
"Sudah siap?" Tanya Kiano.
"Memangnya kita mau ke mana lagi, ini sudah hampir jam 2 siang. Tapi aku belum melaksanakan kewajibanku kepada Tuhan" Jawab Kinara.
"Ok.. Kita cari masjid dulu."
Brum.. Brumm.. Brrumm..mesin mobil mulai dinyalakan, Kinara dan Kiano melanjutkan perjalanannya siang ini. Hingga tak jauh dari tempatnya mereka berhenti di sebuah masjid.
"Ayo" Ajak Kiano.
Mereka menuruni mobil dan langsung masuk ke dalam area masjid dan berpisah untuk mengambil wudhu.
"Kiano" Ucap seorang lelaki yang masih memakai seragam putih abunya.Hingga Kiano menoleh ke arahnya,
"Kamu beneran Kiano kan? Opo kon wis lali karo aku (apa kamu sudah lupa denganku) ?" Namun Kiano masih terdiam di posisinya.
"Aku Reno, yaa ampun kon wis lali karo konco sakelasmu (yaa ampun kamu sudah lupa denganku teman satu kelasmu)" Lanjutnya.
"Yaa ampun, sorry Ren" Jawab Kiano dengan memeluk temannya tersebut.
"Kate gak lali yo'opo seh wong kon saiki gede duwur ganteng ngene ( mau tidak lupa bagaimana kalau kamu sekarang tinggi besar tampan seperti ini)" Puji Kiano.
"Ah kon iso ae, padahal sing berubah iku kon lo (ah kamu bisa saja, padahal yang berubah itu kamu lo)"
Ha..haha..hahaha mereka tertawa bersama.
"Dungaren kon nang kene, ono opo? (tumben kamu di sini, ada apa?)" Tanya Reno.
"Gak ono opo-opo, aku nang suroboyo mek dolen. (Gak ada apa-apa, aku ke surabaya cuma wisata)" Jawab Kiano.
"Yowes, aku dhisik yo. Soale kate sinau kelompok. (Ya sudah, aku duluan ya. Soalnya mau belajar kelompok)" Dengan memakai jaketnya.
"Ojo lali kabar-kabar yo (jangan lupa memberi kabar ya)" Lanjutnya.
"Ok ati-ati (ok hati-hati)" Jawab Kiano. Renopun berlalu pergi.
Meski sudah hampir tiga tahun Kiano tinggal di ibukota, namun tak lupa dia dengan akan kaya bahasa daerahnya.
...****************...
Brak.. Pintu mobil ditutup oleh Kiano.
"Lama amat sih" Gerutu Nara.
"Iya tadi ketemu teman lama" Jawab Kiano dengan merapikan rambutnya di depan kaca.
"Cewek?" Ucap Kinara.
"Kenapa, kamu cemburu?" Tanya Kiano.
"Ge'eR"
"Ah..kamu cemburukan, ngaku saja deh. Ada yang cemburu nih sama suaminya" Goda Kiano.
Wajah Kinarapun mulai memerah dan seketika dia menoleh ke arah jendela mobil seolah tak menghiraukan godaan Kiano. Tapi sebenarnya dia sangat malu berhadapan dengan sang suami.
***
Mobil kembali melaju membelah jalanan yang mulai ramai akan kendaraan karena jadwal anak sekolah pulang.
"Kita mau ke mana lagi?" Tanya Kiano membuka percakapan karena sedari tadi Kinara hanya menatap jalanan lewat kaca jendela.
"Haa??" Kinara menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Mau ke mana lagi kita, mumpung masih ada di Surabaya. Aku akan menemanimu jalan-jalan sampai puas." Jelas Kiano.
"Beneran?" Kiano mengangguk mantap.
"Tapi awas kalau aku kamu jadikan kambing congek lagi" Kinara memberi sebuah peringatan.
"Iya iya aku janji" Kiano tersenyum ke arah Nara.
"Bagaimana kalau kita ke pantai?" Lanjutnya.
