
"Dingin sekali ya udara di sini" Gumam Kinara
Setelah berganti pakaian yang lebih santai, ia duduk bersila di atas bayang (bangku yang terbuat bambu yang sudah tua) tangannya bersidekap di depan dada dan saling mengusap lengannya sendiri secara berlawanan agar timbul sensasi kehangatan, netra pekatnya menatap lurus ke dalam luasnya nirwana yang berhias ribuan bintang.
"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Kiano.
"Lagi menikmati suasana malam, yang jauh akan kebisingan."
Kiano mendaratkan bokongnya berdampingan dengan milik sang istri. Lalu meletakkan kepalanya tepat di bahu kiri Kinara. Hingga membuat si empunya mendelik karena terkejut.
"Seperti ini saja, sebentar saja" Ucap Kiano lirih, matanya terlihat terpejam untuk sejenak seperti sedang melepaskan segala penat yang ada dalam dirinya.
Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh sang suami, membuat Kinara hanyut dan ikut serta menyandarkan kepalanya di kepala Kiano.
Setelah cukup lama, dengan mata yang masih terpejam. "Aku mau setelah lulus, kita tinggal di sini. Menghabiskan sisa hidup kita bersama." Ucap Kiano.
Kalimat yang terdengar oleh Kinara mampu membuatnya terdiam, jantungnya berdebar dan membuat pipinya merona merah. Kalimat itu membuatnya terenyuh dan melayang ke udara.
"Kamu mau kan menemaniku?" sontak membuat sang istri gelagapan.
"Hhe?" Kinara menoleh ke arahnya.
"Aku mau setelah lulus kita tinggal di sini bersama sampai maut menjemput." Dengan menggenggam kedua tangan Kinara. Spontan kepala Kinara pun mengangguk tanpa aba-aba.
Senyum merekah seketika terbit di wajah tampan lelaki itu, menggantikan sang mentari yang telah terbenam.
***
Dinginnya semilir angin pagi menusuk kulit hingga menembus ke dalam tulang, dan membuat mahluk Tuhan yang paling sempurna enggan menanggalkan selimutnya.
"Ra, bangun Ra. Ponselmu sudah berbunyi berkali-kali." Kiano mengguncang tubuh kecil istrinya yang tertidur di sampingnya.
Namun tak ada jawaban, hanya gerakan selimut ke atas menutup hingga kepala.
__ADS_1
Drrtt... Drrttt... Drrrtt...
Ponsel kembali berdering dan menampilkan sebuah nama Kakek tepat di tengah-tengah layar kaca.
"Ra, ponselmu bunyi lagi. Angkat dong, berisik tau." Kiano mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Kinara, menarik guling untuk menutup telinganya.
Dengan mata yang masih enggan terbuka, dia beranjak dari tempat tidurnya. Dan tetap seperti tadi, selimut masih setia menempel di tubuh kecilnya itu.
"Hallo.." Ucapnya malas.
"Ya ampun Kinara, dari mana saja kamu ini? Kakek sudah menelponmu berkali-kali namun tak ada jawaban sama sekali." Terdengar keras suara pria di seberang sana.
"Maaf kek, aku masih tidur. Memangnya ada apa sudah telpon sepagi ini?" Tanyanya tanpa dosa.
"Astaga Kinara, ini sudah jam berapa. Ini sudah siang sayang. Apa semalam kamu lembur sampai bangun sesiang ini." Suara pria di seberang pun semakin keras terdengar.
"Lembur apaan sih kek, aku ke Surabaya ini mau liburan. Jadi semua pekerjaanku kutinggalkan, jadi gak ada lembur-lemburan." Kinara berubah posisi dengan menyandarkan kepalanya di dinding.
"Lembur sama suami kamu, untuk membuatkan kakek cicit. Ha..haha..hahahah" Pria itu tertawa keras hingga menggema di telinga.
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dan siap-siap. Kakek tunggu di hotel. Acara akan dimulai dua jam lagi." Titah sang kakek.
"Siap kek"
Kinara bergegas melepas selimut yang tengah dipakainya, lalu melipat, dan mengembalikannya lagi di atas ranjang setelah rapi. Kemudian dengan gontai ia berjalan menuju ke kamar mandi yang terletak di belakang rumah.
