Pengasuh Pilihan Pak Duda

Pengasuh Pilihan Pak Duda
Bab 12. Bertemu Rico


__ADS_3

Setelah meninggalkan rumah Bisma. Dara memutuskan untuk datang ke rumah Violin, hanya dia satu-satunya sahabat yang Dara miliki dan tempat curhat ternyaman.


Violin tinggal disebuah apartemen kecil seorang diri yang ada dikawasan Mandala. Dara menghubungi Vio saat dia berada di depan pintu.


"Vio. Aku ada di depan pintu apartemen mu. Bisa kamu buka pintunya sekarang?" ucap Dara sambil menahan Isak tangisnya.


"Apa?! kamu ada di depan. Oke aku segera membukanya." Vio segera mematikan teleponnya dan bergegas membuka pintu dengan buru-buru.


Vio terkejut dengan penampilan Dara yang berubah, namun ia lebih terkejut saat sahabatnya itu menangis. Dara langsung menghambur dalam pelukan Vio.


"Kamu kenapa sayang? Siapa yang sudah membuatmu menangis?" Vio mencoba menenangkan dan membawa Dara masuk ke dalam apartemen.


Vio membawa Dara duduk di sofa sambil terus berusaha menenangkannya agar Dara bisa menceritakan permasalahannya.


Setelah puas menangis, perlahan Dara mulai tenang dan Vio mulai kembali bertanya.


"Ra, apa sebenarnya yang terjadi, sampai kamu menangis terisak? Apa terjadi kekerasan dalam pekerjaan? Kalau memang kamu di aniaya kita lapor polisi. Lihatlah pipimu terlihat lebam."


Dara menatap Vio yang wajahnya nampak serius dan sedang menunggu jawaban dari Dara.


"Vio... hiks... hiks... A- aku dipecat." Dara pun kembali menangis.


"Dipecat?! memangnya kesalahan apa yang kamu lakukan? Kalau di pecat ya sudah gak usah sampai sedih banget kaya gitu. Nanti aku bantu cari pekerjaan lainnya."


"Tapi aku sudah nyaman bersama anak-anak. Di saat aku sudah dekat dengan kedua anak pak Bisma kenapa ada penghalang."


"Maksudmu?"


"Ibunya pak Bisma menuduhku sebagai wanita penggoda dan langsung mengusirku bahkan dia menamparku, hiks... hiks... Vio, kenapa takdirku harus begini. Apakah ini hukuman buatku yang telah melakukan kesalahan besar?"


Vio kembali memeluk Dara dan tak membiarkan sahabatnya itu terus menerus terbelenggu dalam penyesalan. Secara tidak langsung Vio juga ikut bertanggungjawab atas apa yang menimpa Dara. Karena Vio lah yang membujuk Dara untuk menjual rahimnya dan dia jugalah yang memaksa untuk bekerja di tempat Bisma.


Dara pun akhirnya bermalam di tempat Vio sebelum ia bisa mencari tempat kost sendiri.

__ADS_1


****


Bisma dan Ibundanya berdebat hebat di rumah. Keduanya memilik watak yang keras sama-sama tidak mau mengalah.


Jalan tengah pun tak bisa di ambil. Widia bersikeras tidak mengizinkan Dara untuk kembali bekerja, sedangkan Bisma memikirkan kedua anaknya yang sudah bergantung pada Dara.


Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tidak bisa melepaskan Dara begitu saja. Sangat sulit untuk mencari pengadu seperti Dara. Dia wanita yang memiliki hati lembut dan penyayang bahkan key dan Kayra sudah nyaman bersamanya. Tak mungkin ada lagi sosok pengasuh yang seperti Dara lagi yang bisa aku temukan. Bagaimana caranya agar aku bisa mempertahankannya? Aku tidak mungkin menikahi Anita, rasaku padanya sudah hilang dan aku tidak mau memaksakan diri untuk tetap menikahinya.


Gejolak dalam diri Bisma membuatnya bingung memikirkan keputusannya. Bisma yang lebih memprioritaskan kebahagiaan anak-anak harus mengambil satu langkah lebih panjang sebelum menyesal.


****


Keesokan harinya, Dara di bangunan Vio yang saat itu hendak pergi bekerja.


"Ra, bangun Ra..."


"Eeemm, Bentar lagi. Aku masih ngantuk." Saut Dara, masih memejamkan matanya.


