
Bab 24 Ide yang bagus.
.
.
Kinara kini telah berada di ruang IGD rumah sakit XX dan tengah ditangani oleh dokter. Setelah dibawa oleh ambulans yang di panggil oleh orang yang menabraknya. Sebagai bentuk permohonan maaf dan tanggung jawabnya.
"Maaf, Siapa di sini keluarga pasien?" Tanya seorang perawat yang baru saja keluar dati ruangan.
"Maaf sus, saya tidak tahu keluarganya. Saya tadi hanya tidak sengaja menabraknya di jalan." Jawab si penabrak itu.
"Tolong cari identitasnya atau petunjuk yang ada di dalam tasnya kak" Titah perawat tersebut.
"Siap sus"
Penabrak tersebut mengambil tas milik Kiara yang tertinggal di dalam mobi. kemudian nencoba membuka tas yang tadi dibawa oleh Kinara. Dan menemukan sebuah ponsel, dia mencoba membukanya dengan membawanya tepat ke depan wajah Kinara. Karena ponselnya menggunakan sandi wajah. Lalu menelpon panggilan terakhir yang Kinara hubungi.
Tut... Tut... Tut.. Hingga berkali-kali di telpon.
Baru kali ini Sambungan teleponpun tersambung.
"Hallo.." Ucap penabrak itu.
"Hallo, ada apa Ra?" Terdengar suara pria yang ada jauh di sana.
"Maaf kak, saya bukan pemilik ponsel ini."
"Terus kamu siapa? Kinara di mana?" Tanya pria itu.
"Pemilik ponsel ini sedang berada di rumah sakit kak, dan belum sadarkan diri sampai sekarang."
"Apa? Kinara di rumah sakit. Rumah sakit mana? Saya akan segera ke sana sekarang."
"Rumah sakit XXX, saya tunggu ya kak." Ucap penabrak itu.
Titt...
Sambungan telponpun terputus.
Diapun menunggu di ruang IGD setelah menyelesaikan administrasinya. Wanita berkerudung itu nampak pucat dan khawatir.
...****************...
Di tempat lain
"Bro, sorry gua cabut dulu ya." Pamit Kiano pada teman-temannya yang masih berkumpul.
"Mau ke mana sih, masih siang sore juga sudah main cabut saja" Jawab salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Sorry bro, gua lagi ada urusan penting. Besok sambung lagi dah." Ucapnya dan tak lupa bersalaman dengan satu persatu dari mereka.
Dengan menggunakan mobil kesayangannya, Kiano membelah jalanan ibukota. Rasa khawatir menyelemuti dirinya saat ini.
Tin.. Tin..
Satu persatu kendaraan di salipnya. Tak memperdulikan keselamatannya sendiri dia melaju kencang agar cepat sampai pada tujuannya.
Drtt... Drrtt.. Drttt..
Ponsel Kiano berbunyi keras. Layarnyapun menyala hingga menampilkan sebuah nama.
"Hallo.."
"[ ... ]"
"Kinara tidak bersama saya ma. Saya sekarang masih di jalan."
"[ ... ]"
"Iya ma, walaikumsalam"
Titt.. Sambungan telpon pun terputus.
Kiano tak berani menceritakan kabar apa yang sudah dia dapatkan. Karena dia sendiri belum tahu kebenarannya. Dia tak ingin membuat keluarga Kinara semakin gelisah.
30 menit dalam perjalanan, kini dia telah sampai di pelataran rumah sakit XXX sesuai informasi wanita itu. Diapun berjalan dengan cepat ke arah ruang IGD.
"Pasien atas nama Kinara sudah dipindahkan di ruang inap pak. Paviliun Melati nomor 3." Jawab perawat tersebut.
"Terima kasih sus." Ucap Kiano.
Kiano bergegas mencari ruangan yang telah diinformasikan oleh perawat tersebut. Ruang VIP rumah sakit XXX yang ada di bagian timur.
Setelah berputar-putar mencari akhirnya ruangan tersebut ditemukan. Dengan sedikit ragu dia mulai mengetuk pintu.
Tok.. Tokk.. Tookkk
"Masuk" Terdengar suara perempuan dari dalam.
Dengan ragu Kiano membuka pintu ruangan tersebut,meski dalam dirinya masih berharap yang dirawat bukanlah sang istri.
