Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Perihal Makhluk


__ADS_3

Rani di larikan ke rumah sakit yang berjarak beberapa kilo meter dari villa pantai laut biru. Kini leher di perban, air mata mengalir di pipinya. Seolah mimpi buruk yang sangat mengerikan sepanjang hidup. Sekarang dia sedang berbaring di kamar villa dengan memandangi ke arah pantai. Kaca villa yang tembus pandang membuat rasa sakitnya terobati. Di tambah Tamsi yang kaki-kakinya seperti atraksi tukang kusuk.


"Miaw, miaw"


Rani tersenyum dan mengangkat kaki kanannya, lalu dia berkata, "Sudahlah Tamsi, aku sudah sehat ! cukup temani saja aku sekarang."


Suasana yang begitu indah berubah menjadi mencekam. Kain gorden tersibak menutup jendela dan cahaya pun menjadi gelap.


Apa yang sedang terjadi ? leherku sangat kaku dan aku tidak bisa menjerit, gumam Rani.


Terlihat wanita berambut panjang yang menutupi wajah lalu mendekat.


" Bolehkah aku ikut bersamamu? aku sangat kesepian" suara serak hantu berbaju putih.


Hantu kuntilanak menghampiri Rani. Dia tidak bisa menjerit dan mulut seperti terbungkam tertutup rapat. Suara tangisannya terdengar di lorong kamar-kamar villa. Tamsi mendekati hantu itu dan beranjak menghilang dari pandangan Rani.


Terimakasih Tamsi! batinnya yang sedang berusaha berbicara.


"Ahihih kak, aku ketemu temen aku di dekat pantai itu kak!"

__ADS_1


ucap makhluk bunian yang mengikuti Rani dari belakang rumahnya, entah dari mana arahnya dia muncul di ruangan Rani.


"Baiklah adik kecil, kini aku bisa berbicara kembali entah mengapa Kuntilanak itu membuat bungkam rongga mulutku. Pulanglah kerumah mu dan jangan menggangguk", kata sambil Rani mendorong makhluk itu.


Sore hari Rani di bawa ibu ke pinggir pantai sambil menikmati sunset, well mereka bertiga bersama Tamsi. Ini adalah liburan yang indah dan penuh derita yang Rani rasakan. Dari kejauhan dia melihat makhluk yang keluar dari dalam lautan. Rani mengurungkan niat untuk ikut berenang di pinggir pantai bersama ayah dan kak Alfa yang sudah duluan disana sebelum mereka menyusul.


"Ibu, Rani melihat ada makhluk yang keluar dari dalam lautan ! ayo ajak ayah dan kak Alfi pulang Bu perasaan Rani tidak enak", kata Rani sambil merangkul ibu.


Ibu menghampiri kak Alfa dan ayah, mereka berlanjut kembali ke villa dan menikmati makan malam. Seusai kegiatan mengisi liburan , mereka bermalam kembali di villa tersebut dan terlelap dengan menikmati suara deburan ombak di pesisir pantai. Rani malam ini tidak bisa memejamkan matanya, lehernya sangat ngilu dan terasa sangat kejang. Perlahan dia melepaskan perban di lehernya.seandainya


"Seandainya saja aku hari ini bisa berenang di pantai, mengapa hidup ku seperti ini?"


" Rani, ini aku bara", Bara terus saja mengetuk pintu kamar Rani.


" Masuklah bara, kamu juga bisa menembus tembok. Kenapa harus mengetuk pintu kamar ku?" tanya Rani sambil tersenyum.


" Ahahahahhhh aku harus menggunakan adat istiadat bara, lancang sekali aku langsung memasuki kamar mu!"


namun tawa bara berhenti saat melihat memar dan luka di leher Rani.

__ADS_1


"Siapa yang melakukannya Rani? akan aku telan dia, aku baru seharian meninggal kan mu karena penduduk bunian memanggil ku perihal patok payung Hitam pembatas wilayah kami, tunggu jangan bergerak!"


bara memegang leher Rani dan tangannya tampak mengeluarkan cahaya merah.


"Aduh sakit sekali!"


Rani menangis dan memeluk bara.


Tamsi menatap bara tajam dan merubah wujud.


"Baiklah kucing tampan. Aku hanya berusaha mengeluarkan racun bekas sayatan kuku iblis itu", kata bara.


" Aku sudah mengobatinya sebelum kau datang bara, perlahan racun itu akan keluar dengan sendirinya", sahut Tamsi.


Bara tertawa terbahak-bahak dan berkata," Aku ini sudah tidak sabar ingin menuntaskan pekerjaan mu. Aku juga berniat membunuh pelaku yang mencelakai Rani!"


Rani tertegun dan melongo , dia sangat terkejut kucingnya bisa berbicara.


"Apa itu kau Tamsi?" tanya Rani sambil mendekatinya.

__ADS_1


__ADS_2