"Memangnya di Surabaya ada pantai?" Tanya Kinara tak percaya.
"Ada lah, kamu mau ke sana?" Kinara mengangguk.
"Siap meluncur Tuan putri Kinara" Ucap Kiano,membuat pipi Kinara lagi-lagi memerah karena malu.
Kiano kembali fokus ke depan, menerobos dan membelah jalanan ibukota Jawa Timur yang mulai penuh akan genangan air. Karena musim penghujan jadi hampir tiap hari kota Surabaya diguyur hujan.
"Tadi mantan kamu ya? Atau pacar?" Kinara menelisik jauh, tiba-tiba ada perasaan ingin tahu yang besar muncul dalam benaknya.
"Yang mana?" Tanya Kiano acuh.
"Ya yang tadilah Ki"
"Aku kirain yang ada di sebelah aku" Kinarapun cemberut mendengar pertanyaannya seolah dipermainkan oleh sang suami. Kiano tertawa dalam hatinya namun mencoba untuk biasa.
...****************...
Lima belas menit di jalan kini mobil yang mereka tumpangi telah memasuki kawasan wisata yang cukup terkenal di Surabaya. Lalu berhenti di sebuah pelataran parkir wisata pantai Kenjeran lama. Satu-satunya pantai di kota pahlawan.
Kiano memarkirkan mobilnya di deretan bus bus wisata yang lebih dulu berjejer di sana. Saat dia melepaskan sabuk pengamannya, tak sengaja ekor matanya menatap bayangan gadis cantik itu tengah tertidur pulas di sampingnya.
Kiano merasa tak tega untuk membangunkannya karena nampak jelas raut kesenduan tergaris di wajah istrinya itu. Kiano hanya memperhatikan dan mengamati wajah itu lebih dalam. Hingga tanpa sadar lengkungan senyum tergambar di wajahnya.
"Sudah sampai ya Ki?" Tanyanya dan diangguki oleh Kiano.
Seketika dia membenarkan posisi duduknya dengan semangat. Sebelum itu dia merapikan dulu penampilannya. Rambut yang sedari tadi digerai kini dikuncir tinggi ke atas.
"Aku tinggal dulu beli tiket ya" Pamit Kiano.
Setelah Kiano pergi, diapun menatap cermin yang dipegangnya.
"Astaga naga, wajahku sekacau ini ternyata. Makanya dari tadi Kiano senyum-senyum tak jelas. Ternyata menertawakanku." Gumamnya dengan menepuk jidat.
"Rame juga ya" Ucap Kinara tepat di samping telinga Kiano hingga sang empunya menjingkat karena kaget.
"Ra-" Kiano melirik ke arahnya hingga membuatnya menyengir kuda.
Kiano dan Kinara telah memasuki kawasan pantai. Kinara sedari tadi tak sabar ingin bermain air dan pasir. "Ayo cepet dong Ki.."
Dengan cepat Kinara melepaskan sepatunya dan berlari ke bibir pantai. Sesekali dia menendang air tinggi-tinggi hingga cipratannya kembali padanya. Berbeda dengan Kiano, dia lebih memilih untuk duduk di pinggir pantai dengan menatap jauh ke tengah lautan luas.
"Ayo ke sini dong Ki, main air bersamaku. Sesekali kita jadi anak kecil tanpa beban bolehkan." Ajak Kinara.
"Kamu saja ah, aku malas." Kiano menggelengkan kepalanya.
Kinara berinisiatif mengambil air dan menciprat-cipratkan ke arah suaminya hingga Kiano merem melek dibuatnya.
Tak berapa lama kemudian, ombak besar mulai datang menerpa mereka karena hari sudah sore. Dan mereka berduapun menepi.
Krucuk... Krucukk...
"Ki, aku lapar." Kinara memegang perutnya.
__ADS_1
"Yaa ampun, kamu ini kecil-kecil tapi doyan makan juga ya" Ejek Kiano.
