Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Bunuh saja aku


__ADS_3

"Aku ingin kau mati!" makhluk yang semula tadi Rani pikir adalah Bara.


Dia membuka penutup jubah mengeluarkan sepasang bola mata yang berwarna merah menyala. Kuku panjang berwarna hitam tangan penuh nanah kuning mengelupas di sela-sela rongga kulit. Wajah yang mirip dengan tengkorak hidup mengeluarkan air liur berwarna hitam yang siap memangsa. Makhluk menyeramkan itu terbang menuju Rani dengan posisi kedua tangan ingin mencekiknya.


"Aarghh!" jerit Rani.


Dia baru saja terbebas dari maut kini seolah masuk perangkap harimau. Apakah penderita semalam belum cukup?


Rani tidak bisa berlari namun hanya bisa berusaha berjalan cepat sekuat tenaga. Cukup sudah dia berlari lagi, Rani berpikir untuk menghadapinya walau hari ini adalah akhir dari segalanya.


"Siapapun yang mendengar suara hatiku ini tolong sampaikan pada semua orang yang aku sayangi.."


"Hentikan! ini wilayah ku! ingatlah hukum penduduk bunian!"

__ADS_1


Seorang kakek tua yang pernah Rani temui di Penduduk bunian menarik Rani kedalam pohon besar. Rotasi waktu yang membuat kepala Rani seperti berputar-putar. Rani membuka mata seakan tersadar dari kejadian tadi. Nafasnya masih terengah-engah.


"Aku dimana?"


Sekeliling Rani hanya tumpukan rumput liar dan terdapat sebatang dahan pohon yang menopang tubuhnya. Kakek tadi hanya bisa mengeluarkan Rani dari wilayah bunian namun tidak bisa ikut menuju dunia nyata. Tembusan pohon besar tadi adalah hutan yang asing baginya. Rani berdiri tegak dan berjalan mencari jalan keluarnya, tidak ada kompas,seteguk air ataupun bekal untuk menjelajahi hutan. Rani sendiri an dan ketakutan.


"Ibu"


"Aku bahkan belum sempat membahagiakan ibu, apakah aku benar-benar akan mati?"


Ini adalah dunia nyata, Rani tidak membawa lentera ghaib yang biasa dia pakai berjalan menuju wilayah bunian. Senja di batas cakrawala, nasib anak indigo tidak lah seistimewa mata birunya, untuk apa bisa melihat makhluk ghaib namun tidak bisa menjaga dirinya sendiri? Sepanjang nafas bersama detak jantungnya di hantui dengan perasaan takut dan gelisah.


Langit mulai gelap dan suasana lingkungan semakin mencekam, burung di hutan sesekali mengabarkan malam telah datang. Rani sangat haus dan kedinginan. Tidak ada Bara dan Tamsi, setiap jalan dia membuat jejak serpihan rambut yang di potongnya. Ya, dari awal Rani memasuki wilayah bunian dari lorong waktu belakang rumahnya dia telah memotong kecil rambut sebagai jejaknya. Rani duduk di bawah pohon dan memeluk lututnya. Kepalanya terasa sangat pusing, demam menyerang tubuhnya karena selimut kabut tebal dinginnya hutan menusuk tubuh ramping.

__ADS_1


"Rani.." kucing tampan yang pintar itu menemukan Rani dengan keadaan yang kacau. "Sahabatku"


...----------------...


Tidak dengan mengadukan semua beban ini kepada keluarga besarnya, Rani bersikap seolah-olah baru saja dia baru dari belakang rumah bersama Tamsi.


"Kamu dari mana? sekarang di waktunya makan dan minum obat bersama kakak."


"Rani abis jalan-jalan di belakang rumah sama Tamsi kak, ehehh."


Rani bukan menertawakan kak Alfa atau mendapati apapun yang lucu di hadapannya. Dia membalas tawa nenek bunian memberi kode akan kebohongan yang terucap dari bibir Rani. Nenek pemakan pinang dan daun sirih yang selalu mengamati gerak-gerik Rani.


"Gadis kecil yang nakal, aku melihatmu!" ucapnya menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2