
Bab 23 Acara Pengajian
.
.
"Woy, habis telpon siapa sih pakai ngumpet segala." Seorang lelaki menepuk bahu Kiano yang sedang menghindar dari kawan-kawannya untuk menelpon sang istri.
"Gak_ aku gak telpon siapa-siapa kok"
"Alah.. Gak usah pakai bohong deh, kelihatan dari wajahmu yang tak bisa berbohong." Menunjuk ke arah wajah Kiano.
"Apaan sih" Menangkis tangan tersebut.
"Ha..haha...hahaha.. Ketahuan kan. Kamu gak usah berbohong deh, karena kamu tak bisa bohong." Lelaki itu malah tertawa.
"Gadis mana ini yang bisa nakhlukin hati seorang Kiano, ketua genk warrior."
Kiano bernafas lega, dia berpikir jika temannya itu tau percakapannya tadi di telpon dengan Kinara dan Mama Nisa. Bisa-bisa berabe kalau terbongkar sekarang.
"Cantik gak itu cewek. Bodinya gimana? Kenalin ke gue dong" Rengeknya. Kiano langsung saja menyelonong pergi.
"Huff.. Dasar ketua pelit. Gak bagi-bagi" Umpatnya.
***
"Gimana Ra? Persiapannya sudah selesai semua?" Tanya sang mama yang baru saja selesai beristirahat. Karena kehamilannya yang masih muda,membuatnya harus sering beristirahat.
"Belum ma, tinggal nunggu cateringnya aja" Jawab Kinara. Dengan cekatan sepasang tangannya memasukkan souvenir ke dalam tas yang berisi kue sebagai buah tangan.
Mama Nisa akan melangkahkan kakinya menuruni anak tangga,
"Stop ma, mama istirahat saja di kamar. Biarkan aku yang menyelesaikan semua ini." Mengarahkan telapak tangannya ke arah sang mama.
"Kemarin mama sudah berepot-repot mempersiapkan acara pernikahanku dan kali ini, biarkan anakmu ini yang menyelesaikan semuanya untuk mama. Dan untuk debay." Membentuk kedua jarinya sebagai tanda cinta kasih.
"Ya sudah kalau seperti itu. Mama kembali ke kamar ya." Pamit mama Nisa.
"Ok, siap tuan ratu" Kinara tersenyum manis.
Kinara sangat bersemangat dan berantusias menyelesaikan persiapan acara yang akan dilaksanakan nanti malam. Meski sebenarnya tubuhnya mulai payah karena letih yang mendera.
Namun semua hilang dalam sekejap karena rasa sayang pada mama dan calon adik kecilnya.
__ADS_1
"Non" Menyentuh pundak Kinara.
"Astagfirullah.. " Kinarapun terkejut.
"Bibi, jangan ngagetin Nara dong." Kinarapun menjadi kesal.
"Maaf non, habisnya non sih bengong" Ucap bibi cengengesan.
"Ada apa sih bi ngagetin saja?" Tanya Kinara.
"Ini non, bibi mau minta tolong."
"Tolong apa bi" Kinara meletakkan aktivitas yang tengah dilakukannya. Dengan antusias dia menatap sang bibi, wanita yang ikut merawatnya sedari kecil.
"Itu non, bisakah non pergi ke supermarket. Buah-buahan yang dibeli nyonya untuk dijadikan rujak kurang." Ucap bibi merasa tak enak karena harus menyuruh sang majikan untuk berbelanjaa. Namun bagaimana lagi, pekerjaan di rumah belum juga selesai.
"Iya bi, siap. Nara akan ke supermarket." Jawab Kinara dengan bergaya hormat di depan bibi.
Kinarapun masuk ke dalam kamarnya, bergegas untuk segera berganti pakaian dengan lebih santai. Celana jeans panjang dan sweater, tak lupa memakai sneakers dan tas selempang favoritnya.
Hampir sebagian besar pakaian dan barang-barang pribadinya masih tersimpan rapi di rumah sang kakek. Setelah cuci muka dan rambut dikuncir kuda, dia mulai keluar dari kamarnya.
"Non, pak madi sedang mengantarkan tuan kembali ke perusahaan. Terus non berangkatnya gimana?" Ucap bibi menghampiri Kinara yang akan keluar dari rumah.
Kinara menoleh ke arah bibi.
"Tapi non gak apa-apa kan kalau naik taxi?" Bibi mengkhawatirkannya.
