Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Nimbus


__ADS_3

Pegangan erat tangan dingin bagai bongkahan es di kutub Utara.


"Kini aku berhasil memegang mu", bisik suara makhluk aneh dari belakang badannya.


Kilatan petir menyambar dan menyumbangkan pepohonan-pepohonan di sekitar pantai. Ombak pasang laut seolah berapi terkena sinar Sambaran kilat yang mengerikan. Api terbang melahap tangan makhluk yang memegangi Rani dari tadi.


"Rani cepat susul keluarga mu sekarang, angin kumulonimbus akan segera datang dan membawa banjir."


Bara membukakan jalan kepada Rani dengan penerangan sorot mata menyala keluar ruangan villa.


"Bawalah lentera ini , kenapa kau sudah melupakannya"


"Rani ! semua orang telah mencari mu di sekitar villa, kita harus pulang sekarang"


Ibu dan kak Alfa kembali masuk ke dalam villa dan membereskan barang-barang dan bergegas mengambil koper-koper mereka.


"Tamsi mana dek? Kaka tidak melihatnya dari tadi."


kak Alfa tau bahwa Rani tidak akan pulang tanpa Tamsi.


"Tunggulah beberapa menit lagi kak, si kucing hitam akan datang menyusul"


"Ayok anak-anak masuklah ke dalam mobil, waktu berlibur telah usai"


"Miawww"


kak Alfa berlari mengejar Tamsi yang berada di ranting pohon. Mata Tamsi tertuju pada atas mobil. Makhluk seperti parasit yang membuntuti mereka.


"Pergilah makhluk jahat" gumam Rani.

__ADS_1


"Tidak perlu di kejar kak, Tamsi kucing jinak"


"Ayolah kucing black kenapa kau seperti adik ke dua ku saja."


Rani tersenyum dan tertawa akibat ulah guyonan kak Alfa bercampur risau akan kehadiran makhluk tersebut. Mereka berangkat pulang di susul rintikan hujan. Udara yang dingin bercampur angin kencang dan hujan yang deras. Setelah beberapa jam perjalanan mereka meninggalkan pantai. Banjir datang memporak-porandakan bangunan di dekat tepian. Air laut sedang pasang dan menenggelamkan apa saja di dekatnya.


"Argh.."


Suara teriakan orang-orang terdengar dari kejauhan.


"Apa yang sedang terjadi yah?"


"Sepertinya ada bencana di tempat kita berlibur tadi Bu."


"Hati-hatilah yah banjir nya sudah hampir sepinggang orang dewasa, kita harus mencari dataran tinggi."


"Ayah, ibu.. menurut Rani kita harus menuju barat laut untuk menghindari banjir."


"Baiklah kalau begitu kita coba saja yah" sahut ibu.


Kak Alfa mengarahkan jarum kompas dari ponselnya dan memberikannya kepada ibu. Dengan tangkap ibu menunjuk arah tersebut kepada ayah. Suara klakson kendaraan di sepanjang jalanan padat merayap mencari-cari jalan untuk menyelamatkan diri.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


Mereka mengambil jalan pintas melewati pepohonan dan menuju perkotaan.


"Syukurlah kita selamat dari banjir yang hampir menenggelamkan mobil", seru ibu.


Lalu ibu memberikan minuman botol kepada Rani dan Alfa.

__ADS_1


"Bayi-bayi ibu, apakah kalian lapar?"


Tanya ibu menoleh kepada kedua anaknya.


Bagi ibu ,Rani dan Alfa selalu menjadi permata hatinya.


"Rani tidak lapar Bu, Rani hanya mengantuk".


sahut Rani sambil menyenderkan kepalanya di kursi mobil.


"kalau Alfa pengen singgah ke toilet Bu", sahut Alfa.


Senyum mimik wajah Rani ingin sekali mengejek kakaknya namun tertahan oleh rasa kantuk. Kak Alfa yang mengetahui ekspresi adiknya menarik rambut Rani sedikit dan tersenyum.


"Hahah, seharusnya kak Alfa seharusnya pakai Pampers Bu."


Rani tertawa lebar meledek Alfa.


Cubitan kecil dari kak Alfa mendarat di pipi Rani.


"Miaw, miaw"


Tamsi berpindah dan melompat di pangkuan Alfa.


"Oh ayolah Tamsi, turunlah " bisik Alfa.


"Ahahah.."


Kembali Rani menertawakan kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2