Pengantin Pengganti (Badboy Muridku)

Pengantin Pengganti (Badboy Muridku)
Bab 19 Aneh


__ADS_3

Kinara nampak anggun memakai kebaya modern berwarna merah muda, warna favoritnya dengan bawahan batik yang senada dengan kemeja yang tengah dipakai oleh Kiano. Wajahnya disapu dengan tambahan make up agar nampak flawless. Serta rambut panjangnya hanya diikat sedikit ke belakang.


Setelah sebelumnya mereka menghampiri kakek dulu di hotel, lalu pergi bersama-sama. Di dalam mobil tak henti-hentinya Kiano menatap sang istri hingga sang empunya merasa malu.


"Ada yang salahkah denganku hingga kamu melihatku dengan tatapan seperti itu dari tadi?" Kinara mendorong wajah Kiano agar kembali menatap jalanan.


"Tidak, hanya saja kamu menjadi aneh dengan penampilan seperti itu" Kiano menutup kegagumannya.


Kini mereka telah sampai di tempat acara, mereka berjalan dengan bergandengan tangan layaknya pasangan pengantin baru yang sedang dimabuk cinta. Seolah ingin mengatakan pada dunia ini jika dia adalah miliknya seorang satu sama lainnya.


Tak lupa senyum merekah tertampil di wajah mereka berdua. Sepertinya penampilan mereka akan menandingi pasangan pengantin yang menjadi raja dan ratu sehari.


"Ayo.." Ajak kakek sesaat mereka baru saja turun dari mobil. Merekapun mengangguk.


Melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat dilaksanakannya acara. Dengan tetap mengekor di belakang sang kakek dan asistennya. Jauh di sana nampak seorang pria yang seusia Wardhana tengah menyambut mereka dengan bahagia.


Wardhana memeluk sang sahabat dengan penuh hangat. Hingga terbitlah sebuah senyuman indah di wajah keduanya. Rasa turut bahagia dan bercampur haru seketika muncul melihat moment perjumpaan mereka.


Persahabatan yang begitu erat terjalin sejak mereka duduk di bangku putih abu. Seperti saudara kembar yang tak bisa terpisahkan walau hanya sekejab. Apapun dilakukan bersama, kapanpun dan di manapun pula mereka berdua.


"Apa kabarmu Dan?" Tanya sang sahabat.


"Alhamdulillah.. Seperti yang kau lihat, aku selalu baik-baik saja dan terlihat muda."


"Ha..hahah..hahaha" Mereka tertawa bersama.


"Silahkan duduk."


Acaranya sangat meriah, ribuan tamu undangan bertumpah ruah di sana, di sebuah gedung mewah di kawasan tengah kota.


"Ini pasti Kinara" Ucapnya ketika menyalami cucu pertama Wardhana. Kinarapun tersenyum dan mengganguk.


"Sudah besar ya semakin cantik saja persis almarhuma ibumu waktu muda." Pujinya.


"Ini pasti pacarnya Kinara ya?" Tanyanya menggoda saat berganti menyalami Kiano.


"Ngawur saja, ini suami Kinara. Cucu menantuku" Jawab Wardhana.

__ADS_1


"Lho, kapan nikahnya? Kenapa aku tidak diundang?" Tanyanya.


"Dua minggu yang lalu, maafkan aku sampai lupa tidak mengundangmu." Jawab Wardhana.


"Kamu ini selalu, Ya sudah aku tinggal ke sana dulu, kalian nikmati hidangannya" Pamitnya.


Acara demi acara telah berlangsung dengan hikmat, dan tak terasa telah sampai pada acara yang terakhir. Satu persatu tamu undangan berpamit undur diri. Hingga menyisakan Kinara beserta keluarganya. Mereka berempat lalu berdiri dan berpamitan kepada sang tuan rumah karena hari sudah mulai petang.


"Kita pamit dulu, kita doakan semoga pernikahan cucumu langgeng sampai kakek nenek hingga ajal menjemput. Aamiin" Ucap Wardhana.


"Kamu ini, buru-buru saja. Mau ke mana sih."


"Maafkan aku, kita tidak bisa berlama-lama di sini. Karena besok cucuku harus kembali mengajar."


"Ya sudah, hati-hati di jalan. Aku tak bisa mengantarkanmu ke bandara." Mereka berdua kembali berpelukan.


Mereka berempat kembali ke dalam mobil untuk segera menuju bandara karena pesawat mereka akan berangkat setengah jam lagi. Semua koper sudah siap berada di bagasi, tanpa harus kembali ke hotel.


Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka telah berada di area bandara Juanda. Dan lagi-lagi disambut oleh manager muda yang kemarin.


"Selamat sore tuan, pesawatnya telah siap." Ucapnya dengan sedikit menunduk dengan hormat.


"Silahkan tuan" Ucapnya kembali sembari memberikan jalan kepada bos besarnya.


Dengan mengekor di belakang rombongan sang bos dia berjalan dalam diam, tanpa berani bersuara apa lagi menggoda Kirana lagi seperti kemarin.


Kiano dan Kirana nampak mesra, sedari tadi tangan mereka tak lepas sedetik pun sejak turun dari mobil.


"Saya tinggal dulu ya " Pamit Wardhana kepada beberapa karyawannya yang ikut mengantarkannya sampai bandara.


"Selamat sampai tujuan Tuan, terima kasih atas kunjungannya kali ini." Mereka menundukkan tubuhnya kompak.


"Sama-sama, saya juga berterima kasih sudah dilayani dengan baik di sini." Wardhana kembali tersenyum ke arah mereka.


...****************...


Beberapa menit yang lalu pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat dengan sempurna. Kini mereka telah berada di pelataran bandara.

__ADS_1


"Kek, kita pulang dulu ya." Pamit Kinara dengan memeluk tubuh rentah sang kakek.


"Iya, kalian hati-hati ya di jalan. Inget jangan bertengkar terus. Cepat buatkan cicit untuk kakek"


Mereka pun saling berpelukan sebelum berpisah. Kakek dan pak Arman kembali pulang ke kediaman Wardhana. Sedangkan Kiano dan Kinara pulang ke rumah milik mereka.


Sebelum kembali pulang, mereka berganti pakaian terlebih dahulu dengan outfit yang lebih santai dan nyaman.


Lalu Kereta besi yang mereka tumpangi mulai membelah jalanan, menerobos ke dalam hiruk pikuk malam.


"Ki, aku lapar. Ingin makan, boleh ya.." Kinara merengek pada sang suami, dengan menarik-narik lengan baju yang di pakai. Karena tak mendapatkan jawaban, Kinara pun kembali merengek.


Mendengar rengekan Kinara untuk yang kesekian kalinya, membuat Kiano merasa risih. Lalu dia menghentikan mobilnya seketika di depan pedagang kaki lima pinggir jalan. Sebuah rombong yang bertuliskan bakso urat bang Madi. Tanpa aba-aba, Kinara telah keluar dari mobil.


"Bakso spesialnya dua ya bang" Kia pun memesan makanan untuk dirinya dan suami.


"Makan di sini atau di bawa pulang mbak?" Tanya pedagang tersebut.


"Makan di sini bang, tapi nanti kalau sudah jadi tolong antarkan ke mobil itu ya" Kinara menunjuk sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari posisinya.


"Oia bang, saos dan sambalnya tolong dipisah ya. Terima kasih." Lanjutnya.


Kinara telah kembali ke mobilnga, namun pintu tidak bisa dibuka, meski berkali-kali dia mencobanya. Lalu diketuknya kaca untuk kesekian kalinya juga namun tidak ada jawaban. Akhirnya dia pun mensejajarkan tubuhnya dengan kaca untuk mengintip ke dalam mobil, namun dia tak menemukan satu orangpun.


"Ke mana ya si Kiano" Gumamnya dalam hati.


Akhirnya Kiana menyandarkan tubuhnya di badan mobil dengan cukup lama. Kakinya pun mulai terasa pegal.


"Kenapa kamu di situ, ayo masuk" Ucap Kiano mengagetkannya. Pria itu kembali dengan membawa sebuah kantong plastik putih dengan logo berwarna biru.


"Dari mana saja kamu?" Tanyanya ketus sembari menutup pintu.


"Ini minum dulu" Kiano menyerahkan sebotol minuman dingin isotonik favorit Kinara.


"Kalau mau pergi itu bilang dulu, biar aku menunggu di sana saja. Kamu tahu aku seperti orang gila dari tadi ketuk-ketuk pintu." Kinara pun meminum minuman tersebut.


Tok..tokk..tokkk suara kaca diketuk dari luar. Pintupun kembali dibuka saat mengetahui jika pesanannya telah tiba.

__ADS_1


"Ini mbak" Menyerahkan sebuah nampan berisi dua mangkuk bakso urat spesial.


"Terima kasih bang" Ucapnya sambil menyerahkan selembar uang berwarna biru. Kemudian pria tadi berpamit pergi.


__ADS_2