Pengantin Pengganti (Badboy Muridku)

Pengantin Pengganti (Badboy Muridku)
Bab 22 Hamil


__ADS_3

Bab 22 Hamil


.


.


"Maafkan aku Anggi,aku tidak tahu. Aku tak pernah mendengarkan kabar tentangmu. Aku turut berduka cita akan kepergian tante Asri dan Om Bima." Jawab Kinara. Dan kembali memeluk Anggi.


"Tidak masalah, its ok. Bukan salahmu. Aku tahu itu." Anggi memaksa tersenyum di depan sahabatnya itu.


"Bagaimana pernikahanmu dengan Vano? Maafkan aku tidak bisa datang karena saat itu aku harus bekerja." Lanjutnya.


"Pernikahan?" Diangguki oleh Anggi.


"Aku tidak jadi menikah dengan Vano." Jawab Kinara dengan tersenyum kecut.


"Sungguh?" Kinara pun mengangguk mantap.


"Kenapa? Bukannya itu adalah impian kalian sedari dulu. Aku adalah saksi dari semuanya." Anggi mengguncangkan tubuh Kinara.


"Ceritanya panjang Besti."


"Permisi nona Nara, anda telah ditunggu oleh tuan." Ucap seorang pria baruh baya lengkap dengan jas hitamnya.


"Iya pak Arman, sebentar. Habis ini aku ke sana." Jawab Kinara.


"Besti, maaf aku tinggal dulu. Karena kakek sudah mencariku." Pamit Kinara.


"Ok.. Tak masalah. Tapi kau hutang penjelasan padaku."


"Kapan-kapan kita buat janji, kita saling bercerita sepuasnya." Jawab Kinara dengan tersenyum.


"Ok nanti aku kirim no ku yang baru melalui pesan." Mereka berpelukan kembali sebelum berpisah.


Anggi Bimantara, gadis cantik berkacamata. Tak lupa hijab yang selalu menempel di kepalanya. Dia adalah sahabat terbaik untuk Kinara dan Laura. Dia adalah penasehat yang handal untuk keduanya. Dia juga adalah yang terpandai di antara mereka.


Prestasinya yang lulus akan predikat cumlaude membawanya mendapat beasiswa S2 di luar negeri. Namun sayang, nasib buruk menimpanya.


Sebagai perempuan yang tertutup, membuatnya memendam perasaannya sendiri. Hingga ketika kejadian na'as terjadi pada kedua orang tuanya. Dua sahabatnya pun tak mengetahuinya.


"Lama sekali kamu Kinara, dari mana saja?" Tanya Kakek saat melihat kehadiran sang cucu.


"Maafkan aku kek, aku baru saja bertemu dengan Anggi di sana." Kinarapun duduk di samping kakeknya.


"Anggi sahabat kamu itu?" Diangguki oleh Kinara.


"Bukannya katamu dia berada di Luar negeri, kok bisa di sini."


"Setauku sih seperti itu kek, tapi ternyata dia tidak jadi mengambil beasiswa itu karena kedua orangtuanya mengalami kecelakaan."


"Dan na'asnya keduanya meninggal di tempat." Lanjut Kinara.


"Astaga.. Setragis itu" Ucap Arman yang ikut mendengarkan cerita Kinara.


"Sudah..sudah, berhenti dulu ceritanya. Lebih baik dimakan dulu makanannya, keburu dingin." Perintah Kakek.

__ADS_1


Mereka bertiga menikmati hidangan yang telah dipesannya sesuai dengan selera masing-masing. Hingga kepersekian menit, hanya terdengar dentingan piring dan sendok yang bersautan.


...****************...


"Mama Nisa" Teriak Kinara sesaat baru sampai di kediaman Wardhana.


Dia berlari ke arah seorang wanita yang telah merawatnya sedari kecil dengan penuh kasih sayang. Memeluknya erat dari belakang. Hingga sang empunya menoleh ke arah sang putri.


"Kinara.." Ucapnya lembut.


"Mama kok tahu" Kinarapun cemberut.


"Mama selalu hafal dengan kebiasaan masing-masing anak mama." Mama Nisapun kembali mendekap hangat sang putri.


"Bagaimana keadaanmu?" Membawa Kinara duduk di kursi yang berada di ruang tamu.


"Alhamdulillah.. Baik ma."


"Kamu ke sini dengan siapa? Di mana Kiano, suamimu?" Tanya Mama Nisa.


"Tadi kakek mengajakku kemari. Kata Kakek di sini akan ada acara pengajian nanti malam. Memangnya ada acara apa ma? Kenapa aku tidak diberi tahu" Kinara mensidekapkan kedua tangannya di depan dada. Dengan ekspresinya yang lagi-lagi memanyun.


