
Bab 21 Berduka Cita
Tet.. Tett...tettt...tettt..
Suara bel berbunyi menandakan waktu pulang telah tiba, meski jarum jam belum menunjukkan waktu sesuai jadwal. Namun karena suatu hal, para siswa dipulangkan lebih pagi.
Drtt.. Drttt.. Drrtt..
Suara ponselpun berbunyi, Kinara segera mengambil ponselnya dari dalam saku tasnya.
"Hallo..."
"[ ... ]"
"Ada apa?
" [ ... ]"
"Iya, aku bisa pulang sendiri. Lagian setelah ini aku harus menghadiri rapat dengan para guru dan dewan yayasan."
"[ ... ]"
" Iya gak usah khawatir, aku bisa pulang dengan taxi."
"[ ... ]"
"Siap pak bos"
Tiiit... Sambungan teleponpun terputus.
Drtt.. Drrtt.. Drttt..
Ponsel milik Kinara kembali berbunyi namun bukan sebuah panggilan masuk, melainkan sebuah pesan.
"Astaga, apalagi sih ini anak maunya."
Dari : Kiano
Nanti kalau naik taxi, cari supir yang perempuan ya. Biar aman.
"Ah dasar, lebay" Batinnya.
Untuk : Kiano
Lebay lu.. ( dengan emoticon lidah menjulur)
...****************...
Di tempat lain
"Gimana bro? Apa loe sudah siap?" Tanya seorang pria berjaket hitam pada Kiano yang baru saja datang.
"Memangnya kita mau kemana?" Kianopun penasaran.
Para anggota genk warrior telah berkumpul di tempat biasa.
"Sorry bro, aku lupa kasih tau. Beritanya Dion kemarin dihadang oleh anak SMK sebelah saat pulang sekolah. Dia habis babak belur."
__ADS_1
"Terus?" Kiano mendengarkan serius penjelasan teman-temannya.
"Kita mau balas dendam ke SMK sebelah"
"No.. No.. No, kita gak boleh gegabah. Lebih baik kita ke menjenguk Dion lebih dulu. Agar kita tau ceritanya." Jawab Kiano menolak ajakan teman-temannya.
"Tapi bro.."
"Sudah, ikuti apa kataku dulu. Kita harus atur strategi lebih dulu sebelum bertindak. Agar kita gak salah sasaran." Ucap Kiano.
Akhirnya para anggota mau menuruti perkataan sang ketua. Dengan beriringan mereka menuju ke salah satu rumah sakit di mana Dion, teman sesekolahnya itu di rawat.
...****************...
Kembali ke sekolah
Di ruang aula telah penuh akan para guru, karyawan, dan para dewan yayasan. Semuanya berkumpul untuk membahas maslah study wisata yang akan diadakan minggu depan oleh para siswa kelas XII.
Kinarapun berjalan dengan sedikit berlari setelah dari kamar mandi, karena dia telah terlambat. Brak.. Tanpa sengaja dia menabrak seseorang saat keluar dari toilet wanita.
"Aduhh.." Rintihnya karena jatuh terjengkang ke belakang.
"Maafkan saya bu, saya tidak tahu jika ibu akan keluar dari toilet." Seorang wanita seumurannya pun menunduk meminta maaf.
"Tidak apa-apa" Kinara membersihkan celana yang dipakainya karena kotor.
"Maaf bu, ibu dicari oleh tuan Wardhana. Karena rapat akan dimulai." Ucap wanita tersebut. Dan diangguki oleh Kinara.
Mereka berduapun berjalan dengan berdampingan untuk memasuki tempat di mana diadakan rapat.
Rapatpun dimulai setelah Kinara telah berada di dalam ruangan. Hingga satu jam rapatpun selesai, meskipun rapat kali ini sedikit alot karena adanya pro kontra.
"Kinara" Panggil Wardhana.
"Kakek" Kinarapun segera berlari memeluk sang kakek yang masih duduk di tempatnya.
"Maafkan aku kek, aku membuat keputusan sepihak. Menurutku, siswa siswi akan lebih fresh saat menghadapi ujian akhir jika kita membawa mereka study wisata terlebih dulu kek" Netra Kinara mulai berkaca-kaca.
"Tapi ternyata salah, banyak dari dewan guru, dan pengurus yayasan yang tidak setuju akan ideku itu" Lanjutnya.
