
Bab 25 Dasar Bocah
.
.
Setelah Kiano mengabari pak Arman akan kondisi Kinara yang sedang tergolek lemah. Kini kakek Wardhana pun tiba di rumah sakit XX untuk melihat kondisi cucu kesayangannya.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu ruang rawat inap diketuk dari luar.
"Iya sebentar" Ucap Kiano yang tengah berbaring di atas sofa ruangan tersebut karena tengah menunggu sang istri. Kinara sedang tertidur karena pengaruh obat yang diberikan oleh sang dokter.
Dengan perlahan dia membuka pintu agar tidak membuat tidur Kinara terganggu. Hingga menampilkan sosok dua pria yang dikenalnya.
"Silahkan kek, pak Arman." Kevin mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam ruangan itu.
"Ini kenapa Kinara bisa sampai masuk rumah sakit begini? Apa yang kamu lakukan?" Tanya kakek dengan wajah garangnya.
"Maafkan saya kek. Saya juga tidak tahu, hanya saja tadi ada seorang wanita yang menelpon saya memberikan kabar akan kondisi Kinara."
"Tadi Kinara bercerita jika dia tertabrak karena akan menyebrang jalan saat pergi ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan acara mama Nisa nanti." Lanjut Kiano.
"Terus bagaimana dengan kondisi Kinara saat ini? Apa ada yang terluka parah dengannya?" Tanya kakek Lagi.
"Kakek tidak usah khawatir, menurut dokter Kinara baik-baik saja. Tidak ada yang terluka dengan tubuh Kinara, hanya saja dia masih syok akan kejadian tersebut." Jawab Kiano meredam kekhawatiran sang kakek mertuanya itu.
Setelah berbincang dengan Kiano, Wardhana mendekat dan duduk di samping sang cucu yang masih belum membuka matanya lalu menggenggam tangannya dengab erat.
"Kinara, kamu tahu. Kakek sangat khawatir saat mendapat kabar buruk dari tentangmu. Mendengar berita tentang kecelakaanmu tadi, mengingatkan kakek akan kejadian 18 tahun yang lalu. Kakek takut kehilanganmu seperti kakek kehilangan ibumu dulu." Ucap kakek Wardhana lirih.
Kinara membuka matanya dengan perlahan.
"Kakek" Panggilnya lirih.
Seketika kakek memeluk tubuh Kinara sang cucu.
"Kamu sudah bangun Kinara? Bagaimana kondisimu saat ini?" Tanya kakek.
"Alhamdulillah.. Aku baik-baik saja kek,aku tidak apa-apa." Kinara tersenyum kepadanya.
"Benarkah?" Tanyanya lagi. Kinarapun mengangguk
"Kek, aku sudah besar. Jangan khawatir seperti ini kepadaku dong kek. Aku bukan anak kecil lagi" Jawab Kinara dengan cemberut.
"Kalau kamu sudah besar, pasti tidak akan ada kejadian seperti ini menimpamu." Sarkas kakek. Mata tajamnya menatap sang seolah ingin menusuknya.
"Ini hanya sebuah kebetulan saja kek, karena aku sedikit kurang hati-hati." Jawab Kinara.
"Kamu ini, selalu saja. Kamu sebelas dua belas dengan ibumu. Selalu saja menganggap semua kejadian itu hanya masalah kecil, membuat kakek khawatir." Kinarapun menyengir kuda karena kakek mulai marah.
Kemudian Kinara memeluk tubuh rentah sang kakek yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Jangan marah dong kek, maafkan aku. Aku hanya ingin kakek lebih percaya padaku. Karena aku sudah besar kek." Ucap Kinara meyakinkan sang kakek.
"Iya.. Iya, kakek tidak marah padamu. Bagaimana bisa kakek marah pada cucu kesayangan kakek." Jawab Kakek. Dan mendapat pelukan erat dari Kinara.
"Kek, apakah mama Nisa tahu aku di sini?" Melepaskan pelukannya
"Aku takut terjadi hal yang tak diinginkan pada kandungan mama jika dia kaget karena mendengar kondisiku sekarang." Lanjut Kinara.
"Tidak, kakek tidak akan memberitahu keadaanmu pada mamamu." Jawab Kinara.
"Tapi bagaimana nanti kalau mama Nisa menanyakan kek." Tanya Kinara.
"Tenang saja, semuanya menjadi urusan kakek. Kakek yang akan menghandle semuannya."
"Terima kasih kek" Kinara kembali memeluk tubuh kakek.
...****************...
Keesokkan harinya
.
"Bagaimana dok kondisi saya? Apa saya sudah diperbolehkan untuk pulang?" Tanya Kinara.
Kini dokter tengah memeriksa kondisi Kinara kembali.
Dokterpun tersenyum ke arah Kinara.
"Apa yang anda rasakan sekarang? Apa masih pusing atau bagian tubuh mana yang masih terasa sakit?" Tanya sang dokter.
