Pengantin Pengganti (Badboy Muridku)

Pengantin Pengganti (Badboy Muridku)
Bab 9 Vano vs Laura


__ADS_3

Bab 9 Vano vs Laura


.


.


"Pesan yang biasanya ya bro" Ucap seorang pria.


Wajahnya tampan dengan warna kulitnya yang sawo matang. Dia mendudukkan bokongnya di depan meja bartender.


"Sudah lama, kamu gak ke sini. Tumben sekarang mau mampir ke sini lagi." Ucap seorang pria bertopi yang sedang mengoplos minuman di tangannya.


"Apa kau sedang bertengkar dengan istri cantikmu itu? Sampai-sampai kau ke sini lagi." Lanjutnya.


"Gak bro, aku gak jadi nikah sama Nara. Aku kabur dari pernikahan." Jawab Vano dengan wajah piasnya.


"Hha, kabur? Kenapa kabur? Gak sayang tuh, gadis secantik dan sebaik dia kmau tinggalin begitu saja. Aku pikir kamu akan bertobat selamanya." Tanya Alex seorang bartender sebuah club malam sembari memberikan segelas minuman setan tersebut.


"Males ah, dia terlalu munafik jadi perempuan. Aku lama-lama bosan sama dia. Aku capek tidak diperbolehkan melakukan ini itu olehnya." Ucapnya sambil meminum segelas wine yang berada di tangannya.


"Hai Van, udah lama ya kita gak ketemu." Ucap seorang wanita yang baru saja datang.


Penampilannya sungguh terbuka, dengan dres pendek tanpa lengan dan polesan make up yang sedikit tebal. Lalu dia memeluk Vano dengan erat.


"Iya sudah hampir setahun kita gak ketemu." Jawab Vano sembari membalas pelukan wanita muda itu sekilas.


"Tumben kamu di sini, apa Nara gak akan memarahimu" Ucap Wanita itu.


"Aku sudah tak lagi bersama Nara, kita sudah putus." Jawab Vano. Membuat wanita itupun tersenyum.


"Hai Laura, cantik banget kamu malem ini. Mau minum apa?" Sapa Alex dengan menawarkan minuman.


"Samain aja lah bang Alex." Jawabnya dengan tersenyum lebar.


Laura Anastasya, seorang wanita berwajah cantik, energik dan body aduhai layaknya gitar spanyol serta gayanya yang sangat modis. Dia adalah sahabat Nara semasa menimba ilmu, namun kini dia tinggal di kota Pahlawan. Kampung halamannya.


Laura berbeda dengan Nara yang kutu buku. Dia senang akan dunia malam. Tapi entah kenapa persahabatan mereka bisa bertahan lama.


"Van, kamu gak nyesel apa meninggalkan Nara pas sehari sebelum pernikahan kalian? Bukannya kamu sangat mencintai Nara, hingga mau melakukan apapun untuknya." Tanya Laura dengan sangat hati- hati.

__ADS_1


"Enggak, aku gak nyesel sama sekali. Kan aku cintanya sama kamu." Jawab Vano dengan penuh penekanan.


"Tapi aku tahu, betapa bucinnya kamu waktu kuliah dulu sama Nara. Sampai-sampai kamu mengancam untuk terjun dari lantai lima jika Narsa tak menerima pernyataan cintamu." Ucap Laura sambil menyesap minumannya.


"Itu dulu Lau, aku memang cinta sama Nara. Tapi itu sebelum aku mengenal kamu lebih dalam. Sebelum aku jatuh cinta sama kamu. Sejak kejadian malam itu, aku gak bisa melupakanmu. Di otakku cuma ada kamu bukan Nara. Semakin aku memaksa tetap bersamanya, yang ada semakin besar pula rasa bersalahku pada dia." Jawab Vano dengan mengusap wajahnya kasar.


"Di antara kita tidak ada cinta Vano. Hubungan kita hanya sebatas simbiosis mutualisme. Hanya karena kita sama-sama butuh pelepasan dan kesenangan saja. Tidak ada status ataupun ikatan. Gak lebih. " Jelas Naya.


"Enggak Lau, aku telah jatuh cinta kepadamu. Rasa sayangku sangat besar untukmu. Mungkin awalnya iya. Hubungan kita berawal karena kita saling butuh kesenangan. Tapi dengan seiring berjalannya waktu, yang aku butuhkan hanya kamu. Bukan Nara atau wanita lain di luar sana." Vano menolak keras semua kalimat yang keluar dari mulut Laura.