"Gak apa-apa bi, bibi tenang saja. Jangan khawatir. Aku sudah besar bi. Aku sudah bisa menjaga diriku. Oke bi" Ucap Kinara kemudian berlalu meninggalkan bibi.
"Hati-hati non." Teriak bibi.
***
Setelah melakukan perjalanan dengan menggunakan taxi, kini Kinara telah sampai di depan supermarket. Dia berhenti dan turun di seberang jalan karena jalanan penuh akan kendaraan alias macet. Sehingga taxi tak bisa menyebrang.
"Maaf ya non, bapak tidak bisa mengantarkan non sampai di depan pintu" Ucap sang supir.
"Tidak apa-apa pak, saya turun di sini saja. Lagian jalannya kan macet, tidak bisa menyebrang. Jadi bapak tidak usah merasa tidak enak pada saya." Jawab Kinara.
"Ya sudah pak,saya permisi dulu." Pamitnya.
Berjalan sendirian dan ingin menyebrang dalam kondisi macet memanglah sangat susah. Meski sudah ada zebracross yang berada tak jauh dari supermarket. Namun para pengguna kendaraan bermotor yang terkesan tidak mau mengalah, ingin segera sampai pada tujuannya tanpa mau berbagi dengan pejalan kaki.
__ADS_1
"Haduh, susah juga ya buat nyebrang. Padahal sudah ada zebracross. Tapi tetap saja" Batinnya.
Dia berdiri sudah cukup lama,hingga kakinya merasa pegal. Tapi tetap saja, kendaraan tak kunjung berkurang.
"Kalau seperti ini terus-terusan, gimana mau nyebrangnya." Kinara mulai memberanikan diri untuk berjalan di tengah penuhnya kendaraan. Dia mulai melangkahkan kakinya untuk menyebrang.
Tin.. Tinn...
Bunyi bel mulai bersautan ketika Kinara mulai melangkah ke jalan.
Dengan keberanian penuh, dia mencoba tidak mendengarkan umpatan yang keluar dari para supir.
"Kamu berani Kirana. Kamu berani." Gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Dan ketika kurang beberapa langkah lagi untuk sampai di trotoar, namun tiba-tiba Brak..
Kinarapun terjatuh tersungkur dan tak sadarkan diri di aspal. Tak sengaja dia tertabrak sebuah mobil berwarna merah.
"Ada tabrakan.. Ada tabrakan.." Banyak orang yang berteriak melihat kejadian yang ada di depan matanya. Hingga membuat orang berkerumun seketika.
Kejadian tabrakan itu membuat keadaan semakin parah. Kemacetan tidak bisa lagi dikendalikan.
"Hei.. Keluar kamu, kamu harus bertanggung jawab." Beberapa orang menggedor kaca mobil sang penabrak Kinara.
Akhirnya pemilik mobil itupun keluar saat orang-orang mulai aksi anarkisnya.
"Maafkan saya,maafkan saya. Saya tidak sengaja. Saya kaget saat mbak itu tiba-tiba lewat di depan saja. Saya sudah menginjak rem secara mendadak namun jaraknya terlalu dekat dengan mobil saya." Ucapnya membela diri.
"Kita gak mau tau, kamu harus tanggung jawab dengan kondisi dia. Kamu harus membawanya ke rumah sakit." Ucap salah seorang dari mereka.
"Iya.. Iya.. Betul itu, kamu harus bertanggung jawab" Orang-orang pun bergantian untuk berbicara.
"Oke.. Oke.. Saya akan membawanya ke rumah sakit. Saya akan menelpon ambulans. Karena dengan kondisi yang macet seperti ini, tidak mungkin saya membawanya ke rumah sakit dengan mobil saya." Ucapnya,lalu si penabrak pun menelpon panggilan darurat agar sebuah ambulans cepat datang.
Akhirnya beberapa orang bergotong royong untuk membawa tubuh Kinara minggir ke trotoar. Agar kendaraan yang lain bisa melaju kembali.
***
Di tempat lain,
"Kenapa jam segini jalanan sudah macet saja? Memangnya, apa yang sudah terjadi?" Tanya Kiano yang duduk tepat di depan setir.
"Ada kecelakaan bro di KM 20,makanya macet"
__ADS_1
"Astaga.. Terus kita harus terjebak sampai kapan di sini?" Ucap lelaki yang duduk di bangku belakang.
"Sudah deh, kamu jangan tanya macam-macam. Aku juga gak tahu, kita di sini sampai kapan?"