"Jangan dipikirkan lagi, yang terpenting sekarang. Semuanya telah setuju akan ide brilianmu itu sayang" Sang kakek menggenggam kedua tangan Kinara untuk memberikan semangat.
"Tapi kek"
"Sudahlah.."
"Mari pulang bersama kakek, bantu mamamu. Karena semuanya sedang sibuk menyiapkan pengajian." Ajak Kakek.
"Pengajian? Memangnya ada acara apa kek?" Tanya Kinara.
"Nanti tanyakan langsung pada mamamu."
"Plis kek, jangan buat aku penasaran. Memangnya ada apa sampai ada acara pengajian, gak mungkin kan acara rutinan kompleks. Karena setauku rumah kita sudah pernah." Kinara menjadi penasaran.
"Makanya ikut kakek pulang"
"Tapi kek, aku belum minta ijin pada Kiano." Tolak Kinara.
__ADS_1
"Sudah gampang, nanti kakek yang akan menelpon Kiano untuk memberitahunya."
"Oia, inget Kiano. Ngomong-ngomong di mana anak itu? Bukannya dia juga bersekolah di sini juga. Tapi kok kakek tidak melihatnya dari tadi." Lamjut kakek.
"Kiano tadi bilang ada urusan dengan teman-temannya.
Karena ajakan sang kakek yang sedikit memaksa, akhirnya Kinara memutuskan untuk mengikuti ide sang kakek untuk pulang ke kediaman Wardhana.
Dengan berdampingan mereka berjalan ke arah mobil yang terparkir di depan. Hingga semua pasang mata tertuju kepadanya. Pasalnya gak banyak dari mereka yang mengetahui identitas Kinara sebagai cucu pemilik yayasan di mana tempatnya bekerja.
" Siang non Kinara" Sapa pak Arman yang stand by menunggu di dalam mobil.
"Siang juga pak Arman." Jawab Kinara.
Setelah mereka semua telah siap berada di dalam mobil. Suara deru mesinpun mulai terdengar, dan mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang.
Krucukk.. Krucukk..
Terdengar suara dari perut Kinara. Membuat kakek dan pak Arman menertawakannya.
Meski Arman statusnya hanya asisten sang kakek, namun hubungannya dengan Kinara sang nona besar sangatlah dekat. Karena sedari kecil Arman yang ditugaskan untu selalu menemani ke manapun dia pergi.
Tanpa aba-aba, Arman membelokkan mobilnya ke rumah makan padang yang berada tepat di pertigaan jalan. Dan berhenti tepat di area parkir.
"Pak Arman tahu saja, apa yang Kinara mau" Puji Kinara.
"Saya tak pernah lupa apa kesukaan nona Kinara. Sambal ijo dan lauk Kikil sapi." Jawab Arman. Dan diangguki oleh Kinara.
"Ayo kita semua turun" Ajak sang kakek.
"Saya di sini saja tuan,saya kenyang karena kebanyakan minum kopi di sekolah." Tolak Arman.
"Kamu selalu saja menolak ajakanku, tapi untuk kali ini kamu tidak boleh menolaknya. Jika kamu tidak ingin melihatku dimarahi oleh cucu cantikku ini." Sarkas Wardhana.
Arman tidak akan pernah menolak ajakan Kinara.
Mereka bertigapun turun,
Brak.. Lagi-lagi Kinara menabrak seorang wanita.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja" Ucap Kinara.
"Kinara" Wanita yang ditabraknya tiba-tiba memeluk tubuh rampingnya itu, hingga membuat Kinara terkejut dan mematung.
"Anggi" Saat netra Kinara menangkap bayangan wanita tersebut.
"Apa kabarmu Anggi? Bukankah kamu berada di Australia untuk meneruskan pendidikanmu. Tapi kamu kok di sini." Tanya kInara dengan antusias.
Anggipun menggelengkan kepalanya.
"Tidak Kinara, sehari sebelum keberangkatanku. Mami dan papi mengalami kecelakaan yang mmenewaskan mereka berdua."
"Sehingga sekarang aku di sini sendirian, tak punya teman dan harta." Anggi menundukkan kepalanya karena pusing.
"Sama siapa kamu ke sini? Sama Vano?"lanjutnya.
"Maafkan aku Anggi,aku tidak tahu. Aku tak pernah mendengarkan kabar tentangmu. Aku turut berduka cita akan kepergian tante Asri dan Om Bima." Jawab Kinara. Dan kembali memeluk Anggi.
__ADS_1