Pengantin Pengganti (Badboy Muridku)

Pengantin Pengganti (Badboy Muridku)
Bab 8 Bukan ABG Manja


__ADS_3

Bab 8 Bukan ABG Manja


.


.


Awalnya Kiano ingin menghabiskan waktu istirahatnya untuk tidur di dalam kelas. Namun mendengarkan obrolan para sahabatnya itu, membuat telinganya merasa panas. Apalagi mendengarkan kalimat yang diucapkan oleh Arga, membuat amarahnya memuncak. Karena sama saja sahabatnya itu mendoakan untuk dia segera meninggal.


"Bang, baksonya yang jumbo. Sambalnya yang banyak ya..sama es jeruk. Aku tungguin di sana." Ucap Kiano kepada abang bakso langganannya.


Setelah itu dia berlalu dan duduk di salah satu bangku kosong yang ada di kantin.


"Dasar sahabat sial*n nyumpahin aku buat cepet koit." Umpatnya lirih.


Tak lama kemudian pesanannya telah diantarkan oleh bang jono, "terima kasih bang" Dengan menyodorkan uang berwarna hijau.


Lalu dilahapnya habis bakso tersebut seperti orang kesurupan.


***


.


Tet.. Tet.. Tet.. Tet..


Bel sekolah berbunyi sebanyak empat kali, menandakan waktu pulang telah tiba. Seluruh murid bergegas mengemasi barang- barang bawaannya, berjalan, berlarian, bahkan tak jarang ada yang saling senggol, berebut untuk keluar gerbang terlebih dulu.


Langit semakin gelap karena waktu telah menunjukan pukul 15.30. Lingkungan sekolah sudah mulai sepi.


Lalu Bergantian, para guru yang bersiap untuk kembali ke rumah. Karena SMA XX adalah salah satu sekolah elit di kota ini. Jadi tak jarang jika guru dan karyawannya memakai kendaraan roda empat sebagai alat transportasi mereka.


Karena gaji dari para guru bisa mencapai puluhan juta, jadi Tak hayal jika ada yang memakai mobil dengan harga mencapai ratusan juta.


"Saya duluan ya bu.." Hampir seluruh guru dan karyawan menaruh hormat pada Nara yang usianya terbilang masih muda. Karena tak hanya menjadi kepala sekolah namun cucu pemilik yayasan.


Nara tengah duduk di bangku halte sebrang sekolah. Setelah menolak ajakan beberapa guru yang ingin mengantarkannya pulang. Karena dia tahu, pasti ada maksud terselubung di dalamnya.


Kini Nara Menanti seorang diri karena para murid telah pulang terlebih dahulu. Banyak lalu lalang kendaraan namun tak satu pun angkutan umum, ojek atau taxi yang melintas di depannya.


Tin.. Tin..

__ADS_1


Terdengar bunyi klakson dari sebuah mobil SUV yang tiba saja berhenti di depannya. Lalu Kaca sebelah kiripun terbuka.


"Nara cepetan masuk. Aku akan mengantar kamu pulang seperti dulu" Ucap pria dari dalam mobil.


Al dan Nara dulu sering sekali bernagkat dan pulang bersama. Karena rumah mereka memang searah, apalagi Nara yang waktu itu menjadi sekretaris Osis. Jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan Alvaro si ketua osis.


"Gak usah Al terima kasih, taxi daringku udah dekat. bentar lagi sampai." Jawab Nara menolak dengan sopan.


"Tumben-tumbenan sih kamu nolak ajakanku, dulu kamu paling senang kalau aku menawarkan tumpangan" Ucap Alvaro.


"Sorry Al, lagian rumah kita sudah gak searah seperti dulu. Kasihan kalau kamu harus berputar-putar." Jawab Nara dengan menyatukan kedua telapak tangannya seperti sedang memohon maaf.


Tak berselang lama, taxi daring yang telah dipesan oleh Narapun berhenti di belakang mobil Alvaro.


"Tuh taxinya sudah datang, duluan ya Al" Pamit Nara dengan tak lupa lambaian tangannya.


Satu jam berselang, sampailah taxi yang Nara tumpangi berhenti di depan sebuah rumah. "Terima kasih pak" Ucapnya dengan tersenyum.


Dengan membawa dua kantong plastik besar di tangannya, dia membuka pintu yang ternyata tak dikunci.


"Aku pulang." Ucapnya dengan merebahkan diri di atas sofa.


"Enak ya yang pacaran jam segini baru sampai rumah" Sindir pria muda yang baru saja keluar dari kamarnya.