Dara mengerutkan keningnya saat mengingat-ingat apa yang di katakan Vio sebelumnya, namun sayangnya Dara sama sekali tidak mengingatnya.


"Memangnya apa yang kamu katakan? Aku sama sekali tidak ingat?" tanya Dara sambil beranjak duduk.


"Astaga Dara, gara-gara di usir kamu sampai hilang ingatan. Mas Rico ingin bertemu denganmu saat dia kembali ke Indonesia, dan tadi pagi-pagi aku dapat kabar dari mas Rico kalau dia sudah ada di Indonesia dan dia ingin bertemu kamu. mas Rico menunggu di restoran Citra Garden nanti jam sepuluh siang. " Jelas Vio panjang lebar.


Dara dengan wajah datar menatap Vio yang mulutnya berbuih saat menjelaskan sejelas-jelasnya pada orang yang setengah sadar.


"Apakah aku harus menemuinya?"


"Harus, jika kamu ingin tau kondisi putrimu."


"Oke, katakan padanya kalau aku akan menemuinya nanti." jawab Dara lalu kembali merebahkan tubuhnya di kasur dah menyelimuti tubuhnya kembali.


Vio hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap sahabatnya yang tak berubah.

__ADS_1


"Baiklah aku pergi bekerja dulu. Kalau mau sarapan buat sendiri nanti. Jangan lupa kunci pintu saat keluar. Kau pergi sekarang." Vio pun pamit bekerja dan meninggalkan Dara di apartemen sendirian


Setelah Vio pergi, Dara kembali duduk. Dia memikirkan kata-kata Vio jika Rico ingin bertemu dengannya itu artinya Dara akan kembali di hadapkan dengan kesalahan masa lalu yang ingin dia lupakan, namun Dara juga tidak bisa mengabaikan putrinya yang sedang ada bersama laki-laki yang pernah membuatnya patah hati. Hanya dengan bertanya secara langsung, Dara akan mengetahui keadaan sebenarnya Meyra, anak yang lahir dari rahimnya.


"Mas Rico, kenapa kamu memporak-porandakan hatiku." Teriak Dara.


Setelah kembali tenang, Dara pun segera bersiap untuk bertemu dengan suami orang yang sudah mengajari dirinya cara jatuh cinta, namun orang laki-laki tersebut juga mengajari rasa sakit saat cinta bertepuk sebelah tangan dan membuat Dara takut untuk jatuh cinta lagi.


Setelah selesai bersiap, Dara segera meninggalkan apartemen tanpa sarapan dan bergegas pergi ke restoran dimana Rico akan menunggu dirinya.


Dengan mengunakan taksi, darat sampai ke restoran Citra Garden dalam waktu tiga puluh menit dan taksi tersebut berhenti di depan restoran. Saat masuk kedalam restoran, seseorang memanggil namanya.


Dara langsung mengedarkan panggilannya saat melihat seorang laki-laki yang berdiri tak tak jauh dari dirinya sambil tersenyum.


Jantung Dara seakan berhenti berdetak, pria itu tak berubah, ketampanan dan juga menampilkannya masih sama.


Perlahan tapi pasti, Dara mendekati Rico yang sudah menunggunya, dengan wajah kaku Dara mendekati Rico dan memanggil namanya untuk menyapa.


"Mas Rico."


Rico langsung memeluk Dara, "Apa kabar Dara, aku benar-benar merindukan kamu." bisik Rico.


Dara segera mendorong tubuh Rico untuk menjauh dan melepaskan pelukannya.


"Aku baik-baik saja mas."Jawab singkat Dara lalu duduk berseberangan dengan Rico.


"Apa kamu masih marah padaku? Aku rasa begitu, sampai kamu tidak memberiku nomor ponsel bahkan untuk sekedar memberi kabar saja kamu tidak mau."


"Sudahlah mas, semua sudah menjadi masa lalu. Aku sadar akan kesalahanku. Jadi gak perlu di ungkit lagi. Aku mau menemui mas Rico juga karena aku ingin tahu kabar tentang putriku, aku ingin memastikan kalau dia baik-baik Saja." jawab Dara.


Wajah Rico seketika langsung berubah, saat Dara ingin mengetahui kondisi putrinya itu.


To Be continued ☺️☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2