"Ya sudah, tunggu sampai siang ya. Kalau sampai sore sudah tidak ada yang dirasakan, anda boleh pulang." Ucap dokter itu. Dan diangguki oleh Kinara.
"Saya permisi dulu" Pamit dokter itu dengan tersenyum.
Dokter itupun keluar dan berpaprasan dengan Kiano yang baru saja tiba setelah memberi beberapa keperluan di supermarket depan.
"Kiano" Panggilnya.
Kiano yang merasa namanya dipanggil, menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Tante Siska" Ucap Kiano. Dan dokter itupun tersenyum ke arahnya.
Kiano segera menghampirinya dan tak lupa mencium tangannya.
"Sedang apa kamu di sini? Siapa yang sakit? Papa dan mamamu sehatkan?" Tanyanya.
"Iya tante, papa mama sehat."
"Terus apa temanmu ada yang sakit?" Tanya lagi dengan penasaran. Namun dijawab dengan gelengan kepala.
"Bukan tante, yang sakit istri Kiano." Jawab Kiano dengan ragu.
"Istri?" Tanya memastikan, Kiano pun menganggukinya.
__ADS_1
"Bukannya kamu masih sekolah?kok menikah." Lanjutnya. Dokter tersebut nampak bingung.
"Ceritanya panjang tante. Untuk jelasnya tante bisa tanya ke mama." Jawab Kiano dengan tersenyum.
"Saya tinggal dulu ya tante Siska, kasihan istri saya sudah menunggu." Pamit Kiano dengan menunjukkan barang bawaannya.
Dokter itu memperhatikan ke mana Kiano melangkah. Karena tak dapat dipungkiri, dia juga penasaran dengan ucapan Kiano.
Dokter Siska, dokter jaga hari ini. Karena dokter yang kemarin menangani Kinara sedang cuti, alhasil digantikan oleh dokter Siska.
Dokter Siska adalah sepupu dari sang mama Kiano alias mertua Kinara. Kinara belum pernah bertemu dengannya, makanya hari ini mereka tak saling kenal kecuali perkenalan antara dokter dan pasien.
***
"Kamu kok lama?" Tanya Kinara sesaat Kiano memasuki ruangannya.
"Maaf, tadi aku mampir ke kantin sebentar untuk membeli makanan untuk makan pagi kita. Katanya kamu gak suka dengan makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit." Kinarapun mengangguk.
Dengan telaten Kiano merawat Kinara, meskipun mereka layaknya kucing dan tikus jika sedang berada di rumah. Menyuapi Kinara pun itu tugasnya.
"Aku bisa makan sendiri Kiano." Tolak Kinara karena malu.
"Sudah, tidak boleh menolak. Selama kamu sakit aku akan merawatmu sebaik mungkin. Sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai suami."
Mendengar jawaban dari Kiano, membuatnya tak mampu lagi menahan tawa.
"Ha..hahah.. Hahah.. Kamu kesambet apaan sih pagi-pagi seperti ini." Kata Kinara.
Kiano hanya diam dengan tatapannya yang tajam ke arah Kinara. Membuat sang empunya bergidik ngeri. Kinara pun menghentikan tertawanya dan menunduk takut.
"Sekarang buka mulutmu, patuhi perintah suamimu." Titah Kiano. Kinarapun menuruti kemauan sang suami.
Dengan lahap dia menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh Kiano. Karena tak dapar dipungkiri jika perutnya saat ini sangatlah lapar. Masakan rumah sakit yang hambar membuatnya tak berselera makan.
Tapi kali ini Kiano membelikan bubur ayam, makanan favoritnya. Dengan taburan kerupuk udang yang sangat banyak seperti biasanya.
Tak membutuhkan waktu lama, Kinara telah menghabiskan seluruh makanannya tanpa berani bersuara lagi.
"Enakkan? Katanya tadi gak mau, nyatanya habis juga." Tanya Kiano membuat pipi Kinara memerah. Kinara malu akan candaan yang dilontarkan oleh sang suami.
"Apaan sih?" Jawabnya mengelak.
Kinara pun turun dari ranjangnya,
"Mau ke mana?" Tanya Kiano.
"Aku ingin jalan-jalan, aku bosan harus berbaring terus menerus. Gak apa-apa kan?" Jawab Kinara dengan ragu dia meminta ijin.
"Jalan-jalan?ini rumah sakit bukan mall." Ucap Kiano.
"Sudah deh, pagi-pagi jangan buat gara-gara. Katanya mau merawatku. Ini sih bukan merawat." Cebik Kinara. Diapun cemberut ke arahnya.
"Ha.. Hahah...hahah kamu ini, begitu saja sudah merajuk." Kianopun tertawa.
__ADS_1
"Ya sudah, pergi sana. Aku mau menghabiskan dulu makan pagiku. Jangan jauh-jauh, nanti nyasar. Gak bisa balik ke sini." Usir Kiano.
"Dasar bocah." Umpatnya, lalu Kinarapun pergi meninggalkan Kiano sendirian di dalam ruangan.