberian permen Rani dengan kepunyaan Cika. Mengapa tidak, warna pink berbentuk boneka menambah semangat makhluk bunian kecil itu untuk mengincar.
"Akan aku belikan engkau seperti itu tapi jangan ambil milik Cika, paham?"
Makhluk kecil itu kembali bersama Rani menuju kamar.
"Tamsi ada di dekat sungai bunian dan terperangkap di dalamnya!"
"Nanti malam kita akan kesana, tugasmu adalah membuka pintu dapur."
...----------------...
Bara yang sudah menyepakati perjanjian dengan Okura untuk memulihkan tenaga. Bara tidak berniat sedikit pun untuk menukar Rani dengan Okura. Dia masih mengingat segala ke curangan Utra dan Okura di hutan terlarang.
Bara masih saja tidak memikirkan kematiannya yang sudah di ujung tanduk. Kalau Okura sampai tahu rencana Bara pasti dia tidak akan mau menerima. Bara duduk dahan pohon menunggu kedatangan Okura.
"Kenapa lama sekali Membawa obatku, tidak bisa di andalkan!"
Hutan terlarang menjadi saksi kesendiriannya menunggu kabar Okura. Kulit-kulit Bara sudah sepenuhnya terkelupas, tulang-tulang kakinya sudah terlihat jelas.
...Misteri pemberhentian pelabuhan Perjalanan dua dimensi seperti perjalanan pasir waktu. Dua kemungkinan yang pasti Rani jalani antara nasib dan takdir....
__ADS_1
Malam semakin ralut, kabut hitam menambah pekat di langit. Lentera Rani menyala menerangi jalan dua dimensi. Makhluk kecil itu sepakat dengan lima bungkusan permen pemberian Rani. Dari balik dinding kamar Rani dia menampakkan wujud dan duduk di pojok kamar.
"Kak.."
Panggilan yang lembut bercampur ngilu. Walau bagaimanapun Rani manusia biasa yang mempunyai rasa takut mendengar suara yang menyeramkan.
"Bisakah kau biasa saja memanggil ku? Kali ini suara mu Terdengar aneh dan membuat aku takut."
"Ihihih, aku ingin bernada tinggi takut kakak marah lagi"
Sang makhluk kecil kembali menghilang dari balik tembok kamar Rani.
Tuan Thomas pemimpin barisan makhluk bunian yang berada di belakang rumah Rani sepertinya menampakkan wujud aslinya.
Sedang apa dia? Saat Rani sudah bersiap menuju wilayah bunian, ada sesuatu yang mengganggunya.
Tok, tok.
Suara ketukan dari dinding kamar Rani. Rani mendekati dinding dan menempelkan telinganya rapat-rapat.
"Aneh sekali, siapa yang sedang mempermainkan ku?"
__ADS_1
Rani mengangkat tangan ingin membalas suara ketukan tersebut.
"Hei, Jangan di balas ketukan itu!"