"Bukannya doyan, tapi kebutuhan tahu. Namanya hidup ya butuh makanlah." Jawab Kinara dengan bersendekap.
"Ha.. Hha.. Hhaa.." Kiano tertawa lepas.
Mereka berdua memutuskan untuk duduk di foodcourt yang tersedia di sana.
"Sore mbak mas, mau pesan apa?" Seorang ibu-ibu menghampiri mereka dengan membawa selembar daftar menu.
"Aku mau nyoba lontong kupang dan sate kerang, boleh gak Ki?" Dan diangguki oleh Kiano.
"Pesan lontong kupangnya dua ya bu, dan sate kerangnya satu porsi saja sama minumnya dua es teh" Ucap Kinara.
"Enggeh mbak (iya kak) tunggu sebentar."" Ucap ibu tadi dan berlalu pergi.
Sore ini kawasan wisata tak seramai tadi saat mereka baru menginjakkan kakinya di sana karena cuaca mulai mendung. Hingga Semilirnya angin laut teras dingin hingga menusuk ke dalam sanubari.
Kiano yang sedari tadi bermain ponselnya hingga membiarkan sang istri sendirian. Tanpa disadarinya Kinara pun berlalu tanpa berpamitan.
"Monggo mas" Ucap ibu tadi dengan meletakkan sebuah nampan ke arah meja.
"Terima kasih" Ucap Kiano.
Lima menit kemudian, Kinara balik ke tempat duduknya.
"Dari mana kamu?pergi gak pamit." Tanya Kiano nyalang.
"Maaf, aku dari toilet tadi. Habisnya sudah kebelet." Jawab Kinara, lagi-lagi dia menyengir kuda.
"Ya sudah buruan dimakan, keburu dingin" Titah Kiano dan diangguki oleh Kinara.
Dengan lahap Kinara menyantap makanan yang sudah dipesannya, karena baru kali ini dia makan makanan tersebut.
"Pelan-pelan" Nasehat Kiano.
Tak membutuhkan waktu lama, piring Kinara telah bersih tak bersisa. "Alhamdulillah.."
"Bener kan kataku, kamu kecil tapi makannya banyak" Ejek Kiano seketika mendapat sebuah tinjuan dari sang istri yang mendarat tepat di lengannya.
Setelah selesai prosesi makannya, mereka memutuskan untuk berburu oleh-oleh khas tempat wisata. Hingga tak terasa beberapa kantong besar sudah bertengger di tangan mereka.
"Astaga, belanjaanku sebanyak ini." Kinara tak menyangka jika akan belanja sebanyak itu. Padahal sebenarnya dia bukan wanita yang hobby shoping.
Namun tak puas di situ saja, dia kembali terpanah. Bukan terpanah akan barang yang bisa dijadikan oleh-oleh orang rumah, melainkan terpanah dengan hewan kecil pemalu yang tengah berenang di aquarium.
Kinara segera berlari mendekat ke arahnya. Dan Kiano mengekor di belakang sang istri.
"Iihh.. Lucunya" Kinara memperhatikan kura-kura kecil itu dengan intens.
"Kamu mau?" Kinara menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"Bu, mau kura-kuranya sepasang." Ucap Kiano kepada seorang wanita paruh baya yang sedang menjajakan barang dagangannya.
"Iya mas"
Lalu pedagang itu memilihkan sepasang kura-kura yang diminta oleh Kiano. Dan memindahkannya ke dalam aquarium kecil yang terbuat dari plastik. Tak lupa memberikan sebuah kantong plastik kecil berisi makanannya.
Setelah mendapatkan yang dia mau, Kinarapun meninggalkan Kiano yang masih menyelesaikan pembayaran tersebut. Untuk kembali terlebih dulu ke dalam mobil.
Tak berapa lama kemudian Kiano pun masuk ke dalam mobil.
"Selalu ya kamu ini, sukanya main tinggal-tinggal saja." Cebiknya.
__ADS_1