Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Asteroid ghaib Bara


__ADS_3

Pria tersebut hanya singgah sebentar dan berpamitan pulang. Dia mengatakan akan kembali lagi. Gelagat pria yang aneh namun mendapat sambutan hangat dari keluarga Rani membuat para tamu betah dan ingin berlama-lama berbincang. Akan tetapi waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam mereka pun berpamitan hendak pulang.


"Terimakasih sambutan nya, ijinkan saya membawa adik esok lusa pak, Bu."


"Ya sama-sama jangan sungkan untuk bertamu."


Ternyata pria itu ingin memberitahu bahwa adiknya yang berumur empat tahun juga mempunyai mata batin seperti Rani. Sepertinya dia ingin Rani menanyakan sesuatu kepada sang adik. Hal ini masih menjadi misteri bagi mereka.


...Angin petir dan dentuman dahsyat mengamuk berbentuk seperti asteroid raksasa....


"Hiya..."


Malam hari yang suram ini, Bara mengamuk meluluhkan lantakkan kehidupan dua dimensi. Tornado api berputar langit gelap bertemu corak hitam menuju ke tanah, warna kilatan semakin mengerikan dari biasanya, entah apa yang membuat si penyihir bunian menjadi murka. Terdengar seperti bunyi puluhan kereta api yang lebih cepat berbunyi semakin keras. Pusaran api itu berkumpul semakin besar,tidak ada yang bisa mengendalikan amukan sihir Bara.


"Apa sebenarnya masalah semua penyebab keributan ini? penyihir gila itu akan membunuh kita semua!" ucap Makhluk bunian yang berkumpul dari kejauhan.

__ADS_1


"Kita harus keluar dari sini!"


"Bus hantu belum tiba."


Peluang untuk menyelamatkan diri dari sihir terbesar Bara adalah sangat minus. Sepertinya mereka harus pasrah dengan semua keadaan ini. Negera bunian seolah berubah menjadi Negara petir. Terlihat jelas pantulan kobaran Api sampai menembus dunia nyata. Tamsi yang berdiri di jendela kamar Rani terus saja memandangi halaman belakang rumah.


"Kembali lah ke tempat tidur mu Tamsi, aku sangat mengantuk."


Miawww. Kucing tampan itu menarik perhatian Rani ikut menoleh ke luar jendela.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Rani menuruni anak tangga, pintu rumah sudah terkunci. Ayah,ibu dan kak Alfa sudah mematikan lampu kamar mereka.


"Bagaimana aku sampai kesana?"

__ADS_1


"Kau tunggu disini saja Sahabatku,biar aku yang melihatnya."


Sepertinya Bara tidak berniat merusak atau menghancurkan wilayahnya bunian dan penduduk bunian. Hutan terlarang menerbangkan burung-burung dan makhluk-makhluk aneh seolah saling memangsa disekitarnya. Pemandangan yang menakjubkan makhluk yang mirip serigala jadi-jadian,semuanya ikut menyerang bersama amukan Bara. Batuan membawa bentuk lubang pusaran besar dan semakin besar. Rani mencari cara untuk keluar, dia perlahan membuka pintu kamar Kak Alfa dan mengambil kunci duplikat rumah.


"Sebentar saja kak, Rani akan kembali"


Rani yang terburu-buru berjalan menuju belakang rumah sudah tidak melihat lagi bayangan Tamsi. Dia sangat khawatir mendengar keributan dari arah bunian. Sedikit lagi bara akan mengeluarkan ledakan bola api jika tidak mendengar panggilan suara Rani yang menghentikan nya.


"Bara, Tamsi!" jerit Rani menuju wilayah bunian.


Bara yang sangat ganas, dia tidak pernah semarah ini. Malam yang bersinar menampakkan wajah mengerikan Bara. Bisanya langit bunian tidak terlihat cahaya pantulan bulan yang kini bercampur sinar kobaran api. Rani begitu terkejut melihat penduduk bunian berkumpul di sekitar area wilayah bunian. Masalah ini sangat serius. Rani Sepertinya juga tidak bisa mengendalikannya. Untunglah ini adalah wilayah ghaib. jika tidak pasti penduduk bunian akan lenyap seketika. Api memecah langit malam bersama Sambaran petir Membawa abu dan tumpukan asap tebal. Asap tebal tersebut membuat Rani tidak bisa melihat apapun. Tamsi dan Rani terpisah membuat, akibat asap dan kobaran api membuat si kucing hitam sulit menemukan Rani.


"Rani awas!"


Tamsi berlari menggapai Rani. Seolah Rani sudah siap di hujan kan bagai bola api.

__ADS_1


"Arrgghh"


__ADS_2