"Permisi" Ucap Kiano dengan sopan.
"Kiano.." Panggil seorang pasien yang terbaring dengan selang infus yang menempel di punggung tangannya.
Kianopun berjalan mendekat pada pasien tersebut tanpa memperdulikan orang lain yang sedang duduk di sofa yang ada di sana.
Pasien itu seketika memeluk erat tubuh Kiano yang mendekat padanya.
__ADS_1
"Kamu kok bisa ada di sini? Bukannya kamu ada di rumah kakek." Tanya Kiano.
Namun dia masih enggan menjawab, hanya terus memeluk dan menghirup aroma tubuh Kiano yang menenangkan. Meski keringat menempel di tubuhnya. Karena Kianp masih mengenakan seragam sekolahnya dengan berbalut jaket.
Kianopun merasa kasihan padanya, lalu mengusap surai panjang wanita yang ada sedang mendekapnya kini.
"Aku gak tahu, seingatku aku ingin menyebrang jalan. Namun saat aku sadar, aku sudah berada di ruang IGD rumah sakit." Jawab Kinara dengan terisak.
"Apa yang kau rasakan? Apa ada yang sakit?" Tanya Kiano. Pasien itupun melepaskan pelukannya.lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa, aku hanya syok saja." Jawabnya. Pasien itu adalah Kinara, sang istri.
Setelah percakapan di antara mereka berhenti. Wanita berkerudung yang sedang berada di sofa ruangan tersebut berdiri.
"Perkenalkan nama saya Marissa, saya mohon maaf karena kelelaian saya saat berkendara sampai harus ada kejadian buruk menimpa Kinara." Ucap wanita tersebut.
"Jangan merasa bersalah seperti itu Sa, aku juga salah karena aku juga kurang hati-hati saat menyebrang." Jawab Kinara.
Kiano yang memperhatikan perdebatan itu hanya diam tanpa mau menjawab atau melerainya.
"Tapi semua salahku Ra. Sudah tau jalanan macet, tapi tetap saja aku malah bermain ponsel." Ucap Marissa.
"Sudah ah, jika kamu mau menjadi temanku. Stop menyalahkan dirimu sendiri oke? Semua kejadian tidak ada yang tau sebelumnya." Jawab Kinara.
"Terima kasih ya Ra" Ucapnya dengan tersenyum.
"Oia, saya permisi ke depan sebentar. Apa kamu ingin sesuatu? Akan ku belikan sekalian." Pamitnya.
"Gak usah say, aku tidak menginginkan apapun." Jawa Kinara.
Setelah berpamitan pada Kinara,Marissa pun keluar dari ruangan tersebut.
Kinara duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Dan Kiano duduk tepat di sampingnya.
"Apa kamu memberitahu kakek dan mama Nisa akan yang terjadi padaku saat ini?" tanya Kinara.
"Tadi mama Nisa memang menelponku, tapi aku tak berano menceritakannya. Karena aku masih ragu, benar atau tidak kamu yang ada di sini." Jawab Kiano.
"Sebenarnya kamu mau ke mana? Bukannya kamu sedang membantu mama Nisa menyiapkan acara nanti malam." Lanjutnya.
"Astaga .. Aku tadi sebenarnya mau berbelanja buah untuk acara nanti malam, tapi aku kok malam seperti ini." Jawab Kinara saat teringat akan tuganya tadi.
"Terus aku harus bagaimana ini Ki? Gak mungkin kan aku menceritakan kondisiku ke mama Nisa, yang ada beliau bisa kaget. Beliau sedang hamil, aku tak mau membebaninya." Lanjutnya.
"Lebih baik kamu telpon kakek saja, minta tolong. Barang kali kakek bisa menghandle aemuanya." Jawab Kiano.
"Tapi kalau tiba-tiba sakit jantungnya kakek kambuh bagaimana. Aku takut Ki."
"Ya sudah biar aku saja yang menelpon pak Arman, biar beliau yang memberitahukan kondisimu pada kakek."
__ADS_1
"Pak Arman kan asisten kakek, pasti beliau tahu cara bicara pada kakek agar tidak berdampak pada penyakitnya." Lanjut Kiano.
"Iya, sepertinya itu ide yang bagus."