Dengan spontan Vano merengkuh wanita cantik itu dalam pelukannya.


***


Pagi telah tiba, matahari telah mulai naik dari tempat asalnya. Hingga cahayanya mampu menyinari seluruh penjuru dunia.


"Aduh, lagi-lagi aku kesiangan. Kenapa sih dari dulu aku susah banget buat bangun pagi." Ucap Nara bangkit dari tempat tidur.


Ceklek...


Ternyata pintu kamar mandi masih terkunci dari dalam, masih ada Kiano yang masih dengan ritual mandinya.


"Cepetan donk Ki, nanti aku telat" Teriak Nara dari depan pintu.


"Ya elah Ra, aku juga baru masuk kali. Belum juga ngeden. Sabar napa." Ucap Kiano dari balik pintu.


Nara berdecah kesal, karena harus menunggu Kiano dengan sangat lama.


"Ki,cepetan dong. Sudah jam berapa ini." Nara kembali berteriak.


"Iya-iya ini masih pakai baju." Jawab Kiano. Dan tak lama kemudian, Kiano telah selesai dengan ritual mandinya.


Dengan cepat, Nara memasuki kamar mandi. Tak sengaja dia menenggor Kiano yang masih berdiri di ambang pintu hingga jatuh tersungkur.


Brak..


Pintu pun tertutup rapat.


"Nara.. Sakit tau" Umpat Kiano.

__ADS_1


Tak membutuhkan waktu lama, Nara telah keluar dari kamar mandi. Dengan masih menggenakan handuk kimononya yang berwarna merah muda dan rambutnya di cepol ke atas. Dia telah sibuk berkutat dengan alat masaknya, membuat sarapan sederhana untuknya dan suami.


"Lagi ngapain kamu?" Tanya Kiano berjalan ke arah dapur siap dengan seragam putih abunya.


Klontang...


Sebuah penggorengan terjatuh di lantai karena Nara merasa terkejut.


"Ihh.. Kenapa sih kamu ini selalu saja mengagetkanku." Sarkas Nara.


"Habisnya seru gangguin kamu" Ucap Kiank menggoda.


"Kiano.. Sudah deh, pagi-pagi jangan mulai ya. Sudah tahu aku lagi ngapain, masih juga nanya. Gak tau apa orang lagi buru-buru." Nara mulai kesal.


"Enggak, enggak tau aku" Jawab Kiano. Dan langsung mendapat pelototan dari istrinya itu.


Mengetahui ada yang berubah dari raut wajah yang ditampilkan oleh Nara, membuat Kiano mengambil alih pekerjaan yang tengah dilakukan oleh Nara.


"Sini ganti aku aja yang masak, kamu buruan ganti baju dan siap-siap. Nanti telat lagi. Gak pantas kan jika seorang kepala sekolah datangnya telat." Titah Kiano.


Seketika Nara menyerahkan spatula yang tengah dipegangnya kepada Kiano, dan dia segera berlalu dari dapur.


Meski sebuah perasaan belum muncul di dalam hati Nara. Namun tak dapat dipungkiri jika ada perasaan kagum pada Kiano yang mau membantunya melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya dilakukan seorang istri.


"Ra, nasi goreng sosisnya sudah siap. Cepetan makan" Panggil Kiano yang sudah menunggu di meja makan terlebih dulu.


Setelah mendengar panggilan dari sang suami, Nara keluar kamar dengan seragam khusus yang didapatnya dari sekolah kemarin. Rambut hitam legamnya diikat rapi ke arah belakang. Wajahnya dipoles dengan make up flawfless. Penampilannya kini nampak lebih dewasa.


"Ibu kepala sekolah cantik, godain Kiano dong.. Ha..haha..hahaha" Kiano menggoda.


"Sudah deh, gak usah buat gara-gara." Sarkas Nara.


Nara mendaratkan bokong semoknya di samping Kiano. Seperti kemarin, dia melayani sang suami meski sudah dilarang. Setelah itu hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring beradu.


"Kamu berangkat naik apa?" Tanya Kiano saat sedang memakai sepatunya.


"Aku Naik taxi, soalnya mobilku kan masih di bengkel." Jawab Nara yang masih merpikan barang bawaannya..


"Bareng aku aja ayo?" Ajak Kiano.

__ADS_1


__ADS_2