Diapun berdiri dan berlalu pergi ke arah dapur dengan membawa kantong belanjaannya. Lalu Menatanya rapi di dalam lemari pendingin. Setelah rapi, dia bergegas masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.


Ceklek..


Pintu kamar terbuka saat Nara sedang bergantian pakaian karena merasa gerah.


"Aaaa..." Jerit Nara seketika pintu kamar kembali menutup.


"Dasar ABG, kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu kek" Umpat Nara.


Di luar kamar, dengan bersandar di pintu. Glek.. Kiano menelan ludahnya dengan susah payah.


"Tubuh itu, selalu saja membuatku kelimpungan. Ah, Nara. Kamu selalu saja menggodaku. Meski aku masih ABG, tapi aku tak kalah tangguh dengan bang Vano." Gumamnya lirih.


Setelah itu Kiano berlalu ke ruang tengah, untuk menonton serial kungfu favoritnya.

__ADS_1


Nara yang telah selesai mandi dan menggunakan pakaian lengkap, kaos oversize warna biru muda dan celana pendek sepaha hingga menampilkan paha mulusnya.


Dia berjalan ke arah dapur untuk memulai mengeksekusi satu persatu bahan makanan yang telah dibelinya tadi di supermarket. Dari mengupas, memotong, hingga memasaknya hingga matang. Sampai menimbulkan aroma sedap yang menyeruak hingga ke seluruh ruangan.


"Sudah siap" Ucapnya dengan penuh semangat.


Nasi putih, dengan lauk sayur sop ayam dan perkedel.


"Masak apa?" Tanya Kiano, yang tiba-tiba saja berdiri di belakangnya.


"Astagfirullah aladzim" Ucap Nara terkejut.


"Kenapa sih kamu ini selalu saja mengagetkanku?" Tanyanya. Kiano hanya tersenyum.


"Masak apa?" Tanya Kiano kembali.


"Lihat saja sendiri, sudah aku sajikan di atas meja." Jawab Nara yang masih membereskan kekacauan yang ada di dapurnya itu.


Dengan membuka tudung saji yang ada di meja, "Enak nih kayaknya." Ucap Kiano lalu meletakkan bokongnya ke tempat duduk.


Nara yang telah selesai dengan aktivitasnya, kini menyodorkan piring yang berisi nasi ke hadapan sang suaminya tersebut. Melayani Kiano sebagai imamnya seperti yang biasa dilakukan oleh mama Nisa di rumah.


"Terimakasih, tapi lain kali aku bisa ambil sendiri. Aku bukan ABG manja." Ucap Kiano sembari menerima piring pemberian Nara.


Setelah itu Nara ikut duduk di depan Kiano. Lalu tak ada lagi suara yang keluar dari mulut mereka. Hanya dentingan piring dan sendok yang slaing beradu. Hingga piring bersih tak bersisa.


***


.


Kini rumah nampak bersih dan rapi, setelah semua pekerjaan rumah telah diselesaikan oleh Nara seorang diri.


Kiano, entah ke mana ABG itu. Setelah menghabiskan makan malamnya, dia bergegas pergi dengan menggunakan celana jeans beraksen robek-robek dan jaket kulit berwarna hitam. Tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Melihat rumahnya yang sepi, membuat Nara bebas merebahkan tubuhnya di manapun. Namun pilihannya jatuh pada ruang tengah. Menonton drama korea favoritnya untuk merefreshkan sejenak otak dan tubuhnya dari segala aktivitas yang melelahkan hari ini.


Namun Tangan kanannya tak lepas menggenggam sebuah benda pipih dengan balutan softcase bergambar tokoh utama dalam drakor favoritnya. Lalu Jemarinya mulai berselancar di layar kaca, di sentuhnya sebuah kata yang terpampang jelas di sana, Galeri. Dibukanya sebuah folder dengan nama My Lovely yang penuh akan gambar dirinya bersama Vano, lelaki yang begitu tega meninggalkannya sehari sebelum pernikahan.


Tak terasa buliran bening telah membasahi pipi mulusnya.

__ADS_1


"Vano, kamu sekarang di mana? Apa kamu baik- baik saja? Seandainya waktu itu kamu berkata jujur ke aku jika kamu masih ingin menitih karir lebih dulu. Aku akan terima" Gumamnya lirih.


"Bukan seperti ini, kamu meninggalkanku begitu saja. Sakit Van rasanya jadi orang yang dicampakkan.Sekarang aku harus menikah dengan adikmu yang sama sekali tak ku cintai." Lanjutnya dengan terisak.


__ADS_2