Ruangan yang tak begitu besar, lantai dari ubin dan sebuah bak mandi berdinding tanpa keramik. Tak ada shower atau mesin penghangat air, hanya sebuah gayung plastik yang bertengger di bibir bak.
Byur... Bbrrr..
Dinginnya air sumur menusuk ke dalam tulang dari siraman pertama. Tak butuh waktu lama, hanya lima menit saja dia telah selesai dari ritual mandinya. Mengeringkan tubuhnya sejenak dengan handuk yang diambilnya dari lemari dan berganti memakai dress berwarna biru favoritnya.
Saat melangkahkan kakinya kembali ke dalam rumah, hidungnya mencium aroma khas yang menggugah selera. Harumnya masakan asli nusantara membuat perutnya meronta untuk kembali diisi. Tanpa sadar nalurinya mengantarkannya ke arah sumber aroma.
__ADS_1
"Pagi cah ayu" Sapa seorang wanita tua yang sedang berkutat dengan peralatan dapur. Dengan lihai tangannya memegang pisau, memotong sayuran seperti chef yang biasa author lihat di televisi.
"Pagi juga mbah" Kinara tersenyum ke arah mbah uti.
"Kinara bantu ya mbah" Lanjutnya menawarkan bantuan.
"Gak usah nduk. Kon lungguh ae nang kunu. Mari ngene masakane wis mateng. (tidak perlu nak, perempuan. Kamu duduk saja di sana. Habis ini masakannya matang)" Jawab mbah uti.
Sebenarnya Kinara ingin menunjukkan bahwa dia bukan hanya wanita kota yang bisanya jalan-jalan saja. Tapi bisa juga memasak dan juga menyelesaikan tugas ibu rumah tangga lainnya.
"Kowe sing sabar yo nduk, yen karo bojomu. Bocah kuwi watake keras, njaluke dilus. Keras musuh keras, iso-iso bubar dandanan. (kamu yang sabar ya nak, kalau sama suamimu. Anak itu sifatnya keras kepala, mintanya diperlakukan secara halus. Keras musuh keras, bisa-bisa rusak semuanya)" Petuahnya pun akhirnya meluncur dari bibirnya untuk sang cucu menantu.
"Iya mbah" Jawab Kinara.
"Yen iso kon sing ngalah, kon sing ngemong areke supaya isoe dadi bojo sing apik, sing isoe dibangga'no lan dadi panutan kanggo kon lan anak-anakmu mbesok. (Kalau bisa kamu yang mengalah, kamu yang mengarahkan dia supaya bisa jadi suami yang baik, yang bisa dibanggakan dan jadi contoh untukmu dan anak-anakmu kelak.)" Lanjutnya.
Kinara mengangguk mengerti.
Sebakul nasi putih, dengan lauk oseng daun pepaya dan telur dadar telah siap disajikan di atas meja.
"Ayo makan nduk" Mbah uti menyerah sebuah piring ke arah Kinara.
"Ambil sendiri ya nduk, yang banyak makannya." Lanjutnya. Dan diangguki oleh Kinara.
Seentong nasi dengan lauk yang tersedia telah berpindah tempat di atas piring. Tak lupa mengucap doa sebelum makan terlebih dahulu sebelum menyuapkan sendok ke dalam mulutnya.
"Yaa mbah uti, Kiano ditinggal. Mentang-mentang udah punya cucu baru" Kiano menggoda sang mbah utinya.
Mendengar kalimat yang diucapkan sang suami membuatnya merasa bersalah, tak seharusnya dia makan duluan tanpa menunggu Kiano terlebih dulu.
Setelah Kiano duduk di antara mereka, seketika nalurinya sebagai seorang istripun bekerja. Kinara bangkit dan melayani suaminya itu seperti biasanya.
"Nguwasno kowe akur ngene, aku melu seneng. Paleh dadi kangen aku marang simbahmu. Kapan mbahmu bali? (Melihat kalian rukun seperti ini, saya ikut senang. Malah jadi kangen saya dengan kakekmu. Kapan kakekmu pulang?" Mbah utipun tersenyum.
__ADS_1
"Ah mbah uti, isoe melow barang. Nek adoh digoleki, nek cidek ditukari. (Ah mbah uti, bisa melow juga. Kalau jauh dicariin, kalau dekat diajak berantem)." Goda Kiano membuat sang nenek tersipu malu.
"Wis.. Wis.. Kok malah ngreceki mbah to. Ayo dilanjut makannya."