"Jangan ngambek dong sayang, jangan marah. Bukannya mama tak ingin memberitahumu. Hanya saja mama ingin memberikanmu kejutan." Mencium seluruh wajah putri kecilnya itu yang kini telah beranjak dewasa.


"Terus?" Kinara penasaran.


"Mama sedang mengandung" Ucapnya dengan membawa tangan Kinara ke depan perutnya. Mengusapnya lembut.


"Beneran ma?" Diangguki oleh Mama Nisa.


"Hai.. Si debay, perkenalkan namaku Kak Nara. Sehat-sehat ya kamu di dalam ya sayang. Jangan nakal, jangan rewel. Agar mama tidak merasa kesakitan. Kakak sayang kamu." Kinara mengajak janin yang ada di dalam perut sang mama untuk berinteraksi.


"Siap kak Nara" Jawab mama Nisa dengan menirukan gaya suara anak kecil.


Drtt.. Drttt... Drrtt...


Terdengar bunyi nyaring dari ponsel pribadi Kinara yang berada di dalam tasnya.


Diambilnya dan tertera nama sang suami. Lalu digesernya tombol berwarna hijau.


"Hallo... Assalamualaikum"


"[ ... ]"


"Sudah, aku sekarang sedang ada di rumah kakek"


"[ ... ]"


"Maafkan aku, kakek tadi yang mengajakku ke sini."


"[ ... ]"


"Iya, maaf."


Ponsel seketiga dirampas oleh mama Nisa.

__ADS_1


"Hallo.. Kinara sedang berada di sini."


"[ ...]"


"Iya tadi ayah yang mengajaknya. Biarkan dia di sini membantu mama."


"[ ... ]"


"Kamu nanti ke sini ya habis magrib."


"[ ... ]"


"Di sini nanti akan ada pengajian, jangan lupa kamu datang ya."


"[ ...]"


"Iya walaikumsalam"


Tiitt... Sambungan telponpun berakhir.


"Mama sudah berbicara pada suamimu, dia mengijinkanmu di sini membantu mama. Nanti malam dia akan datang menjemputmu, sekaligus hadir di acara ini." Diangguki oleh Kinara. Kinara kembali memeluk sang mama, ada rasa tak rela jika kasih sayangnya akan terbagi lagi.


"Oia, ngomong-ngomong gimana kamu?" Kinara nampak bingung tak mengerti.


"Gimana apanya ma?"


"Kamu sudah hamil belum?" Tanya mama Nisa.


"Hamil, bagaimana aku bisa hamil. Andai saja mama tau. Kalau sampai detik ini, aku masih perawan. Apakah mama bakal marah." Batinnya.


"Hey, kok malah ngelamun" Ucapnya dengan menepuk bahu Kinara.


"Hhehe" Kinara tersenyum kaku.


"Belum bun, aku belum hamil. Lagian aku dan Kiano baru saja menikah. Perjalanan kita masih panjang. Ditambah lagi Kiano yang masih sekolah, membuat kita berpikir dua kali untuk hamil sekarang." Jawabnya mengalibi agar sang mama tak curiga.


Mama Nisapun tersenyum.


"Ya sudah, nikmati dulu rumah tangga kalian dengan santai. Biarkan Kiano menyelesaikan pendidikannya dulu,minimal lulus SMA. Agar dia mengerti akan tanggung jawabnya."


"Kamu juga, jangan buru-buru. Berkarirlah lebih dulu sampai kamu siap untuk hamil." Nasihatnya.


Kinarapun kembali memeluk sang mama, ada rasa bersalah dibenaknya karena membohonginya. Sebenarnya bukan belum siap hamil. Tapi lebih belum bisa menerima keadaan yang ada.


"Ada apa ini kok melow-melowan segala?" Tanya pria paruh baya yang baru saja sampai di rumah.


"Papa" Ucap mereka serentak.


Melihat sang papa yang baru saja datang, Kinara seketika berdiri dari tempatnya, dan memeluk pria yang mencurahkan kasih sayang penuh untuknya sejak kecil.


"Putri papa, tumben berada di sini. Mentang-mentang sudah menikah, sampai lupa sama rumahnya sendiri." Tanya Andika.


"He.hhe" Kinarapun tertawa kecil.


"Iya pa, tadi kakek yang mengajakku ke sini."

__ADS_1


"Bukan begitu pa, hanya saja profesiku yang menjadi kepala sekolah dan guru matematika membuatku sangat sibuk. Oh bukan sangat sibuk, cuma aku belum bisa membagi waktu. He.. Heh.. Heheh" Jawab Kinara.


__ADS_2