
Apakah seharusnya para anak indigo tidak terlahir ke dunia?
Mengenai jantung gadis bermata biru bagai jantung segar yang di tunggu bulan merah. Tidak hanya untuk mendapatkan hal yang istimewa bagi bangsa ghaib. Namun untuk mengurangi populasi para manusia penembus dunia ghaib di dunia ini. Masih saja bulan merah bersikeras menghancurkan dengan berbagai macam cara. Hari ini Rani di pindah ke ruang ICU, sepertinya Rani sedang mengalami masa Krisis yang sangat berat. Hampir saja tadi malam nafasnya berhenti bersama detak jantungnya.
"Tidak untuk ventilator, ayah! anakku akan segera bangun!", bentak ibu bercampur tangis.
"Tapi Bu.."
Perdebatan ibu dengan ayah yang terhenti karena Isak tangis ibu yang semakin keras.
Dari kejauhan makhluk bunian mengamati percakapan mereka dan melihat Rani yang masih tertidur panjang. Dia menghilang dari bawah pohon dekat jendela kamar Rani dengan membawa berita rumor akan jiwa yang sekarat ke bangsa Makhluk halus. Tidak hanya menyampaikan kabar menuju penduduk bunian, tapi juga ke seluruh penjuru makhluk ghaib di dua dimensi.
Sebagian makhluk penduduk bunian masih ikut berduka, apakah karena mereka pernah mengajak Rani bermain sedari kecil atau karena niat lain. Para makhluk anak kecil di wilayah bunian ikut menangis karena tidak mau berpisah dengan teman kecilnya waktu di pohon bendo. Tempo lalu, Rani kecil yang masih polos selalu di ajak oleh mereka bermain di bawah raksasa.
__ADS_1
Seakan bumi juga masih tetap menangis dengan deras hujan yang jatuh sampai membasahi wilayah penduduk bunian. Hari-hari berlalu telah di habiskan oleh Rani di atas tempat tidur. Ruangan itu hanya berbunyi suara monitor grafis. Sementara Alfa yang sudah bangun dan perlahan bisa menggerakkan tubuhnya. Perasaan Alfa yang hancur dan kecewa seumur hidup karena tidak bisa menjaga adiknya.
Seharusnya aku menepikan mobil saat itu! seharusnya aku tidak kaget dan ketakutan! batin Alfa.
...----------------...
"Kenapa Rani belum bangun juga?"
Tamsi melihat gigi taring Bara yang lebih panjang dari taring harimau, kemudian si kucing tampan sesekali menggelengkan kepala.
"Ya, ya, sudah simpan lah gigimu itu, aku menjadi semakin pusing dan tidak bisa berpikir".
"Apakah rencana mu wahai kucing!", amarah Bara menggelegar.
__ADS_1
Matanya merah menyala, hampir saja Bara hilang kendali dan membanting Tamsi yang duduk di samping..
"Memang benar,hanya Rani yang bisa mengendalikan emosi gila-mu, pasar penduduk bunian pasti akan berantakan jika kau kobarkan api dari rahang itu".
Okura yang semula ingin menuju Bara dan Tamsi menjadi mengurungkan niat melihat keadaan Bara yang tidak terkendali. Dari kejauhan Okura berharap kalau Bara akan menghabisi kucing hitam yang itu karena tidak bisa menahan emosi.
Ketika Tamsi berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Bara. Sepuluh langkah kakinya yang terhenti karena tangan Bara mengulur memanjang menahannya. Si kucing hitam yang semula sabar menghadapi Bara kini membalikkan tubuhnya yang ngilu akibat remasan tangan Bara.
"Lepaskan, ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar! aku sudah mengambil Keputusan yang terbaik untuk Sahabatku."
Bara mengangkat Tamsi dengan angkatan satu tangannya. "Kau mau ramalan itu menjadi nyata?"
"Bara! sepertinya aku harus merubah wujud asli ku untuk melawan mu sebelum aku menjalankan keputusan."
__ADS_1