Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Catatan Rani


__ADS_3

Rani sangat gelisah di malam ini setelah peristiwa yang di alami Tamsi. Seharusnya kalau Tamsi tidak memakan ular hitam itu pasti dia tidak sesakit ini, gumamnya.


Hati Rani sudah tidak karuan lagi dan dia tidak sabar menunggu hari esok.


Rani mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Mia :


Kamu wajib kerumah aku sekarang Mi, penting.


Nara hampir mau membunuh gue.


Balasan pesan dari Mia


Aku lagi di luar kota sama keluarga nih Ran. Besok aku balik dan langsung kerumah kamu.


Salam sayang dari Mia


...----------------...


Setelah perjamuan panjang semua keluarga satu persatu bubar teratur dan di akhir pintu ada Tante Selfa membisikkan sesuatu di telinga Rani; " Tante mendengar kejadian yang di alami Tante Ela, besok Tante main kerumah lagi ya".


Tante Selfa melambaikan tangan ke arah Rani dan menutup pintu rumah.


"Apa yang di katakan oleh kakaknya ibu?" tanya ibu ke Rani.


"Tante mau main kerumah lagi Bu", sahut Rani.

__ADS_1


"Sudah istirahat lah nak", kata ibu sambil menggandeng tangan Rani ke kamar.


Ibu memberikan obat ke Tamsi dengan sendok sedikit demi sedikit.


Ibu berkata, "Sudah tidur ya besok pasti Tamsi baikan kok."


Rani menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke Ibu.


Cekrekkk ( Suara pintu yang di tutup oleh ibu).


Rani mengambil diary dan menulis coretan hatinya:


✓Manusia hidup di dunia dengan suratan takdir sang pencipta. Ada banyak misteri yang di dunia yang tidak semua dapat terungkap. Perencanaan keajaiban dan anugerah atas izin_Nya.


✓Manusia hidup juga berdampingan dengan makhluk halus atau tidak kasat mata yang berada di sekitar kita. Hanya orang tertentu yang bisa merasakan kehadirannya.


Coretan hati -tulisan berlanjut lain hari.


Rani menutup bukunya, sampai tengah malam itu dia tidak bisa memejamkan kedua netra.


Tok, tok, tok. ( Suara ketukan pintu kamar nya).


"Aku harus berani. Tamsi sedang sakit,batin Rani.


"Kak Rani ! kak! aku masuk ya", kata sang makhluk.

__ADS_1


Rani hanya diam dan mendekati Tamsi. Namun pintu terbuka lebar dan ada sesosok anak kecil mendekati Rani dan berkata ; "Kak Rani , kak aku mau minta boneka boleh?".


"Aku tidak mengenalmu maka pergilah ke asalmu", jawab Rani.


"Hiks, hiks, aku tidak jahat kok kak! ibu ku sedang mengambil daun di belakang rumah jadi aku main kesini", kata makhluk itu sambil menarik baju Rani.


"Jangan bangkitkan emosiku, akhir-akhir ini pikiran ku sedang gelisah! ya aku tau bangsa bunian tidak bisa membedakan Waktu di dunia malam atau siang karena kalian tidak takut matahari seperti kebanyakan makhluk lainnya", jawab Rani.


"Aku ini adalah teman dari wanita yang membantumu tadi siang, upahnya berikan boneka untuk kami kak, ihhih " , kata makhluk itu sambil tertawa melengking di telinga Rani.


Rani menyodorkan bonekanya dan berkata; "Nah kau harus pergi sekarang."


"Terimakasih kak, tapi kau harus menutup jendela kamar yang terbuka itu sebelum hantu yang suka terbang itu mengintip mu, ihihih."


Makhluk itu pergi keluar dan menutup pintu kamar Rani.


"Ya aku tau kuntilanak dan laki-laki tua itu suka mengintip ke arah kamar ku jika jendela terbuka" , kata Rani.


Sebenarnya sebagai manusia normal aku sangat merinding. Kenapa aku begitu lupa menutup jendela kamar, batin Rani.


Dia menutup jendela dan menutup rapat tirai. Rani mendengar suara manja kucing hitam berjalan menuju depan pintu.


"Kucing tampan, akhirnya kamu bangun!" kata Rani tersenyum ceria.


Rani mengangkat Tamsi dan menggendongnya. Namun dia sekejap menghilang dari tangan Rani.

__ADS_1


Tamsi kemana? batin Rani sambil tergesa-gesa mencari di berbagai sudut ruangan kamar.


__ADS_2