Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Pembatas dimensi


__ADS_3

Kak Alfa menyetir mobil menuju gerbang Kampus, sinyal GPS yang kak Alfa pasang untuk melacak keberadaan Rani sukses mendapatkan adik kesayangannya. Seakan menjadi sebuah kejutan kak Alfa membuka jendela mobil dengan kacamata hitam.


"Ayo adikku sayang."


Rani tersenyum lebar tidak kuasa menahan tingkat lucu sang kakak.


"Hai kak Alfa.."


"Eh ada Mia, ayo ikut bareng."


Tamsi melompat dari kaca mobil menuju pundak Rani. Binta mengamati Tamsi dengan menatap tajam ke arahnya.


Tinn..tin.


Klakson mobil meninggalkan jejak kepulangan mereka.


...----------------...


"Aargh, argh."


Teriakan Bara di hutan terlarang. Bara sendirian menunggu sisa kematian.

__ADS_1


Dia sudah tidak menghiraukan seluruh rasa sakit yang telah dia derita.


"Rani, aku sangat menghawatirkan mu!"


Dengan sisa kekuatan dia memutar bola kristal dan melihat Sahabat yang sudah lama berpisah. Pertengkaran dengan wanita penyihir pemilik rumah kucing mengombang-ambing pikiran yang hampir mengikuti nafsu kejahatan. Bara memang penyihir terhebat dari penduduk bunian. Akan tetapi tidak bisa melihat masa depan dirinya sendiri.


"Jadi bulan darah itu sudah mendekati Rani", gumam Bara.


Binta sesosok makhluk jadi-jadian yang sangat menginginkan kematian Rani. Kegagalan Nara untuk membunuh Rani melalui ular hitam membuat Binta murka.


"Terimakasih kak Alfa, selamat tinggal Rani dan Tamsi."


Pemberhentian selanjutnya menjemput ibu di pasar. Tidak seperti kucing pada umumnya, Tamsi tetap berada di pundak Rani walau sedang berlalu di tengah keramaian sekalipun. Kak Alfa membawa tas belanjaan ibu dan meletakkan di bagasi. Sinar terik matahari yang membuat dahaga, mereka duduk di salah satu warung dekat pasar. Sambil menunggu pesanan datang, Rani memperhatikan Anak-anak kecil berlarian memakai cawet di sudut pasar.


Salah satu dari mereka berhenti berlari. Dia memperhatikan Rani dari kejauhan dan mencegah salah satu temannya yang mengambil benda dari balik tas ibu-ibu. Makhluk yang lainnya juga berhenti berlari dan melihat Rani.


"Oh jadi mereka bukan bagian dari makhluk bunian dan mereka adalah tuyul!" kembali Rani bergumam.


Rani menyangga wajah dengan kedua tangannya. Pemandangan di tengah kesibukan pasar dunia nyata sangat jauh berbeda dengan pasar bunian.


"Rani sayang cepat habiskan minumannya nak."

__ADS_1


"Ya Bu, Rani lihat di pasar banyak anak-anak berkepala botak memakai cawet berlarian seperti gerakan kelinci."


"Kaka mau cerita, tadi sewaktu kakak keluar dari mobil ada yang menarik celana kakak."


"Syukurlah untung celana anakku tidak di ambil mereka."


"Ahahahh.. kak Alfa langsung beli celana baru dong Bu di pasar ini!" seru Rani.


Lirikan tajam kak Alfa melambai pertemuan yang sengit. Kak Alfa mencubit pipi Rani dengan senyum tipis kemenangan.


"Ibu lihatlah kak Alfa jahat."


"Loh udah besar malah ribut di pasar, sudah kalian ibu tinggal saja biar ibu bawa mobil pulang berdua sama Tamsi."


Setiba di rumah, Rani berlari menuju halaman belakang rumah. Dia sudah memikirkan semalam suntuk akan kehilangan pintu fortal tempat terakhir kali dia kembali menuju dunia nyata. Tujuan Rani terakhir kali adalah menuju wilayah bunian dan Mencari makhluk yang berwujud kakek-kakek tua. Satu langkah menuju pasar bunian. Lengan Rani di tarik oleh Tamsi di sambut dengan rintik hujan.


"Rani.." panggil kak Alfa.


Rani masuk menuju kedalam rumah. Dia sudah membulatkan tekad mencari dimana keberadaan Bara.


"Duduklah nak."

__ADS_1


Keluarga besar tampak begitu serius memandang Rani. Ayah, ibu, kak Alfa dan Cika berkumpul mengelilingi Rani.


"Rani sayang kemarilah sebentar, ada hal penting yang ingin kami sampaikan."


__ADS_2